MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Berjanjilah!


__ADS_3

Pesta telah usai. Semua orang telah kembali kekediaman masing-masing. Zidan mengantarkan Andita pulang kerumahnya.


Zidan membawa mobilnya sendiri tanpa disupiri oleh Ken. Tentu dia tidak ingin keromantisannya dengan Andita diganggu oleh siapapun.


Sepanjang perjalanan Zidan tidak henti-hentinya mencuri pandang kearah Andita. Gadis itu selalu cantik dimatanya. Entah kenapa dirinya bisa jatuh cinta hanya dengan melihat manik mata gadis itu.


Andita yang merasa diperhatikan oleh Zidan menjadi salah tingkah dan itu semakin membuat Zidan gemas dibuatnya.


"Terimakasih Andita, malam ini kau sudah mau datang kepesta ulang tahunku!" Ucap Zidan mencoba mencairkan kecanggungan diantara mereka.


Eh, dia mengucapkan terimakasih?! Seperti bukan Tuan Zidan saja!


"Sama-sama Tuan!"


"Boleh aku memujimu?"


"Apa?!"


"Kau sangat cantik malam ini!"


Andita tersipu.


"Terimakasih!"


"Gaun yang kau pakai juga terlihat sangat pas ditubuhmu! Pintar sekali kau memilih warna. Warna merah adalah salah satu warna favoritku!" Ujar Zidan.


Apa?! Warna favoritnya?! Oh my god! Jadi Nyonya Liyana sengaja memilihkan gaun warna merah ini untukku karena Tuan Zidan menyukai warna merah?! Tapi kenapa?!!


"Benarkah ini warna favorit anda Tuan?" Tanya Andita.


"Hemm." Zidan mengangguk, sekilas melirik kearah Andita lalu kembali fokus menyetir.


Andita menggigit bibirnya.


"Gaun ini dibeli dan dipilihkan langsung oleh Ibu anda Tuan, Nyonya Liyana." Ucap Andita jujur.


"Benarkah?!" Zidan nampak terkejut.


Jadi Ibu benar-benar menyukai Andita, sampai-sampai dia membelikan gaun dengan warna favoritku untuknya. Itu berarti aku tidak akan menemui masalah dengan Ibu.


"Kapan Ibuku membelikanmu gaun itu?"


"Seminggu yang lalu, saat kami bertemu dibutik."


"Kau bertemu dengan Ibuku dibutik?"


"Ya, kami tidak sengaja bertemu disana."


"Apa saja yang kalian lakukan selama pertemuan itu?!"


Hish, kenapa dia jadi banyak bertanya sekali! Apa aku juga harus menceritakan tentang pertemuanku dengan Rachel dan Ibunya?! Ah, tidak perlu. Tidak penting juga!


"Hey! Kenapa kau diam saja? Apa saja yang kau lakukan dengan Ibuku saat pertemuan itu?!"


"Tidak ada Tuan. Kami hanya berbincang dikedai kopi lalu kami minum kopi, setelah itu kami kebutik, dari butik kami berkeliling mencari gaun, lalu setelah itu ..."


"Sudah cukup! Sepertinya aku sudah tahu apa saja yang kalian lakukan!" Potong Zidan.

__ADS_1


Andita tergelak mendengar ucapan lelaki itu yang terlihat kesal karena penjelasannya.


"Andita!"


"Ya Tuan?"


"Apa kau sudah berbicara pada Ibumu tentang hubungan kita dan juga tentang pernikahan kita?" Tanya Zidan.


Andita terdiam. Pasalnya dia sama sekali belum memberitahukan apapun pada ibunya tentang hubungannya dengan Zidan. Andita menggelengkan kepalanya.


"Belum Tuan! Saya belum memberitahukan apapun pada Ibu saya tentang rencana kita." Jawab Andita.


"Hish, kenapa kau tidak segera memberitahu Ibumu? Apa kau sengaja menundanya?!" Protes Zidan.


"Bukan begitu Tuan, hanya saja.."


Ckiiitttt


Terdengar suara decitan mobil. Tiba-tiba Zidan menginjak rem dan menghentikan mobilnya secara mendadak dipinggir jalan. Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam.


