
Zidan tersenyum mendengar jawaban Andita. Ia juga menatap mata coklat milik istrinya itu lekat-lekat.
"Kau tidak perlu lagi cemburu padanya Andita. Aku sudah memilihmu menjadi istriku. Hanya kau yang berhak memilikiku seutuhnya."
"Begitupun dengan dirimu. Hanya aku yang berhak memilikimu seorang. Tidak ada yang boleh mengambilmu dari sisiku, kecuali Tuhan. Karena aku tidak bisa melawan-Nya!" Zidan tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Tapi perasaanmu pada ..."
"Perasaanku pada Zoya sudah terkubur ketika aku mulai mencintaimu. Aku sudah melupakannya. Aku bukan lelaki brengsek yang akan mengkhianati pasanganku dengan wanita lain. Apalagi dengan sahabatku sendiri."
"Apa kau tidak bisa melihat ketulusan dimataku? Kau tidak ingat jika aku rela mempertaruhkan nyawaku untukmu. Apa kau masih belum mempercayaiku juga?"
Sejenak Andita terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya karena merasa buruk sudah menuduh suaminya bermain gila dengan wanita lain.
"Maafkan aku Zidan." Netra Andita sudah berkaca-kaca. Ia hanya bisa menunduk dihadapan suaminya itu. "Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan."
"Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf! Aku mengerti perasaanmu. Disini aku yang bersalah karena sudah membuatmu kecewa. Harusnya aku langsung menjawab pertanyaanmu ketika kau menanyakan tentang Zoya."
Akhirnya setelah merenung cukup lama setelah kejadian pertengkaran malam itu, Zidan memutuskan untuk menceritakan semua tentang masalalunya bersama Zoya pada Andita.
Walaupun sedikit berat karena itu sama saja dengan membuka luka lamanya, namun Zidan tetap menceritakannya tanpa ada satupun yang terlewat.
Ia hanya tidak ingin dimasa depan hubungannya dengan Andita menemui kendala hanya karena salah paham semata.
Zidan memastikan pada Andita bahwa saat ini dan selamanya cintanya hanya untuk dirinya seorang. Tidak ada wanita lain dihatinya selain nama istrinya itu.
Andita mencoba mencari-cari kebohongan dimata suaminya, namun yang ia lihat hanya kejujuran dan ketulusan.
"Kau tahu bukan, jika aku pernah dikhianati? Aku hanya takut kau melakukan hal sama seperti yang Dirga lakukan padaku. Jika itu terjadi..."
"Ssttt!" Zidan menaruh jari telunjuknya dibibir Andita.
"Itu tidak akan pernah terjadi sayang. Sampai matipun aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Jika itu terjadi sama saja membuat pengorbananku padamu menjadi sia-sia." Ucap Zidan sungguh-sungguh.
"Baiklah, anggap aku mempercayaimu Zidan. Lalu bagaimana dengan Zoya?"
"Maksudmu?"
"Aku memiliki firasat sepertinya dia menyukaimu."
Zidan tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Ia mengusap pucuk kepala Andita dengan lembut.
"Aku tahu kau cemburu Andita. Tapi jangan sampai rasa cemburumu itu malah mempengaruhi penilaianmu terhadap seseorang."
"Zoya mungkin memang menyukaiku, tapi rasa sukanya terhadapku hanyalah sebatas persahabatan. Tidak lebih."
"Tapi kenapa dia ingin menciummu?" Wajah Andita seketika berubah muram saat mengingat kejadian itu.
Sebenarnya pertanyaan yang diajukan Andita juga ada dalam benak Zidan. Namun Zidan enggan menerka-nerka. Ia takut Andita malah semakin salah paham terhadap Zoya.
"Ehm, mungkin saja dia tidak bermaksud menciumku Andita. Siapa tahu ada sesuatu diwajahku yang membuat wajahnya begitu dekat denganku. Itu biasa terjadi kan pada setiap orang?"
"Lagipula Zoya tidak mungkin mengkhianati Andrew. Dia sangat mencintainya."
__ADS_1
"Jadi, lebih baik kita tidak perlu memikirkan hal itu. Yang pasti sekarang, aku sudah tahu perasaanmu dan kau pun sudah tahu perasaanku. Jadi tidak perlu lagi ada yang dipertanyakan, okay?!"
Andita hanya mengangguk. Ia berusaha tersenyum, meskipun dia sendiri yakin jika Zoya memiliki perasaan lebih terhadap suaminya itu.
Semoga saja dugaanku salah. Tapi jika dugaanku benar, aku bersumpah tidak akan membiarkan Zoya atau wanita lain merebutmu dariku.
