MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Sakit


__ADS_3

Keesokan harinya.


Zidan sudah terlihat rapi dengan mengenakan setelan kantor. Hari ini ia akan menghadiri rapat penting dengan beberapa kolega bisnisnya untuk membicarakan proyek besar yang akan dijalankan dalam waktu dekat ini.


Namun sebelum berangkat, Zidan ingin terlebih dulu melihat keadaan Andita.


Sejak semalam pikirannya tidak tenang saat meninggalkan calon istrinya itu sendirian.


Zidan membawa kakinya melangkah keluar dari kamanya, lalu segera menuju kamar Andita.


Begitu sampai didepan pintu, Zidan sedikit ragu untuk memasukkan kunci kedalam pintu itu. Hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri ketika membayangkan jika Andita akan menatap benci dirinya karena ia tak membiarkannya keluar dari kamar tersebut.


Akan tetapi rasa khawatirnya pada gadis itu lebih besar.


Lagipula alasan Zidan melakukan hal ini adalah agar Andita tidak pergi darinya, serta ingin membuat calon istrinya itu mengerti bahwa dia tidak sanggup kehilangan gadis itu.


Setelah bergelut dengan pikirannya, akhirnya Zidan pun memasukkan kunci kamar yang sedari tadi ia pegang lalu memutarnya. Setelah kunci kamar terbuka, perlahan Zidan membuka pintunya. Netranya menatap sekeliling isi kamar. Nampak sepi seolah tak ada kehidupan.


Bahkan saat netranya tertuju pada kasur berukuran king size, ia tak menemukan tubuh Andita diatasnya.


Netranya seketika membulat sempurna kala ia menyadari sesuatu. Zidan langsung diselimuti rasa takut. Ia takut jika Andita melarikan diri lewat pintu balkon kamar.


Oh shitt!! Kemana dia!!


Zidan segera mendorong pintu kamar dengan perasaan tidak sabar, namun pintu itu seolah terganjal sesuatu dari bawah hingga tak langsung terbuka lebar.


Menyadari hal itu, Zidan segera melongokkan kepalanya kedalam. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati tubuh Andita tergeletak dilantai.


"A-Anditaaa!!!"


Perlahan-lahan Zidan mendorong pintunya sedikit lebar agar dirinya bisa masuk dan tak sampai menyakiti tubuh calon istrinya itu. Ketika dirasa cukup untuk meloloskan tubuhnya, Zidan segera menerobos masuk kedalam kamar.


Lelaki itu langsung meraih kepala dan sebagian tubuh Andita kedalam pelukannya.


"Andita bangun Andita!!! Anditaa!!" Zidan menepuk-nepukkan tangannya berulangkali pada pipi calon istrinya dengan raut wajah khawatir.


Ia tidak menyangka jika akan melihat Andita dalam keadaan seperti ini. Ketika tangan Zidan menyentuh pipi Andita, sangat terasa sekali tubuh gadis itu begitu panas.


"Ya Tuhan! Kenapa tubuhnya panas sekali!"


Zidan segera mengangkat tubuh Andita dan menggendongnya, lalu merebahkannya diatas kasur.


Dengan sigap Zidan segera merogoh ponsel didalam saku jasnya untuk menghubungi dokter pribadinya.


Namun ketika Zidan akan mendial nomornya ia sedikit ragu. Pasalnya dokter pribadinya itu seorang lelaki. Ia tak mau Andita disentuh lelaki lain.


Akhirnya Zidan memutuskan untuk menghubungi Stella. Dokter pribadi ibunya.


Beruntung Stella mengatakan jika hari ini dirinya sedang tidak ada jadwal praktek, maka ia bisa langsung segera menuju kediaman Zidan.


Selama menunggu kedatangan Stella, Zidan menyuruh pelayan untuk membawakan wadah yang berisikan air hangat beserta handuk kecil. Ia akan mengompres Andita terlebih dulu agar panasnya segera turun.


Dengan telaten Zidan merawat calon istrinya itu. Ia menyingkap sulur anak rambut yang membingkai wajah Andita, lalu menaruh handuk kecil yang telah ia lipat diatas keningnya.


"Maafkan aku Andita! Aku sudah membuatmu sakit seperti ini!" Lirih Zidan. Tangannya mengusap lembut rambut gadis itu. Wajahnya pun terlihat sendu.


Kemudian ia mengalihkan tangannya pada telapak tangan Andita lalu mengecupnya berulang kali dengan penuh rasa penyesalan.

__ADS_1


Tidak lama terdengar suara pintu diketuk seseorang. Ternyata salah satu pelayan memberitahukan jika dokter Stella sudah datang. Zidan pun mempersilahkannya untuk segera masuk.


"Hai Zidan, bagimana kabarmu?!" Tanya dokter Stella. Ia menjabat tangan lelaki itu.


"Kabarku baik Stell. Bagaimana dengan kabarmu?"


"Ya, kabarku cukup baik."


Netra dokter Stella kini tertuju pada tubuh Andita yang terbaring diatas tempat tidur.


"Apakah dia calon istri yang kau ceritakan padaku tadi ditelepon?"


"Ya." Jawab Zidan. Tadi di telepon Zidan sempat mengatakan pada Stella jika yang sakit bukan dirinya, melainkan Andita.


"Tolong segera periksa dia, Stell. Aku sangat mengkhawatirkannya!"


Stella tersenyum mendengar penuturan Zidan. Karena baru kali ini ia melihat temannya itu begitu khawatir pada seorang gadis.


