
Saat ini Stella tengah fokus memeriksa keadaan tubuh Andita dengan menggunakan stetoskop kedokteran miliknya.
Mimik wajah Stella terlihat begitu serius hingga membuat Zidan tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan yang akan Stella sampaikan padanya.
"Bagaimana? Apa hasilnya? Apa istriku baik-baik saja?!" tanya Zidan bertubi-tubi saat melihat Stella hanya diam setelah memeriksa kondisi tubuh Andita.
Sekilas dokter cantik itu melirik kearah Zidan dan Ken secara bergantian.
"Kenapa kau diam saja Stell?! Cepat katakan, apa yang terjadi pada istriku!" titah Zidan seraya menyorot tajam pada Stella.
Rasanya ia tidak sabar untuk mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
"Aku belum bisa pastikan Zidan. Tapi setelah aku memeriksa Andita dan mendengar penuturanmu tentang Andita yang terus muntah-muntah dan merasakan pusing dikepalanya, aku rasa dia bukan keracunan makanan, melainkan mengalami gejala..." sejenak Stella menghentikan ucapannya. Netranya kembali melirik Zidan dan Ken bergantian. "Kehamilan!" lanjutnya.
Deg
Seketika jantung Zidan berpacu dua kali lebih cepat. Ia menautkan kedua alisnya menatap Stella dengan tatapan tidak percaya.
"Kehamilan?! Ma-maksudmu Andita ha-hamil?!" tanya Zidan memastikan.
"Aku rasa begitu! Untuk memastikannya aku sarankan kau membawa Andita kedokter kandungan Zidan. Jika tidak, kau bisa menyuruh Andita untuk menggunakan test pack. Menurutku alat itu cukup akurat untuk mengetahui istrimu hamil atau tidaknya!" jelas Stella.
Setelah mendengarkan ucapan Stella dengan seksama, Zidan mengalihkan pandangannya pada wajah Andita yang masih belum sadarkan diri. Zidan menatap Andita lekat-lekat.
Saat itu juga semburat kebahagiaan dan senyum mengembang hadir diwajah tampannya.
Satu tangan Zidan menggenggam tangan Andita, satunya lagi mengusap pucuk kepalanya lalu Zidan mendaratkan kecupan disana.
"Kau dengar itu sayang?! Aku harap kau benar-benar hamil!" bisik Zidan.
Disaat bersamaan tubuh Andita menggeliat kecil. Membuat Zidan sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Andita.
"Sayang, kau sudah sadar?!"
Mendengar suara yang tak asing, perlahan Andita membuka matanya. Andita mengerjap lalu netranya saling bertubrukan dengan netra Zidan.
"Sayang." lirih Andita seraya tersenyum samar.
"Ya, aku disini sayang! Akhirnya kau sadar juga. Aku mengkhawatirkanmu!" Zidan mengecup lembut tangan Andita yang berada digenggamannya.
Stella dan Ken ikut senang melihat Andita yang telah sadarkan diri.
"Kenapa kepalaku pusing sekali?! Perutku mual. Tubuhku .."
"Ada kemungkinan kau hamil sayang!" potong Zidan.
Andita langsung membulatkan matanya.
"Ha-hamil?!" menatap tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan suaminya.
"Hemm." Zidan mengangguk antusias.
"Ya Andita! Kemungkinan kau hamil!" timpal Stella.
"Aku rasa gejala yang kau alami itu bukanlah gejala karena keracunan makanan. Melainkan gejala kehamilan. Apa kau mengalami terlambat datang bulan?" tanyanya.
__ADS_1
Andita terkesiap mendengar pertanyaan Stella. Ia mencoba mengingat-ngingat terakhir kali ia mendapatkan tamu bulanan.
Sementara yang lainnya menunggu jawaban Andita. Saat itu juga Andita menatap Stella dan Zidan bergantian.
"Ya, sepertinya sudah hampir satu bulan ini aku tidak kedatangan tamu bulanan Stell." jawab Andita pasti.
Seketika Stella mengembangkan senyumnya.
"Aku yakin kau benar-benar hamil Andita!"
******
Andita terlihat gusar. Sedari tadi ia menggigit kuku ibu jarinya saat menunggu hasil test pack yang ia gunakan untuk memastikan apakah ia hamil atau tidak.
Untung saja Andita sempat meminta tolong pada Stella untuk membeli alat tes kehamilan itu sebelum mereka berencana berangkat ke villa.