******
Karena hari sudah semakin larut dan mereka berdua pun sudah merasa lelah karena seharian ini berada diluar, akhirnya Zidan benar-benar mengajak Andita pulang.
Namun saat sedang berjalan menuju mobil yang terparkir cukup jauh dari taman, kaki Andita tidak sengaja menginjak lubang kecil di aspal sehingga membuat kakinya terkilir.
"Awh Zidan!" Pekik Andita.
Zidan yang melihat hal itu segera memegang tangan Andita agar tubuh istrinya itu tidak jatuh.
"Andita kau tidak apa-apa?"
Andita tidak menjawab. Dia memejamkan mata menahan sakit dipergelangan kakinya.
"Kakimu terkilir?"
"Sepertinya iya. Awhh hissh sakit sekali!"
"Coba biar kulihat!" Perlahan Zidan membawa Andita kepinggir jalan dan mendudukannya disana.
"Eitz! Kau mau apa?!" Andita menghentikan tangan Zidan ketika suaminya itu akan menyentuh pergelangan kakinya.
"Tentu saja mengobatimu!" Ketus Zidan.
"Akan kucoba!"
"Aku bukan kelinci percobaan Zidan!"
"Cerewet, diamlah! Rilekskan kakimu!" titah Zidan.
Zidan mulai memutar pelan pergelangan kaki istrinya itu lalu menariknya perlahan. Sementara Andita hanya bisa mendesis menahan sakit.
Krekk
Terdengar bunyi suara kaki Andita yang terlikir.
"Awhh sakit!! Pelan-pelan Zidan!" Protes Andita disela rasa sakitnya.
"Coba sekarang gerakkan kakimu!"
Andita menuruti perkataan suaminya itu. Ia menggerakan kakinya perlahan.
"Bagaimana?! Sudah merasa lebih baik?" tanya Zidan sambil menelisik ekspresi wajah isrinya.
"Ya, lumayan." Jawab Andita sambil menggoyang-goyangkan pergelangan kakinya yabg terkilir.
"Kau bisa berjalan tidak?!" tanya Zidan.
__ADS_1
"Bisa. Tapi sepertinya aku butuh bantuanmu untuk memapahku!" Andita mengerlingkan matanya sebagai wujud permohonan.
Ya Tuhan! Kenapa dia menggemaskan sekali!
Zidan menghembuskan nafas berat. Kemudian dia berjongkok dan memunggungi Andita.
"Cepat naik kepunggungku! Aku akan menggendongmu!"
"Apa?!!" Mendengar ucapan Zidan, tentu saja Andita nampak terkejut.
"Kau tidak tuli kan?!"
"Ti-tidak!"
"Kalau begitu cepat naik kepunggungku! Ini sudah larut malam. Kita harus segera pulang kerumah!"
"Tapi badanku berat Zidan?"
Zidan terkekeh.
"Ck! Tanpa kau memberitahuku, aku sudah tahu jika badanmu berat! Ini bukan pertama kalinya aku menggendongmu kan?!"
Andita mendengus kesal mendengar perkataan suaminya. Ia pikir Zidan akan mengelak jika tubuhnya itu berat demi menyenangkan hatinya. Tapi dugaannya salah, suaminya itu malah meledek dirinya.
"Kalau begitu tidak usah! Aku akan berjalan saja!" Ucap Andita merajuk.
"Hahaha.. Apa kau marah sayang?! Aku hanya bercanda! Ayo cepat naik!"
Zidan menarik kedua tangan Andita untuk melingkar dilehernya. Kemudian dia mengaitkan kedua tangannya diantara kedua kaki istrinya itu lalu mulai beranjak berdiri dari jongkoknya.
"Hufft! Ternyata benar kalau badanmu itu berat!"
"Zidaannn!!!" teriak Andita seraya memukul pundak suaminya.
"Haha! Tapi kau tenang saja, mau badanmu berat, gemuk, atau melar sekalipun, akan ku pastikan kau tetap masuk kedalam hatiku sayang!"
Blush..
Entah Andita harus marah atau senang mendengar gombalan suaminya, tapi seketika wajahnya merah merona.
Dan sepanjang jalan menuju mobil mereka terus berdebat dan bercanda hal-hal kecil. Seolah waktu berjalan lambat.
Sementara disisi lain, jauh didalam lubuk hati Andita, ia merasa senang.
Akhirnya Zidan memberikan kepastian tentang perasaannya itu padanya, juga tentang perasaannya dimasalalu pada Zoya.
Andita jadi tidak ragu lagi. Meskipun feelingnya terhadap Zoya masih belum hilang.
Semoga saja feelingku terhadap Zoya itu salah.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Update lagi gaes ,jadi 2 bab hari ini hehe..