MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Penolakan


__ADS_3

"Kau ingin tahu kenapa aku merasa marah dan kecewa padamu?"


Posisi mereka belum berubah. Zidan menopang dagunya pada bahu Andita. Tangan kekarnya masih setia melingkar erat pada perut gadis itu. Zidan mendekatkan bibirnya pada telinga Andita hingga nafas hangatnya menerpa kulit dan membuatnya meremang.


"Itu karena aku mencintaimu! Sangat mencintaimu."


Seketika netra Andita membulat sempurna. Tenggorokannya tercekat. Tubuhnya membeku ditempat. Hatinya mencelus saat mendengar pengakuan yang baru saja keluar dari mulut Zidan.


A-apa yang Tuan Zidan katakan?! Mencintaiku?!


Untuk sesaat dua insan itu terdiam merasakan degub jantung masing-masing. Hanya terdengar deru nafas keduanya yang saling bersahutan. Setelah pengakuan cinta itu, Zidan merasa ada kelegaan yang menyelimuti hatinya. Namun ada juga ketakutan jikalau Andita nantinya akan menolaknya.


Andita menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menetralkan rasa gugup yang tengah menerjang hatinya.


"Tu-tuan, tolong jangan seperti ini! Saya merasa tidak nyaman!" Berusaha menyingkirkan tangan Zidan dari tubuhnya.


Dengan berat hati, perlahan Zidan melepaskan pelukannya dari Andita dan membalikkan tubuh gadis itu, hingga kini posisi mereka kembali saling berhadapan. Kedua tangannya dengan sigap menangkup rahang Andita.


"Maaf jika ini terlalu cepat bagimu. Tapi aku sungguh mencintaimu, Andita! Aku merasa marah jika kau terus menghindariku seperti ini. Batinku tersiksa! Jadi kumohon jangan pernah menghindariku lagi!" Lirih Zidan seraya menatap lekat-lekat bola mata cokelat itu.


"Tu-tuan, a-aku ..."


"Apa selama ini kau tidak memiliki perasaan apapun padaku? Tidakkah ada sedikit saja getaran dihatimu saat kau berada didekatku?"


Andita terpaku. Wajahnya seketika memerah.


Perasaan? Getaran? Tentu saja ada! Tapi ...


Kedua mata insan itu saling mengunci. Andita masih mencoba mencerna kata demi kata yang terlontar dari bibir calon suaminya itu. Kenapa keadaannya jadi seperti ini? Ini diluar dugaannya.


Dirinya menerima Zidan karena memang waktu itu tengah membutuhkan uang untuk biaya berobat sang ibu. Andita bahkan mati-matian menghindar dari Zidan agar dirinya tidak jatuh cinta pada pria dihadapannya saat ini. Tapi sekarang? pria ini malah mengungkapkan cinta padanya? Apa yang harus dia lakukan?


Perlahan Andita melepaskan tangan kekar Zidan dari rahangnya. Ia menatap lamat-lamat manik mata yang selalu meneduhkan hatinya itu.


"Maaf Tuan, saya rasa ini bukan waktu yang tepat bagi kita untuk membahas soal perasaan. Lagipula, bagaimana mungkin anda mencintai saya, sementara saya tidak mencintai anda?! Saya menerima anda karena saya butuh uang! Tidak lebih! Jadi lebih baik kita tidak melibatkan perasaan selama menjalani kontrak perjanjian itu! Sekali lagi saya minta maaf. Permisi!"


Nyess


Kata-kata Andita sukses membuat Zidan kembali merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Tubuh tinggi lelaki itu sedikit goyah ketika Andita secara gamblangnya mengatakan bahwa dia tidak mencintainya. Bibirnya terkatup rapat, tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Apa aku sama sekali tidak berarti baginya?


Sementara Andita yang melihat gurat kekecewaan di wajah Zidan hanya bisa memandangnya sendu. Andita merasa ini adalah keputusan yang benar. Meskipun sebenarnya hatinya pun merasa tersayat dengan ucapannya sendiri.


Sebenarnya Andita tidak ingin membohongi dirinya, kalau dia pun memiliki perasaan yang sama pada Zidan.


Namun semua ini harus dilakukan karena perbedaan status sosial mereka.


Andita juga tidak ingin masuk terlalu jauh kedalam kehidupan Zidan. Masih banyak yang harus ia pikirkan. Apalagi Andita tahu sampai detik ini Ayah dari calon suaminya itu belum merestui hubungan mereka, walaupun pernikahan mereka hanya sebatas kontrak.


Andita segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Zidan, dengan membawa kepingan harapan lelaki itu bersamanya.


