
Satu minggu kemudian.
Malam ini Andita mematut dirinya didepan cermin. Gaun panjang berwarna merah maroon mendominasi tubuhnya. Gaun itu dipilih dan dibelikan langsung oleh Nyonya Wildan untuk Andita, karena dia tahu putranya sangat menyukai warna merah. Awalnya Andita menolak.
Namun lagi-lagi Nyonya Wildan memaksanya. Andita tidak mengerti mengapa Nyonya Wildan begitu baik dengan memperhatikan penampilannya. Bagaimana jika Nyonya Wildan tahu bahwa dirinya memiliki hubungan dengan Zidan? Apa dia akan tetap bersikap baik? Atau sebaliknya, sikapnya akan berubah jahat seperti keluarga mantan kekasihnya itu?
Ah, memikirkan itu rasanya kepala Andita mau pecah. Demi menolong ibunya, kini hidupnya terjebak dengan surat perjanjian. Tapi mau bagaimana lagi, Andita menganggap ini sudah suratan takdir. Kelak dia akan menjadi seorang istri yang tidak dicintai suaminya.
Menyedihkan bukan? Apa sebutan yang pantas untuknya saat sudah menjadi istri Zidan? Istri kontrak? Istri bayaran? Entahlah, sebutan apa yang pantas bagi seorang gadis yang sudah menjual harga dirinya karena uang. Dia hanya berharap tiga tahun pernikahannya nanti cepat berlalu.
Dengan dibantu adiknya Nazwa, Andita mulai berhias. Rambut hitam berkilaunya, ia sanggul kebelakang dengan gaya sanggul modern. Simple namun terlihat elegan. Riasan make up sederhana menyapu seluruh bagian wajahnya. Kini Andita sudah selesai berdandan. Penampilannya tampak sempurna dan memukau bagi siapa saja yang melihatnya.
"Kak! Kau terlihat cantik sekali!" Puji Nazwa setelah selesai melakukan tugasnya membantu Andita.
"Terimakasih Naz! Ini semua berkat bantuanmu. Kau sepertinya berbakat menjadi MUA, hehe!"
"Ya, aku memang sedari dulu berbakat. Kakak saja yang tidak tahu!"
"Tapi sekarang kan aku sudah tahu, jika kau memiliki bakat merias. Kau bisa menjadikan ini sebagai bekalmu nanti Naz. Jika kau mau, kau bisa membuka jasa make up dirumah!" Usul Andita.
"Hemm, boleh juga usulmu Kak. Aku akan memikirkannya nanti! Lebih baik sekarang Kakak segera berangkat, nanti Kakak bisa terlambat!"
"Ah iya, aku harus memesan taksi dulu Naz! Tidak mungkin aku pergi kepesta dengan naik ojek kan? Apalagi dengan penampilan seperti ini." Andita melirik penampilannya dari atas sampai bawah.
"Ya, Kakak benar! Nanti bisa-bisa driver ojeknya malah menyukai Kakak lagi!" Nazwa tergelak membayangkannya.
"Hishh kau ini!"
Andita segera meraih ponselnya untuk memesan taksi online. Baru saja dia membuka layar ponsel, sudah ada pesan masuk dari Zidan disana.
[Aku sudah mengirimkan supir untukmu. Tunggulah! Mereka akan segera sampai dan menjemputmu didepan rumah. Kau tidak boleh pergi dengan Ferdy atau naik kendaraan umum, mengerti?!] Zidan.
Andita berdecak. Buat apa Zidan mengirimkan supir untuknya? Memangnya dia cinderella?!
Dia posesif sekali! Padahal dia belum menjadi suamiku!
"Ada apa Kak? Kau terlihat kesal?!"
"Bagaimana Kakak tidak kesal? Tuan Zidan mengirimkan supir untuk Kakak dan Kakak diminta menunggunya! Ini berlebihan bukan?" Andita mendudukan dirinya di kursi rias.
Nazwa tergelak melihat kekesalan kakaknya.
"Itu tandanya Tuan Zidan memperhatikanmu Kak! Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada calon istrinya."
"Mungkin maksudmu, calon istri kontraknya?!" Andita menekankan kalimatnya.
__ADS_1
Nazwa mengangkat kedua bahunya acuh.
"Kak, tapi sejauh ini yang aku lihat selama Tuan Zidan datang menjenguk Ibu, menurutku dia adalah laki-laki yang baik. Aku yakin dia tidak akan menyakitimu." Ucap Nazwa.
"Semua laki-laki akan terlihat baik jika ada maunya Naz! Kau harus tahu itu."
"Tapi Tuan Zidan berbeda Kak!"
Andita terkekeh mendengar Nazwa membela Zidan.
"Apanya yang beda Naz? Bukankah Kakak sudah mengatakannya padamu alasan Tuan Zidan ingin menikahi Kakak? Dia hanya ingin lari dari perjodohannya! Dan apa kau tahu siapa gadis yang dijodohkan padanya?"
"Siapa?"
"Rachel, kakaknya Dirga! Lelaki brengsek itu."
"Apa?! Rachel?"
"Ya. Rachel! Dia adalah gadis pilihan ayahnya Tuan Zidan."