"Besok aku akan menemui Ibumu untuk meminta restu!" Ucap Zidan seketika membuat Andita membeliakkan matanya.


"A-apa?! Besok Tuan?!"


"Ya, besok! Kenapa?! Apa kau tidak ingin menepati janjimu?!" Tanya Zidan penuh selidik.


"Bu-bukan begitu Tuan! Tapi saya harus.."


Tiba-tiba tangan Zidan merengkuh ceruk leher gadis itu.


"Andita!"


"I-iya Tuan!" Jawab Andita tergagap.


"Jangan pernah sekalipun kau berani merencanakan sesuatu untuk membatalkan perjanjian kita atau berencana pergi dariku! Karena aku tidak akan membiarkannya!"


"Aku akan mencarimu sampai kelubang semut jika kau berani melakukan itu!" Ancam Zidan. Sorot matanya menyiratkan keseriusan akan kata-katanya barusan.


"Ma-mana saya berani Tuan! Saya tidak akan pernah melakukan itu!" Andita berusaha tersenyum.


Netra Zidan menatap lekat-lekat manik mata cokelat itu. Perlahan-lahan tubuhnya condong kearah Andita. Semakin lama Zidan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Andita.


Andita berusaha memundurkan kepalanya, namun tangan kokoh Zidan malah menahannya dan menariknya kedepan. Semakin lama semakin dekat. Hembusan harum nafas Zidan kembali menerpa permukaan kulit wajah gadis itu.


Dag Dig Dug Dag Dig Dug


Jantung Andita terus menabuhkan gendangnya didalam sana. Kenapa tubuhnya tiba-tiba membeku dan tidak bisa diajak berkompromi?


Andita hanya bisa pasrah. Dia memejamkan matanya saat wajah Zidan sudah berjarak beberapa centi darinya.


Tiba-tiba..


Drrrtttt... Drrrrttt


Ponsel Zidan berbunyi nyaring hingga mengagetkan keduanya.


Damn!

__ADS_1


Zidan memejamkan matanya menahan kesal, kemudian dia menjauhkan dirinya dari Andita.


Hufft! Selamat, selamat!


Andita mengehela nafas lega.


Zidan melihat id sipenelepon. Ken.


Hishh! Kenapa dia menghubungiku disaat-saat seperti ini?!


Zidan menekan lencana berwarna hijau gusar.


"Hallo! Ada apa? Kenapa kau menghubungiku?!" Tanya Zidan kesal.


Andita tergelak mendengar kekesalan atasannya itu.


"Apa?!" Seketika wajah Zidan berubah serius.


"....."


"Baiklah aku akan segera pulang!" Zidan mematikan ponselnya seraya membuang nafas kasar.


"Ada apa Tuan? Apa semua baik-baik saja?!" Tanya Andita yang melihat raut perubahan diwajah Zidan.


Zidan menoleh pada Andita. Tatapannya belum berubah masih sama serius.


"Andita berjanjilah, apapun yang terjadi kau tidak akan pernah membatalkan perjanjian kita! Dan berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkanku!" Ucap Zidan.


Andita menatap Zidan lamat-lamat.


Apa yang terjadi dengannya? Kenapa nada bicaranya tiba-tiba berubah serius.


"Andita! Berjanjilah!" Zidan mengulurkan jari kelingkingnya kehadapan Andita.


Andita terkekeh.


Apa-apaan sih dia ini?! Seperti anak TK saja!


"Baiklah saya berjanji Tuan! Saya tidak akan membatalkan perjanjian kita dan saya tidak akan pernah pergi anda! Lagipula saya tidak punya cukup uang untuk pergi kemanapun!" Kelakar Andita sambil menautkan jari kelingkingnya.


Zidan tergelak mendengarnya. Refleks tangannya menepuk pelan kepala gadis itu.


"Anak pintar! Baiklah, sekarang aku akan segera mengantarmu pulang!"


Sekali lagi Andita dibuat terkesiap oleh tindakan Zidan.


Kenapa dia selalu bersikap semanis ini? Membuat jantungku tidak sehat saja!


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa sayangkuhh❤


Apalagi kalau dikasih hadiah poin sama vote haduuh senengnya otor 😁


Mau bulan puasa harus banyak berbagi yaa😁🙏

__ADS_1


__ADS_2