
Lelaki tampan itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang indah. Saat ia merasa ada kecupan basah di seluruh sisi wajahnya. Matanya menyipit, menyesuaikan cahaya.
Lampu tidur masih menyala dengan alam yang masih menggelap di luar sana, tetapi sang istri justru sudah terlihat bersemangat, dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
Alva menarik tubuh istrinya mendekat, lalu memeluk erat.
"Sayang, ayo bangun. Kita lihat matahari terbit." Rengek Chilla mencoba melepaskan diri dari rengkuhan sang suami.
Namun, Alva hanya bergeming. "Sayang... Aku ingin melihat matahari terbit." Rengeknya lagi, samb menggoyangkan tubuhnya.
"Apa enaknya melihat matahari terbit?" Gumam Alva dengan suara parau, tak mengindahkan permintaan sang istri, lelaki itu justru semakin erat memeluk tubuh Chilla, seperti guling.
"Aku ingin melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan di rumah. Jadi, ayo Sayang, kita melihatnya, sekali saja." Kembali merengek, diiringi cubitan kecil di dada Alva yang terbuka.
Alva yang semula terpejam, kini membuka matanya lebar-lebar. "Bagaimana kalau kita menerbitkan yang lain?" Ucapnya lengkap dengan seringai.
"Sayang... Satu ronde setelah kita melihatnya." Paham arah pembicaraan sang suami, Chilla langsung memberikan penawaran. Bahkan ia berkedip genit saat mengucapkannya.
Yang penting sekarang adalah, lelaki itu mau ia ajak untuk bangun dan duduk di balkon untuk menyaksikan sesuatu yang indah.
"Tidak mau!" Tolak Alva dengan bibir mengerucut, tidak setuju.
"Dua, bagaimana?" Chilla masih berusaha, ia mengacungkan dua jarinya seraya tersenyum menggoda.
"Tiga baru mau." Pungkas Alva, lalu mencuri kecupan di bibir sang istri.
"Oke, siapa takut." Tantang gadis berponi tersebut.
Setelah sepakat, keduanya turun dari atas ranjang. Namun, Alva sama sekali tak melepaskan sang istri dari tubuhnya. Ia menggendong Chilla hingga ke balkon dengan diiringi ciuman basah di setiap langkahnya. Membuat gadis berponi itu merasa sangat dicintai, oleh lelaki yang menggendong tubuhnya ini.
Setelah sampai, Alva mendudukkan Chilla di atas pangkuannya. Semilir angin berhembus kecil, suara ombak berkejaran begitu terasa merdu di dalam gendang telinga.
Langit masih menggelap, tetapi setitik cahaya di ujung timur terlihat sebentar lagi akan muncul. Inilah saat yang ditunggu-tunggu gadis itu.
__ADS_1
Chilla merasakan hawa dingin itu mulai menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Alva yang faham, berinisiatif untuk mengambil selimut untuk sang istri, bukannya mengiyakan, Chilla justru menggeleng, lalu dengan debaran yang masih sama, gadis cantik itu menyapa bibir sang suami lebih dulu, bibir yang selalu membuatnya candu.
Mencari kehangatan, dari sesuatu yang sudah halal.
Lelaki itu menyambut dengan antusias, membalas tak kalah buas. Tangan besarnya menelusup masuk di balik lingerie tipis sang wanita. Decapan-decapan merdu mulai mengisi, beradu dengan suara alam yang akan memulai aktivitas pagi.
Tubuh Chilla semakin merapat, tatkala Alva mengelus dan sesekali meremat gemas gundukan di bawah sana. Sedangkan sesapan itu tak habis-habis, saling memburu dengan gairah birahi yang semakin memuncak hingga ke ubun-ubun.
Gadis itu mulai merasakan sinar hangat di belakang tubuhnya, bersamaan dengan sesuatu yang bangkit di bawah sana.
Alva memutus pagutan itu lebih dulu, memandang wajah cantik di depannya dengan tatapan teduh, lalu mengelap sisa-sisa ciuman basah di bibir sang istri dengan jari jempolnya.
"Lihat, mataharinya sudah terbit, pas dengan belalaimu yang ikut bangkit." Ucap Alva diiringi senyum mesumm yang menghiasi dua sudut bibirnya.
Chilla pura-pura mencebik, memukul dada Alva dan berbalik.
