
"Wuahhh!!!" Andita tampak takjub saat ia melihat berbagai macam biota laut tengah berenang didalam aquarium besar.
Saat ini Zidan tengah mengajaknya ke Sea World. Mereka berjalan menelusuri terowongan bawah air.
Zidan yakin Andita pasti akan sangat suka melihat dunia bawah laut yang terdapat banyak ikan unik dan cantik didalamnya.
Dan ternyata benar dugaan Zidan. Andita seperti anak kecil yang begitu menggemaskan saat matanya tidak berkedip menatap pesona ikan-ikan lucu didalam aquarium tersebut.
Bahkan tangannya ia tempelkan pada dinding kaca yang membatasi mereka seolah saat ini ia tengah berinteraksi dengan para makhluk laut itu.
Zidan tersenyum dan menghampiri Andita. Ia merangkul pundak istrinya dan ikut menikmati keindahan pemandangan didepannya.
"Bagaimana? Kau suka?" Tanya Zidan.
"Sangat suka!" Andita melingkarkan tangannya pada pinggang Zidan. Hingga tubuh mereka saling menempel.
"Apa kau ingin menyelam? Jika kau menyelam, kau bisa berinteraksi secara langsung dengan para biota laut itu."
"Memangnya boleh?"
"Tentu saja boleh! Siapa yang berani melarangmu?! Kau kan istriku!" Ucap Zidan dengan percaya diri.
Padahal tempat wisata itu memang menyediakan alat untuk menyelam bagi para pengunjung disana.
"Bagaimana mau tidak?!"
Sejenak Andita nampak berpikir.
"Umm, tidak! aku cukup melihatnya saja dari sini."
"Memangnya kenapa?! Apa kau takut dengan hiu itu?" Tunjuk Zidan pada ikan hiu yang menghampiri mereka dan menunjukan gigi taringnya.
Andita terkekeh mendengar ucapan suaminya.
"Ya itu salah satu alasannya."
"Salah satu alasannya? Memang masih ada alasan lain?!" Tanya Zidan. Kini netranya melihat kearah Andita.
"Humm." Andita mengangguk.
"Apa alasan lainnya?"
Andita melirik kekanan dan kekiri, lalu berjinjit disamping suaminya untuk membisikkan sesuatu.
"Aku tidak bisa berenang!" Bisik Andita.
Seketika Zidan tercengang dan membulatkan matanya.
"Apa?! Tidak bis.." Andita segera membekap mulut Zidan agar suaminya itu tidak bicara terlalu keras.
"Jangan bicara keras-keras! Aku malu!" Andita melotot pada Zidan.
"Pfffttt..." Zidan tergelak ketika Andita sudah melepaskan tangannya dari mulutnya.
"Berapa usiamu sekarang sayang?"
"Kenapa memangnya?!"
"Tidak. Hanya saja aku merasa lucu saat kau memberitahuku jika kau tidak bisa..."
"Berenang." bisik Zidan.
Andita mendengus kesal mendengar ejekan suaminya itu.
"Biarkan saja! Memangnya kenapa jika aku tidak bisa berenang?!" Gumam Andita dengan wajah cemberut.
"Ya tidak apa-apa. Tapi bagaimana jika kita berdua sedang berada disebuah kapal dan tiba-tiba kapal itu tenggelam, apa yang akan kau lakukan jika tidak bisa berenang?"
"Kau kan bersamaku. Tentu saja kau harus menyelamatkanku. Itu juga kalau kau benar-benar mencintaiku Zidan." Jawab Andita acuh sambil berlalu meninggalkan suaminya.
"Hah?! Jawaban macam apa itu!"
Zidan segera menyusul Andita dengan berjalan cepat, hingga langkah mereka sejajar. Kemudian ia kembali merangkul pundak istrinya itu.
"Kenapa kau tidak belajar berenang dikolam rumah kita sayang? Kau kan bisa belajar sepuasnya!"
Andita berdecak.
"Aku belajar dengan siapa? Dengan hantu?!" Ketusnya.
Zidan tergelak mendengar jawaban Andita.
"Baiklah, nanti aku akan mengajarimu setelah aku pulang dari luar kota. Aku akan melatihmu sampai kau benar-bisa bisa! Tapi tidak gratis!"
"Ckk! Kalau begitu tidak usah! Terimakasih! Lagipula memang kau bisa berenang?"
