MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Tenggelam


__ADS_3

Andita menghentikan langkahnya sebelum ia sampai ke toilet. Entah kenapa tiba-tiba Andita merasakan sesuatu yang mengganjal dihatinya.


Sepertinya ia telah melupakan pesan Zidan untuk menjaga kalung pemberiannya dengan baik.


Aku memesan dan membeli kalung ini dengan penuh cinta untukmu! Jadi kau harus menjaganya seperti kau menjaga cintamu untukku! Mengerti?!


Ucapan Zidan terus terngiang-ngiang ditelinga Andita. Bagaimana bisa ia melepaskan kalung pemberian Zidan begitu saja dari lehernya. Dan meninggalkannya bersama orang lain? Jika Zidan tahu pasti pria itu akan marah.


Andita menggelengkan kepalanya menepis perasaan aneh yang menelusup kehatinya. Ia segera menuntaskan niatnya untuk pergi kekamar mandi. Setelah selesai, dengan langkah terburu-buru Andita langsung kembali menemui Zoya.


Namun betapa terkejutnya Andita ketika ia tiba dihalaman belakang. Andita melihat Zoya tengah melemparkan kalungnya kedalam kolam renang.


"ZOYA! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Andita.


Deg


Zoya segera membalikan tubuhnya kebelakang hingga tatapannya kini bertemu dengan tatapan Andita.


"A-Andita?!"


Seketika tubuh Zoya membeku. Lidahnya kelu saat Andita menyorotnya begitu tajam.


Dengan sedikit berlari Andita membawa kakinya ketepi kolam renang.


Andita menatap nanar kalungnya yang sudah tergeletak didasar kolam tersebut.


"Kalungku!" lirih Andita.


Perlahan Andita mengepalkan tangannya kemudian berbalik memandang Zoya.


"Kenapa kau membuang kalungku Zoya?!" tanya Andita. Suaranya tertahan menahan geram.


"Andita, aku.. Aku tidak sengaja!" jawab Zoya dengan bibir bergetar. Ia melangkahkan kakinya maju mendekati Andita dengan memasang raut wajah penuh rasa bersalah.


"Tidak sengaja?! Kau bilang tidak sengaja?! Jelas-jelas aku melihatmu melempar kalungku kedalam kolam! KENAPA KAU LAKUKAN ITU ZOYA?!!" tiba-tiba suara Andita meninggi.


Tangannya mencengkram tangan Zoya. Matanya memerah dan berkaca-kaca.


Bayangan dimana saat Zoya memanggil nama suaminya ketika wanita itu pingsan seminggu lalu kembali menubruk ingatan Andita.


Membuat dadanya kembali merasa sesak. Dan instingnya sebagai seorang istri kembali hadir bahwa Zoya menyukai Zidan.


Zoya yang tidak terima dirinya diteriaki apalagi tangannya dicekal oleh Andita segera menepisnya dengan kasar.


"Lepaskan tanganmu dari tanganku Andita!" hardik Zoya seraya menatap tajam pada Andita.


"Sepertinya aku tidak perlu lagi berpura-pura padamu!" lanjutnya.


"Berpura-pura?!" Andita terhenyak. Ia semakin tidak mengerti pada sahabat suaminya itu. "Apa maksudmu Zoya?!"


Seringai tipis muncul diwajah Zoya. Ia menyedekapkan tangannya didepan dada kemudian berjalan maju selangkah demi selangkah mendekati Andita.


Hingga membuat Andita waspada dan perlahan berjalan mundur ketepi kolam.

__ADS_1


"Kau ingin tahu apa maksudku?! Apa kau yakin sudah siap mendengarnya?!" tanya Zoya.


"Katakan apa maksudmu Zoya, tidak usah berbelit-belit!" jawab Andita sarkas. Membuat Zoya tergelak kecil.


"Haha.. Baiklah jika itu yang kau mau! Aku juga tidak ingin membuang-buang waktuku!"


Kini tatapan Zoya berubah menjadi dingin dan tajam. Sorot kebencian terlihat jelas dimatanya.


"Aku menyukai Zidan!"


Duarr


Andita terkejut bukan main mendengar pengakuan Zoya. Ia menatap tidak percaya pada wanita dihadapannya itu.


"Apa yang kau katakan Zoya?! Kau.."


"Kau tidak tuli kan Andita?! Aku mengatakan bahwa aku menyukai Zidan! Ah bukan, lebih tepatnya aku mencintai Zidan." jelas Zoya.


"Apa kau sudah gila Zoya?! Zidan adalah suamiku? Dia sahabatmu dan Andrew! Dan kau adalah kekasih Andrew! Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Andrew jika sampai dia mendengar kata-katamu barusan!"


Zoya langsung menutup kupingnya ketika nama kekasihnya itu disebut.


"Andrew, Andrew, Andrew! Berhenti menyebut namanya! Aku sudah tidak mencintainya Andita! Aku mencintai Zidan! Dan apa kau tahu bahwa Zidan juga mencintaiku!"


