
Zidan dan Andita sudah tiba disebuah pemakaman yang jaraknya cukup jauh dari kediaman Zidan.
Saat ini Andita dan Zidan tengah berjongkok dipusara sang Ayah. Andita memegang batu nisan dan menatapnya lekat-lekat.
Ayah, aku datang. Maaf jika aku baru bisa menjenguk Ayah lagi. Aku datang bersama dengan calon suamiku. Bagaimana? Dia tampan bukan? Tentu saja dia sangat tampan Ayah.
Selain tampan dia baik dan juga bertanggung jawab. Aku sangat beruntung memilikinya. Tolong restui hubungan kami Ayah. Beberapa hari lagi kami akan menikah.
Oh iya Ayah, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu. Benarkah yang dikatakan oleh Tuan Wildan tentangmu? Aku sangat terpukul mendengarnya! Aku yakin itu bohong. Ayah tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Aku sangat mempercayai Ayah! Sampai kapanpun akau akan selalu mempercayai Ayah!
Ayah tenang saja suatu saat nanti kebenaran pasti akan terungkap. Semoga Ayah bahagia dan tenang dialam sana. Aku, Ibu dan Nazwa sangat merindukanmu Ayah...
Andita meneteskan airmatanya setelah menumpahkan semua isi hatinya diatas pusara sang Ayah. Gadis itu mengusap lembut dan mencium nisan yang bertuliskan nama ayahnya.
Jujur saja Andita sangat merindukan sosok lelaki yang senantiasa melindunginya sejak kecil itu.
Sementara Zidan yang berada disamping Andita mencoba menguatkan dengan mengusap lembut punggung calon istrinya itu.
"Ayah, perkenalkan namaku Zidan. Aku adalah calon menantumu! Lelaki beruntung yang mendapatkan hati dan cinta putrimu, Andita."
"Ayah tenang saja disana, aku akan menggantikan tugas Ayah disini untuk menjaga Andita, Ibu dan juga Nazwa. Aku berjanji tidak akan menyakiti mereka! Aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku! Semoga Ayah selalu bahagia dialam sana."
Seketika darah Andita berdesir saat mendengar ucapan Zidan. Ia memandang lamat-lamat lelaki yang kini tengah berada disampingnya.
Zidan pun menoleh kearah Andita. Kini pandangan mereka saling mengunci.
"Terimakasih Zidan. Kau selalu baik dan ada untukku!" Lirih Andita.
Zidan hanya menjawab dengan anggukkan disertai senyuman.
"Lebih baik sekarang kita pulang! Cuacanya semakin panas! Aku akan mengantarmu sampai rumah setelah itu aku akan langsung kembali kekantor!"
Andita menganggukkan kepalanya lalu segera berdiri dengan dibantu Zidan. Mereka berdua pun langsung meninggalkan pemakaman.
******
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Zidan tidak banyak bicara. Ia melempar pandangannya keluar jendela. Ia masih memikirkan ucapan dari ayahnya tentang mendiang ayah Andita.
__ADS_1
Aku yakin apa yang dikatakan Ayah tadi tidak benar. Jika pun benar Andita tidak bersalah.
Andita yang merasakan ada yang aneh dengan sikap Zidan sesekali melihat kearah pria itu.
"Zidan, ada apa? Kenapa kau melamun?" Tanyanya seraya menggenggam telapak tangan lelaki itu.
Ken yang fokus menyetir pun sekilas melirik kekursi penumpang lewat kaca tengah saat mendengar suara Andita.
Zidan?! Rupanya hubungan mereka sudah ada kemajuan.
Mendengar suara Andita, Zidan pun menoleh kesamping.
"Tidak ada apa-apa!" Jawab Zidan sambil mengulas senyum.
"Benarkah? Tapi sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu? Ceritakan padaku jika kau memiliki masalah."
"Sungguh aku tidak memiliki masalah. Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan saja. Aku harus segera menyelesaikan semua urusanku sebelum kita menikah!" Dusta Zidan. Tangannya membalas genggaman tangan Andita.
