MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Sebuah Perbedaan


__ADS_3

Zoya menatap langit-langit ruang kerjanya. Matanya menatap nyalang kedepan. Saat ini ia tengah mengingat momen kebersamaannya dengan Zidan dimasa lalu.


Zoya mulai membandingkan perbedaan sikap Zidan dan Andrew padanya. Jika selama ini Zidan selalu ada untuknya, namun berbeda dengan Andrew. Selama ini Zoya-lah yang selalu ada untuk kekasihnya itu.


Andrew bukanlah tipikal pria romantis. Namun pria itu bisa membuat lawan jenis tertarik. Dia memiliki wajah tak kalah tampan dari Zidan. Kesuksesan perusahaannya pun nyaris setara dengan perusahaan Zidan.


Hal yang membuat Zoya melabuhkan hati pada pria itu bukan hanya karena ketampanannya saja, melainkan karena sifat Andrew yang bebas. Berbeda dengan sifat Zidan yang terkesan posesif dan gila kerja.


Zoya lebih menyukai karakter pria seperti Andrew. Sudah hampir satu tahun mereka menjalin hubungan. Namun akhir-akhir ini hubungan mereka serasa hambar.


Andrew terkesan menghindari Zoya. Penyebabnya adalah karena sudah beberapa kali ini Zoya meminta Andrew untuk menikahinya. Sementara Andrew belum siap untuk berkomitmen.


Zoya selalu mendesak Andrew semenjak mereka mendapatkan undangan pernikahan dari Zidan.


Sebagai wanita, Zoya tidak munafik, ia juga ingin memiliki status yang jelas. Sedangkan selama ini mereka berdua sudah melakukan hubungan layaknya suami istri.


Lamunan Zoya buyar ketika ponselnya berdering.


Andrew?! Akhirnya dia menghubungiku!


"Hallo?"


"Hallo sayang! Maaf aku baru menghubungimu. Bagaimana kabarmu?"


"Kabarku baik."


"Syukurlah. Apa kau merindukanku?"


"Aku selalu merindukanmu Andrew. Tapi sepertinya kau yang tidak merindukanku." Keluh Zoya.


Andrew terkekeh mendengarnya.


"Tentu saja aku merindukanmu sayang! Oh ya, siang ini aku sudah tiba di bandara. Nanti malam aku akan menjemputmu! Kita akan makan malam bersama. Berdandanlah yang cantik!"


Zoya mengehembuskan nafas kasar. Biasanya dia akan senang dengan ajakan Andrew. Tapi entah kenapa kali ini dia merasa tidak bersemangat.


"Maafkan aku Andrew! Sepertinya malam ini aku tidak bisa pergi untuk menyambut kepulanganmu."


"Kenapa? Apa kau baik-baik saja sayang?"


"Ya aku baik-baik saja Andrew. Hanya saja aku harus mengejar target untuk menyelesaikan beberapa designku. Beberapa klien sudah menunggu hasil rancanganku minggu ini. Sekali lagi maafkan aku karena tidak bisa menemuimu!"

__ADS_1


"Hmm baiklah tidak apa-apa. Kalau begitu aku yang akan menemuimu diapartement saja!"


"Tidak perlu Andrew! Kau pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Lebih baik kau beristirahat. Kita bertemu besok saja, Okey!" Jawab Zoya cepat.


Karena dia sudah tahu apa yang akan terjadi jika lelaki itu datang ke apartementnya. Saat ini Zoya hanya ingin sendiri untuk menjernihkan pikiran dan hatinya yang selalu memikirkan Zidan.


Diseberang sana Andrew nampak kecewa dengan Zoya. Padahal sudah sangat lama dia merindukan momen untuk berdua dengan kekasihnya itu. Tapi mau bagaimana lagi? dia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya.


"Hmm baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok sayang!"


Sambungan telepon pun terputus. Zoya hanya bisa menatap nanar ponselnya dengan perasaan gamang.


******


Keesokan harinya.


"Aku mohon Zidan sekali ini saja!" Rengek Andita.


"Apa kau mulai membantahku lagi Andita?! Kau sudah berjanji akan menuruti perintahku bukan? Jika kau lupa ingatlah surat perjanjian yang sudah kau tandatangani!"


Andita mendengus kesal mendengar ucapan suaminya yang membahas soal surat perjanjian.