Gadis itu enggan berlama-lama menatap wajah lelaki yang selalu membuat hatinya terusik. Tidak ada yang tahu bahwa saat ini dadanya pun terasa begitu sesak.


Zidan hanya dapat memandangi punggung Andita yang berlalu dari hadapannya dengan tatapan nanar seiring tertutupnya pintu ruangan itu.


Hufft.. Kenapa aku begitu menyedihkan?!


******


Sementara dikediaman keluarga Utomo.


Ia begitu terkejut ketika mendapati wajah putranya sudah babak belur. Nyonya Reyhan dengan rasa tidak sabar menyentuh wajah Dirga dan mengamatinya dengan seksama.


"A-awhh!! Ibuu! Hentikan! Jangan sentuh wajahku seperti itu!" Bentak Dirga ketika kedua tangan sang ibu menangkup wajahnya tiba-tiba dan menggelengkannya kekanan dan kekiri.


"Apa yang sudah terjadi padamu Dirga? Sampai-sampai wajahmu bonyok seperti ini?! Bukankah tadi kau bilang akan kekantor Zidan?! Apa Zidan yang melakukan ini padamu?! Jawab Dirga!"


"Hish, bukan Zidan yang melakukan ini padaku, Bu! tapi Ferdy!"


Nyonya Reyhan mengernyitkan dahinya.


"Ferdy?! Siapa dia?!"


"Dia laki-laki yang malam itu kita lihat bersama Andita dipesta ulang tahun Zidan. Dia yang melakukan ini padaku Bu!"


"Apa?! Kurang ajar! Kenapa dia melakukan ini padamu?! Memang apa masalahnya denganmu?!"


"Dia hanya seorang pecundang yang ingin membela gadis sialan itu dengan gaya sok pahlawannya!"

__ADS_1


"Ibu tidak mengerti apa yang kau katakan?! Bicaralah dengan jelas!"


Dirga berjalan kearah sofa lalu mendudukan dirinya disana diikuti dengan Nyonya Reyhan yang duduk disampingnya.


"Katakan! Kenapa lelaki itu membuat wajah tampanmu babak belur seperti ini?! Apa dia memiliki hubungan dengan gadis sialan itu?!" Tanya Nyonya Reyhan tidak sabar.


"Hah! Dia bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengannya! Tapi gayanya sudah seperti seorang pahlawan kesiangan saja!"


"Memang apa yang kau lakukan sampai-sampai dia memukulmu?!"


"Aku hanya mengatai gadis sialan itu seorang ****** Bu, tapi lelaki menyedihkan itu tiba-tiba menyerangku! Benar-benar dua manusia tidak tahu diri!" Ujar Dirga. Sorot matanya berapi-api.


"Kau bertemu dengan gadis sialan itu juga?!"


"Ya, aku bertemu dengannya saat keluar dari kantor Zidan. Aku memaki gadis itu habis-habisan, tapi lelaki yang bersamanya itu malah menyerangku secara membabi buta!"


"Kurang ajar! Berani sekali lelaki itu melakukan ini padamu?!" Geram Nyonya Reyhan.


"Lalu bagaimana dengan Zidan? Apa kau berhasil mempengaruhinya?!"


"Hemm, sepertinya begitu Bu! Aku mengatakan hal buruk tentang Andita padanya. Dan aku rasa Zidan akan terpengaruh oleh kata-kataku! Kita lihat saja nanti!"


"Ibu harap dia segera menyadari bahwa dia sudah salah memilih calon istri!"


"Ya, kuharap begitu. Oh ya, dimana Kakak, Bu? Kenapa aku tidak melihatnya?"


"Dia sedang hangout bersama teman-temannya! Biarkan saja dia bersenang-senang. Untuk apa juga dia harus berpura-pura patah hati? Toh Zidan juga tidak akan mencarinya!"


Dirga tersenyum masam.


"Ya, Ibu benar juga! Kakak tidak perlu berpura-pura patah hati hanya karena lelaki itu! Kita akan membalas perbuatannya perlahan-perlahan, dengan membuat hubungannya dengan gadis sialan itu hancur tanpa sisa!"


"Hemm, Ibu setuju denganmu! Yasudah kalau begitu, Ibu akan ambilkan kompresan dan obat dulu untuk mengobati wajahmu yang lebam itu!"


.


.


Yang mau bagi hadiah kopi luwak atau bunga mawar buat Author dipersilahkan yaa! Biar UP nya semangat wkwkkwk🙏😁

__ADS_1


Apalagi kalau dikasih Vote mksh bgt🙏😍


__ADS_2