Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Burung Papa


__ADS_3

Juna membawa kijang besi itu keluar dari gedung Antarakna group. Membelah jalan raya untuk mencari telur puyuh, sesuai keinginan istri tercinta Tuannya.


Alva terlihat membuka jas, lalu menggulung lengan kemeja hingga ke siku. Lantas duduk bersandar di punggung kursi mobil adalah pilihannya.


Melepas sejenak rasa penat, sebelum benar-benar pulih, karena bagi lelaki itu, sumber energinya hanyalah Chilla.


"Oh iya, Jun. Kalau kau mau jatahmu benar-benar lancar, ingat untuk turuti kemauan istrimu, karena dengan begitu, dia akan merasa bahwa kau memprioritaskannya." Ujar Alva seraya melirik Juna dari belakang sana.


Dahi Juna mengernyit, dengan otak yang diselimuti tanda tanya.


"Tapi bagaimana kalau permintaannya sulit? Apa saya harus menurutinya juga?" Juna buka suara seraya membalas tatapan Alva dari balik kaca spion tengah.


"Tentu saja," balas Alva enteng, dia sedikit menguap lalu melipat tangan di depan dada.


"Tapi Nana itu berbeda dengan Nona Chilla, Tuan," keluh Juna dengan suaranya yang terdengar lemah.


Dan hal itu sukses membuat Alva mendudukkan dirinya dengan tegak, detik selanjutnya yang Alva lakukan adalah, menggeplak kepala Juna dari arah belakang.


"Jelas berbedalah. Chilla itu istriku, dan dia itu istrimu. Inilah kesalahanmu, kau suka membanding-bandingkan wanitamu dengan milik orang lain, harusnya kau itu terima dia apa adanya." Cetus Alva menggebu-gebu.


Gigi depannya langsung bertautan dengan sorot mata memajam. Tanda tidak suka, ada seseorang yang membanding-bandingkan istrinya.


Namun, Juna malah dengan entengnya berkata."Ya saya memang terima dia apa adanya, Tuan. Bukan ada apanya. Tapi_"


"Orang yang benar-benar menerima tidak ada kata tapi-tapian, Juna. Tidak ada." Tegas Alva dengan memotong cepat kalimat yang akan terlontar dari mulut asistennya, Juna.


Membuat lelaki itu langsung meneguk ludahnya susah payah, dia mulai paham apa yang dimaksud Tuannya. Melihat Alva yang seserius itu, dia jadi merasa bodoh sendiri.


Dulu dia yang sering menasihati orang yang ada di belakang sana, tapi sekarang? Malah justru berbanding terbalik.


Kelihatannya dia sudah mulai pintar.


"Iya baik, Tuan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah, Alva langsung melenggang masuk, di ruang tamu Alva bertemu sang ibu. Alva lebih dulu mencium punggung tangan Mona, kemudian bertanya tentang keberadaan Chilla.


"Istriku dimana, Ma?" Tanya Alva. Satu plastik berisi telur puyuh, dan tas kerjanya sudah dia tenteng dengan satu tangan, sedangkan di tangan yang lain, jas Alva menyampir.


"Di halaman belakang tuh." Balas Mona, lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi ke depan.

__ADS_1


Alva hanya menatap punggung sang ibu dengan alis terangkat. Kemudian dia melangkah ke dapur dan mendapati Bi Asmi sedang menata sayuran di kulkas.


"Bi, sekalian." Ucap Alva singkat, bahkan terkesan sangat datar.


Lantas, setelah Alva meletakkan telur puyuh itu di meja dapur, dia melenggang ke arah halaman belakang, tempat dimana istrinya berada.


Di ambang pintu, dia sudah bisa melihat Chilla, gadis itu tengah menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan, wajah yang nampak memerah, entah karena apa.


"Sayang," panggil Alva mesra.


Merasa terpanggil, Chilla menoleh dengan mimik wajah tegang. Membuat Alva semakin dipenuhi rasa penasaran.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Alva, dia mendekat dan langsung menangkup kedua bahu Chilla.


Gadis itu lebih dulu meneguk ludahnya. "Itu Kak. burung Papa, burung Papa lepas karena aku mainin." Lirih Chilla dengan raut wajah penuh rasa bersalah.


"Apa?" Sentak Alva, mendengar itu dia langsung membulatkan kedua kelopak matanya. Dan perlahan tangannya merosot dari bahu Chilla.