"Oh ya Andita, ada yang ingin aku ketahui. Bisakah kau ceritakan tentang Ayahmu? Maksudku, sosok seperti apa Ayahmu semasa hidup? Apakah wataknya sama kerasnya seperti Ayahku?"
Sejenak Andita terdiam, kemudian ia tersenyum pada Zidan.
Andita langsung membekap mulutnya sendiri, takut jika Zidan marah padanya. Sementara Zidan terkekeh melihat tingkah calon istrinya itu.
"Sudah kuduga kau pasti akan membela Ayahmu."
"Tidak! Memang kenyataannya seperti itu Zidan! Ayahku adalah pria yang baik."
Zidan bisa melihat kejujuran dimata Andita.
Ya, aku yakin Ayahmu adalah orang yang baik. Aku akan coba mencari tahu tentang hal ini.
"Hemm, aku percaya! Karena kau pun adalah gadis baik." Zidan mengusap lembut kepala Andita.
Meskipun Zidan sudah sering melakukan hal sederhana itu, tapi entah kenapa hati Andita selalu berdesir hangat ketika Zidan memperlakukannya dengan sangat manis.
Wajahnya seketika merah merona seperti kepiting rebus. Perlahan Andita hendak menjauhkan duduknya dari Zidan, namun Zidan malah menarik bahunya hingga setengah tubuh Andita menghimpit dada bidangnya lelaki itu.
__ADS_1
Cupp
Satu kecupan manis mendarat dipucuk kepala Andita.
Sekilas Ken melihat adegan itu namun cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya dan kembali fokus menyetir.
Hah?! Seperti itukah rasanya jatuh cinta. Sepertinya aku sudah lama tidak merasakannya.
******
Beberapa hari berlalu. Malam ini adalah malam terakhir Andita menyandang status sebagai calon istri dari seorang Zidan.
Besok pagi ia dan Zidan akan melangsungkan pernikahan yang selama ini sudah disepakati sebagaimana yang sudah tertulis disurat perjanjian.
Tunggu! Jika mereka berdua sudah saling mengungkapkan perasaan apakah surat perjanjian itu masih berlaku?
Andita ingin sekali menanyakan hal itu pada Zidan. Namun sepertinya malam ini Zidan tampak sibuk. Sejak selesai makan malam lelaki itu langsung masuk kedalam ruang kerjanya dan sampai sekarang belum juga keluar.
Andita harus bisa memakluminya. Karena ia tahu bagaimana pekerjaan seorang CEO.
Didalam kamar, Andita hanya bisa memainkan ponselnya. Sedari tadi ia bertukar kabar dengan Nazwa. Tapi sepertinya Nazwa sudah tidur karena ia tak membalas lagi pesan dari Andita.
Andita kemudian membaca satu persatu pesan dari Ferdy yang lelaki itu kirimkan beberapa hari lalu saat Andita dibawa oleh Zidan kerumahnya.
Lelaki itu sangat khawatir dengan keadaan Andita. Pasalnya sudah beberapa hari semenjak libur Andita tidak masuk kantor dan ia malah dikejutkan dengan kabar jika Andita ternyata sudah dipecat oleh Zidan.
Ferdy pun terus mengirimi Andita pesan, namun Andita baru bisa membalas pesan Ferdy ketika Zidan memberikan ponselnya padanya.
Andita mengatakan jika ia baik-baik saja. Dan soal pemecatan dirinya itu sudah diatur oleh Zidan. Zidan tidak ingin Andita bekerja, karena pernikahan mereka akan dilangsungkan dalam waktu dekat ini.
Ferdy pun mengerti dan lelaki itu mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya.
"Semoga kau juga segera menemukan calon pendamping hidup yang tepat Fer! Aku tahu kau adalah laki-laki yang baik."
Andita hanya mampu mendoakan sahabatnya itu dari jauh.
.
__ADS_1
.