MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Babymoon


__ADS_3

Sepulang dari pesta pernikahan Zoya dan Andrew, Andita langsung membersihkan diri. Sementara Zidan sudah lebih dulu melakukannya dan saat ini tengah berbincang dengan Ken diruang kerjanya.


Setelah selesai dan sudah berganti pakaian, Andita naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya disana.


Semenjak hamil ia mudah sekali merasa lelah. Bahkan sampai detik ini Andita masih mengalami morning sickness.


Saat Andita akan menutup mata, tidak berapa lama pintu kamar terbuka. Zidan masuk kedalam sambil membawa sebuah map coklat.


Zidan menutup pintu kemudian menghampiri sang istri yang sedang menatapnya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Zidan khawatir saat melihat raut lelah diwajah Andita.


"Tidak apa-apa aku hanya kelelahan." jawab Andita sambil mendudukan diri bersandar di bahu ranjang.


"Yakin hanya kelelahan?" Zidan menyentuh kening dan pipi istrinya itu.


"Hu'um!" Andita mengangguk. "Apa itu yang kau bawa?" tanya Andita sembari melirik map coklat yang Zidan taruh diatas nakas.


"Oh ini! Bukalah!" Zidan menyodorkan map tersebut pada Andita.


Andita menerima map itu. Lalu sesaat menatap Zidan dan mulai membuka mapnya.


"Surat perjanjian pra nikah?! Bukankah ini surat perjanjian kita?"


"Ya! Berhubung sekarang kau sudah menjadi milikku seutuhnya, aku tidak memerlukan surat itu lagi untuk menahanmu disisiku. Kau boleh merobek atau membakarnya. Terserah padamu!"


Seketika senyum mengembang terbit diwajah Andita.


"Benar aku boleh merobek atau membakarnya?"


"Tentu! Asal kau tetap menjadi istriku yang patuh!" Zidan kembali mengusap lembut pipi istrinya itu.


"Ck! Memangnya kapan aku tidak patuh padamu!" decak Andita sebal.


Kemudian netranya beralih lagi pada surat perjanjian yang ia pegang. Matanya kembali berbinar. Senyum menyeringai menghiasi wajahnya dan seketika..


Sreet Sreet Sreet


Wushhh..


Andita akhirnya merobek surat perjanjian itu menjadi potongan kecil-kecil lalu menghamburkannya keatas.


"Aku bebas!" seru Andita seraya tertawa lepas dan langsung memeluk tubuh Zidan.


"Aku mencintaimu sayang!"


Zidan membalas pelukan Andita dan mencium pucuk kepalanya bertubi-tubi.


"Aku juga sangat mencintaimu Andita!"


Setelah saling mengungkapkan perasaan, Zidan melepaskan pelukannya. Lalu menangkup wajah istrinya itu dan menatapnya lekat-lekat.


"Minggu ini aku akan mengajakmu pergi babymoon! Apa kau mau?!"


"Babymoon?!"


"Ya. Agar kau lebih rileks dan tidak cemas saat menunggu hari persalinan anak kita tiba."


Andita mengangguk cepat.


"Tentu aku mau! Tapi kita akan pergi babymoon kemana sayang?"


"Dubai."


"DUBAI?!"


*****


Setelah kepergian Zoya dan Andrew dua hari lalu ke Korea Selatan untuk melakukan pengobatan sekaligus honeymoon, hari ini giliran keberangkatan Zidan dan Andita ke Dubai untuk melakukan babymoon.


Mereka akan pergi berdua saja menggunakan jet pribadi milik Zidan.


Sementara Royal Group akan ditangani oleh Ken, selama pemilik utamanya berlibur.

__ADS_1


Awalnya keputusan Zidan ditentang oleh nyonya Liyana. Calon nenek itu merasa was-was.


Ia takut jika nanti sesuatu terjadi pada kandungan Andita. Mengingat kondisi tubuh sang menantu mudah sekali merasa lelah karena Andita tengah mengandung anak kembar.


Apalagi perjalanan menuju Dubai lumayan jauh. Namun Zidan meyakinkan sang ibu bahwa dia akan menjaga Andita dengan baik.


