
"Aku Zoya, Zidan." jawabnya.
Untuk sesaat ketiganya mematung.
Zidan tercengang begitu Zoya membalikkan tubuhnya. Ia menatap tidak percaya pada wanita itu.
"Kau?!"
Seketika Zidan langsung mengusap wajah kasar.
Astaga apa yang sudah kulakukan?!
Zidan jadi teringat perbuatannya beberapa saat lalu. Bagaimana jika Andita kembali salah paham?
Atensi Zidan pun langsung beralih pada Andita. Zidan menatap istrinya yang sama sekali tidak bergeming. Dan malah membalas tatapannya dengan begitu dingin.
Tidak ingin hal yang ditakutkannya terjadi, Zidan bergegas menghampiri Andita.
"Sayang, ini tidak seperti yang kau lihat!" Zidan menangkup rahang Andita begitu ia sampai dihadapan istrinya. Zidan menatap manik mata coklat itu lekat-lekat.
"Aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu sayang! Aku pikir Zoya adalah kau! Tolong percayalah padaku! Sungguh aku tidak berbohong."
Ketakutan begitu kentara dimata Zidan. Ia benar-benar takut jika Andita akan salah paham dan pergi meninggalkannya.
Sementara Zoya yang tengah berdiri dibelakang Zidan, tersenyum samar nyaris tak terlihat. Justru ia berharap sebaliknya.
Andita akan salah paham dan pergi meninggalkan lelaki yang tengah menjadi incarannya saat ini. Dengan begitu ia tidak perlu lagi susah payah menyingkirkan Andita.
Namun sepertinya harapan Zoya tinggalah harapan. Tiba-tiba Andita malah tersenyum pada Zidan dan menangkup rahang kokoh suaminya itu.
"Tentu saja aku percaya padamu sayang! Kenapa kau begitu ketakutan, hm?"
Zoya ternganga mendengar jawaban Andita. Asanya langsung lenyap bagaikan debu.
"Kau tidak marah padaku sayang?" tanya Zidan yang tidak langsung percaya dengan jawaban istrinya.
Andita menggelengkan kepalanya.
"Tidak."
Seketika Zidan menghela nafas lega. Seulas senyuman pun terbit diwajahnya.
"Syukurlah! Aku benar-benar takut jika kau akan marah padaku Andita." Zidan langsung membawa tubuh Andita kedalam dekapannya lalu mencium pucuk kepalanya bertubi-tubi.
"Hemm, sepertinya tanpa sengaja Zoya berhasil mengerjaimu sayang! Sampai-sampai kau ketakutan seperti itu! Benarkan Zoya?!"
Andita melongokan kepalanya untuk melihat Zoya yang berdiri tidak jauh dibelakang tubuh suaminya.
Zoya yang sedari tadi menahan rasa panas dihatinya karena memperhatikan Zidan yang mencium Andita penuh cinta tiba-tiba tersentak kaget saat Andita bertanya padanya.
Ia berusaha tersenyum walau terasa berat.
"Ya, kau benar Andita. Padahal aku tidak berniat untuk mengerjainya. Aku juga sempat terkejut saat Zidan memelukku. Aku heran, kenapa Zidan tidak bisa membedakan tubuh istrinya sendiri?!" ucap Zoya.
Merasa tidak terima dengan ucapan Zoya, Zidan angkat bicara.
"Itu karena tubuh kalian nyaris mirip jika dilihat dari belakang."
"Benarkah?!" tanya Andita.
__ADS_1
"Ya. Apa kau pikir aku berbohong sayang?"
"Wah, kalau begitu kau harus mulai waspada Andita. Aku takut suatu saat nanti Zidan akan mengulangi kesalahan yang sama. Bisa-bisa posisi kita tertukar." sahut Zoya. Ucapannya sarat akan makna.
Andita tersenyum simpul. Tanpa canggung ia melingkarkan tangannya pada pinggang Zidan dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang lelaki itu.
"Aku akan pastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi Zoya."
"Lagi pula aku yakin setelah kejadian tadi Zidan akan lebih memperhatikan anggota tubuhku secara detail, agar kau dan aku tidak sampai tertukar. Bukan begitu sayang?" Andita menengadahkan kepalanya pada Zidan sambil tersenyum manja.
"Tentu saja. Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan anggota tubuh istriku ini mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Supaya kelak aku tidak lagi melakukan kesalahan fatal seperti tadi." Zidan mengusap lembut wajah Andita dan menatap matanya begitu dalam.
Andita membalasnya dengan senyuman. Jujur saja sebenarnya Andita merasa sesak dan sakit saat melihat Zidan memeluk dan mencium wanita lain.
Apalagi wanita itu adalah Zoya. Wanita yang pernah dicintai Zidan.
Namun sebisa mungkin Andita mengkesampingkan rasa sakitnya. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan wanita manapun yang mencoba mendekati suaminya.
Sementara Zoya sendiri hanya bisa tersenyum getir.
Kau terlalu percaya diri Andita. Bagaimana jika kau tahu bahwa Zidan mencintaiku?! Aku yakin, kau pasti tidak akan bisa tersenyum seperti saat ini.
