MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Menyakitkan


__ADS_3

"Andrew."


Zidan sangat terkejut mendapati sahabatnya itu sudah berdiri tegak dihadapannya dengan memberi sorot mata tajam.


Andrew diam mematung. Ia menatap Zidan dan Zoya secara bergantian. Dadanya terasa sesak. Hatinya seolah disayat belati kala melihat Zoya yang tampak kacau tengah menahan kaki Zidan untuk pergi.


Sebelumnya Andrew tidak pernah melihat Zoya seperti ini. Bahkan ketika dulu wanita itu tergila-gila padanya, Zoya masih bisa mengontrol sikapnya dengan elegan.


Tapi sekarang? Wanitanya seolah tidak mempunyai harga diri. Zoya mengharapkan cinta dari lelaki yang sudah beristri. Dan parahnya lagi lelaki itu adalah sahabatnya sendiri.


Hening. Sepersekian detik mereka bertiga saling menatap tanpa suara. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Zidan tersadar dan kembali menarik paksa kakinya dari tangan Zoya.


Zoya yang ikut tersadar ketika merasakan pergerakan dari kaki Zidan, kembali memohon agar Zidan tetap bersamanya.


"Zidan, aku mohon jangan pergi Zidan! Aku terlanjur mencintaimu. Beri aku kesempatan sekali ini saja! Please! Kita bisa memulai semuanya dari awal! Aku mohon!" racau Zoya.


Suaranya terdengar pilu ditengah isak tangisnya yang tak mau berhenti. Tangannya erat melingkar dikaki Zidan.


Zoya benar-benar melupakan harga dirinya sebagai seorang wanita berkelas hanya demi mengemis cinta. Dan hal itu membuat hati Andrew semakin pedih melihatnya.


"Zoya lepaskan aku! Apa kau tidak melihat Andrew?! Kau tidak memikirkan perasaannya?!"


Zoya menggeleng keras.


"Aku tidak mencintainya lagi Zidan! Aku bersumpah aku hanya mencintaimu!"


Duarr


Bagai tersambar petir, ucapan Zoya langsung menyambar ulu ati Andrew. Perasaannya hancur berkeping-keping.


Meskipun semalam Zoya sudah mengatakan hal itu padanya, tapi entah kenapa rasanya sangat menyakitkan ketika Zoya mengatakannya dihadapan Zidan.


Harga diri Andrew ikut tercabik mendengar ucapan Zoya. Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Netranya memerah.


Apa benar-benar sudah tidak ada tempat lagi baginya dihati Zoya? Padahal Andrew ingin sekali menebus kesalahannya karena sudah merusak Zoya. Ia ingin mewujudkan impian Zoya yang ingin memiliki sebuah keluarga.


Tapi rasanya itu tidak mungkin, karena hati Zoya sudah tertaut pada Zidan. Tanpa terasa setetes buliran bening itu pun kembali mendesak keluar disudut mata Andrew.


Dan hal tersebut tak luput dari pandangan Zidan. Seketika rasa bersalah menyeruak dihatinya. Karena tanpa sengaja ia telah menciptakan masalah ditengah persahabatan mereka.


"Andrew, aku bisa jelaskan semuanya." ucap Zidan sambil terus berusaha melepaskan diri dari Zoya.


Andrew mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kemudian menatap Zidan.


"Tidak perlu! Aku sudah dengar semuanya. Pergilah! Aku akan mengurus Zoya!"


Zidan semakin merasa bersalah saat melihat tatapan datar Andrew. Jawaban Andrew yang terdengar ambigu pun, membuat pikiran Zidan terbelah.


Pasti saat ini Andrew menganggapnya adalah seorang pecundang dan bajingan sekaligus.


Sementara Zoya kembali menggelengkan kepala saat mendengar Andrew menyuruh Zidan pergi dari apartemennya.

__ADS_1


"Tidak! Kau tidak boleh pergi Zidan! Kau harus tetap disini bersamaku! Dan kau Andrew! Beraninya kau menyuruh Zidanku pergi! Seharusnya kau yang pergi dari sini bukan Zidan!"


Zoya semakin mempererat lingkaran tangannya dan menarik kaki Zidan untuk tetap tinggal.


Namun pertahanannya runtuh kala Andrew membantu Zidan dengan menarik tubuh Zoya kebelakang.


Dan akhirnya kaki Zidan pun terlepas. Zidan segera bergegas keluar dari ruangan tersebut


"TIDAAAK!!! ZIDAN KEMBALILAH!!" Teriak Zoya histeris.


Saat sudah berada didepan pintu, sekilas Zidan menoleh kebelakang. Menatap Zoya dan Andrew secara bergantian.


