
Tuan Reyhan tersentak mendengar teriakan Dirga diseberang sana.
"Apa yang kau katakan Dirga?! Siapa yang ingin membunuhmu?!" Tanya Tuan Reyhan dengan nada gusar.
Tiba-tiba suara Dirga berganti dengan suara Tuan Wildan.
"Aku yang akan membunuh putramu, Reyhan! Bukan hanya putramu, tapi seluruh anggota keluargamu akan kuhabisi jika kau berani menyentuh putra dan menantuku!"
"Tuan Wildan?!"
"Ya! Ini aku! Aku sudah tahu semua kebusukanmu, Reyhan! Kau benar-benar manusia terkutuk! Sekarang lepaskan anak dan menantuku, jika tidak, aku akan benar-benar membuat putramu kehilangan nyawanya!" Ancam Tuan Wldan dengan amarah yang menggebu-gebu.
Tidak lama sambungan telepon pun terputus. Tuan Wildan mengirimkan sebuah foto pada Tuan Reyhan dimana Dirga tengah disandera olehnya dengan tubuh telanjang hanya meninggalkan boxer celananya dan tangan diikat keatas. Wajah Dirga nampak sangat berantakan dan ketakutan.
"Kurang ajar!" Geram Tuan Rehyan.
"Ada apa bos?!" Tanya Rocky.
"Ayah dari lelaki yang baru saja kau hajar tengah menyandera putraku! Lelaki tua itu tidak pernah main-main dengan ancamannya! Aku tidak bisa membiarkan dia celaka! Karena dia adalah pewarisku satu-satunya!"
"Lalu bagaimana?! Apa yang akan bos lakukan?!"
Tuan Reyhan nampak berpikir. Jujur saja saat ini dia begitu kalut, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah bagaimana cara dia menyelamatkan nyawa Dirga.
Dia tidak ingin Tuan Wildan sampai nekat mencelakai putranya itu. Seketika netranya melihat kearah Andita yang masih saja menangisi keadaan Zidan.
"Kita lepaskan mereka dan kita pergi dari sini!" Jawabnya.
"Apa?! melepaskan mereka?! Tidak! Setelah kita melangkah sejauh ini aku tidak akan melepaskan tawanan kita begitu saja!" Ujar Rocky geram.
Tuan Reyhan nampak terkejut dan marah mendengar ucapan orang suruhannya itu.
"Apa yang kau katakan?! Apa kau sedang membantah perintahku?! Disini aku bosnya! Aku yang membayarmu!" Hardik Tuan Reyhan.
Rocky tersenyum sinis. Lalu menodongkan pistol kearah Tuan Reyhan.
"Dalam keadaan seperti ini kau bukan lagi bosku! Memang benar kau yang membayarku! Tapi nyawaku lebih berharga! Aku tidak ingin ditangkap dan mati sia-sia ditangan mereka dengan melepaskan tawanan kita! Seharusnya jika kau sudah terjun kedalam dunia kejahatan, kau tidak perlu memikirkan lagi keluargamu itu!"
__ADS_1
"Mulai detik ini aku tidak peduli lagi dengan urusanmu! Bantu aku bawa gadis ini keluar! Karena aku akan meminta tebusan pada ayah mertuanya yang sangat kaya raya itu! Haha"
Tuan Reyhan menatap tajam kearah Rocky seraya mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka jika orang bayarannya itu berani membangkang perintahnya.
"Kau benar-benar kurang ajar! Aku sudah membayarmu begitu mahal, beraninya sekarang kau memerintahku!" Tuan Reyhan yang tidak terima segera mengambil pistolnya yang ia taruh diatas tanah berniat akan mengarahkannya pada Rocky.
Namun secepat kilat Rocky segera menembak tangan Tuan Reyhan.
Dorrr
"Aarrghhh!!"
Lelaki paruh baya itu meringis kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang terluka dan mengeluarkan darah. Andita dan Paman Bima tercengang melihat hal itu.
"Haha ..itulah akibatnya jika kau berani bermain-bermain denganku tua bangka!"
Melihat keadaan yang tidak kondusif, Paman Bima tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sekuat tenaga dia menendang tangan Rocky yang memegang senjata api dengan kakinya yang masih terikat, hingga senjata itu terpental jauh darinya.
"Apa yang kau lakukan brengsek!" Teriak Rocky. Tangannya terkepal untuk menghajar Paman Bima. Namun belum juga ia melakukannya seseorang sudah lebih dulu menembak tubuhnya berkali-kali.
