
...****************...
Setelah Acara lamaran di selenggarakan, acara nikahannya itu bulan depan. Makin dekat ke hari hari - H makin banyak kerjaan yang harus segera di selesaikan.
"Meeting kali ini lu ikut ya Ra" ucap Robi
"Loh kok?" protes Dara
"Biar lebih gampang lu buat laporannya, soalnya biar lebih efektif" jelas Robi, Dan di anggukin oleh Dara
Seluruh Karyawan kantor belum pada tahu tentang rencana pernikahan Dara dan Arsen. Hanya Robi yang tahu, karena kemarin Robi pun hadir di acara.
"Oh iya Ra, nanti juga lu ikut interview yah" ucap Robi tanpa menoleh ke arah Dara
"Interview apa? emang ada lowongan pekerjaan?" tanya Dara bingung
"Pengganti lu lah" jawab Robi
"Hah?! saya kan ga berhenti pak, kok nyari pengganti saya?" ucap Dara protes
"Arsen yang suruh. Lagi pula lu kan udah nikah ngapain kerja juga? " tanya Robi kali ini Robi menoleh ke arah Dara
"Iya, tapi saya ga minat buat berhenti. Saya masih pengen kerja" keluh Dara
"Lu jangan protes ke gua, protesnya ke Arsen" ucap Robi
Dara menghembuskan nafas kesalnya. Arsen suka seenak nya aja ngambil keputusan kaya gitu, padahal kan ini menyangkut kehidupan Dara.
Meeting kali ini berlangsung tidak lama. Dara, Arsen dan Robi berjalan keluar resto tempat tadi meeting sekaligus makan siang.
Robi berada di bangku mengemudi sedangan Arsen sudah duduk di belakang penumpang. Dengan polos Dara membuka pintu depan samping pengemudi tetapi pintunya terkunci. Jendela mobil terbuka.
"Lu duduk di belakang" perintah Robi dan kembali menutup jendela
Mau ga mau Dara duduk di belakang penumpang samping Arsen. Keadaan dalam mobil cukup hening, sesekali Dara melirik Arsen yang sibuk dengan Ipadnya.
"Pak Arsen" panggil Dara
"Hmm" dehem Arsen tanpa menoleh ke arah Dara
"Bapak suruh pak Robi buat cari pengganti saya?" Sarkas Dara
"Emang salah?" ucap Arsen tanpa merasa bersalah
"Salah lah, bapak ga bilang apa apa dulu ke saya!" ucap Dara dengan nada yang lumayan tinggi
"Menurut saya benar" ucap Arsen ga mau kalah
"ihh bapak ga bisa gitu" ucap Dara mulai mendebat
"Kenapa saya ga bisa?" tanya Arsen kini Arsen mulai merasa tertarik dengan pembicaraan ini
Buktinya Arsen rela menutup Ipadnya dan sekarang menghadap ke arah Dara.
"Harusnya bapak nanya dulu mau saya gimana" kekeh Dara
Robi mendengar perdebatan pasangan itu hanya diam dan fokus menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Kalau udah nikah, saya mau kamu di rumah" ucap Arsen dengan tegas
"Bosen lah kalau saya di rumah aja" keluh Dara
"Kamu bisa belanja, atau jalan jalan. cari uang? itu kewajiban saya Adara" Jelas Arsen
"Cewek juga butuh penghasilan lah pak" ucap Dara tidak mau kalah
"Emang uang dari saya ga cukup?!" kali ini Arsen yang bernada tinggi
"Tapi.. "
"Kita tutup pembahasan ini, saya ga mau ribut" ucap Arsen memotong pembicaraan Dara
Dara cemberut tidak suka, Menurut Dara Arsen egois tapi emang itu sifat Arsen yang ga akan pernah berubah.
Dara ikut Robi untuk ikut interview. Banyak pelamar yang melamar, bahkan sudah hampir dua jam Dara duduk dan mendengarkan Robi yang melontarkan pertanyaan.
Semua pelamar menurut Dara terlalu berlebihan dari pakaian nya. sekalian aja ga usah pake baju pikir Dara, karena seminim itu baju yang mereka pakai. Jika salah dari mereka yang jadi asisten Arsen, Dara jamin kehidupan Dara ga akan damai.