Deg


Jantung Andita seolah ditusuk ribuan jarum. Ia begitu syok mendengar penuturan Zoya.


"Tidak! Zidan tidak mencintaimu Zoya!" lirih Andita sembari menggelengkan kepalanya. Ia mencoba menyanggah kebenaran yang ia ketahui.


"Kau tidak percaya?! Tapi itulah kenyataannya Andita! Aku dan Zidan saling mencintai. Dan kau adalah penghalang diantara kami!"


Zoya melangkahkan kakinya maju kehadapan Andita hingga membuat Andita kembali berjalan mundur bahkan ujung telapak kakinya sudah menyentuh air.


"Berhenti ditempatmu Zoya! Atau aku akan teriak!" Andita menoleh kebelakang. Selangkah lagi dia mundur maka ia akan tercebur kedalam kolam renang sedalam dua meter.


"Kenapa?! Kau takut? Aku tidak akan menyakitimu Andita! Asal kau menuruti kemauanku!"


"Apa maumu Zoya?!"


"Zidan! Aku mau Zidan!"


"Kau gila Zoya! Zidan adalah suamiku! Aku tidak akan pernah memberikannya padamu!"


"Kalau begitu jangan salahkan aku, jika aku berbuat nekat padamu juga pada calon anakmu itu!" netra Zoya melirik perut Andita. Sontak membuat Andita memeluk perutnya erat-erat.


"Jika kau berani menyentuhku dan calon anakku, aku pastikan Zidan tidak akan memaafkanmu Zoya!" ancam Andita.


"Haha.. Apa kau lupa Andita?! Aku dan Zidan sudah bersahabat cukup lama. Aku mengenal bagaimana karakter Zidan. Apalagi aku adalah cinta pertamanya. Dia tidak akan marah jika aku hanya menyentuhmu sedikit saja!"


"Kau benar-benar sudah gila Zoya!"


"Ya! Aku memang sudah gila! Aku gila karena Zidan. Semenjak Zidan menikah denganmu sikapnya berubah padaku! Dia tidak lagi memperhatikanku dan itu membuatku merasa kecewa! Asal kau tahu aku tidak bisa menerima itu!"

__ADS_1


Andita menghela nafas dan menatap tidak percaya pada Zoya. Ia menelan susah salivanya saat Zoya terus berjalan maju kehadapannya.


Andita tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika sampai ia tercebur kedalam kolam dibelakangnya. Karena Andita sama sekali tidak bisa berenang.


Zidan kumohon datanglah! Aku takut!


"Kenapa Andita? Kau terkejut?! Kenapa wajahmu terlihat pucat?!" Zoya berpura-pura memasang mimik wajah khawatir.


"Aku mohon Zoya berhenti ditempatmu! Kita bisa membicarakan ini baik-baik!" pinta Andita dengan bibir bergetar. Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya.


"Of course! Asal kau berjanji akan mengembalikan Zidan padaku! Karena dia milikku!"


"Tidak! Zidan bukanlah sebuah barang yang harus dikembalikan! Dan dia juga bukan milikmu Zoya!"


"Kalau begitu lihat apa yang akan aku lakukan padamu." Zoya semakin mendekat membuat Andita bergidik ngeri.


Andita yang sudah diselimuti perasaan takut tanpa sadar kembali berjalan mundur kebelakang. Hingga akhirnya ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan..


"Aaaa, Zoyaaa!!!"


Byuuurrrr


Blupp..blupp..blupp


Andita tercebur dan tenggelam kedalam kolam renang. Ia berusaha keluar dengan menggerak-gerakkan kakinya dan menggapai-gapaikan tangannya kepermukaan air. Namun nihil.


Sementara diatas Zoya tertawa senang. Ia merasa puas karena sudah berhasil menakuti Andita.


"Haha.. aku sudah memberi penawaran yang mudah padamu Andita tapi kau malah memilih menceburkan diri! Haruskah sekarang aku menyelamatkanmu?!"


"Zo..yaa!!!"


Blupp..blup..blupp


"Tolong..aku!!" Andita berusaha mengiba pada Zoya. Namun sepertinya wanita itu enggan menolongnya.


Andita kembali tenggelam. Ia nyaris kehabisan nafas. Didalam air Andita memejamkan mata dan berdoa semoga Zidan datang menyelamatkannya seperti peristiwa yang pernah ia lalui sebelumnya.


Dan sepertinya Tuhan mengabulkan doa Andita. Andita tersenyum samar kala pinggangnya ditarik seseorang dan membawa tubuhnya keatas permukaan.


Untuk sesaat Andita membuka matanya tanpa tahu siapa yang sudah menariknya keluar dari jurang kematian.


Zidan..


Slerrp


Seketika pandangan Andita menggelap. Ia pingsan seiring tubuhnya yang terangkat dari dalam air.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2