MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Panggil Aku Sayang!


__ADS_3

Andita mengerjap-ngerjapkan mata, saat seberkas cahaya menyelinap masuk melalui celah tirai kamar yang sedikit terbuka.


Ia menghalau cahaya mentari pagi itu dengan tangannya.


Perlahan Andita membuka netranya yang masih memberat. Dengan setengah sadar ia meraba-raba sampingnya seolah tengah mencari sesuatu.


"Kau mencari apa sayang?"


"Apa kau sedang mencariku?" terdengar suara bariton disudut ruangan yang membuat Andita terkesiap.


Rupanya Zidan yang melihat pergerakan Andita dari balik cermin menyadari jika istrinya itu sudah bangun.


"Zidan.. Kau mau kemana?" tanya Andita dengan suara khas orang bangun tidur.


Ia merasa heran ketika melihat sang suami sedang memakai kemeja berwarna putih polos yang masih menampilkan setengah otot-otot di tubuhnya.


Zidan tersenyum simpul lalu menghampiri istrinya itu.


"Apa kau lupa sayang jika hari ini aku akan keluar kota?!"


"A-APA?!"


Seketika Andita melebarkan matanya. Ia benar-benar lupa dengan jadwal Zidan yang akan melakukan perjalanan bisnis hari ini, karena semalam Andita begitu sangat kelelahan.


"Ya Tuhan! Aku benar-benar lupa Zidan!"


Andita menghempas kasar selimut yang membungkus tubuhnya. Kemudian ia segera beranjak dari tempat tidur untuk menghampiri suaminya itu.


Namun naas saat kakinya yang terkilir menghentak lantai, Andita mengaduh kesakitan.


"Awhh hishh!!" desis Andita.


"Andita! Kau tidak apa-apa?!" tanya Zidan panik. Ia segera merangkul tubuh Andita dan mendudukkannya ditepi ranjang.


Zidan bersimpuh dihadapan istrinya itu dan dengan lembut memijat pergelangan kakinya.


"Sudah tidak apa-apa Zidan!" Ucap Andita yang merasa tidak enak karena Zidan menaruh kakinya diatas pahanya.


Namun Zidan tak menggubris ucapan Andita. Ia malah membuka laci nakas yang terdapat kotak P3K disana. Lalu mengeluarkan sebuah perban elastis.


Kemudian dengan telaten Zidan membalut pergelangan kaki Andita agar cederanya tidak berkelanjutan.


Mendapat perhatian yang begitu manis dari sang suami jelas saja membuat jiwa Andita melayang.


Seketika Andita lupa dengan rasa sakit dikakinya. Sebaliknya ia malah menikmati wajah tampan dan tubuh atletis milik suaminya itu.


Dengan susah payah Andita berkali-kali menelan ludah saat melihat roti sobek yang terpampang nyata didepan matanya.


Bagaimana Andita tidak tergiur? Zidan yang belum memasang kancing kemejanya secara keseluruhan malah membuat dada bidang lelaki itu terekspos dan terkesan lebih maskulin.


Seolah tersihir dengan aura ketampanan suaminya itu, Andita sampai tidak sadar jika sedari tadi Zidan bertanya.


"Bagaimana? Tidak terlalu kencang kan?" tanya Zidan yang ingin memastikan ikatan perban yang ia balut dikaki Andita tidak menyakiti kaki istrinya.


Netra Zidan masih berfokus pada kaki Andita.


"Andita, bagaimana tidak terlalu kencang kan?!" ulang Zidan. Ia mendongakan wajahnya untuk melihat wajah Andita.


Zidan mengernyitkan kening bingung saat Andita menatapnya dengan penuh damba.


"Heii kau kenapa?!" Zidan mencubit pipi istrinya hingga membuatnya tersadar.


Andita terkesiap. Dia yang sudah tertangkap basah tentu saja kelabakan.

__ADS_1


"Ti-tidak. Tidak apa-apa!" jawab Andita gugup seraya memalingkan wajahnya kesembarang arah.


Melihat ekspresi wajah Andita yang tiba-tiba merona, Zidan melihat tubuhnya sendiri. Seketika ia sadar dengan apa yang baru saja dipikirkan oleh istrinya itu. Zidan pun menyeringai nakal.


"Ah, ternyata kau mencuri kesempatan dalam kesempitan ya sayang?!" goda Zidan.


"A-apa maksudmu?!" tanya Andita terbata, ia berusaha menutupi rasa malunya.


"Sedari tadi aku mengobati kakimu tapi kau malah menatap dan menikmati tubuhku ini kan?!" Zidan menyingkap sebelah kemejanya, hingga separuh tubuh kekar itu bisa Andita lihat.


Seketika Andita membulatkan matanya dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.


Melihat hal tersebut Zidan langsung tertawa lepas.


"Hahaha.. Kenapa?! Kau malu karena kepergok olehku?!"


"Hah?! Siapa juga yang sedang menatap tubuhmu?! Kau itu terlalu percaya diri!" elak Andita.


"Ck! Tidak menatap tubuhku, tapi air liurmu menetes!" tunjuk Zidan pada Andita.


Seketika Andita refleks mengelap mulutnya sendiri hingga membuat Zidan kembali tertawa.


"Hahaha!!!"


"Zidaannn!!! Kau mengerjaiku!" teriak Andita saat dia menyadari tidak ada air liur yang keluar dari mulutnya.


"Habisnya kau menggemaskan sekali sayang!" Zidan menjawil hidung istrinya itu.


"Dengar, sebenarnya aku ingin memberikan tubuhku ini padamu. Tapi saat ini aku tidak bisa. Kau tahu kan aku harus segera bersiap-siap untuk pergi keluar kota?"