"Selama disana jaga kandunganmu dengan baik sayang! Jangan lupa minum vitamin! Ibu pasti akan sangat merindukanmu!" ucap Nyonya Liyana seraya memeluk tubuh menantunya itu dengan sangat erat.


"Ck! Kami hanya berlibur dua minggu saja Ibu! Kenapa berlebihan sekali!" sahut Zidan.


"Tutup mulutmu anak keras kepala! Awas saja jika kau tidak benar-benar mengajaknya berlibur dan malah menggempurnya habis-habisan diatas ranjang! Akan kupenggal kepalamu nanti!" ancam Nyonya Liyana.


Sontak saja ucapan absurd Nyonya Liyana membuat Andita dan Zidan tercengang.


Mereka merasa malu karena disana ada Ken dan beberapa body guard yang tengah mengantar kepergian mereka.


Ya ampun Ibu mertua! Kenapa harus berbicara seperti itu didepan umum?! ~Andita.


Astaga, Ibu! Membuatku malu saja! ~Zidan.


Zidan mengusap wajah kasar dan segera menyuruh Andita untuk pamitan pada ayahnya tanpa mau menggubris ucapan sang ibu.


"Jaga calon cucuku dengan baik! Karena setelah mereka lahir mereka akan menjadi pewaris seluruh kekayaanku!" ucap Tuan Wildan datar saat Zidan berpamitan padanya.


"Ayah tenang saja! Aku pasti akan menjaga mereka dengan jiwa dan ragaku, karena mereka juga calon pewaris kekayaanku!" jawab Zidan tak mau kalah.


"Cih! Dasar anak sombong!" umpat Tuan Wildan.


Andita, Nyonya Liyana dan Ken tergelak mendengar umpatan Tuan Wildan. Mereka menggelengkan kepala melihat tingkah ayah dan anak itu yang tak pernah akur.


Tak ingin membuang waktu, setelah berpamitan Zidan pun menyuruh Andita untuk segera masuk kedalam jet pribadinya. Siang itu mereka berangkat menuju Dubai.


*****


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam, akhirnya Zidan dan Andita tiba di Dubai.


Mereka langsung menuju hotel termewah disana yang sebelumnya sudah dipesan oleh Zidan.


Hotel itu dekat dengan menara Burj Khalifa. Zidan sengaja memilih hotel itu, agar Andita bisa menikmati pemandangan indah saat pagi dan malam dikota tersebut.


"Kau suka hotel ini sayang?" tanya Zidan dari belakang sembari melingkarkan tangannya diperut Andita.


Andita yang tengah menikmati pemandangan sore hari lewat jendela kamar yang cukup besar terperanjat kaget saat Zidan memeluknya.


"Sayang kau mengagetkanku!"


Zidan tertawa kecil. Lalu memutar tubuh Andita hingga menghadapnya.


"Saking terpesonanya dengan pemandangan diluar sana, kau sampai mengabaikanku! Apa dimatamu aku tidak cukup mempesona?" tanya Zidan. Tangannya memeluk erat pinggang istrinya.


Sementara Andita mengalungkan tangannya dileher Zidan.


"Jelas kau lebih mempesona dari pemandangan diluar sana sayang. Hanya saja saat ini aku sedang merasa kagum, karena ini pertama kalinya aku keluar negri dan melihat menara Burj Khalifa dari dekat. Sungguh seperti mimpi!" jawab Andita dengan wajah berbinar.


"Ini belum seberapa! Bersiaplah! Nanti malam aku akan memberi kejutan lain untukmu!"


*****


Dan malam ini Zidan benar-benar memberi kejutan lagi pada Andita. Ia mengajak Andita makan malam romantis dengan tema dinner in the sky.


Andita nampak terpukau dengan pemandangan didepan matanya. Ia sampai menutup mulut dengan kedua telapak tangannya karena masih belum percaya Zidan bisa seromantis ini padanya.


"Sayang i-ini?!"


"Ayo!"


