MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Chapter 22. permohonan maaf yang penuh drama


__ADS_3

...****************...


Dara sampai rumah sekitar jam 11 malam. Dara melihat Rumah lampunya masih menyala, dan Dara mendengar ada suara yang sedang mengobrol.


"Assalamu'alaikum" salam Dara sambil masuk rumah yang ternyata pintu rumah tidak terkunci


semua orang yang berada di ruang tamu langsung menoleh ke arah Dara.


"alhamdulillah, kamu pulang nak" ucap lega bunda Ratna langsung menghampiri Dara


Bunda Ratna merangkul Dara dan membawa ke lantai atas yang dimana kamar Arsen dan Dara berada. Arsen ketika ingin menyusulnya di tahan sama Mba lana.


"Beri dia waktu dulu" ucap Mba Lana seraya berlalu begitu aja


semua bubar dan menyisakan Arsen sendirian. Arsen menundukkan kepala sesekali meminat kepalanya yang pusing.


menurut Arsen sudah cukup memberi waktunya. Arsen pergi ke kamarnya dan ternyata Dara


sudah tertidur dengan menyamping. Arsen menghampirinya dan duduk di pinggiran kasur, Wajah sayu dan lelah Dara terlihat jelas. Arsen menggenggam tangan Dara lalu mengecup punggung tangan Dara.


"Maaf" air mata Arsen terjatuh begitu aja.


Dara mengerjabkan matanya menyesuaikan dari sinar matahari. Dara merasakan tangan yang memeluk nya dari belakang, Dara mengetahui pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Arsen. Dara mencoba untuk melepaskannya, tapi bukan lepas malah pelukkan itu makin erat. Arsen tidak tidur, Arsen tahu kalau Dara terbangun.


"Maaf" ucap Arsen kesekian kalinya, Arsen membenamkan wajahnya di belakang leher Dara


"Saya minta maaf" ucap Arsen kali ini dengan suara gemetar nya, sudah Dara yakini kalau Arsen menangis


Dara merasakan lehernya basah mungkin karena Arsen yang masih membenamkan wajahnya dengan kondisi menangis.


"saya tahu saya salah, jangan tinggalkan saya Adara" mohon Arsen dengan pelukkan yang makin keras


"Mas ga cinta kan sama aku? hati mas cuman buat mba Naya kan?" ucap Dara lirih, Dara juga ga bisa menahan air mata.


"ga.. bukan, saya ga cinta lagi sama dia Dara" jelas Arsen yang terdengar jelas isakkan tangisnya


Dara membalikkan posisinya dan pelukkan mereka terlepas. Dara bisa melihat jelas muka Arsen yang memerah karena menangis. Dara menangkup kan wajah Arsen.


"Selagi kita belum terlalu jauh mas, jujur sama hati mas. Hati mas buat siapa?" lirih Dara menatap wajah Arsen, Arsen terlihat sakit mendengarnya kepala Arsen menggelengkan kepala.


"Jawab mas" ucap Dara sambil berlinang air mata


Dara bangkit dan terduduk, Dara mengelap kasar air matanya di wajahnya.


"Jadi mau mas apa?" ucap Dara yang pasrah


"hati saya cuman buat kamu Dara, Saya yakin" ucap Arsen yang sekarang duduk berhadapan dengan Dara


"Tapi mas kenapa selalu diam kalau di depan mba Naya. kaya gitu aja seolah olah Mas kaya membela Mba naya" jelas Dara


"Saya tau, saya salah. Saya akan perbaiki itu Dara, Saya mohon jangan pergi" ucap Arsen memohon ke Dara

__ADS_1


Dara melihat Arsen yang terlihat begitu tulus dan memohon kepada nya pun hatinya luluh.


"Mas janji?" ucap Dara


"Saya janji" ucap Arsen


"Kalau gitu elap dulu air matanya, mas ga cocok nangis" ledek Dara sambil mengelap air mata Arsen


Arsen tersenyum mendengar ledek kan Dara. Arsen menarik Dara ke pelukkan nya, mereka ber pelukkan begitu erat meluapkan semuanya.



...****************...


Arsen bekerja seperti biasanya sedangkan Dara sibuk dengan bunda Ratna keliling belanja atau menghadiri acara arisan dan sebagainya.


Lusa Dara dan Arsen akan pindah ke rumah Arsen yang sudah di beli. Makanya itu Bunda Ratna setiap harinya puas puasin jalan jalan bersama Dara sebelum Dara pindah.


"Nanti kalau udah pindah kita masih bisa kan main main kaya gini?" Tanya Bunda Ratna lebih ke mengeluh


"Iya bund, nanti kalau Bunda mau jalan tinggal hubungin aku aja" jelas Dara sambil merangkul tangan Dara


"kamu emang pengertian banget Dara" ucap Bunda Ratna sambil mencubit pelan pipi Dara


Dara tertawa lalu memeluk Bunda Ratna. Mereka seperti anak dan mama bukan ibu mertua dengan menantu. Selama dia menjadi Istri Arsen, Dara belum merasakan kejamnya ibu mertua. Bagi Dara Bunda Ratna udah sebagai ibu sendiri sama kaya Mama Lulu.