"Burung mana yang kau maksud, Chilla?" Cetus Alva dengan raut yang kalang kabut. Meminta penjelasan lebih rinci dari istri kecilnya itu.


Chilla menggigit bibir bawahnya, dengan tangan yang sudah keringat dingin, melihat Alva yang seperti ini, ia yakin suaminya itu akan marah.


"Burung kesayangan Papa. Tadi aku elus-elus pas lagi berdua, tapi itu juga karena Papa sendiri kok yang ngasih unjuk." Rengek Chilla dengan bibir yang mengerucut.


Dan Chilla mengangguk sebagai jawaban."Iya, Sayang. Maafkan aku, aku tidak sengaja."


"Benar-benar!" Rahang Alva mengeras, matanya menatap nyalang alam sekitar, lalu dengan cepat dia meraih tangan Chilla, dan mencari keberadaan sang ayah.


Dan di sana, Jonathan terlihat tengah menengadah, mencari sesuatu di atas udara.


"Papa!" Jerit Alva, hingga Jonathan langsung menoleh karena terkejut.


Sebelum menjawab, Alva kembali menyerobot.


"Apa maksud Papa mengizinkan Chilla melihat burung Papa?" Ketus Alva tanpa basa-basi, wajahnya sudah memerah menahan emosi, sedangkan Chilla hanya mampu menunduk, karena takut.


"Chilla yang mau kok." Balas Jonathan enteng, lalu matanya kembali melihat ke atas sana.


Mendengar itu, Alva kembali menatap sang istri, sumpah demi apapun, Chilla sebenarnya ingin tertawa saat melihat ekspresi wajah Alva. Tapi dia sama sekali tak memiliki keberanian sebanyak itu.


"Arggghh! Chilla sekarang jawab aku, sebesar apa burung Papa? Apa sanggup mengalahkan milikku?" Alva merengek dengan kaki menghentak tanah, membuat fokus Jonathan jadi teralihkan.

__ADS_1


"Ya lumayan besar, Sayang. Kira-kira segini kalau dipegang." Balas Chilla dengan memeragakan cara menggenggam, dia selalu menjawab apa adanya, meksipun dia tidak tahu maksud pertanyaan Alva itu apa, dia hanya tahu burung Jonathan yang lepas adalah, burung yang ukurannya cukup besar.


"Papa!!!!!!" Jerit Alva lebih keras.


"Apa sih Alva, Chilla tidak sengaja, tadi dia hanya lihat-lihat, biar leluasa mainin ya Papa buka." Jelas Jonathan, menatap aneh pada putra semata wayangnya itu.


"Arggghh! Kenapa kau melihatnya sih, kenapa kau bermain-main dengannya, kurang apa belalaiku Chilla?" Alva terlihat sangat frustasi, bahkan dia beberapa kali meninju udara menghempaskan kekesalannya.


"Kakak Baby kita_"


"Kau bahkan mengakuinya, kau mengakui burung Papa besar." Potong Alva cepat, dia tidak terima, kenapa Chilla mesti melihat burung ayahnya.


"Memang itu kenyataannya, Kak."


"Cukup! Kalian tega."


"Hei, hei kamu ini kenapa sih? Papa yang kehilangan burung, kok malah kamu yang frustasi." Jonathan menengahi, dia jadi ikut pusing sendiri, karena sedari tadi Alva terus mengoceh kemana-mana.


Bahkan mengatakan tega-mentega segala.


"Pa, Papa!" Tiba-tiba Mona datang, dan memanggil Jonathan, membuat ketiga orang itu mengalihkan pandangan mereka masing-masing.


Alva masih terlihat mencebikkan bibirnya.


"Iya, Ma," sahut Jonathan.


"Burung Papa ada di depan tuh, di tangkai pohon mangga dekat jalan, Pak Yanto lihat katanya," ucap Mona dengan suara menggebu.


Seperti mendapat harapan, mata Jonathan langsung berubah berbinar. Dengan cepat dia mengajak sang istri untuk ke depan, tetapi langkah mereka terhenti saat sebuah pertanyaan terlontar.


"Burung apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Alva dengan suara parau.


"Itu si Robert, burung Papa yang harganya 50 juta, kabur tadi pas istri kamu mainin,"


Hah?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kakak udah frustasi yah, takut kalah saing burungnya 🤣🤣🤣


Yuk lempar vote dan poinnya😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2