"Kayanya yang itu oke deh" ucap Pak Robi memberikan CV seseorang
"Ga pak, terlalu menor" jawab Dara jujur
"Pak, ga ada gitu yang cowok aja" ucap Dara
Robi menggaruk garuk kepala yang tidak gatal. Memang pelamar yang datang kebanyakan itu cewek.
"Ada sih satu, tapi dia ga ada pengalamannya" ucap Robi menyodorkan CV
Dara melihat foto CV itu ternyata memang benar cowok. Dara tersenyum lebar, dia mengambil CV itu dan lalu berlari ke ruang ruangan dan masuk ke ruang Arsen.
...****************...
"Pak Arsen!" panggil Dara yang membuat Arsen terperanjat kaget
"Bisa ga ketuk pintu dulu" kesal Arsen
"Ini urgent" kata Dara
Dara menghampiri meja Arsen dan berdiri di samping Arsen yang duduk di bangkunya. Dara menyodorkan kertas CV itu.
"Dia aja pengganti saya" ucap Dara senang
"Hah?!" tanya Arsen bingung, Arsen mengamati CV itu baik baik
"Dia ga ada pengalaman Dara" jelas Arsen
"Saya tau, tapi dia cowok pak. pokoknya harus dia kalau engga saya ga akan setuju untuk berhenti kerja!" ancam Dara
"kamu mengancam saya Adara?" tanya Arsen dan di jawab oleh Dara dengan anggukan
Arsen menghela nafas berat. Dia mengambil telepon dan menelepon seseorang.
"Tolong datang ke ruangan saya! " perintah Arsen dengan dingin
"Baik Pak" jawab orang itu di sebrang sana
__ADS_1
"Bapak telepon siapa? " tanya Dara
"Kamu mau dia jadi pengganti kamu kan?" tanya Arsen balik
"Saya telepon bagian personalia" jelas Arsen lagi
Dara yang mendengar itu tersenyum bahagia. Kalau kaya gini kan aman, Dara terdiam apa sekarang Dara yang cewek cemburuan? wajar lah yahh.
Sepulang kerja Dara berkunjung ke rumah Arsen. Dara dan bunda Ratna sibuk memilih surat undangan mana yang cocok, sedangkan Arsen masuk ke dalam kamarnya tidak tahu sedang apa.
"yang ini bagus loh ra, lucu kan?" ucap bunda Ratna sambil menunjukkan salah satu surat undangan
"bagus bund, hmm... kalau yang ini bund?" tanya Dara
"Bagus juga, duh jadi bingung mau yang mana haha" tawa Bunda Ratna bahagia dan Dara ikut tertawa tanda setuju
"Nanti kita suruh Arsen kasih pendapat" ucap Bunda Ratna lagi
Panjang umur Arsen turun dari lantai atas dengan penampilan yang santainya.
"Gantengnya calon suami aku" ucap Dara memandang Arsen
"Bucinnya hadehh" keluh mba Ayu
"Kalah kamu mba sama Dara bucinnya haha" tawa Mba lana
"Enak aja" ucap mba Ayu melemparkan salah satu bantal sofa ke arah Lana dan terjadi gelak tawa di antara mereka
Arsen duduk di samping Dara dan memandang ke arah mereka yang tertawa dengan bingung.
"Oh iya pa.. mas Arsen, menurut mas mana yang bagus? " ucap Dara menyodorkan dua surat undangan ke arah Arsen
"Emang ada bedanya?" tanya Arsen dengan polos
"Ih Bunda... mas Arsen ga asik ah, masa mas Arsen ga bisa bedain" ngadu Dara
"Arsen.. ga boleh gitu" tegur Bunda
"Salah lagi" Gerutu Arsen dan Arsen melihat para mbanya terkekeh melihat Arsen yang terbully
"Gimana udah siap?" tanya Mba Ayu
"Siap apa?" tanya balik Arsen
"Membina rumah tangga lah" jelas Mba lana kesal
"Biasa aja" jawab Arsen singkat
buggg!!
Dua bantal pas mengenai muka Arsen, Dara yang di sampingnya malah menertawakannya. Ginilah Arsen jika di lingkungan keluarga nya Arsen berasa ga berharga dan menyeramkan. Justru yang menyeramkan itu para Mba nya dan tentu Dara, sedangkan Bunda Ratna menurut Arsen masih bisa di handle tapi kalau yang lain Arsen angkat tangan ga kuat.
__ADS_1
tbc
©nukeya, 2022