"Tentu saja! Surat perjanjian itu berlaku selama tiga tahun. Dan selama itu kau tidak boleh membantahku!" Tegas Zidan.


"Hm sayang sekali. Padahal aku sudah berjanji pada Ibu, kalau hari ini aku akan menemaninya pergi berbelanja. Pasti Ibu sangat kecewa karena kau melarangku. Tapi baiklah tidak apa-apa. Mungkin sudah nasibku terkurung diistana megah ini." Ucap Andita pura-pura sedih.


Zidan mengusap wajah kasar. Pasti jika sudah berkata seperti itu istrinya sedang merajuk. Dan bisa dipastikan seharian ini Andita akan bersikap tidak acuh padanya.


"Baiklah kali ini aku mengizinkanmu pergi, asal kau bisa menjaga dirimu baik-baik! Aku tidak mau ada drama penculikan lagi."


Andita tertawa melihat ekpresi menggemaskan suaminya itu.


"Tentu saja sayang! Aku pasti akan menjaga diriku baik-baik. Apa kau belum tahu jika istrimu ini jago bela diri?!"


"Ck, jago bela diri apa?! Jika kau jago bela diri, kau tidak akan diculik!" Ejek Zidan.


"Hish Zidan! Apa kau meremehkanku?!" Andita mencubit tangan kekar suaminya yang disambut gelak tawa Zidan.


*****


Saat ini Andita bersama sang Ibu tengah berada disebuah pusat perbelanjaan. Sudah lama sekali ia tidak pergi berbelanja dengan ibunya.

__ADS_1


Semenjak menikah dengan Zidan kebebasannya seolah dibatas. Zidan selalu melarangnya pergi sendiri. Dan harus mengabarinya setiap waktu.


Meskipun Andita tahu apa yang dilakukan Zidan adalah karena rasa khawatir dan rasa cinta lelaki itu padanya. Namun tetap saja Andita kadang merasa risih.


Tapi setelah kejadian penculikan yang menimpanya beberapa waktu lalu, sepertinya Andita mulai terbiasa dengan sikap posesif suaminya itu.


Hari ini Andita tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Zidan padanya. Meskipun disaat belanja ia harus dibuntuti supir sekalipun, Andita tidak masalah.


Ketika sedang memilih pakaian untuk ibunya, Andita tidak sengaja mendengar keributan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia seperti mengenali suara tersebut.


Untuk memastikan, Andita dan ibunya pun menghampiri orang yang tengah berseteru itu.


"Dasar gadis tidak tahu malu! Jadi selama ini kau sudah mengkhianati putraku hah?!" Seorang wanita paruh baya nampak emosi ketika melihat kekasih dari putranya menggandeng pria lain.


Gadis yang mendapat bentakan itu malah tersenyum sinis dan menanggapinya dengan santai.


"Jika ya memang kenapa?! Lagipula aku sudah tidak mencintai putramu lagi! Semenjak perusahaan kalian bangkrut, dia sudah tidak memiliki apapun untuk dibanggakan!"


"Apa katamu?!! Jadi selama ini kau mau dengan putraku hanya karena hartanya saja,hah?!"


"Tentu saja! Kau pikir apa lagi?! Dulu putramu berjanji akan menikahiku, tapi mana buktinya?! Dan untung saja hal itu tidak terjadi. Jika tidak, sudah bisa dipastikan aku akan hidup melarat dengannya."


"Kau benar-benar gadis murahan! Aku menyesal pernah memilihmu menjadi calon menantuku!" Wanita paruh baya itu melayangkan tangannya keudara hendak menampar gadis dihadapannya.


Namun secepat kilat gadis itu menangkap tangan yang nyaris mendarat dipipinya.


"Jangan pernah menyentuh wajahku dengan tangan kotormu ini wanita tua!" Geram gadis itu. Dia langsung mendorong wanita dihadapannya dengan kasar hingga wanita paruh baya itu tersungkur kelantai.


"Akhh!!" Pekiknya.


"Rasakan! Asal kau tau aku pun menyesal pernah menjadi calon menantu dari seorang narapidana!" lanjut gadis itu.


"Nyonya Reyhan?!" Teriak Andita yang tidak menyangka jika wanita yang tengah ribut itu adalah ibu dari mantan kekasihnya.


Seketika netra Nyonya Reyhan dan gadis yang tak lain adalah Lusy langsung menoleh ke arah Andita.


"Andita?!" Panggil mereka secara bersamaan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2