Zidan mengulurkan tangannya kemudian mengajak Andita untuk duduk bersama. Mereka duduk saling berhadapan.


Didepan keduanya sudah tersaji hidangan khas Dubai yang menggugah selera. Dibawah mereka terdapat pemandangan malam yang sangat indah. Lampu-lampu menerangi kota Dubai malam itu.


Sungguh Andita tidak bisa berkata apa-apa. Dimatanya Zidan sosok sempurna. Lelaki itu selalu bisa membuatnya menjadi wanita paling istimewa.


"Bagaimana kau suka dengan tema makan malam kita?" tanya Zidan. Tangannya terulur menggenggam tangan Andita diatas meja.

__ADS_1


"Asal itu bersamamu aku suka!" jawab Andita sembari membalas genggaman tangan Zidan.


"Kau menggombaliku?!"


"Anggap saja begitu!"


Mereka tertawa bersama kemudian mulai menikmati makan malam diatas langit.


*****


Selesai makan malam Zidan dan Andita kembali kedalam kamar.


Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah kedua sejoli itu. Andita terus menggandeng tangan Zidan sampai ia duduk ditepi ranjang.


Zidan menutup pintu kemudian menguncinya. Ia berjalan kearah nakas lalu mengambil sesuatu dari sana.


"Apa itu?" tanya Andita saat melihat kotak kecil berwarna biru donker ditangan Zidan.


Zidan berjongkok dihadapan Andita. Kemudian membuka kotak tersebut.


"Untukmu!"


"Gelang kaki?!"


"Ya! Biar kupasangkan!"


Andita mematung ketika Zidan memasangkan gelang kaki itu dikaki kanannya.


"Pas dan cantik sekali!" ucap Zidan puas seraya menatap istrinya itu. Sementara yang ditatap sama sekali tidak bergeming.


"Kenapa kau memberikanku gelang kaki?" tanya Andita.


"Agar kau tidak lari dariku!"


"Hahaha!" tiba-tiba Andita tertawa. "Kenapa tidak sekalian saja kau ikatkan rantai dikakiku?! Lalu menggemboknya! Otomatis aku tidak akan bisa lari darimu!" ledek Andita sambil menggoyangkan kaki kanannya.


"Andai aku bisa melakukan itu, pasti sudah kulakukan dari dulu! Sayangnya aku tidak bisa, karena aku tidak ingin kau terluka."


Perlahan senyum Andita menghilang saat mendengar nada suara Zidan yang berubah serius.


"Andita!" panggil Zidan seraya meraih kedua telapak tangan istrinya yang mencengkram sisi ranjang.


"Ya?"


"Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, karena kau sudah mau menerimaku, mencintaiku, menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku! Aku sangat beruntung dan bahagia memilikimu." ucap Zidan tulus.


Netranya menatap netra Andita lekat. Begitu pun dengan Andita yang menatap Zidan tanpa berkedip.


"Aku juga bahagia dan beruntung memilikimu Zidan! Terimakasih sudah menjadi suami yang baik untukku dan calon ayah yang bertanggung jawab untuk anak-anak kita!"


Zidan mengecup tangan Andita kemudian mencium perut istrinya itu.


"Sama-sama."


Entah siapa yang memulai kini bibir keduanya sudah saling memagut.


Zidan bangkit dari berlututnya kemudian merebahkan Andita diatas ranjang tanpa melepas ciumannya.


Tangannya mulai bergerilya menari dari paha Andita hingga kebukit kembarnya.


"Ahhh.." de sah Andita saat Zidan meremas pelan payu daranya diluar gaun.


Kini tubuh Andita sudah polos saat Zidan berhasil melepas gaun yang dikenakannya itu.


Zidan menjeda ciumannya lalu melepaskan pakaiannya sendiri. Ia membuang tuxedo dan celananya kesembarang arah hingga kini ia berdiri tanpa sehelai benang pun.


Jantung Andita berdegub kencang saat menatap tubuh polosnya suaminya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia bercinta dengan Zidan.


Tanpa Andita sadari kini Zidan sudah berada diatas tubuhnya.


"I Want You!"


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2