"Hari ini jalan lagi sama Bunda? " tanya Arsen di sebrang sana


"iya, kaki aku sampe pegel. tapi aku seneng, cuman nanti kalau kita pindah mungkin bakal jarang jalan kaya gini" keluh Dara


"Kenapa emang? kalau emang mau jalan, jalan aja" ucap Arsen mudah


"Kan aku kalau pindah apa apa sendiri mas, kaya masak beberes rumah dan yang lain lain" ucap Dara


"kamu pikir aku ga memperkerjakan pembantu?" tanya Arsen


"Loh emang iya?" tanya polos Dara, Dara yakin di ujung sana Arsen memutar mata malasnya.


"Kamu ga usah pikirin itu, lakukan lah sesuka kamu. tapi ingat harus atas ijin saya" ucap Arsen


"Siap Pak Arsen hehehe" balas Dara sambil tertawa


Arsen langsung mematikan sepihak, Dara tertawa hingga guling guling di atas kasur. Dara suka banget mengerjai Arsen, bagi Dara kalau Arsen lagi ngambek itu menggemaskan sekarang, beda kalau dulu Dara benci dengan Arsen kalau lagi ngambek.


Dara ber pelukkan dengan Bunda Ratna. padahal rumah nya tidak terlalu jauh, tapi Bunda Ratna menangis seolah ga akan ketemu lagi. Arsen dan Ayah Ray hanya menggelengkan kepala ga abis pikir.


"nanti sering sering hubungin Bunda ya ra" ucap Bunda Ratna sambil melepaskan pelukkannya. Dara menganggukan kepala sambil mengelap air mata juga.


mobil Arsen melaju meninggalkan perkarangan rumah Bunda Ratna. Dara melambaikan tangan ke arah Bunda Ratna dan Ayah Ray.


"Huwaaa!! sedihh ihhh... hiks.. hikss" Dara teringsak

__ADS_1


Supir pak jul sampai melihat ke arah Dara yang menangis sesenggukan. Sedangkan Arsen hanya bisa mengelus punggung Dara pelan.


Dara melongok terkagum melihat rumah yang berada di depannya. Rumah ini sama besarnya dengan rumah Bunda Ratna. Kira Dara Rumah Arsen lebih kecil karena isinya kan cuman Dara dan Arsen saja, tapi Dara berdecak kagum melihatnya.



"Rumahnya besar banget" ucap Dara kagum


Arsen membantu pak jul dan pak Asep mengeluarkan barang bawaan dari dalam mobilnya.


"Rumahnya gede banget, mas kan isinya cuman kita doang. padahal ga usah besar kaya gini" protes Dara


"Nanti kan ada anak anak kita" ucap Arsen sambil berlalu masuk ke dalam rumah


"Anak?" beo Dara bingung, beberapa detik Dara sadar langsung menutup mukanya malu


"MAS ARSEN!!!" teriak gemas Dara mengejar Arsen masuk ke dalam rumah


Dara menyusun pakaiannya di dalam walking closet yang lumayan luas dan besar. Di bantu dengan bi ijah Dara menyusun bajunya dan Baju Arsen.



"Bibi udah berapa lama kerja sama Mas Arsen?" tanya Dara


"Udah lumayan lama non, awalnya bibi kerja di tempat nyonya besar" jelas Bi ijah


"Bunda Ratna?" tanya Dara memastikan


"Iya non, cuman baru beberapa bulan ini bibi di pindahin ke sini di suruh ikut den Arsen" jelas bi ijah lagi


Dara hanya menganggukan kepala tanda mengerti. Arsen melongok ke dalam Walking closet dan memanggil Dara. Dara menghampiri Arsen.


"Kenapa?" tanya Dara


Arsen mengeluarkan beberapa kartu dalam dompetnya lalu memberikannya ke Dara, Dara menerimanya.


"saya akan selalu transfer tiap bulannya ke kartu itu, untuk bulanan kita" jelas Araen dan Dara hanya menganggukan kepala mengerti


"Dan ini untuk kebutuhan kamu semuanya" ucap Arsen sambil menyodorkan kartu hitam ke arah Dara. Dara paham betul kartu itu apa, Black card Dara tau kegunaan kartu itu dan keuntungan kartu itu. Dara menatap kembali Arsen.



"ini buat aku?" tanya Dara memastikan


"Kenapa kurang?" tanya Arsen balik


Dara melotot kaget, kurang gimana? justru ini berlebihan. jadi gini yah rasanya jadi istri Sultan


tbc


©Nukeya, 2022

__ADS_1


__ADS_2