"Kalau begitu, lebih baik sekarang kau bersihkan dirimu dulu sayang. Aku akan membuatkan kopi untukmu." ucap Andita seraya menepuk-nepuk lembut kedua bahu suaminya.
"Baiklah sayang. Terimakasih!" Zidan mendaratkan kecupan hangat dipipi kanan sang istri kemudian ia segera berlalu pergi dari dapur.
Namun saat baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Zidan berhenti dan kembali menoleh kebelakang.
Pandangannya lurus menatap kearah Zoya. Tentu hal itu membuat Andita dan Zoya merasa bingung.
"Ada apa lagi sayang? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Andita.
Zidan menggelengkan kepalanya pelan, kemudian ia langsung berbicara pada Zoya.
Deg
Jantung Zoya seakan berhenti berdetak.
Bagaimana mungkin ia akan melupakan apa yang baru saja Zidan lakukan kepadanya, sementara dia sudah tahu jika Zidan memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
"T-tentu! Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu Zidan." jawab Zoya dengan bibir bergetar.
Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Zidan pun kembali melangkahkan kakinya pergi sana.
Sementara disisi lain Andita yang mendengar ucapan Zidan hanya bisa mengulum senyum.
Sekilas ekor matanya melihat kearah Zoya dan entah kenapa instingnya sebagai seorang istri kembali hadir.
Jauh dilubuk hati Andita mengatakan jika Zoya benar menyukai suaminya. Semua terlihat jelas saat Andita menangkap raut kekecewaan diwajah wanita itu.
Huft, semoga saja itu hanya perasaanku!
******
Zidan, Andita dan Zoya tengah berada diruang tengah. Mereka bertiga baru saja selesai makan siang bersama.
Saat ini Zoya mencoba mempersembahkan kue buatannya dengan mengatasnamakan Andita.
Namun Andita menolak mengakuinya. Biar bagaimanpun ia hanya membantu sedikit, dan selebihnya Zoya yang mengerjakan.
__ADS_1
"Bagamana rasanya Zidan? Enak?!" tanya Zoya ketika satu suapan masuk kedalam mulut Zidan.
"Lumayan." jawab Zidan acuh.
Melihat ekspresi Zidan yang biasa saja dan tidak ada tanda-tanda jika ia akan memuji kue buatannya, sejenak membuat Zoya melemas.
Padahal dia membuat itu dengan susah payah. Selain ingin mendapat pujian dari Zidan, kue yang ia buat adalah kue kesukaan lelaki itu.
"Lumayan?! Padahal menurutku rasanya sangat enak sayang!" sahut Andita.
"Ternyata kau benar-benar pintar membuat kue Zoya." lanjutnya.
"Terimakasih Andita. Ini juga berkat bantuanmu!" Zoya tersenyum simpul.
Sebenarnya Zoya tidak ingin mendengar pujian itu dari mulut Andita, ia berharap pujian itu dilontarkan oleh Zidan.
Tapi apa boleh buat sepertinya Zidan enggan memujinya, mungkin karena dia tidak mau menyakiti perasaan Andita~pikir Zoya.
Namun bukan Zoya namanya jika ia menyerah begitu saja.
"Apa kau tahu Andita, kue ini sebenarnya adalah kue kesukaan Zidan. Dulu dia sangat menyukai kue ini, maka dari itu aku membuatnya."
Jleb
Andita sedikit terkejut dengan ucapan Zoya. Pantas saja Zoya kekeh ingin membuat kue untuk Zidan, sepertinya sekarang dia mulai paham alasannya.
Sekilas Andita melihat kearah Zidan yang duduk disampingnya, kemudian netranya secara bergantian menatap kearah Zoya.
"Benarkah?"
"Ya! Kau tanyakan saja langsung padanya jika kau tidak percaya." jawab Zoya santai sambil menunjuk Zidan.
Saat itu juga Zidan menghentikan aktifitasnya memakan kue. Sejak dari tadi sebenarnya dia sudah merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Apalagi saat dimeja makan Zoya selalu menceritakan tentang masa lalu mereka. Entah itu disengaja atau tidak, jelas membuat Zidan merasa risih.
Bukan tanpa sebab. Ia hanya takut Andita kembali salah paham padanya, itu saja.
Zidan pun menaruh piring yang masih berisikan kue itu diatas meja. Ia sudah tidak berselera memakannya.
"Sepertinya aku sudah kenyang sayang. Aku akan keruang kerja." ucap Zidan pada Andita.
Andita tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Sementara Zidan segera bangkit dari duduknya.
Melihat sikap tidak acuh Zidan membuat Zoya sedikit kecewa. Ia hanya bisa menatap nanar punggung Zidan yang semakin menjauh dari jangkauan matanya.
Kenapa dia bersikap seolah-olah tidak memiliki perasaan padaku?! Apa semua karena Andita?!
Terlihat kilat kekecewaan yang begitu dalam dimata Zoya.
.
.
Bersambung...
Maaf gaess updatenya nyicil.. Pagi kerja pulang sore ๐ ini aja disempet-sempetin ngtik
Bisa crazy up kl lagi libur aja hihi..
__ADS_1
Jadi harap sabar menunggu ceritanya yaa..
Jangan lupa like komennya, apalagi kalo dikasih hadiah sama vote otor senang bgt dah ๐