
Sepulang dari perusahaan Tuan Reyhan, Zidan nampak tidak fokus dengan pekerjaannya. Ia yakin lelaki paruh baya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Tiga tahun lalu, aku dan Hadi memang bekerja diperusahaan Ayahmu. Kami satu kantor, tapi kami tidak terlalu akrab. Hubungan kami hanya sebatas teman kerja saja.
Yang aku tahu, Hadi Andriansyah adalah orang kepercayaan yang ditunjuk langsung oleh Tuan Wildan. Selama menjadi orang kepercayaan Ayahmu, dia memiliki akses keluar masuk kedalam ruang penyimpanan data rahasia perusahaan dengan bebasnya.
Namun sangat disayangkan, kepercayaan yang diberikan Ayahmu disalah gunakan oleh Hadi. Hadi menjadi tamak dan lupa diri hingga ia melakukan sebuah kecurangan.
Hadi memanipulasi beberapa laporan keuangan dan melakukan penyalahgunaan aset perusahaan, hingga nyaris membuat perusahaan Ayahmu bangkrut.
Tapi kami bersyukur karena niat jahatnya itu tidak bertahan lama. Aku sudah lama menyadari gerak geriknya yang sangat mencurigakan. Akhirnya aku memutuskan untuk mengawasi Hadi sambil mengumpulkan bukti yang cukup kuat tentang tindak kejahatannya itu.
Setelah mendapatkan bukti-bukti itu aku melaporkannya pada Ayahmu Tuan Wildan langsung memecat Hadi saat itu juga dan melaporkan Hadi pada polisi. Hadi yang tahu bahwa aku melaporkannya pada Ayahmu sempat mengancam akan membunuhku. Tapi aku tidak takut dengan ancamannya, selama aku melakukan hal yang benar.
Lalu tiga hari kemudian polisi mengabarkan jika Hadi mengajukan penangguhan penahanan dengan uang jaminan. Ia bebas bersyarat.
Namun tidak lama setelah kebebasannya itu, tiba-tiba kami mendengar lagi kabar bahwa Hadi mengalami kecelakaan tunggal hingga merenggut nyawanya. Tentu saja kabar itu membuat kami terkejut. Dan setelah kematiannya itu, Tuan Wildan meminta pada semua staff perusahaan yang mengetahui tentang kejahatan Hadi untuk tidak membahas kasusnya lagi. Maka dari itu kasusnya ditutup.
"Kenapa aku merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Reyhan? Ya, sepertinya aku yang bodoh! Dia tidak mungkin mengatakan semuanya padaku, karena aku adalah suami Andita."
"Sepertinya aku harus mencari saksi lain untuk mengungkap kasus ini. Tapi siapa?"
******
"Kau tidak akan menemukan apapun Zidan! Percuma kau mengorek informasi dariku, sampai matipun aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya!"
Tuan Reyhan tersenyum smirk ketika Zidan sudah pergi dari kantornya. Ia merasa aman karena kejahatannya tidak akan terungkap. Tidak lama ponselnya berbunyi.
Tiba-tiba wajah angkuh yang baru saja ditunjukannya hilang. Berganti dengan raut wajah yang merah padam.
"APA?!! SEBENARNYA APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?! KENAPA DIA BISA LOLOS?!"
Teriak Tuan Reyhan. Suaranya terdengar marah saat ia berbicara dengan salah satu orang suruhannya di telepon.
"Kalian benar-benar tidak berguna! Tiga tahun aku memberi kalian waktu hanya untuk menangkap ikan kecil tapi kalian sama sekali tidak becus melakukannya! Aku tidak mau tahu kalian harus segera menangkap laki-laki itu! Jika tidak, nyawa kalian yang akan jadi taruhannya!"
Klik , sambungan telepon pun terputus.
"Aarggghh!!! Anak buah sialaan!!" Tuan Reyhan menggebrak meja.
"Harusnya aku tidak mempekerjakan orang-orang bodoh seperti mereka! Hanya tinggal selangkah lagi aku bisa menyingkirkan laki-laki bedebah itu, tapi anak buahku yang bodoh malah kehilangan jejaknya!! Mereka benar-benar membuatku muak!"
Lelaki paruh baya itu terlihat geram. Ia melonggarkan dasinya lalu menghempaskan tubuh dikursi kebesarannya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa diam begini terus! Aku harus segera melakukan sesuatu! Aku harus cepat menemukan Bima sebelum lelaki itu bertemu dengan Andita dan Zidan! Tapi dimana dia bersembunyi?!"
******
Sepulang dari rumah ibunya, Andita langsung mengurung diri dikamar. Ia masih memikirkan tentang pertemuannya dengan Paman Bima yang begitu cepat dan mendadak. Kata-kata yang dilontarkan pria paruh baya itu juga masih terngiang-ngiang ditelinga Andita.
Bahkan ia belum sempat mengobati telapak tangannya yang tergores akibat terjatuh keaspal tadi.