Stella pun langsung menghampiri Andita dan mengeluarkan alat-alat kedokterannya. Lalu segera memeriksa gadis itu.


"Dia cantik sekali Zidan!" Puji Stella ketika melihat wajah Andita.


"Ya, aku sudah tahu itu!" Jawab Zidan datar.


Stella tersenyum simpul.


Sebelumnya Stella dan Zidan sudah saling mengenal satu sama lain dan bisa dibilang hubungan mereka cukup akrab. Karena Stella adalah putri dari sahabat Nyonya Liyana dan mereka berdua pernah kuliah dikampus yang sama.


Namun karena pada waktu itu ayah Stella harus dimutasi keluar kota, akhirnya Stella pun ikut pindah dan mereka pun berpisah.


Setelah beberapa tahun kemudian, Stella kembali kekota asalnya dan mencari pekerjaan disini dengan menjadi dokter.


Saat sedang menunggu Stella memeriksa Andita, seorang pelayan kembali mengetuk pintu. Ia memberitahukan jika Ken sudah menunggu tuannya dibawah.


Zidan pun meminta Stella untuk melanjutkan pekerjaannya, sementara dia akan turun kebawah untuk menemui Ken.


******


"Ken, hari ini aku tidak akan pergi kekantor! Kau saja yang menghadiri rapat itu untuk meninjau proyek tersebut!" Zidan berbicara sambil berjalan menuruni anak tangga netranya menatap kearah Ken yang sedang duduk sofa.


Ken segera berdiri menyambut tuannya.


"Tapi kenapa Tuan?! Ini rapat yang sangat penting. Kehadiran anda sangat dibutuhkan!"


Zidan langsung mendudukan dirinya disofa begitu ia sampai dibawah dengan menyilangkan kakinya.


"Aku tidak bisa pergi karena harus mengurus Andita."


Terdengar helaan nafas berat dari mulut Zidan. Ken kembali duduk disebrang Zidan.


"Apakah terjadi sesuatu dengan Nona,Tuan?!"


"Ya!"


Zidan pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan juga Andita kemarin saat direstoran pada Ken.


Ken nampak sangat terkejut mendengar cerita dari tuannya itu.

__ADS_1


"Saya sama sekali tidak menyangka jika Tuan Besar akan melakukan hal itu pada Nona, Tuan."


"Ya, aku pun sama sepertimu. Sama sekali tidak menyangka jika Ayah dapat melakukan hal sejauh itu pada Andita! Maka dari itu aku membawa Andita kemari agar Ayah tidak bisa mengusiknya lagi!"


"Saya rasa tindakan anda sudah benar Tuan! Semoga saja kelak Tuan Besar akan merestui hubungan anda dan Nona!"


"Entahlah, aku sudah tidak mengharapkan hal itu lagi! Yang aku inginkan sekarang adalah Andita tetap berada disisiku. Aku tidak mau jika dia bertindak seenaknya lagi seperti kemarin! Beraninya dia mengambil keputusan tanpa berbicara padaku!"


Sorot mata Zidan kembali menyiratkan kemarahan saat mengingat kejadian kemarin.


"Oh ya Ken, bagaimana dengan persiapan pernikahanku? Apakah semua kerabat dan kolega bisnisku sudah mendapatkan undangan?" Tanya Zidan sambil membuka ponselnya.


"Sejauh ini persiapannya sudah mencapai 85% Tuan. Semoga saja tidak akan ada kendala sampai hari pernikahan anda tiba."


"Oh ya Tuan, saya juga mengirimkan surat undangan anda pada Nona Zoya dan Tuan Andrew. Kebetulan beberapa hari lalu Nona Zoya sudah tiba di Indonesia. Maafkan saya tidak bertanya dulu pada anda, semoga anda tidak merasa keberatan."


Sejenak Zidan terdiam. Netranya masih menatap layar ponsel.


"Kuserahkan semuanya padamu!"


"Baik Tuan! Kalau begitu saya pamit undur diri."


"Hemm. Pergilah!"


Ken pun bangkit dari duduknya. Namun tak sengaja netranya menangkap sosok Stella yang tengah menuruni anak tangga.


Kenapa dia ada disini? Siapa yang sakit? Apakah Nona Andita?


Zidan melihat Ken yang belum bergerak lewat ekor matanya.


"Ada apa? Kenapa kau belum pergi?!"


"Apa Nona sedang sakit Tuan?"


"Ya! Kenapa?"


Zidan pun mengikuti ekor mata Ken. Ternyata Stella sudah sampai dibawah dan tengah berjalan kearah mereka.


Hishh,,, kenapa lelaki itu ada disini?!


Stella menatap sinis pada Ken. Namun Ken tak bergeming.


"Bagaimana keadaan Andita, Stell? Apa dia sudah sadar?"


"Belum, dia belum sadar. Tapi keadaannya baik-baik saja. Hanya saja tubuhnya masih sangat lemah, apa kau tidak memberinya makan?" Kelakar Stella.


Zidan berdecih mendengar ucapan Stella.


"Mana mungkin aku tidak memberi makan calon istriku sendiri?!"


Stella tersenyum simpul. Ia langsung medudukan dirinya disofa, netranya sekilas kembali melihat kearah Ken. Namun Ken tetap tak menggubrisnya.


"Saya permisi dulu Tuan!" Pamit Ken. Ia segera berlalu dari sana diikuti dengan tatapan kesal dari Stella.


Hisshh!! Dia bahkan tidak menyapaku!


.

__ADS_1


.


__ADS_2