
Setibanya dirumah sakit Andita segera mempersiapkan segala keperluan Ibunya. Dari mulai mengurus surat-surat yang diberikan pihak rumah sakit untuk ditandatangani, biaya perawatan serta prosedur yang harus ditaati seperti serangkaian pemeriksaan pada tubuh ibu Andita.
Dokter mengatakan, timnya akan segera melakukan tindakan transplantasi apabila tidak ada masalah dalam tubuh pasien. Maka dari itu Andita harus menunggu kurang lebih 2 minggu sampai semua hasil tes darah dan rontgen ibunya keluar.
Selama menunggu hasil tes, ibu Andita tetap dirawat dirumah sakit agar dokter dapat memantau kondisinya. Dan selama itu juga ibu masih tetap melakukan cuci darah. Beruntung uang yang diberikan Zidan masih berlebih, sehingga Andita tidak terlalu pusing untuk memikirkan biaya perawatan ibunya selama dirawat dirumah sakit.
Dua minggu kemudian.
Saat ini Andita sedang berada diruangan dokter yang nantinya akan menangani operasi Ibunya. Dokter tengah menjabarkan beberapa hasil tes dari ibunya yang baru saja keluar.
"Nona Andita, disini dijelaskan bahwa kondisi Ibu anda sangat memungkinkan untuk melakukan transplantasi ginjal. Tidak ada masalah didalam tubuhnya." Jelas dokter.
"Syukurlah dok! Jadi, kira-kira kapan Ibu saya bisa melakukan operasi itu dok?" Tanya Andita.
"Itu dia persoalan yang ingin saya sampaikan pada anda, Nona Andita. Operasi belum dapat dilakukan karena dirumah sakit kami saat ini sedang tidak ada pendonor ginjal dengan golongan darah yang sama dengan ibu anda, yang memiliki golongan darah B."
Jeduarr
Seketika dunia Andita berhenti berputar. Hatinya seolah dihantam godam. Tenggorokannya tercekat. Setelah penantiannya selama dua minggu ini kenapa harus ada ujian baru lagi untuk dirinya dan ibunya? Ya Tuhaannn..
"A-apa Dok? Tidak ada pendonor? Lalu bagaimana dengan Ibu saya Dok?" Tanya Andita terbata. Matanya mulai memanas. Apa yang akan terjadi jika ibunya tidak segera melakukan transplantasi ginjal? Sementara penyakit ginjalnya sudah kronis.
"Kita harus segera mendapatkan pendonor dengan golongan darah yang sama. Jika tidak, kemungkinan besar Ibu anda tidak bisa bertahan hidup lebih lama." Ucap dokter dengan berat hati.
"A-apa Dok?! Lalu saya harus mencari pendonor kemana Dok? Katakan! Saya tidak bisa kehilangan Ibu saya! Tidak Dok, saya tidak bisa!" Andita mulai tidak bisa mengontrol dirinya.
"Anda harus tenang Nona! Ada satu cara agar kita bisa segera mendapatkan pendonor yang cocok dengan Ibu anda."
"Bagaimana caranya Dok? Cepat katakan! Saya akan melakukan apapun demi Ibu saya!"
Dokter menarik nafas dalam-dalam sebelum mengatakannya pada Andita.
"Anda bisa mendapatkan pendonor dari keluarga inti pasien. Bisa anak, adik, kakak, atau saudara yang memiliki golongan darah yang sama dengan beliau." Jelas dokter.
__ADS_1
"Maksud Dokter? Saya bisa mendonorkan ginjal saya pada Ibu saya begitu Dok?"
Dokter mengangguk pelan.
"Ya tentu. Jika golongan darah anda sama dengan pasien, operasi transplantasi ginjal bisa dilakukan. Tapi sebelumnya anda harus memikirkan hal ini baik-baik Nona. Resiko dari mendonorkan organ tubuh kita itu tidak main-main. Bertahan dengan satu ginjal itu akan sulit bagi orang normal."
Andita terdiam mendengar penjelasan dokter. Tubuhnya lemas seketika. Dengan perasaan hancur Andita pun pamit undur diri dari hadapan dokter. Dia harus memusyawarahkan hal ini lebih dulu pada adiknya, Nazwa. Bagaimanpun Nazwa harus tahu.