Andita! Aku harap kita bisa bertemu lagi nanti! Aku akan menceritakan tentang kematian Ayahmu!
"Menceritakan tentang kematian Ayah? Bukankah sudah jelas jika Ayah meninggal karena kecelakaan mobil yang dikendarainya? Lalu kenapa Paman Bima mengatakan hal itu?"
Andita berjalan mondar-mandir sambil didepan ranjang sambil menggigit jarinya. Ia mencoba menebak-nebak sebenarnya apa yang ingin dikatakan Paman Bima.
"Aku harus menghubungi Paman Bima sekarang juga!"
Andita segera meraih ponsel dan kartu nama Paman Bima didalam tas. Ia menekan nomor yang diberikan oleh pria paruh baya itu.
Namun sayang ponselnya sedang tidak aktif. Andita terus mencobanya untuk menghilangkan rasa penasaran, tapi tetap saja tidak aktif.
Oh, Ya Tuhan! Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini!
******
Sedari tadi Zidan memperhatikan raut wajah istrinya yang tampak gusar saat mereka tengah makan malam bersama. Andita nampak tidak berselera untuk makan. Pikirannya terus tertuju pada pria yang tadi siang tidak sengaja menabraknya.
Andita yang sedang larut dengan pikirannya, tidak menyadari jika sedari tadi Zidan memanggil namanya.
"Andita!" Panggil Zidan.
Namun istrinya tak bergeming.
"Andita!" Zidan menaikan nada suaranya dan kali ini sukses membuat Andita terperanjat kaget ketika Zidan menggenggam tangannya yang terluka.
"Awh!" Pekiknya.
Perlahan Andita menarik tangannya dari Zidan.
"Andita, ada apa?!"
Andita menggeleng cepat namun ia masih meringis karena telapak tangannya masih terasa perih.
"Kenapa kau melamun? Apa yang kau pikirkan? Dan itu! Ada apa dengan tanganmu?!"
__ADS_1
Zidan kembali meraih tangan Andita. Ia memang cukup peka dengan orang disekitarnya sehingga bisa melihat perubahan sekecil apapun dari raut wajah seseorang.
"Ah tidak apa-apa Zidan! Aku masih merindukan Ibu dan Nazwa, makanya aku sedikit melamun!" Dusta Andita.
"Lalu tanganmu?!"
Zidan memperhatikan goresan ditelapak tangan istrinya. Tidak parah namun cukup menyisakan perih.
"Oh ini, aku.."
"Kau terjatuh?"
"Hm, ya tapi tidak apa-apa! Kau tenang saja."
"Kau terjatuh dan terluka tapi tidak memberitahuku?! Dimana dan kenapa kau bisa terjatuh?" Tanya Zidan dengan nada mengintimidasi.
"Didepan toko kue. Tadi siang ada orang yang tidak sengaja menabrakku saat aku baru saja selesai membeli oleh-oleh untuk Ibu dan Nazwa. Mungkin karena dia sedang terburu-buru dan tidak melihatku jadi dia tidak sengaja menabrakku, dan akhirnya aku terjatuh. Tapi ini hanya luka kecil, tidak apa-apa!"
Zidan menghela nafas panjang.
"Seharusnya kau cerita padaku! Kau sudah berjanji untuk menjaga dirimu, tapi apa?! Kau pulang dengan tangan tergores seperti ini! Seharusnya tadi aku tidak mengizinkanmu keluar!"
Andita mendeliki Zidan. Padahal ini kan kejadian tidak sengaja lagipula ia juga tidak apa-apa, tapi kenapa suaminya itu berlebihan sekali, pikirnya. Andita segera menarik tangannya dari tangan Zidan.
"Kau terlalu berlebihan Zidan! Lagipula siapa juga yang ingin terjatuh?! Hhh! Sepertinya aku sudah kenyang, aku akan langsung kekamar!" Kesal Andita.
Entah kenapa saat ini hatinya begitu sensitif.
Andita segera beranjak dari meja makan dan berlalu menuju keatas. Ia memang sedikit kesal pada Zidan tapi selain itu juga ia ingin kembali menghubungi Paman Bima.
Semoga saja ponselnya sudah aktif.
Sementara Zidan hanya bisa menatap punggung istrinya yang menjauh.
"Aku mengkhawatirkannya! Tapi kenapa dia malah marah padaku?!"
.
.
Note:
Terimakasih untuk para readers tersayang yang sudah baca karyaku sampai sejauh ini🙏😊 Author usahakan setiap hari update chapter meskipun hanya 2 bab. Malah kadang lebih jika ada waktu senggang. Entah itu malam atau pun pagi.
__ADS_1
Berhubung novel ini masih on going jadi harap sabar yaa menunggu part demi part nya. Karena Author juga punya kesibukan lain , jadi mohon pengertiannya🙏😊
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak yaa gaess 😘 Terimakasih 🙏❤