
Sepeninggal Zidan, Zoya pun berpamitan pada Andita untuk pulang ke apartementnya.
Andita mengantar Zoya sampai didepan pintu utama kemudian kembali masuk untuk menemui suaminya.
Sampai didepan ruang kerja Zidan, Andita menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu jika suasana hati sang suami sedang tidak baik.
Andita bisa melihatnya ketika beberapa kali Zidan mencoba menghindari Zoya. Oleh sebab itu dia tidak boleh gegabah dalam berbicara.
Mengingat suaminya sedikit tempramental jika menyangkut tentang masalalunya.
Setelah keberaniannya terkumpul, Andita mencoba mengetuk pintu. Lalu terdengar suara Zidan yang menyuruhnya masuk.
Tanpa menunggu lama, Andita perlahan mendorong knop pintu dan menyembulkan kepalanya kedalam ruangan.
Netranya langsung berfokus pada siluet sang suami yang tengah berdiri menghadap keluar jendela dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku celana. Tubuh tinggi tegapnya terlihat begitu sempurna dan mengagumkan ketika sinar mentari sore menyorotnya dari luar.
Tanpa berucap sepatah kata pun perlahan Andita berjalan mendekati suaminya itu.
Zidan yang melihat Andita masuk kedalam ruang kerjanya lewat pantulan kaca, memilih untuk tetap diam ditempat. Membiarkan Andita menghampirinya.
Setelah berada tepat dibelakang tubuh sang suami Andita langsung melingkarkan tangannya pada tubuh Zidan dan menyandarkan kepalanya pada punggung suaminya itu.
Rasanya begitu hangat dan nyaman. Pantas saja Zidan menyukai posisi intim seperti ini. Andita membatin.
"Aku pikir kau sedang sibuk sayang, ternyata kau malah sedang melamun."
Zidan memejamkan mata sambil mengeratkan pelukan tangan Andita pada tubuhnya.
"Siapa bilang aku sedang melamun?" tanya Zidan.
"Kau memang tidak bilang, tapi aku melihatnya." jawab Andita yang ikut memejamkan matanya.
Untuk sesaat keduanya terdiam dan saling merasakan degub jantung masing-masing.
Kemudian Zidan berbalik menghadap Andita dan menatap bola matanya lekat-lekat. Begitupun dengan Andita yang menatap manik mata Zidan begitu dalam.
"Sayang."
"Ya?"
"Apa kau merindukanku?" tanya Zidan dengan suara berat. Satu tangannya melingkar pada pinggang Andita sementara tangan lainnya membelai wajah istrinya itu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu aku sangat merindukanmu sayang." Andita mengangkat kedua tangannya lalu menangkup wajah suaminya.
"Bagaimana denganmu? Apa kau juga merindukanku?!" Andita balik bertanya.
"Tentu saja. Setiap malam aku merasa tersiksa karena tidak bisa memeluk dan memandangi wajahmu."
"Benarkah?" Andita tersenyum malu.
"Hemm. Apa kau tidak tersiksa saat jauh dariku?"
"Tidak." jawab Andita mantap. Membuat Zidan berdecih.
"Kau memang wanita yang gengsian."
Andita tergelak kecil mendengarnya.
"Siapa bilang aku gengsian? Aku memang tidak merasa tersiksa saat jauh darimu sayang, kau tahu kenapa?"
"Kenapa?"
"Karena setiap malam ada yang menemani tidurku."
Seketika wajah Zidan memerah, ia menghentikan aktifitasnya membelai wajah Andita dan mengendurkan pelukannya. Sorot matanya pun kini berubah menjadi tajam.
"Kau bermain dibelakangku Andita?!" suara Zidan mulai terdengar tak ramah. Ia menarik dagu Andita hingga Andita mendongak menatapnya.
Andita mengangguk.
"Maaf."
"Beraninya kau?!"
Zidan menekan kuat dagu Andita. Hingga Andita terlonjak kaget dan meringis kesakitan.
"Sayang."
"Jangan memanggilku sayang! Sekarang katakan, siapa yang sudah berani menemanimu tidur selain aku?!" geram Zidan.
"Lepaskan aku Zidan! Kau menyakitiku!"
Ternyata dia benar-benar mengerikan jika sedang marah.
"Jawab aku Andita! Atau aku akan mencari tahu sendiri dan mencincang lelaki itu!" ancam Zidan.
"Kau akan mencincangnya?! Tidak boleh!" seru Andita.
"Kenapa? Apa kau begitu menyukainya?"
__ADS_1
Ya ampun, dia benar-benar menakutkan!
Sebenarnya sedari tadi Zidan sudah menahan kesal pada Zoya, sekarang malah ditambah dengan pengakuan Andita yang tentu saja membuatnya geram.
Tak ingin membuat suaminya semakin marah, akhirnya Andita menyudahi permainannya.
"Sayang lepaskan aku dulu! Baru aku akan mengatakannya!" pinta Andita ketika jemari Zidan semakin menekan dagunya. Zidan pun melepaskan tangannya.