"Pergilah!" titah Andrew seraya memeluk tubuh Zoya yang terus meronta. Zidan mengangguk pelan kemudian menutup pintu apartemen dan melangkahkan kakinya gontai menuju basement.


*****


Brakk


Zidan menutup pintu mobil dengan kasar lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kemudi.


Dengan tatapan nanar Zidan memandang tangan kanannya yang gemetar, karena tanpa bisa dikendalikan tangan itu telah menyakiti Zoya.


"Seharusnya aku tidak melakukan itu padanya!" tiba-tiba rasa sesal menyusup kehati Zidan.


Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya Zidan mengotori tangannya dengan memukul seorang wanita. Ditambah lagi wanita itu adalah Zoya, sahabatnya sendiri.


Wanita yang sejak dulu selalu ia jaga dan ia lindungi. Tapi hari ini dia telah menyakitinya. Zidan meremas tangan itu lalu berulang kali memukul stir kemudi. Meluapkan emosi yang terasa menyesakkan dada.


Zidan, bisakah kau datang? Aku kesepian.


Zidan, bisakah kau tolong aku? Aku sangat membutuhkanmu.


Terimakasih Zidan, kau selalu ada untukku.


Zidan maaf jika kabar ini mengejutkanmu, aku ingin memberitahu jika aku dan Andrew.. Kami tengah menjalin hubungan.


Zidan bisakah kau tidak memberi perhatian lebih padaku?! Aku takut Andrew cemburu.


Apa kau tahu Zidan, aku mencintaimu! Sangat mencintaimu.


Zidan aku menginginkanmu!


Zidan kembalilah!


Zidan..


Zidan memejamkan mata saat suara-suara Zoya terus berputar layaknya sebuah kaset. Ia mencoba mengontrol dirinya agar tidak terpengaruh oleh tangisan dan ratapan Zoya yang baru saja ia lihat.


Andita.


Tiba-tiba bayangan sang istri muncul diingatan Zidan. Bayangan dimana Andita nyaris kehabisan nafas karena tenggelam. Dan itu semua karena ulah Zoya.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu disesali. Zoya pantas menerima itu!" Zidan kembali memandang tangan kanannya.


Setelah dirasa cukup tenang, Zidan menyalakan mesin mobil lalu segera meninggalkan gedung apartemen Zoya menuju perusahaannya.


*****


Didalam apartemen.


Sepeninggal Zidan, Zoya nampak histeris dan sangat kacau. Ia mengamuk dan membanting semua barang yang ada diruangannya hingga hancur tak bersisa.


Andrew begitu kewalahan menenangkan Zoya. Karena ini pertama kalinya Andrew melihat Zoya seperti orang kesetanan. Hingga ia nyaris putus asa karena Zoya tak mau berhenti mengamuk.


"Zoya! Tenanglah! Kendalikan dirimu!" teriak Andrew.


Zoya menatap tajam kearah Andrew, berjalan mendekat kemudian menarik kerah kemejanya.


"Kenapa kau menyuruh Zidan pergi, hah?! Harusnya kau yang pergi Andrew! Kau telah menghancurkan hidupku! Aku membencimu Andrew! Aku membencimu!"


Zoya melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tubuh Andrew hingga terhuyung kebelakang.


"Atas dasar apa kau membenciku Zoya? Aku bahkan ingin bertanggung jawab atas semua yang kulakukan padamu! Lupakan Zidan dan kembalilah padaku!"


Zoya tertawa nyaring namun terdengar menyedihkan.


"Kembali padamu? Setelah kau menyuruhku meminum pil kontrasepsi sialan itu terus menerus karena takut diriku hamil , kau masih berharap aku kembali padamu?! Jangan mimpi! Aku terlanjur membencimu Andrew! Lebih baik sekarang kau pergi dari sini! Pergi!"


"Zoya, aku minta maaf soal itu! Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya!"


"No! I said No! Get out!"


"Zoya!"


"GET OUT!"


"Fine, if that's what you want! Aku akan pergi dari sini! Tapi ingat satu hal, sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu Zoya!"


Andrew mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam saku celananya yang sudah bisa Zoya tebak apa isinya. Karena itu kotak yang sama saat Andrew melamarnya sewaktu di villa.


Andrew menaruh kotak tersebut diatas meja dekat sofa.


"Aku masih berharap kau mau memaafkanku! Pakailah ini jika suatu saat nanti kau sudah menerimaku kembali!"


Untuk sesaat kedua insan itu saling menatap. Tidak lama kemudian Andrew segera membawa tubuhnya keluar dari apartemen Zoya.


Zoya berdecih. Lalu berjalan kekamar untuk mengambil ponselnya. Jemarinya mencari-cari sebuah nama dikontaknya.


"Andita."


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2