******
Andita tidak sanggup melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang perawatan sang ibu. Andita melihat dari balik kaca jendela kamar, Nazwa sedang menyuapi Ibunya makan. Sesekali ibu tersenyum pada Nazwa.
Dua minggu lalu ketika Andita memberitahu ibunya bahwa dia sudah mendapatkan pinjaman uang dari atasannya untuk biaya operasi, ibu malah terlihat sedih.
Ibu lebih memilih untuk tidak dioperasi dari pada harus membebani anak-anaknya. Namun dengan susah payah Andita mampu meyakinkan Ibunya bahwa dirinya sanggup untuk membayar pinjaman itu.
Dan sekarang, ketika ibunya sudah bersedia dioperasi, Tuhan malah memberikan ujian lain padanya. Penjelasan dokter yang disampaikan padanya tadi masih terngiang-ngiang ditelinga Andita.
Operasi belum dapat dilakukan karena dirumah sakit kami saat ini sedang tidak ada pendonor ginjal dengan golongan darah yang sama dengan ibu anda, yang memiliki golongan darah B.
"Kakak kau disini? Kenapa tidak masuk? Ibu menanyakanmu!" Panggil Nazwa yang tiba-tiba keluar dari ruang rawat ibunya.
Gadis itu terpaku ketika melihat tubuh sang kakak bergetar.
"Kakak! Kau kenapa? Kau menangis?!" Tanya Nazwa. Dirinya mulai terlihat panik. Kemudian dia mendudukan dirinya disamping Andita.
"Kakak!" Nazwa menggoyangkan tubuh Andita. Karena dari tadi kakaknya itu tidak menjawab pertanyaannya.
Tiba-tiba Andita menghambur memeluk tubuh Nazwa.
"Nazwaaa ...!!!" Tangis Andita seketika pecah. Andita tidak tahu harus mulai darimana untuk memberitahu adiknya itu tentang apa yang dikatakan dokter padanya.
"Kakak tenanglah! Ada apa sebenarnya? Bukankah kakak tadi mengatakan akan keruangan dokter untuk mengetahui hasil tes Ibu? Lalu kenapa sekarang Kakak menangis? Bagaimana hasilnya? Apa semua baik-baik saja?" Nazwa berusaha menenangkan kakaknya. Padahal hatinya sudah ketar-ketir, dia memiliki firasat bahwa semua tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Andita melerai pelukannya pada Nazwa. Ia menyeka airmatanya dan mencoba menenangkan diri. Kemudian Andita mulai bercerita tentang apa yang disampaikan dokter padanya tadi.
Sontak Nazwa terkejut mendengar hal itu.
"A-apa Kak? Tidak ada pendonor untuk Ibu?"
Andita menganggukan kepalanya pelan. Bibirnya masih bergetar menahan tangis.
"Lalu bagaimana dengan nasib Ibu, Kak?" Tanya Nazwa. Kini dirinya mulai ikut menangis.
Andita memegang kedua bahu Nazwa dan menatap wajah sang adik lekat-lekat.
"Kau tenang saja. Dokter mengatakan jika Ibu bisa mendapatkan donor ginjal dari keluarga intinya."
"Ma-maksud Kakak?" Tanya Nazwa terbata-bata diantara isak tangisnya. Nazwa menatap sang kakak dengan tatapan tidak mengerti.
"Kau tahu bukan jika Kakak dan Ibu memiliki golongan darah yang sama, kami sama-sama memiliki golongan darah B?! Sementara kau memiliki golongan darah yang sama dengan mendiang Ayah."
"Lalu apa maksud Kakak? Apa Kakak akan..."
"Ya. Kakak akan mendonorkan satu ginjal Kakak untuk Ibu!"
Degg
Nazwa membulatkan matanya, ia begitu terkejut dan syock mendengar ucapan sang kakak. Begitu juga dengan seseorang yang sedari tadi berdiri tidak jauh dibelakang Andita.
"Tidak Andita!" Suara bentakan menggema ditelinga kedua kakak beradik itu.
Seketika Andita dan Nazwa menoleh keasal suara.
Tu-tuan Zidan?!
.
__ADS_1
.