Andita menghela napas lega. Ia pun menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Aku tidur dengan Dolphin! Apa kau puas?!" jawab Andita sambil mengusap dagunya yang terasa nyeri.
"Dolphin?!" Zidan menyipitkan mata.
"Oh jadi nama si brengsek Dolphin?! Apa pekerjaannya?! Apa dia lebih kaya dan tampan dariku hingga kau mau tidur dengannya?!" tuduh Zidan sambil menyedekapkan tangannya.
Andita berdecak kesal mendengar penuturan suaminya itu.
"Bagaimana mungkin dia memiliki pekerjaan?! Sementara dia bukan makhluk hidup sayang!"
"Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau tidur dengan mayat?!"
"Hah?!" Andita tercengang mendengar ucapan Zidan.
"Yang benar saja! Memangnya kau pikir aku ini Necrophilia?!" ketusnya.
"Lalu kalau bukan Necrophilia apa? Kau bilang dia bukan makhluk hidup?!"
"Hish..his..hish.." Andita menggelengkan kepalanya sambil menyedekapkan tangan.
"Dolphin itu adalah boneka lumba-lumba yang kau belikan untukku saat diwisata taman bermain sayang! Apa kau lupa?!"
Deg
"Boneka?!"
"Hu'um. Aku memanggilnya Dolphin. Lucu bukan? Selama tiga malam ini dia yang sudah menemaniku tidur saat kau tidak ada sayang!" jawab Andita dengan wajah tanpa dosa seraya tersenyum manis pada Zidan.
"Astagaaa!! Andita!!!" Zidan mengusap wajah kasar.
"Kenapa?! Jangan bilang kau cemburu pada Dolphin?!"
Zidan mendengus.
"Tentu saja tidak! Untuk apa aku cemburu pada benda mati?!" kesalnya. Zidan pun berjalan kearah kursi kerja. Kemudian duduk disana diikuti dengan Andita dibelakangnya.
"Ck! Tidak cemburu tapi marah-marah!"
Tiba-tiba Zidan menarik pergelangan tangan Andita hingga tubuh wanita itu jatuh dipangkuannya.
"Zidan!! Kau mengagetkan...empph..empph." belum selesai Andita bicara, bibirnya sudah dibungkam habis oleh bibir Zidan.
Ciuman itu begitu menuntut bahkan tangan Zidan sudah merayap kemana-mana. Saat Andita nyaris kehabisan nafas, barulah Zidan melepaskan pagutan bibirnya.
"Kau keterlaluan Zidan!" Andita memukul kesal dada bidang suaminya itu.
"Barusan kau memanggilku apa?!"
Andita menggigit bibir bawahnya.
"Maksudku.. Sa-yang." ralatnya pelan sambil menundukan pandangan.
"Berani sekali kau mengerjaiku! Sekarang kau sudah mulai nakal ya!"
Ck! Mengataiku nakal. Padahal dari tadi tanganmu sendiri yang mulai nakal Tuan!
Andita memutar bola mata malas saat tangan Zidan kembali menggerayangi tubuhnya.
"Sayang hentikan!" rengek Andita ketika Zidan mulai meremas buah dadanya.
"Kenapa?! Apa kau lebih suka Dolphin yang melakukan ini padamu?!"
"Ppffftt hahaha... Kau bicara apa sih sayang! Kau benar-benar cemburu pada Dolphin?!"
"Seandainya dia manusia, aku akan benar-benar mencincangnya!"
"Hahaha!" Andita semakin tak bisa menahan tawanya. Kemudian ia melingkarkan tangannya pada leher Zidan.
"Kalau begitu aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu!"
"Maksudmu?!"
"Jika kau berani menyentuh atau disentuh wanita lain, aku akan mencincang wanita itu! Tak terkecuali kau sayang! Aku juga akan mencincangmu hingga tak berbentuk."
Dengan semangat memeragakan orang yang tengah mencincang daging dengan tangannya sendiri.
"Wah wah mengerikan sekali! Memangnya istriku ini berani melakukan hal itu?!"
"Tentu saja berani! Jika sampai aku melihatmu dengan wanita lain, aku akan benar-benar mencincangmu!"
__ADS_1
Tiba-tiba Zidan langsung terdiam. Ia kembali teringat kesalahannya tadi siang.
******
Sementara didalam perjalanan pulang Zoya dengan perasaan kesal membanting stir dan menepikan mobilnya dipinggir jalan.
Berulang kali dia memukul-mukul kemudi untuk meluapkan emosi dihatinya.
"Aarrgghh!!!"
Zoya berteriak frustasi saat mengingat semua kejadian yang menimpanya.
Memiliki kekasih yang tidak mau berkomitmen dengan alasan belum siap cukup membuatnya stress.
Apalagi dia sudah menyerahkan hal berharga yang dimiliki oleh setiap wanita dalam hidupnya. Hanya karena cinta buta, Zoya melepaskannya begitu saja.
