
Kedua orang itu keluar dari kamar mandi dengan raut wajah yang berbeda. Yang satu mengerucut, yang satu lagi tersenyum sumringah.
Menyebalkan, rutuk Chilla tak habis-habis. Alva benar-benar telah mengerjainya.
Kini Chilla hanya memakai handuk yang melilit tubuh mungilnya, karena pakaiannya sudah teronggok di keranjang baju kotor, sedangkan Alva tak berniat untuk memakai apapun selain jubah mandi miliknya.
"Kakak, aku pakai baju apa?" Tanya Chilla, ia tidak mungkin terus memakai handuk seperti ini, yang ada Alva akan kembali menerkamnya tanpa henti.
Mendengar itu Alva mendekat ke arah gadisnya yang kini duduk di tepian ranjang. Mengendus aroma tubuh Chilla dalam-dalam. Semerbak segar.
"Pakai kemejaku dulu, nanti Juna kesini membawakan baju ganti untukmu," balas Alva seraya mengecup bibir ranum itu sekilas.
Alva melangkah ke arah lemari pakaiannya, lalu mengambil satu kemeja kerjanya dan berniat memakaikannya untuk Chilla.
"Aku bisa sendiri," tukas Chilla, saat lelaki itu ingin melepas handuknya.
Alva hanya terkekeh melihat wajah Chilla yang begitu kesal dengan bibir yang mengerucut.
Menggemaskan.
"Ku kira tanganmu juga tidak bisa di gerakan," balas Alva masih terkekeh.
Chilla tak menggubris perkataan Alva, ia membalikkan tubuhnya, dan mulai mengancingi kemeja yang Alva berikan untuknya. Kemeja yang terlihat kebesaran untuk tubuh seukuran Chilla.
Hingga saat kancing yang terakhir, dirinya dikagetkan oleh Alva yang memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"Yang atas tidak perlu," bisiknya dengan suara yang mendayu. Ia memegang kedua tangan Chilla untuk diletakkan disamping tubuh gadis itu.
Tak ingin berdebat, Chilla hanya bisa menurut, lalu tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring. Karena sudah sedari pagi minta diisi.
Kruyuk!
Chilla kembali menggigit bibir bawahnya, menahan malu pada Alva. Kenapa tidak tahu tempat begini sih, pikirnya. Sedangkan lelaki itu tergelak, membuat Chilla reflek mencubit lengan Alva dengan keras.
"Aw! Iya iya aku tidak akan tertawa lagi," keluh Alva memohon ampun, tetapi tetap saja ia masih terkekeh.
Ia tahu, karena ulahnya Chilla sampai melupakan perutnya yang kelaparan.
"Apa kau bisa memasak?" Tanya Alva masih dengan posisi memeluk gadis kecilnya.
Chilla menggeleng.
"Untuk apa bisa memasak? Bukankah Chilla akan menjadi istri orang kaya?" Ujar Chilla dengan begitu pedenya.
Padahal ia memang tidak pernah belajar memasak, karena tidak bisa membedakan bumbu dapur dan rempah lainnya.
"Hei, kalau suamimu ternyata miskin bagaimana?"
"Memangnya kakak akan jatuh miskin?"
Mendengar itu Alva kembali terkekeh, ia yakin takkan ada habisnya jika bicara dengan gadis kecilnya. Lebih baik ia pesan makanan dengan menggunakan jasa online untuk mengisi perut mereka berdua.
"Aku akan pesan makanan," ucap Alva seraya melepas pelukannya di perut Chilla.
Ia meraih benda pipih yang sedari tadi tergeletak diatas nakas. Tinggal klik, semua beres.
Setelah berhasil memesan makanan, Alva kembali menggiring tubuh Chilla untuk berbaring diatas ranjang.
Chilla memberontak, "Tidak mau!" Tolaknya mentah-mentah.
"Hei, aku hanya ingin mengajakmu istirahat sambil menunggu makanan datang."
