
Didalam selimut Andita menangis sejadi-sejadinya. Air matanya terus berderai tak mau berhenti. Ia menggigit bibir bawahnya agar isaknya itu tidak terdengar oleh Zidan.
Namun Zidan yang memang peka terhadap kondisi istrinya, sangat tahu jika istrinya saat ini tengah menangis. Meskipun tanpa suara, ia bisa melihat dari tubuh Andita yang bergetar.
Sebenarnya ia tidak ingin membentak Andita seperti itu. Tapi menurut Zidan, sebagai istri sikap Andita sudah keterlaluan padanya.
Sejak dulu Zidan memang tidak suka dibantah. Dia juga bukan tipikal lelaki penyabar. Sifatnya keras seperti sang ayah. Meskipun Zidan mencintai Andita, dia tidak mau terlihat lemah dihadapan orang yang dicintainya itu.
Tapi bagaimanapun Zidan juga menyadari kesalahannya karena menghindari pertanyaan Andita hingga membuat wanitanya itu ragu akan perasaannya.
Sebenarnya Zidan bukan tidak mau bersikap jujur pada Andita. Hanya saja dia tidak suka masalalunya diusik. Apalagi untuk urusan percintaan. Karena dia sudah mengubur perasaan itu dengan susah payah.
Zidan tidak mau mengingat masalalunya dengan Zoya karena baginya itu menyakitkan. Ketika dia sangat mencintai seseorang, namun orang yang dia cintai malah mencintai orang lain.
Ya, itulah yang Zidan rasakan. Sebelum hadirnya Andita dihidup Zidan, Zidan memang begitu tergila-gila pada Zoya. Karena Zoya adalah cinta pertamanya.
Apapun dia lakukan dan berikan pada wanita itu. Perhatian, kasih sayang semua Zidan tumpahkan hanya pada Zoya.
Tanpa Zoya sadari jika Zidan memiliki perasaan lebih padanya.
Hingga suatu hari Zidan pun memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini pada Zoya. Akan tetapi Zoya malah lebih dulu mengatakan jika dia mencintai Andrew. Dan tengah menjalin hubungan spesial dengannya.
Tentu kenyataan pahit itu membuat perasaan Zidan hancur berkeping-keping. Padahal dia sudah menyiapkan segalanya untuk menyatakan cinta pada Zoya. Tapi malah kesakitan yang ia dapat.
Awalnya Zoya tidak ingin memberitahukan tentang hubungannya dengan Andrew pada Zidan, karena takut persahabatan mereka akan retak. Tetapi menurut Zoya itu adalah hal yang salah.
Jika dia diam saja maka Zidan akan terus memperlakukan Zoya seperti layaknya seorang kekasih. Dan Zoya tidak mau jika sikap Zidan yang berlebihan itu akan membuat hubungannya dengan Andrew merenggang. Hingga akhirnya Zoya pun mengatakan hal tersebut pada Zidan. Dia meminta Zidan untuk berhenti bersikap berlebihan padanya.
Mendengar penuturan Zoya yang memintanya untuk berhenti memberikan perhatian lebih, akhirnya mau tidak mau Zidan pun menurutinya.
Demi menghargai Andrew dan demi kebahagiaan Zoya dengan berat hati Zidan memutuskan untuk menjauhi keduanya. Dia mencoba untuk merelakan Zoya dan menerima hubungan mereka. Hingga akhirnya Zidan pun menemukan cintanya pada Andita.
******
Waktu sudah menunjukan pukul 1 dinihari.
Sedari tadi Zidan hanya berdiam diri menyandarkan tubuhnya dibahu ranjang. Pandangannya sejak tadi tidak luput dari gundukan selimut yang menutupi tubuh istrinya itu.
Dia tahu Andita sangat sedih dan kecewa atas sikapnya barusan. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Zidan tidak bisa mengontrol emosinya yang meluap-luap. Meskipun saat ini dia merasa bersalah karena sudah membuat Andita-nya menangis.
Setelah melihat tidak ada pergerakan dibalik selimut, Zidan memberanikan diri membuka selimut itu perlahan guna melihat wajah istrinya.
Dan benar saja dugaan Zidan, Andita sudah tertidur pulas. Karena nafasnya yang terdengar teratur. Zidan pun membalikkan tubuh Andita hingga terlentang. Dia ingin melihat keseluruhan wajah istrinya itu.
Perlahan Zidan mengulurkan tangannya. Ia menyingkap sulur anak rambut yang menghalangi wajah Andita. Kemudian Zidan memandangi wajah cantik itu lamat-lamat. Wajah Andita terlihat sembab mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan airmata.
Dengan lembut Zidan mengusap pipi gadis itu. Lalu menciumi keningnya begitu khidmat. Tanpa terasa ekor matanya pun berair.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang. Aku menyesal, karena sudah membuatmu menangis."
Setelah mengatakan itu Zidan membaringkan tubuhnya menyamping menghadap Andita. Wajahnya ia topang pada pundak istrinya itu hingga hidung mancungnya nyaris menempel pada lehernya.