Matanya melebar takjub, mulutnya tak berhenti menganga seiring sang surya mulai naik ke atas peraduan. Sesuatu yang ingin ia lihat bersama orang yang paling ia cinta, matahari terbit di pagi-pagi buta.
Bias cahaya itu menghangat, begitu terang menyinari jagat raya.
Ia menguncir rambutnya lebih dulu membentuk cepolan, lalu dengan nakal berkedip genit dan bergumam. "Ayo mulai pagi ini dengan sesuatu yang menyenangkan, Alvaku Sayang."
Tak sempat menjawab, bibir lelaki itu sudah dibungkam. Istri kecilnya ini benar-benar sudah pintar, tanpa dipinta sudah mampu memberikan apa yang Alva inginkan.
Gadis itu mengalungkan tangannya di leher kokoh sang suami, sedangkan bibirnya tak berhenti bermain, dan saling beradu satu sama lain.
Usapan-usapan lembut menjadi satu-satunya penambah gairah, tak hanya Chilla yang terus mengelus lembut tengkuk suaminya. Tetapi juga Alva, tangan besar lelaki itu merayap, dari punggung hingga ke pucuk sang istri yang membusung.
Puas dengan bibir Chilla, Alva mulai menyusuri leher putih itu, bergerak lembut diiringi sesapan yang membuat Chilla kegelian.
"Sayang." Gumam Chilla, meliuk-liukan tubuhnya.
Sejenak, Alva menghentikan aktivitas mereka, nafasnya terdengar terengah-engah. Chilla mengangkat tangannya tinggi-tinggi, saat sang suami membantunya untuk membuka lingerie.
__ADS_1
Tubuh polos dengan pahatan sempurna itu membuat Alva berkali-kali meneguk ludahnya. "Ah." Chilla mendesaah, saat sang suami menyerang puncak payudaraanya tiba-tiba. Menyesap seperti bayi yang kehausan, hingga rasa panas itu mulai menjalar ke seluruh urat syarafnya.
"Terus, Sayang." Pinta Chilla di antara lenguhan yang terdengar syahdu. Hingga saat Alva merebahkan tubuh mereka di atas sofa, lelaki itu melucuti celana boxer yang menjadi penghalang belalainya.
Pusaka kesayangannya sudah siap maju ke medan perang, begitu tegak siap untuk mengoyak.
Dengan seringai tipis, lelaki itu menyatukan diri dengan sang istri. Mengarungi bahtera menuju nirwana, Alva mulai menggerakkan pinggulnya.
Chilla tak berhenti untuk meremat-remat bahu suaminya, sedangkan bibir mungil itu tak berhenti menyebut nama Alva seiring erangan nikmat akibat serangan yang ia terima.
"Alva, Alvaku yang tampan." Godanya di bawah sana, membuat lelaki itu tersenyum di sela-sela ia memompa tubuhnya.
"Kau juga begitu cantik dari atas sini." Balas Alva, pusakanya terasa seperti dipijat di kurungan lembut yang basah, ia beberapa kali memejamkan mata, saking nikmatnya himpitan di bawah sana.
Tersipu, dengan rona merah di pipi, Chilla menarik kepala Alva lalu kembali menyatukan bibir mereka.
Di pagi yang cerah, embun basah menjadi saksi. Dua jiwa yang di takdirkan menjadi satu, dalam kubangan gelora cinta penuh gairah.
Bahkan dinginnya angin, tak mampu mengalahkan panas api asmara yang mereka cipta.
Lenguh dan erangan, satu-satunya komunikasi yang indah, dan tak terbantah.
Dan derit sofa yang menjadi penyokong kegiatan mereka, basah, entah kapan mengeringnya.
Meski awal mereka adalah sesuatu yang salah, tetapi baik Alva maupun Chilla, takkan menyesalinya. Karena perasaan satu sama lain, tidak lagi main-main.
Hingga saat erangan panjang itu terdengar. Bumi benar-benar sudah nampak terang benderang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat pagi 🌞
Maaf yah, kemarin Dede nggak bisa up. Soalnya dari kemarin mulai sibuk di Real life. Tetapi diusahakan terus buat up, insyaallah pagi yah🙏
__ADS_1
Doakan sehat terus dan lancar terus idenya. Pun sebaliknya buat kalian semua. Jangan lupa like, komen dan vote🤗🤗🤗
Salam perhaluan 💃