
Pagi ini Zidan dan Andita tengah sarapan bersama. Sejak keluar dari kamar masing-masing wajah keduanya menampilkan ekspresi yang berbeda.
Zidan dengan wajah santainya dan Andita dengan wajah gugupnya. Jujur saja Andita masih belum terbiasa dengan keberadaan Zidan disampingnya.
Biasanya pagi-pagi seperti ini dia tengah memasak dan menyiapkan sarapan untuk Ibu dan adiknya, Nazwa. Tapi sekarang dia malah sedang duduk dimeja makan bersama calon suaminya itu.
Ah, iya Nazwa dan Ibu apa kabarnya ya?
Andita merasa rindu sekali dengan mereka berdua. Andita menatap Zidan lamat-lamat. Pria itu nampak fokus sekali dengan sarapannya. Zidan yang merasa diperhatikan oleh Andita langsung melirik kearah gadis itu.
"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Zidan.
"Ti-tidak! Makanannya sangat enak!" Jawab Andita cepat seraya menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau tidak makan? Malah memperhatikanku! Apa ada yang ingin kau sampaikan?"
Andita menjadi gugup dan salah tingkah. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Ehm, iya. Sebenarnya aku sangat merindukan Ibu dan Nazwa. Aku ingin pulang dan menjenguk mereka. Aku ingin memastikan kondisi Ibu dan Nazwa baik-baik saja."
"Hemm, apa kau tidak percaya padaku? Bukankah kemarin sudah kukatakan mereka baik-baik saja. Para body guardku yang menjaga mereka, kau tenang saja!"
Andita mendeliki Zidan.
"Apa?! Para body guard? Ta-tapi kenapa mereka harus dijaga oleh para body guardmu?! Mereka tidak memiliki musuh!"
Zidan mengelap mulutnya dengan tisue. Lalu menyorot Andita tajam.
"Kau pikir sejak kejadian dua hari lalu Ayahku akan diam saja? Dia pasti akan merencanakan sesuatu untuk Ibu dan adikmu. Maka dari itu aku menyembunyikan mereka, dan menyuruh beberapa body guardku untuk menjaga Ibu dan juga Nazwa."
Andita terdiam mendengar ucapan Zidan. Gadis itu hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menyandarkan punggungnya dikursi.
"Apa seberbahaya itukah Ayahmu? Lalu dimana kau menyembunyikan Ibu dan Nazwa?!" Tanya Andita.
"Lama-lama kau juga akan tahu seperti apa Ayahku! Aku belum bisa mengatakan dimana Ibu dan Nazwa tinggal. Yang pasti aku sudah membelikan rumah baru untuk mereka. Mereka akan aman tinggal disana. Kau bisa berkunjung kerumahnya setelah kita menikah!"
"Zidan! Kenapa kau harus melakukan ini?! Ini terlalu berlebihan!"
"Tidak bisakah kau tidak protes padaku?! Aku tidak menganggap jika semua ini berlebihan. Aku melakukan ini untukmu! Agar kau dan keluargamu aman bersamaku."
Andita membuang nafas kasar. Ia mengalihkan pandangannya kesembarang arah.
"Kalau begitu izinkan aku mengunjungi makam Ayah! Aku ingin meminta restu darinya sebelum kita menikah!"
Zidan terdiam mendengar permintaan Andita. Bukannya dia keberatan dengan keinginan calon istrinya itu, hanya saja hari ini jadwalnya begitu padat sehingga ia tidak langsung menuruti kemauan Andita.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi siang ini aku akan usahakan untuk menemanimu pergi kemakam Ayah. Kita akan pergi bersama!"
Zidan menggenggam tangan Andita, kemudian ia mendorong kursi dan beranjak dari duduknya ketika pelayan memberitahukan bahwa Ken sudah datang.
"Aku harus berangkat kekantor! Kau habiskan sarapanmu! Ingat jangan coba-coba melarikan diri, karena dirumah ini sudah terpasang cctv. Para pelayan dan body guardku pun sudah aku beri perintah untuk mengawasimu!"