Sementara tangannya melingkar diatas perut Andita. Zidan mendekap tubuh istrinya begitu erat. Seolah ia takut kehilangan istrinya itu.
Lambat laun netranya memberat. Deru nafasnya mulai teratur pertanda Zidan sudah terlelap dalam tidurnya.
Disaat bersamaan Andita membuka mata. Ia menatap kosong langit-langit kamar. Sebenarnya dia sudah terbangun sejak Zidan membalikkan tubuhnya. Dia juga mendengar permintaan maaf suaminya itu. Hanya saja dia enggan untuk merespon.
Hatinya masih begitu sakit saat Zidan membentak dan hendak menamparnya. Tanpa terasa Andita kembali mengeluarkan cairan bening. Entah sudah berapa banyak airmata yang sudah ia keluarkan malam ini.
Andita berharap esok pagi semua rasa sakitnya akan hilang.
******
Keesokan harinya.
Saat Zidan membuka mata, ia begitu terkejut karena tidak mendapati sosok sang istri disampingnya.
"Andita?!!"
Zidan memfokuskan pandangannya yang masih sayup-sayup keseluruh ruangan kamar. Namun sayang, Andita tidak berada disana. Ia melihat jam kecil diatas nakas waktu menunjukan pukul 5.30. Waktu yang terbilang cukup pagi.
"Kemana dia sepagi ini?!"
"Tidak! Tidak mungkin dia kabur kan?!" Batin Zidan mulai gelisah.
Zidan melempar selimut yang membungkus tubuhnya. Dia segera bergegas turun dari ranjang seraya memanggil nama istrinya.
"ANDITA!!" Teriak Zidan.
Ia berlari menuju kamar mandi berharap menemukan Andita disana.
Namun nihil. Kamar mandi itu kosong. Zidan mengusap wajah kasar. Nafasnya memburu. Ia sampai menjambak rambutnya sendiri.
"Kemana dia?!"
"Tidak! Dia tidak boleh pergi!"
Degub jantung Zidan berpacu ketika ia memikirkan hal tersebut. Dengan langkah tergesa-gesa Zidan segera berjalan keluar kamar. Ia akan menyuruh orang-orangnya untuk mencari Andita.
Saat Zidan akan meraih handle pintu, tiba-tiba..
Ceklek
Pintu terbuka dari luar. Disaat bersamaan Andita muncul dihadapan Zidan. Mereka berdua sama-sama terkejut.
__ADS_1
Untuk sesaat kedua pasutri itu saling menatap. Andita berkali-kali mengerjapkan matanya ketika melihat ekspresi wajah Zidan yang begitu panik.
Awalnya Andita ingin bertanya, namun niatnya ia urungkan. Mengingat dia masih marah pada suaminya itu. Andita tahu pasti saat ini Zidan tengah kelimpungan mencarinya.
Sementara Zidan yang kepergok oleh Andita membuang pandangannya kearah lain.
"Kau sudah bangun?" Tanya Andita selembut mungkin. Meskipun hatinya masih berkecamuk didalam sana ia harus tetap menghormati suaminya.
Kali ini pandangan Zidan kembali menatap Andita.
"Ya. Kau darimana saja?!"
"Aku dari dapur. Aku membuatkan kopi untukmu." Andita melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar sambil membawa secangkir kopi diatas nampan.
Ia menaruh kopi itu diatas nakas. Sedangkan Zidan masih berdiri didepan pintu.
"Minumlah. Aku akan kembali kedapur untuk membuatkan sarapan." Ucap Andita.
"Untuk apa kau repot-repot membuat sarapan?! Sudah ada banyak pelayan disini!" Zidan mencekal tangan Andita yang hendak keluar kamar.
Andita menatap tangannya yang dicekal oleh Zidan. Sepertinya pagi ini dia tidak akan bisa lolos untuk menghindari suaminya itu.
"Tapi aku ingin membuatkan sarapan untukmu."
"Tidak perlu! Tetaplah disini!"
Zidan menarik Andita masuk lalu mengunci kamar. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya pada bahu ranjang. Sementara Andita memilih duduk ditepiannya.
"Apa kau tidak ingin menemani suamimu Andita?!" Tanya Zidan yang melihat Andita tidak mengikuti dirinya naik keatas ranjang.
"Aku tahu kau masih marah padaku. Kau sedang menghindariku bukan? Jika kau tidak ingin melihatku, kau bisa melakukan itu besok. Karena besok aku akan pergi. Jadi anggap saja hari ini hari terakhirmu melihatku." lanjut Zidan.
Deg
Hari terakhir?
Kenapa tiba-tiba hati Andita berdenyut nyeri saat Zidan mengatakan hal itu? Andita jadi teringat saat Zidan terbaring koma.
Saat itu Andita begitu takut Zidan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Lalu sekarang lelaki itu malah mengatakan hari terakhir, membuat jantung Andita seolah diremas.
Pandangan Andita yang sedari tadi tertunduk kini terangkat dan menoleh pada Zidan. Tatapan mereka bertemu. Namun mata Andita sudah berkaca-kaca.
"Aku benar-benar membencimu Zidan!"
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa Like Komen Hadiah dan Votenya yaaa flend❤