MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Merasa Bersalah


__ADS_3

"Tuan, apa anda baik-baik saja? Apa anda butuh sesuatu?!" tanya Ken hati-hati.


Ia menatap khawatir pada Zidan yang tengah duduk di kursi kerja sambil memijat pelipisnya dengan netra terpejam.


Setelah kepergian Zoya, Zidan meluapkan emosi dengan memecahkan dua vas bunga mahal miliknya yang berada didalam ruangan. Bahkan pecahannya masih tercecer dilantai.


"Tidak ada. Aku baik-baik saja." jawab Zidan.


Padahal sebaliknya, ia merasa kepalanya seolah mau pecah karena harus menghadapi sikap Zoya yang tiba-tiba berubah seperti orang tidak waras hanya demi mencapai obsesinya.


Ken mengangguk pelan. Ia mengerti suasana hati Zidan yang sedang kacau. Meskipun disisi lain ia begitu penasaran, kenapa tuannya bisa semarah itu pada Zoya.


Setelah terjadi keheningan beberapa saat diantara mereka, Ken memberanikan diri untuk bertanya.


"Ehem! Tuan, maaf jika saya lancang. Sebenarnya apa yang.."


"Aku tidak ingin membahasnya Ken. Dan jangan pernah sebut namanya lagi didepanku!" titah Zidan. Ia seolah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh asisten pribadinya itu.


Ken terkesiap. Ia segera membungkukkan badan memohon maaf.


"Baik Tuan. Maafkan saya!"


"Tidak apa! Pergilah! Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu!"


"Baik Tuan! Saya permisi!"


Ken langsung berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Zidan.


Namun disaat ia akan menarik handle pintu, tiba-tiba pintu itu terdorong dari luar.


"Tuan Andrew?!" pekik Ken. Ia begitu terkejut saat Andrew tiba-tiba menerobos masuk kedalam ruangan.


"Dimana Zoya?!" tanya Andrew dingin.


Seketika Zidan membuka matanya yang terpejam. Ia segera memutar kursi yang ia duduki menghadap pintu hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Andrew.


"Andrew?!"


Untuk sesaat kedua pria tampan itu terdiam. Mereka saling bersitatap dengan ekspresi yang berbeda.


Andrew menatap Zidan dengan sorot mata mengintimidasi. Sedangkan Zidan menatap Andrew dengan tatapan penuh tanda tanya.


Sementara Ken yang awalnya hendak pergi dari ruangan tersebut mengurungkan niatnya.


Ia tidak bisa meninggalkan Zidan seorang diri dalam situasi yang tidak memungkinkan.


Ken pun menutupkan kembali pintu ruangan itu dan memperhatikan keduanya dari jarak jauh.


Zidan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Andrew. Begitu pun dengan Andrew yang berjalan menghampiri Zidan.


Hingga keduanya kini saling berdiri berhadap-hadapan dalam jarak yang cukup dekat.


"Dimana Zoya?" ulang Andrew. Suaranya terdengar menggeram.


"Duduklah! Sepertinya kita perlu bicara." Zidan melewati tubuh Andrew dan berjalan kearah sofa.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan! Kedatanganku kemari hanya untuk mencari Zoya! Aku melacak lewat GPS mobilnya, bahwa dia datang kemari. Sekarang katakan dimana Zoya?!"


Zidan menghentikan langkahnya. Mereka berdiri saling membelakangi. Perlahan Zidan dan Andrew membalikkan tubuh mereka secara bersamaan.


"Dia tidak ada disini. Dia sudah pergi."


"Apa kau mengusirnya?!"


"Ya!"


Andrew membuang nafas kasar seraya tersenyum getir. Ia memajukan kakinya selangkah kehadapan Zidan. Dan menatap sahabatnya itu lekat-lekat


"Apa kau menyakitinya lagi?"


"Apa maksudmu?"


"Dengar Zidan, seperti kau yang sangat mencintai Andita, aku pun sangat mencintai Zoya. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk dirimu!"


Zidan tersenyum kecut lalu balas menatap Andrew.


"Kalau begitu kita sama Andrew. Dan itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Karena aku sangat mencintai Andita, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk wanitamu!" ucap Zidan dingin.


Tiba-tiba Andrew tertawa mendengar ucapan Zidan. Dia menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Hahaha, lucu sekali! Sangat lucu!"


"Apa kau tahu Zidan? Jika didunia ini harus ada orang yang disalahkan dalam masalah yang terjadi diantara kita, maka orang itu adalah kau!"


"Kaulah yang pantas disalahkan untuk semuanya! Karena kau adalah seorang pecundang!"


"Jika saja kau menyingkirkan foto itu sejak dulu, mungkin semua ini tidak akan terjadi!"