Dorr
Dorr
Dorr
"Aarggghh.." Rocky meringis kesakitan.
Beberapa orang suruhan Zidan segera meringkus Tuan Reyhan dan Rocky lalu membawanya keluar dari tempat itu. Sementara beberapa anak buah Rocky yang berhasil dilumpuhkan sudah diamankan lebih dulu.
Kini netra Ken mengarah pada tubuh Zidan yang tergeletak diatas tanah dengan kondisi mengenaskan dan bersimbah darah.
"Tuan Muda!!!"
Ken sama sekali tidak menyangka jika orang yang seharusnya ia lindungi malah mengalami hal tragis seperti ini.
Lelaki itu segera memerintahkan beberapa orangnya untuk membawa Zidan kedalam mobil lalu ia melepaskan tali ikatan pada tubuh Andita dan Paman Bima.
__ADS_1
Didalam mobil Andita menangis sejadi-jadinya. Andita langsung membawa tubuh sang suami kedalam pelukannya. Semua bayangan kebersamaannya bersama Zidan melintas dipikiran Andita. Mengingat senyuman dan semua pengorbanannya membuat hati Andita tersayat perih.
Andita tidak sanggup jika sesuatu terjadi pada suaminya itu. Bahkan jika bisa ia ingin meminta pada Tuhan agar dirinya sajalah yang menggantikan rasa sakit yang dialami oleh Zidan.
"Zidan bangunlah! Bukalah matamu! Jangan tinggalkan aku Zidan! Tolong maafkan aku! Seharusnya aku tidak melibatkanmu dalam hal ini! Hiks..hiks.."
"Maafkan aku Zidan.. Maafkan aku! Aku janji tidak akan membantah perintahmu lagi! Aku janji! Tapi tolong sadarlah! Aku mohon!" Air matanya sedari tadi tidak berhenti mengalir.
Andita mengusap pipi Zidan dengan lembut. Ia tidak peduli dengan darah ditangannya yang keluar dari kepala Zidan. Andita berharap saat ini Zidan membuka matanya dan mendengar semua ucapannya.
Ken yang mendengar perkataan Andita yang begitu pilu dibelakang merasa sangat bersalah.
Seharusnya tadi ia tidak membiarkan Zidan masuk seorang diri. Dia begitu fokus melumpuhkan anak buah Rocky yang cukup lumayan kuat untuk dilawan hingga ia lupa tugasnya untuk menjaga keselamatan Zidan.
Ken mengusap wajah kasar.
"Nona tenanglah! Saya yakin semua akan baik-baik saja!" Ucap Ken. Ia berusaha menenangkan Andita meskipun dirinya juga rapuh.
******
Tuan Wildan begitu syock ketika mendengar kabar tentang putranya dari Ken. Ia segera memberitahukan kabar tersebut kepada istrinya, Nyonya Liyana.
Nyonya Liyana nampak terpukul dengan kabar itu. Dia tidak menyangka jika sang putra akan nekat mendatangi markas para penjahat dan mempertaruhkan nyawanya disana.
"Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu jika sesuatu terjadi pada putraku, Wildan! Seandainya kau percaya padanya dan mencari tahu terlebih dahulu tentang kebusukan Reyhan pasti semuanya tidak akan menjadi seperti ini!" Diantara isak tangis dan rasa sesak didadanya Nyonya Liyana mencoba meluapkan kemarahannya pada sang suami di telepon.
Tuan Wildan hanya diam dan pasrah menerima amarah dari sang istri. Dalam hatinya iapun sangat menyesali semua perbuatannya pada Andita dan Zidan.
Ia telah salah menilai orang. Selama ini ia begitu mempercayai Reyhan, tapi ternyata lelaki itu malah mengkhianati kepercayaannya.
Untuk mengurangi sedikit rasa bersalahnya, Tuan Wildan memerintahkan anak buahnya memberi pelajaran pada Dirga. Ia pun akan menarik saham dan modal yang diberikannya pada perusahaan Tuan Reyhan.
Setelah melakukan semua itu Tuan Wildan bergegas kerumah sakit. Pada titik ini dia benar-benar merindukan putranya.
"Maafkan kebodohan Ayahmu ini Nak, maaf!" Lirih Tuan Wildan. Tanpa disadari buliran bening keluar dari sudut matanya.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa Like, Komen, Hadiah, dan Vote nya gaess ๐๐