__ADS_1
"Tentu saja bisa! Apa kau tidak tahu jika suamimu ini multitalenta?!" Jawab Zidan dengan percaya dirinya.
"Hufft!! Terserahlah!" Andita memutar bola mata jengah. Sementara Zidan hanya tertawa.
Kini mereka berdua kembali menelusuri terowongan bawah air dan kembali dibuat takjub saat menyaksikan pertunjukan feeding show. Dimana petugas memberi makan ribuan biota laut.
Tidak lupa mereka berfoto untuk dijadikan kenang-kenangan.
Setelah puas, Zidan mengajak Andita menaiki gondola. Mereka akan melihat pertunjukan lumba-lumba dan singa laut ditempat yang berbeda.
Dan lagi-lagi Andita dibuat kagum ketika melihat atraksi hewan laut itu. Sementara Zidan lebih asyik memandangi wajah cantik istrinya yang sedari tadi tidak henti-hentinya tersenyum bahagia.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari pun sudah menggelap. Sebelum pulang Zidan dan Andita membeli beberapa pernak pernik lucu untuk dibagikan kepada para pelayan dirumah.
Sementara Andita sendiri hanya membeli sebuah boneka lumba-lumba berukuran besar berwarna biru langit dan dua buah kaos couple dengan motif dan warna senada. Satu untuknya dan satu untuk Zidan.
Awalnya Zidan menolak karena itu terlalu kekanak-kanakan. Tapi demi menyempurnakan kebahagiaan sang istri akhirnya mau tidak mau Zidan menerimanya.
"Bagaimana Andita? Apa hari ini kau puas berkencan denganku?" Tanya Zidan saat mereka sudah keluar dari tempat wisata.
"Hu'um. Aku sangat puas sekali! Terimakasih banyak Zidan. Kau membuatku bahagia!" Andita mengecup pipi Zidan sebagai ungkapan terimakasih. Kemudian melingkarkan tangannya pada tangan Zidan lalu menyandarkan kepalanya dibahu lelaki itu.
Sementara tangan lain Zidan memegang setir kemudi.
Zidan tersenyum senang. Sekilas ia mencium pucuk kepala Andita lalu netranya kembali fokus pada jalanan didepan.
"Tapi kencan kita belum berakhir Andita. Aku akan membawamu kesatu tempat lagi."
Andita nampak terkejut mendengarnya. Ia menatap Zidan lamat-lamat.
"Satu tempat lagi?!"
"Ya! Kau belum lelah kan?!"
Jujur saja sebenarnya Andita sangat lelah. Kakinya terasa pegal karena terlalu lama berdiri dan berjalan.
Tapi berhubung besok Zidan akan pergi, Andita tidak mau mengecewakan suaminya itu. Dia akan menghabiskan malam ini dengan Zidan.
"Selama berada disampingmu, aku tidak akan pernah merasa lelah Zidan."
Mendengar ucapan istrinya, seketika Zidan tertawa.
"Hah! Kau belajar menggombal darimana Andita?!"
"Menggombal?!"
"Haish, memangnya aku ini kau?! Manusia yang penuh rayuan dan gombalan!" Ketus Andita.
"Aku?! Manusia penuh rayuan dan gombalan?!" Zidan menunjuk dirinya sendiri seraya mengangkat satu alisnya.
"Ya. Apa kau tidak sadar?! Bahkan aku adalah salah satu korbanmu!" Ucap Andita, membuat Zidan berdecak.
"Tapi kau menyukainya bukan?! Bahkan sekarang kau sudah tergila-gila padaku!" Jawab Zidan dengan percaya dirinya.
"Hah?! Siapa bilang aku tergila-gila padamu?!" Andita melempar pandangannya kesembarang arah. Wajahnya sudah bersemu merah.
"Benar kau tidak tergila-gila padaku?!" Goda Zidan.
"Tentu saja tidak! Lagipula apa buktinya jika aku tergila-gila padamu?!"
"Kau menanyakan bukti?!"
"Ya!"
"Buktinya adalah, saat aku pura-pura mati kau begitu histeris menangisiku. Bukankah itu pertanda jika kau tergila-gila padaku?!"
Deg
Wajah Andita seketika berubah merah padam. Ia menatap Zidan dengan tatapan sulit diartikan.