__ADS_1


"Zoya tidak akan beranggapan bahwa kau masih mencintainya! Dan hubunganku dengannya tidak akan hancur berantakan! Apa sekarang kau sudah puas?! Pasti kau merasa senang bukan? Karena setiap waktu Zoya selalu mengejar-ngejarmu?!" ucap Andrew sinis.


Ia merasa sesak saat mengingat tulisan dibelakang foto kekasihnya bersama Zidan yang ia temukan tergeletak dilantai apartemen Zoya setelah pertengkaran mereka hari itu.


Zidan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, karena sejujurnya ia memang merasa bersalah pada Andrew.


"Aku tahu aku salah soal foto itu Andrew! Seharusnya sejak dulu aku sudah membakarnya sebelum ada orang yang menemukannya. Tapi semua sudah terjadi. Untuk itu aku ingin meminta maaf padamu."


"Hah?! Semudah itu kau meminta maaf?! Apa kau masih ingat ucapanku padamu saat divilla? Bahwa aku akan memberi perhitungan pada pria yang sudah merusak hubunganku dengan Zoya! Rasanya aku ingin melakukan itu sekarang, setelah aku tahu bahwa pria itu adalah kau!"


"Lakukanlah! Lakukan apa yang ingin kau lakukan! Jika itu bisa membuatmu memaafkanku!" ucap Zidan.


Andrew berdecih. Tanpa diduga Andrew langsung melayangkan bogem mentah kewajah Zidan.


Bugh


Zidan terhuyung kebelakang karena dirinya belum siap, dan kesempatan itu tak dilewatkan oleh Andrew untuk menyerang Zidan.


Bugh


Bugh


Bugh


"Anggap ini sebuah pelajaran karena kau sudah berani membuat Zoya mencintaimu dan berpaling dariku!" geram Andrew.


Bugh


"TUAN MUDA!" teriak Ken bersamaan dengan Andrew yang tiba-tiba memukul Zidan.


Ia segera berlari menghampiri Zidan yang tengah dihajar membabi buta oleh Andrew. Dan seketika...


Bugh


Dengan sekuat tenaga Ken menendang tubuh Andrew dari samping hingga lelaki itu terpental membentur punggung sofa.


"Akh!" pekik Andrew.


Tidak sampai disitu, kini giliran Ken yang menghajar wajah Andrew berkali-kali, karena lelaki itu sama sekali tidak terima jika Andrew menyakiti tuannya.


Bugh


Bugh


Bugh


"KEN! HENTIKAN! Uhuk..uhuk!" Zidan berusaha mencegah Ken yang tengah kalap memukuli Andrew dengan begitu beringas.


Mendengar perintah tuannya, Ken segera menghentikan aksinya dengan kepalan tangan yang masih mengudara dihadapan wajah Andrew.


"Anda beruntung Tuan! Karena Tuan Muda meminta saya untuk berhenti. Jika tidak saya akan menghabisi anda!"


Ken melepaskan satu tangannya yang mencengkram kerah kemeja Andrew lalu menghempaskan tubuh lelaki itu dengan kasar.


"Anda baik-baik saja Tuan?!" tanya Ken khawatir saat melihat wajah Zidan penuh dengan luka. Bahkan sudut bibirnya pun sampai mengeluarkan darah.


"Ya. Aku baik-baik saja! Ini hanya luka kecil." Zidan berusaha bangkit berdiri dibantu oleh Ken.


"Kau memang brengsek Zidan!" gumam Andrew, disela ia menahan rasa sakit pada wajahnya.


"Kau lebih brengsek Andrew!" balas Zidan.


Andrew tergelak mendengar umpatan sahabatnya.


Zidan berjalan kearah Andrew lalu mengulurkan tangannya. Tanpa ragu Andrew menerima uluran tangan itu dan langsung berdiri dihadapan Zidan.


"Maafkan aku untuk semua yang terjadi!" ucap Zidan seraya memeluk tubuh sahabatnya.


"Ck! Haruskah aku memaafkanmu setelah orang kepercayaanmu membuat wajahku babak belur?!" kesal Andrew.


Ia pun membalas pelukan Zidan dan menatap sinis kearah Ken yang berdiri dibelakang Zidan.


"Ken hanya menjalankan kewajibannya untuk menjagaku!" Zidan melepaskan pelukannya dari Andrew. Kemudian berjalan kearah meja kerjanya.


"Cih! Memangnya dia pikir kau itu bayi! Bahkan kau bisa membalasku jika kau mau! Lagipula kau sendiri yang memintaku untuk melakukan apa saja padamu!" Andrew masih bersungut.


Sementara Ken yang menjadi objek perbincangan mereka hanya mengangkat bahu acuh tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Jujur saja awalnya Andrew merasa kesal pada Zidan karena tanpa disengaja sahabatnya itu telah membuat Zoya berpaling darinya.


Dan Andrew memukul Zidan hanya untuk meluapkan emosi dan rasa sakit hati yang dideritanya selama beberapa minggu ini.