Mendengar itu, pipi Chilla bersemu merah, gara-gara Alva pikirannya jadi terkontaminasi terhadap ranjang. Yang ada dipikirannya adalah kegiatan yang berlangsung ketika diatas sana. Pokoknya semua ini gara-gara Alva.
__ADS_1
"Benar hanya istirahat?" Tanya Chilla memastikan.
"Hemmm, memangnya kau pikir aku mau apa?" Tanya Alva menggoda.
Tak berniat menjawab apapun akhirnya Chilla menurut, ia berbaring diatas ranjang dan berhadapan langsung dengan sang pacar.
Alva meluruskan lengannya, lalu menepuk pelan agar gadis itu meletakkan kepalanya di lengan miliknya.
Tanpa protes Chilla melakukan yang Alva instruksikan kepadanya, bahkan ia tak merasa sungkan untuk melingkarkan tangan mungilnya ke perut Alva.
"Apa Mama dan Papamu tahu kalau kau ada disini?" Tanya Alva seraya menyibak rambut Chilla ke belakang. Hingga dapat ia lihat dengan leluasa wajah cantik nan mulus itu dari jarak dekat.
Pelan, Chilla menggeleng.
"Nana pasti sudah mengurusnya," balas Chilla yakin.
Karena sebelum ia menghampiri Alva dan Juna, malam itu ia berpesan pada Nana, jika Mama dan Papanya bertanya, maka bilang saja kalau Chilla ada bersamanya.
Namun lain dengan reaksi Alva, ia justru mengerutkan dahinya, ingin Chilla menjelaskan lebih panjang.
Lama menunggu, tetapi Chilla tak mengatakan apapun. Tidak peka.
"Siapa Nana? Apa dia seorang lelaki?" Tanya Alva dengan nada tak suka.
"Dia itu sahabatku di sekolah, lagi pula dia seorang wanita," balas Chilla apa adanya.
"Benarkah? Apa dia juga tahu hubungan kita?"
"Tentu saja tahu, Chilla tidak pernah menyembunyikan apapun darinya,"
"Kau begitu percaya padanya?" Tanya Alva, tangan yang kelewat aktif itu kembali merayap untuk mengelus punggung Chilla. Lalu kembali turun kebawah untuk sesekali meremat pantatt Chilla yang polos karena tak terhalang apa-apa.
Tanpa sadar Chilla melenguh. Dan Alva kembali tersenyum lebar.
Alva mengikis jarak yang terbentang secuil diantara mereka, lalu kembali meraup bibir itu dengan perlahan dan melumaatnya penuh kelembutan. Seolah menyiratkan bahwa apa yang ia katakan murni tanpa embel-embel keterpaksaan.
**********
Sedangkan di tempat lain, yakni disebuah pusat perbelanjaan, seorang pria dengan wajah jengahnya berjalan merutuk sang Tuan yang membuat akhir pekannya berantakan.
Katanya selamat bersenang-senang? Mana? Bukannya senang, aku malah kesal.
Bagiamana tidak? Ia bahkan diam-diam di tertawakan oleh para penjaga toko, karena harus membeli satu set dalaman untuk pacar sang Tuan. Yang ia sendiri saja tidak tahu ukurannya.
Tak mau menduga-duga dan tidak mau terlalu lama, akhirnya Juna memilih ukuran yang paling kecil, sesuai usia gadis itu. Dan ia berharap banyak, kalau pilihannya itu tepat.
Sepertinya milik Nona Chilla memang masih kecil.
Haishhh... Kenapa ia malah jadi memikirkannya.
Stop Juna, kalau kau ingin selamat, jalankan saja perintahnya.
Karena saking tidak fokusnya, kesialan kembali menghampirinya karena ia harus menabrak seseorang, hingga barang yang ia bawa jatuh berhamburan.
"Aw!" Pekik seseorang yang ditabrak Juna.
Namun bukannya menolong, Juna justru memilih untuk mengemasi barang-barangnya dengan cepat, takut terlihat.
Hingga membuat seseorang itu berdecih, dan segera bangun sendiri.