Nazwa menyipitkan matanya.
"Kak, perasaanku mengatakan kau akan berada dalam masalah besar."
"Kak, menurutku apa lebih baik kakak batalkan saja niat Kakak untuk menikah dengan Tuan Zidan? Aku takut akan timbul masalah lagi Kak." Ucap Nazwa.
"Tidak bisa Naz. Kakak sudah terikat perjanjian dengan Tuan Zidan. Dia akan marah dan menuntut Kakak jika Kakak membatalkan perjanjian sepihak. Lagipula Kakak juga tidak mau membatalkan perjanjian ini. Karena bagi Kakak ini adalah jalan untuk membalas perbuatan Dirga dan keluarganya melalui Tuan Zidan." Tutur Andita dengan sorot mata yang menyiratkan kebencian pada keluarga Tuan Reyhan.
Nazwa mengerti perasaan kakaknya. Wajar jika Andita menaruh dendam pada keluarga mantan kekasihnya itu. Mereka sudah sangat keterlaluan. Mengingat Andita yang dikhianati oleh sang kekasih yang selama empat tahun dinantinya, lalu dihina dan dipermalukan oleh keluarganya didepan umum tentu membuat rasa sakit hati Andita begitu dalam.
Jika Nazwa ada diposisi Andita mungkin dirinya pun akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sang kakak.
******
Andita telah tiba disebuah rumah mewah kediaman Tuan Wildan. Gadis itu berdecak kagum melihat bangunan kokoh yang berdiri dihadapannya. Rumah itu telah disulap menjadi sebuah tempat pesta yang sangat indah. Begitu banyak mobil mewah terparkir dihalaman depan. Andita bisa menebak pasti tamu yang datang bukanlah dari kalangan biasa seperti dirinya.
Supir yang membawa Andita, mengantar gadis itu kehalaman belakang. Andita mengikutinya tanpa ragu. Sesampainya dihalaman belakang sudah banyak sekali tamu undangan yang berdatangan. Beberapa orang tidak dikenalinya, mungkin saja itu rekan bisnis atau kerabat dekat Tuan Zidan, pikir Andita.
Pesta ulang tahun yang diselenggarakan presdir Royal Group memang selalu seperti itu, sangatlah mewah seperti tahun-tahun sebelumnya. Setiap sudut halaman rumah dihias dengan lampu kerlap kerlip dan berbagai macam aksesoris yang menambah kesan glamor pesta tersebut.
Berbagai macam menu hidangan untuk para tamu pun berjajar diatas meja panjang. Semua tamu bisa menikmatinya dengan sesuka hati. Para pelayan juga terlihat tengah sibuk wara wiri menawarkan aneka minuman kepada setiap tamu yang baru saja tiba.
Netra Andita mulai berkeliling. Ia berharap bisa menemukan seseorang yang dikenalnya agar tidak merasa canggung. Pasalnya Zidan belum terlihat batang hidungnya.
Pukk..Pukk
__ADS_1
Andita terperanjat kaget ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Gadis itu pun menoleh.
"Ferdy!"
Ferdy begitu syock ketika Andita berbalik menghadapnya. Pasalnya Andita begitu cantik mempesona malam ini. Ferdy seperti tak mengenali Andita.
"A-Andita! Apa ini kau?!" Seru Ferdy dengan tatapan tak percaya.
"Ya, ini aku, Andita! Memang siapa lagi? Apa kau sedang amnesia?!" Cibir Andita.
Seketika kesadaran Ferdy kembali. Lelaki itu langsung terkekeh mendengar kelakar dari mulut sahabatnya.
"Aku hanya tidak percaya jika ini kau Andita! Wow,, Kau sangat cantik sekali malam ini! Dan gaun yang kau pakai, model dan warnanya sangat cocok dan pas untukmu!" Puji Ferdy heboh.
Andita tersipu malu mendengarnya.
"Kau ini bisa saja memujiku! Tapi terimakasih atas pujiannya. Ini semua berkat Nazwa. Dia yang mendandaniku seperti ini."
"Benarkah?! Pintar sekali gadis itu mendandanimu."
Andita tersenyum.
"Hemm, sekarang aku mengerti kenapa kau tidak menungguku dan menggunakan taksi untuk datang kemari, itu karena kau takut riasan adikmu itu rusakkan?!" Tanya Ferdy.
"Kau datang kerumahku?!"
"Ya, aku tadi kerumahmu! Tapi Nazwa mengatakan jika kau sudah pergi menggunakan taksi, yasudah aku langsung menyusulmu kemari."
"Ya ampun, maaf ya Fer, aku tidak mengabarimu agar kau tidak usah menjemputku tadi!" Ucap Andita merasa bersalah.
Pasti Nazwa sengaja berbohong agar Ferdy tidak curiga.
"Tidak apa-apa Ta. Yang penting kau sudah sampai kemari dengan selamat! Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan Tuan Zidan?"
Andita menggeleng.
Aku saja tidak tahu dimana lelaki itu berada.
Tanpa Andita sadari beberapa pasang mata menatap kearahnya.
.
.
Aku upadate 2 bab ya, karena lagi kurang enak badan, jadi updatenya nyicil 🙏
__ADS_1