"Jika aku memberikan tubuhku sekarang, aku takut, aku tidak bisa menahan diri. Kau tahu kan bagaimana performaku diatas ranjang?!"


"Tapi aku berjanji setelah aku pulang nanti kau bebas melakukan apapun pada tubuhku ini!"


Dengan percaya dirinya Zidan berkata seperti itu pada Andita. Sementara Andita menatap tidak percaya saat mendengar perkataan suaminya.


"Lebih baik sekarang kau pakai kemejamu itu dengan benar! Aku mau mandi!" lanjut Andita.


Namun Zidan segera menahan tubuh Andita saat ia akan berdiri.


"Kau tidak ingin membantuku bersiap-siap sayang?!"


"Tidak! Karena kau pasti akan terus menggodaku!" ketus Andita.


"Hehe..baiklah, tidak apa-apa! Tapi berikan aku ciuman selamat pagi." Zidan menunjuk pipinya sendiri.


Dan...cupp


Dengan senang hati Andita mendaratkan ciuman manis dikedua pipi suami tercintanya itu.


******


Zidan sudah rapi dengan semua persiapannya. Sementara Ken sudah datang kekediaman Zidan sejak pagi-pagi sekali untuk menjemput tuannya itu.


"Ah rasanya aku tidak ingin berpisah denganmu Andita!" Ucap Zidan ketika mereka berdua tengah berada diluar pintu utama.


"Aku juga sama sepertimu Zidan."


"Benarkah?!"


"Hemm." Andita mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.


"Dengar, selama aku tidak ada dirumah kau tidak boleh pergi kemanapun! Jika ada sesuatu yang ingin kau beli suruh saja pelayan dirumah ini, mengerti?!"

__ADS_1


Andita mengangguk patuh.


"Tapi bagaimana jika aku rindu pada Ibu dan Nazwa? Apa aku tidak boleh menjenguk mereka?"


"Ck! Selalu alasan itu yang kau pakai! Jika kau rindu pada Ibu dan Nazwa, aku akan meminta supir untuk menjemput mereka agar mereka datang kemari. Jadi kau tidak perlu repot-repot keluar!"


"Intinya selama aku tidak bersamamu, selangkahpun kau tidak boleh keluar dari rumah ini, ingat itu!" Sorot mata Zidan begitu tajam saat memberi peringatan pada Andita.


Andita hanya bisa mengehela nafas panjang. Ia tidak mau berdebat meskipun ia merasa kebebasannya terlalu dibatasi. Andita harus bisa menerimanya.


Karena bagi Andita setelah semua yang sudah Zidan lakukan selama ini untuknya, tidak ada salahnya jika dia membalasnya dengan kepatuhan. Lagipula bukankah surga istri ada pada suami?


"Hmm..Baiklah sayang aku mengerti. Aku akan selalu mengingat pesanmu itu!" ucap Andita dengan menyertakan senyuman manis diwajahnya.


"Kau mengatakan apa tadi?" tanya Zidan yang lebih fokus pada kata sayang yang baru saja diucapkan oleh Andita.


"Aku mengatakan jika aku mengerti dan akan selalu mengingat pesanmu itu. Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Andita bingung.


"Bukan.. Bukan yang itu! Coba ulangi kalimatmu tadi dengan lengkap!" titah Zidan.


Andita mendelik. Ia pun menuruti perintah suaminya.


Sementara Ken yang melihat adegan kekanak-kanakan tuannya sedari tadi hanya bisa diam dan pasrah saat menjadi nyamuk pendengar yang tidak dianggap keberadaannya.


Saat Andita mengulangi kalimatnya, Zidan menyuruhnya berhenti tepat dikata 'sayang'.


"Nah itu yang aku maksud!"


"Apa?!" Andita masih tidak mengerti maksud Zidan.


"Hah! Ternyata cara berpikirmu lamban sekali Andita!" seru Zidan kesal.


Ken yang juga ikut kesal karena Andita tidak mengerti juga apa yang dimaksud Zidan, akhirnya menjelaskannya pada istri tuannya itu. Sebab ia juga tak ingin membuang-buang waktu, karena mereka berdua harus segera berangkat.


"Maaf jika saya lancang Nona. Mungkin maksud Tuan Muda adalah mulai sekarang anda harus memanggil Tuan dengan sebutan sayang! Benar begitu kan Tuan?! Maaf jika tebakan saya salah."


Ken ingin memastikan pendapatnya pada tuannya itu.


"Huft. Kenapa jadi kau yang harus menjawab Ken?! Menyebalkan!"


"Maafkan saya Tuan!"


Sementara Andita hanya bisa tercengang ketika mendengar ucapan Ken barusan. Wajahnya seketika bersemu merah.


"Apa kau sudah mengerti sekarang?!" tanya Zidan pada istrinya.


Andita menormalkan kembali ekspresinya kemudian ia tersenyum pada Zidan.


"Ya aku mengerti. Sayang!" jawab Andita menekankan kata 'sayang' pada kalimatnya.


"Bagus! Terus panggil aku seperti itu agar terdengar romantis." Zidan membelai wajah Andita dengan penuh cinta.


"Kalau begitu aku berangkat dulu! Kau hati-hati dirumah. Jangan melakukan apapun karena kakimu belum sembuh!"


Sekilas Zidan meninggalkan kecupan dikening dan dibibir Andita membuat Ken mengalihkan pandangannya kesembarang arah.


Ah, sepertinya aku juga akan merindukan Stella.


.


.


Update 3 bab tapi 1 lagi masih ngetik sabar yaa πŸ˜πŸ™

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like,komen, hadiah, dan votenya.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan β€πŸ’›πŸ’šπŸ’™


__ADS_2