Namun jauh dilubuk hatinya ia sadar, bahwa masalah yang tengah terjadi sepenuhnya bukan salah Zidan. Melainkan juga salahnya.


Tidak lama kemudian ponsel Zidan berbunyi. Ada nomor tak dikenal masuk. Ia pun segera mengangkatnya.


"Hallo."

__ADS_1


"......"


"Rumah sakit?"


"......"


"APA?! Ti-tidak mungkin!"


Seketika wajah Zidan berubah pias.


*****


Saat ini Andrew, Zidan dan Ken sudah berada dirumah sakit besar. Mereka datang kesana setelah Zidan mendapatkan kabar jika Zoya mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah.


Pihak rumah sakit menghubungi Zidan setelah mendapatkan izin dari polisi untuk melihat orang terakhir yang dihubungi Zoya sebelum kecelakaan itu terjadi lewat ponselnya.


Dan kini ketiga pria itu tengah berdiri didepan pintu ruang ICU, dimana Zoya sedang ditangani oleh para tim dokter didalam sana.


Mereka menunggu kabar Zoya dengan harap-harap cemas. Bahkan wajah Andrew sudah memerah, matanya sembab karena sejak tadi ia terus menangis.


Ia tidak menyangka jika kekasihnya akan mengalami hal tragis seperti ini.


Sementara Zidan tidak bisa berkata apapun. Lidahnya terasa kelu, hatinya terasa dihantam godam saat mengetahui kabar mengenaskan itu.


Padahal beberapa jam lalu, mereka berdua baru saja terlibat pertengkaran hebat. Hingga membuat Zidan berujung mengusir Zoya dari perusahaannya.


Dan seketika rasa bersalah itu pun menghantui diri Zidan. Ia merasa menjadi orang yang harus bertanggung jawab atas kejadian yang saat ini tengah menimpa sahabatnya itu.


I'm sorry Zoya.


Tes


Tanpa disadari setitik buliran bening itupun jatuh membasahi pipinya.


*****


Didalam perjalanan pulang, Zidan terus saja melamun. Pikirannya tertuju pada kondisi Zoya yang saat ini masih dalam keadaan kritis.


Rasa marah dan kecewa yang ia tunjukan pada wanita itu tadi siang tiba-tiba menguap begitu saja, dan seketika berubah menjadi sebuah rasa penyesalan.


Awalnya Zidan ingin menunggu Zoya di rumah sakit sebagai bentuk permintaan maafnya.


Namun ia tidak bisa melakukan hal itu, karena ia juga harus memikirkan kondisi Andita yang sedang hamil.


Lagipula disana sudah ada Andrew yang jelas-jelas lebih berhak menemani Zoya daripada dirinya.


Ken yang melihat keadaan tuannya lewat kaca spion hanya bisa diam seribu bahasa.


Ia tidak berani berkata apapun hingga mobil yang ia kendarai sampai dihalaman depan rumah megah Zidan.


Zidan segera keluar dari mobil mewahnya sebelum salah satu bodyguard membukakan pintu untuknya. Ia segera berjalan masuk dengan langkah gontai.


Sedangkan Ken hanya menatap nanar punggung Zidan yang semakin menjauh.


Setelah tubuh Zidan sudah menghilang dari pandangan mata, Ken segera meninggalkan kediaman tuannya itu untuk pulang keapartemennya.


Didalam kamar, Andita yang mengetahui bahwa suaminya sudah pulang, langsung bergegas turun untuk menyambutnya.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dipertengahan anak tangga saat Andita melihat sesuatu yang berbeda pada wajah suaminya.


Andita menjamkan penglihatannya.


Dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati wajah sang suami penuh dengan luka dan mata yang terlihat sembab.


Andita pun segera berlari menghampiri Zidan dan langsung menangkup wajahnya.


"Ya Tuhan! Sayang! Ada apa ini?! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajahmu..."


"Aku tidak apa-apa." potong Zidan cepat. Ia menatap wajah sang istri yang terlihat begitu khawatir.


"Bagaimana keadaanmu dan calon anak kita hari ini? Apa selama aku tinggal bekerja kalian baik-baik saja?!" tanya Zidan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ya kami baik-baik saja! Kau tidak perlu khawatir! Justru sekarang aku yang mengkhawatirkanmu! Kau terlihat tidak baik. Apa yang terjadi padamu? Apa kau habis berkelahi?" selidik Andita.


"Tidak." jawab Zidan singkat.


Kemudian Zidan mencium bibir Andita sekilas, lalu mengusap kepalanya.


"Ayo kita kekamar! Aku lelah!" ucap Zidan. Ia berjalan mendahului Andita dan melangkahkan kakinya menuju lantai atas.


Sementara Andita masih mematung ditempat.


Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa wajahnya penuh luka seperti itu?


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2