Dan sekarang ditambah lagi dengan fakta baru yang beberapa saat lalu ia temukan, bahwa ternyata selama ini Zidan mencintainya.
Sungguh kenyataan itu semakin membuatnya sakit. Dulu Zoya sama sekali tidak pernah melihat ketulusan Zidan sedikitpun.
Ia benar-benar menganggap Zidan hanya sekedar sahabatnya tidak lebih.
Padahal semenjak kedua orang tua Zoya meninggal, Zidanlah yang selalu mensuportnya. Entah itu secara rohani maupun materi.
Tapi yang Zoya lihat hanya Andrew. Lelaki bebas yang selalu menyuruhnya meminum pil penunda kehamilan disaat mereka akan melakukan hubungan badan.
Awalnya Zoya tidak keberatan dengan ide konyol itu, semua ia lakukan karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap Andrew.
Namun disaat ia melihat Zidan bersanding dengan Andita dipelaminan, tiba-tiba Zoya juga ingin merasakan yang namanya menikah.
Tapi sayangnya Andrew malah menolak keinginannya mentah-mentah dengan alasan belum siap. Hingga membuat Zoya merasa jenuh dengan hubungan yang mereka jalani.
Dan entah sejak kapan ia mulai merasakan adanya perasaan aneh dihatinya saat melihat kemesraan Zidan dengan Andita. Rasanya hati Zoya memanas.
Hingga seiring berjalannya waktu Zoya pun baru menyadari jika apa yang ia rasakan itu adalah cinta.
Padahal jika orang lain yang menilainya, sebenarnya yang Zoya rasakan bukanlah cinta, melainkan obsesi semata.
Ia menginginkan apa yang ia kehendaki. Walaupun itu milik orang lain sekalipun. Dan dia akan berusaha untuk mendapatkannya meskipun dengan atau tanpa pesetujuan orang tersebut.
Saat sedang kalut dengan pikirannya, Zoya dikejutkan dengan dering ponsel yang berada didalam tasnya. Ia merogoh ponsel itu dan melihat pada layar siapa yang menghubunginya.
Andrew?!
Zoya langsung memasukan kembali ponselnya kedalam tas. Semenjak pertengkarannya dengan Andrew malam itu, Zoya enggan berkomunikasi dengannya.
Sebelum Andrew menyetujui apa yang ia inginkan, Zoya tidak akan mau bertemu dengan lelaki itu.
Setelah panggilannya ditolak, Andrew pun mengirimi Zoya pesan. Ia mengabarkan jika minggu ini Zidan mengundang mereka berdua untuk berlibur divilla pribadinya.
Tentu kabar itu seketika membuat netra Zoya berbinar. Zoya langsung membalas pesan Andrew dengan antusias.
"Akan aku usahakan untuk meluangkan waktuku minggu ini." hanya kalimat itu yang bisa Zoya kirimkan agar Andrew tak terlalu curiga padanya.
Setelah membalas pesan pada Andrew, Zoya kembali melajukan mobilnya menuju apartementnya untuk beristirahat.
*****
Malam telah tiba. Namun sepasang pasutri yang sedang dimabuk asmara masih saja berdebat hal-hal kecil diatas tempat tidur.
Andita enggan melepaskan boneka lumba-lumba yang saat ini tengah dipeluknya. Hingga membuat Zidan menjadi kesal.
"Singkirkan boneka itu atau aku akan membuangnya!" ancam Zidan.
"Ck! Tadi siang kau bilang kau tidak cemburu pada Dolphin! Tapi sekarang kau malah menyuruhku menyingkirkannya!" Andita mendengus kesal.
"Aku bukan cemburu! Aku hanya kesal karena kau menaruhnya ditengah-tengah kita! Aku jadi tidak leluasa memelukmu!" protes Zidan. Karena boneka lumba-lumba yang tengah dipeluk Andita itu memang ukurannya lumayan besar.
"Tapi selama tiga malam ini dia yang menemaniku tidur sayang!" ucap Andita memelas.
"Lalu?! Kau akan terus memeluknya dan mengabaikanku begitu?!"
"Bukan begitu sayang!"
"Jika kau tidak menyingkirkannya, aku akan tidur dikamar lain!" ancam Zidan.
"Huh! Yasudah kalau begitu aku akan menaruhnya dibelakangku saja! Boleh kan?! Please!"
"Tidak boleh! Selama aku disampingmu kau hanya boleh memelukku, mengerti?! Cepat singkirkan dia!"
Andita mendengus kesal. Dengan berat hati Andita pun menaruh Dolphin di sofa.
"Malam ini kau tidur sendiri disofa ya sayang! Karena suamiku yang galak sudah pulang!" gumam Andita pelan yang masih bisa didengar oleh Zidan.
Ckk!! Bisa-bisanya dia selingkuh dengan boneka!
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa dukung terus author yaa sayangkuu dengan cara kasih like, komen, hadiah dan votenya.. Terimakasih ā¤