Jujur saja Andita paling tidak suka mengingat kejadian itu. Kejadian dimana Zidan tidak bangun dari komanya, yang membuatnya sangat takut.
Sementara Zidan yang melihat Andita menatapnya dengan mata berkaca-kaca, menjadi salah tingkah.
"Ada apa? Apa aku salah bicara?!"
"Tidak." Andita menggeleng pelan.
"Jadi benarkan tebakanku, jika kau memang tergila-gila padaku?!" Zidan menyeringai seolah tebakannya benar.
"Siapa bilang aku menangis histeris karena tergila-gila padamu Zidan?!"
"Lalu karena apa?!"
"Aku menangis karena aku belum siap menjadi janda!"
__ADS_1
"Apa?!!!"
******
Khusus hari ini Zidan benar-benar menghabiskan waktunya bersama Andita diluar rumah. Ia begitu senang ketika melihat senyum dan tawa diwajah istrinya itu.
Tapi saat mendengar ucapan Andita yang mengatakan jika istrinya itu takut menjadi janda, ternyata cukup mengusik Zidan.
Hingga membuat suasana hatinya sedikit memburuk. Namun Zidan tidak ingin memperlihatkannya. Dia ingin hari ini hanya dipenuhi tawa kebahagiaan antara dirinya dan Andita.
Setelah sampai ditempat yang dituju, Zidan memarkirkan mobilnya dibasement. Saat ini mereka tengah berada disebuah mall besar dipusat kota. Zidan akan mengajak Andita untuk bermain Ice Skating.
Andita yang nampak kebingungan pun bertanya pada suaminya itu.
"Zidan, untuk apa kita ke mall? Apa kita akan berbelanja?!"
"Apa di mall ini ada yang ingin kau beli Andita?" Zidan malah balik bertanya.
Andita pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Justru aku sedang bertanya padamu untuk apa kita datang kemari?!"
"Kita akan bermain ice skating!"
"Ice skating?!"
"Ya! Jangan katakan kau tidak bisa bermain ice skating!"
Andita mendelik pada suaminya itu.
"Tentu saja aku bisa walaupun hanya sedikit."
Zidan tergelak kecil.
"Tidak masalah, jika tidak bisa akan kuajarkan!"
"Wah, benarkah?!"
"Ya. Ayo!"
Zidan pun segera mengajak Andita untuk turun dari mobil. Mereka berdua langsung menuju ketempat yang tadi dimaksudkan oleh Zidan.
*****
Saat ini Zidan dan Andita sudah berada di arena seluncur es. Tempat itu nampak sepi. Hanya ada mereka berdua saja.
Dan lagi-lagi Andita dibuat bingung. Kenapa tidak ada satu orang pun yang bermain selain mereka? Andita akhirnya bertanya pada Zidan.
Tentu saja Zidan memiliki jawabannya. Karena dia yang sudah menyewa tempat tersebut untuk digunakannya bersama pujaan hatinya itu.
"Haruskah sekarang aku merasa kagum padamu Zidan, karena kau sudah menyewa tempat ini?!"
"Sepertinya harus!" Zidan menjawabnya dengan acuh.
Andita berdecak.
"Kenapa tidak sekalian kau sewa dengan mall-nya?! Biar kau puas!"
"Jika kau yang memintanya akan aku lakukan!"
Jawaban Zidan membuat Andita menatap tidak percaya pada suaminya itu.
Oh astaga, apa suamiku ini sedang pamer?!
"Cepat ganti pakaianmu! Kita akan bermain selagi tidak akan ada orang yang mengganggu!"
"Hah?! Jelas saja tidak akan ada yang mengganggu Zidan! Karena tempat ini sudah kau sewa!" Ketus Andita.
Ia pun segera pergi dari hadapan suaminya itu untuk mengganti pakaian yang lebih hangat, daripada harus berlama-lama berdebat yang tidak penting.
Setelah keduanya selesai mengenakan atribut untuk bermain ice skating, Zidan mengulurkan tangannya pada Andita.
"Kau siap sayang?!" Tanya Zidan.
Andita mengangguk antusias seraya menaruh tangannya diatas tangan Zidan.
"Tentu!"
"Kalau begitu ayo kita mulai!"
Perlahan Zidan menarik tangan Andita ketengah arena. Mereka pun mulai berseluncur bersama.
.
.
__ADS_1
Bersambung...