Andita mendeliki Zidan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Hah?! Melarikan diri?! Apa bagimu aku seorang tawanan?!"
"Ya, kau memang tawananku!"
Andita mendengus kesal saat Zidan menyeringai padanya. Kemudian Andita mengangkat satu telapak tangannya kehadapan Zidan.
__ADS_1
"Kalau begitu bisakah aku meminta ponselku kembali?! Jika tidak bisa menemui Nazwa dan Ibu paling tidak aku bisa menghubungi mereka melalui ponselku!"
Zidan nampak berpikir. Ia belum sempat mengecek ponsel Andita.
"Aku akan mengembalikannya padamu setelah pulang dari kantor!"
"Tapi..."
"Aku berangkat dulu! Jaga dirimu baik-baik!" Zidan meninggalkan kecupan dipucuk kepala Andita kemudian segera berlalu dari hadapan gadis itu.
"Hah?! Kenapa dia selalu berbuat seenaknya! Apa yang harus kulakukan dirumah sebesar ini?! Bahkan dia sudah memecatku jadi karyawannya!"
Netra Andita berkeliling mengamati luasnya kediaman Zidan.
******
Zidan nampak fokus pada rapat yang saat ini tengah dipimpinnya. Didepan para petinggi perusahaan dan kliennya, pria itu dengan percaya diri menjabarkan ide-ide cemerlang yang telah dipersiapkannya dengan matang.
Didepan layar proyektor Zidan menerangkan secara gamblang bagaimana cara untuk menekan angka biaya produksi untuk menyiasati bahan baku yang saat ini tengah melambung tinggi, agar perusahaan yang bekerja sama dengannya tetap bisa menjalankan proyek yang nantinya akan mereka kerjakan walaupun dengan modal terbatas namun masih bisa mendapatkan bahan baku dengan kualitas terbaik.
Beberapa petinggi perusahaan dan kliennya merasa sangat puas dengan ide yang baru saja diberikan oleh Zidan. Mereka tidak pernah kecewa dengan penawaran yang Zidan berikan.
Zidan pun merasa puas jika kliennya puas dengan idenya. Kemudian Zidan meminta Ken untuk mencatat apa saja yang mereka butuhkan untuk mengeksekusi proyek tersebut.
Setelah rapat selesai Zidan mempersilahkan semua orang untuk keluar ruangan lebih dulu dan kembali pada pekerjaan masing-masing.
Sementara klien Zidan yang menyetujui kerja sama diantara mereka langsung menghampiri Zidan dan menjabat tangan CEO itu.
"Saya sangat menyukai ide anda Tuan Zidan! Sepertinya perusahaan kami tidak salah bekerja sama dengan perusahaan anda. Semoga kedepannya proyek kita ini bisa maju dan berkembang pesat!"
Zidan tersenyum ramah.
"Baik kalau begitu, saya permisi dulu! Sampai jumpa di rapat selanjutnya Tuan Zidan!" pamit Tuan Abraham.
Zidan menganggukan kepalanya seraya mempersilahkan kliennya itu keluar.
Tidak lama Zidan dan Ken pun keluar ruangan rapat dengan wajah berbinar. Namun ketika Zidan sudah hendak masuk kedalam ruangannya, tiba-tiba seorang staff wanita datang menghampiri Zidan.
Ia mengatakan jika didalam sedang ada Tuan Wildan. Sontak saja Zidan terkejut. Senyum yang baru saja terukir diwajahnya pudar berganti dengan ekspresi wajah datar dan dingin.
Kemudian ia melirik kearah Ken.
"Apa kau tahu jika Ayah akan datang kemari?!"
Ken menggelengkan kepalanya.
"Saya sama sekali tidak tahu Tuan! Tuan Besar sama sekali tidak memberitahu apapun pada saya!"
Zidan menghentak kasar udara dihadapannya, lalu segera membuka pintu ruangan.
Sementara Tuan Wildan yang berada didalam dan tengah berdiri didepan jendela besar langsung menoleh kebelakang ketika mendengar pintu dibuka.