"Hei, Tuan yang terhormat, tolong kalau jalan pakai mata," pekiknya dengan kesal seraya mengibas tubuhnya.
Begitu selesai mengemas, Juna langsung mengarah pada seseorang yang ditabraknya.
__ADS_1
"Nona, jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata," balas Juna dengan tegas. Emosinya tersulut, begitu mendengar pekikan seorang gadis didepannya.
Terlebih ia juga tengah kesal, sukseslah sudah gadis didepannya terkena imbasnya.
Gadis itu meremat tangannya geram, bukannya minta maaf malah memarahinya.
"Dasar tidak tahu diri, bukannya minta maaf malah marah-marah," cetusnya, ia sama sekali tidak takut, meski Juna adalah seorang pria.
"Hei, siapa yang tidak tahu diri? Aku inikan tidak sengaja,"
"Kalau tidak sengaja ya tinggal minta maaf saja, apa susahnya, "
"Oke aku minta MAAF, puas?" Juna mengalah, ia segera meminta maaf agar gadis itu segera menyingkir dari hadapannya.
"Tidak, aku mau kau bertanggung jawab,"
"Apa maksudmu?"
"Bahuku sakit, jadi kau harus tanggung jawab,"
Mendengar itu, Juna tahu gadis didepannya ini ternyata butuh uang, tanpa berkata apapun Juna mengambil dompetnya dan menyerahkan uang pecahan seratus ribu kepada gadis itu.
"Ini, beli obat pereda nyeri. Itu sudah lebih dari cukup,"
Gadis itu berdecih.
"Hah, hanya seratus ribu? Kau pikir uang segitu aku tidak punya? Aku tidak mau, aku mau 5 juta." Terang gadis itu dengan mengangkat tangannya menunjukan angka 5.
Glek!
"Dasar gila! Kau terluka saja tidak, tapi minta 5 juta," protes Juna.
"Itu karena kau juga memarahiku,"
"Heh, gadis cilik sudah bagus aku mau bertanggung jawab, kau malah mau memerasku." Sulut Juna tak tahan, hingga tanpa sadar ia mengepalkan tangannya ingin membuat gerakan memukul.
"Cih, kau mau memukulku? Dasar pecundang, beraninya pada seorang wanita," cibir sang gadis.
Mendengar itu, Juna meninju udara seolah menyiratkan kekeselannya. Kenapa hari ini ia sial sekali sih?
Sedangkan gadis itu terus memperhatikan Juna, parasnya terasa tidak asing, tapi dia tidak ingat pernah melihat dimana. Karena kalau soal mengingat orang, dia bukan jagonya.
Namun ketika melihat barang bawaan Juna, ia kembali berdecih, ternyata lelaki didepannya ini seorang player. Batinnya yakin.
"Oh aku tahu, kenapa kau beraninya pada seorang wanita, ternyata kau ini seorang player yah?"
"Apa maksudmu?"
"Memangnya aku tidak lihat apa yang kau beli? Lelaki tampan sepertimu itu memang tampang buaya, tampang mesuum, tampang selangkangaan, pasti kau membelikan itu untuk pacarmu, iyakan?"
Sontak Juna mengangkat apa yang ia bawa, ia mendesaah. Lalu kembali melayangkan tatapan tajam pada gadis didepannya.
Kesabarannya sudah habis, lebih baik ia pergi, daripada harus jadi gila karena meladeni gadis cilik didepannya ini.
"Itu bukan urusanmu," ucap Juna seraya memutar badan dan melangkah dengan kaki lebar.
"Heh, jangan kabur, kau harus bayar 5 juta padaku, kalau kau tidak membayarnya aku akan anggap itu hutang, karena sampai kiamat aku akan menagihnya," teriak gadis itu.
Namun, Juna tidak peduli lagi, ia terus saja melangkah. Ia yakin, kalau ia tidak mungkin bertemu gadis kecil itu lagi. Karena ia bisa gila kalau itu terjadi.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...****************...