Tatapan anak dan ayah dan itu pun kembali bertemu setelah perseteruan diantara mereka yang terjadi dua hari lalu.
Zidan melangkahkan kakinya masuk kedalam dan langsung berjalan kearah sofa. Sementara Ken segera pergi darisana setelah mendapat perintah dari Zidan.
"Ada perlu apa Ayah datang kemari?" Tanya Zidan datar.
Tuan Wildan segera berjalan menghampiri putranya dan duduk diseberang sofa yang diduduki Zidan.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu keras kepala Zidan? Apa gadis itu yang membuatmu berubah?"
"Tidak ada yang membuatku berubah Ayah. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Jika Ayah kemari hanya untuk membahas soal Andita, maaf aku tidak memiliki waktu!"
Zidan akan segera beranjak dari duduknya, namun Tuan Wildan langsung menanyakan sesuatu.
"Kenapa kau menarik sahammu dari perusahaan anak cabang Tuan Reyhan yang dipimpin oleh Dirga?! Apa gadis itu yang menyuruhmu?"
Zidan memutar bola mata jengah. Kemudian kembali duduk disofa.
"Andita tidak pernah menyuruhku melakukan apapun untuknya! Aku yang berinisiatif melakukan itu pada mereka. Karena Dirga memang pantas mendapatkannya!"
"Kau sudah membela gadis yang salah Zidan! Bagaimana jika kau tahu bahwa gadis itu adalah putri seorang pengkhianat yang dulu nyaris membuat perusahaan Ayahmu bangkrut? Apa kau masih tetap akan mencintainya?!"
"Apa maksud Ayah?!"
"Jadi gadis itu tidak mengatakan apapun padamu?! Ah ya, dia pasti tidak akan mengatakan hal itu karena dia takut jika kau akan meninggalkannya! Karena baginya kau adalah mesin uang yang bisa dia manfaatkan!"
Zidan menggeram mendengar ucapan sang Ayah. Ia mengepalkan tangannya.
"Ayah jika Ayah datang kemari hanya untuk menghina Andita maka sebaiknya kita akhiri pertemuan ini!"
"Andita adalah putri dari Hadi Andriansyah mantan orang kepercayaanku. Lelaki yang telah mencuri data perusahaanku hingga membuat perusahaanku nyaris bangkrut! Beruntung saat itu Reyhan datang tepat waktu dan menggagalkan rencananya. Jika tidak mungkin perusahaanku hanya tinggal nama!"
Zidan terhenyak mendengar penuturan sang Ayah.
"Aku yakin itu tidak benar Ayah! Kalau pun benar, aku yakin Andita tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu karena aku sangat mengenal betul calon istriku!"
Tuan Wildan tersenyum sinis.
"Kau memang benar-benar sudah dibutakan oleh cinta Zidan! Tidak ada gunanya aku berlama-lama disini!"
Setelah mengatakan hal itu Tuan Wildan pun beranjak dari duduknya dan hendak pergi. Namun tiba-tiba Zidan menghentikannya.
"Tunggu Ayah!"
Tuan Wildan menoleh sambil menahan geram.
"Bisakah aku meminta sesuatu darimu untuk terakhir kalinya?"
"Hah?! Setelah kau membangkang padaku, kau masih berani meminta sesuatu dariku?!"
"Aku mohon untuk terakhir kalinya Ayah! Setelah itu Ayah bebas membenciku!"
Tuan Wildan benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran putranya.
"Memang apa yang kau inginkan dariku?!"
"Aku mohon datanglah kepernikahanku bersama Ibu! Aku mohon, untuk terakhir kalinya! Setelah itu aku tidak akan meminta apapun lagi pada Ayah!"
Tuan Wildan mendelik kearah Zidan.
"Kau benar-benar tidak tahu malu Zidan!" Tuan Wildan pun segera meninggalkan ruangan sang putra dengan perasaan kesal.
.
.
Update 4 Bab gaes...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote nya okee ๐๐