Hal tersebut dilakukan Andita setelah mendengar saran Stella untuk berjaga jika sewaktu-waktu Andita mengalami perubahan pada kondisi tubuhnya.
Dan akhirnya alat test kehamilan yang ia bawa berguna juga, meskipun awalnya Andita mengira bahwa ia keracunan sup kepiting yang dibuatnya sendiri.
Diluar kamar, Zidan, Ken, dan Stella menunggu Andita dengan harap-harap cemas.
Sudah lima belas menit berlalu tapi Andita belum juga keluar dari kamar mandi.
Hingga membuat Zidan merasa khawatir dan memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
"Sayang! Apa kau baik-baik saja?! Apa hasilnya sudah keluar?! Kenapa lama sekali?!" keluh Zidan.
Mendengar panggilan suaminya dari balik pintu, Andita yang tengah mengalami syock segera tersadar.
Sementara diluar, Zidan semakin terlihat tidak tenang. Sebab Andita tak kunjung menjawab panggilannya.
Akhirnya Zidan mengalihkan pandangannya pada Stella yang berdiri tidak jauh dibelakang tubuhnya.
"Kenapa Andita tidak keluar juga?! Apa hasil tesnya selama itu?!" tanya Zidan.
"Seharusnya tidak. Aku akan coba memanggilnya!" jawab Stella sembari berjalan kedepan pintu kamar mandi menggantikan Zidan.
Baru saja Stella melayangkan tangannya keudara untuk mengetuk, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam.
Ceklek
Andita muncul dihadapan mereka dengan wajah sendu. Stella segera menurunkan tangannya yang mengudara. Kini netranya dan netra Andita saling bersitatap.
"Andita? Bagaimana hasilnya?!" tanya Stella.
Andita tidak menjawab. Pandangannya teralihkan pada Zidan yang sedang berjalan kearahnya.
"Sayang." panggil Zidan. Ia menangkup wajah Andita begitu sampai dihadapannya. Menatap dalam manik mata coklat yang terlihat sedih itu.
"Kenapa lama sekali? Ada apa? Bagaimana hasilnya?"
Tanpa berbicara sepatah katapun Andita langsung menelusupkan kepalanya pada tubuh Zidan. Mendekap begitu erat seolah tak ingin melepaskannya.
Zidan terkesiap menerima pelukan Andita yang tiba-tiba. Ia seakan mengerti bahwa Andita sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Zidan pun membalas pelukan itu tak kalah erat.
__ADS_1
"Sudah tidak apa! Aku tidak marah. Mungkin Tuhan belum memberi kepercayaan pada kita untuk memiliki seorang anak." ucap Zidan dengan suara pelan bercampur sedih jadi satu.
Stella yang sudah berdiri disamping Ken, hanya bisa diam mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Zidan.
Jujur hatinya ikut merasa sedih karena diagnosanya ternyata salah. Dan ia menjadi tak enak hati karena sudah memberikan harapan palsu pada Andita dan juga Zidan.
Mendengar ucapan sang suami, perlahan Andita menjauhkan kepalanya dari tubuh Zidan. Kemudian menatap manik mata emerald itu lekat-lekat.
"Siapa bilang Tuhan belum mempercayakan kita untuk memiliki seorang anak?" tanya Andita.
"Maksudmu?!"
Zidan menatap tak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Andita. Begitupun dengan Stella dan Ken. Mereka berdua saling pandang.
Andita mengangkat satu tangannya yang sedari tadi menggenggam alat test kehamilan. Ia langsung memperlihatkannya kehadapan wajah Zidan.
Zidan bisa melihat dua garis merah disana. Seketika ia melebarkan matanya.
"Sayang! Kau hamil?!" tanya Zidan tergagap. Ia segera meraih test pack yang ada ditangan Andita dan menatapnya tanpa berkedip.
"Hu'um!" Andita mengangguk cepat seraya memberikan senyum termanisnya.
"Apakah ini nyata?! Aku akan menjadi seorang ayah?!"
"Tentu ini nyata sayang! Kau akan menjadi seorang ayah dan aku akan menjadi seorang ibu!" jawab Andita senang.
Zidan langsung membawa Andita kembali kedalam pelukannya. Ia menciumi pucuk kepala istrinya itu bertubi-tubi.
"Terimakasih sayang! Terimakasih! Ini akan menjadi hadiah terindah darimu untukku! Aku mencintaimu Andita! Sangat mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu sayang! Sangat-sangat mencintaimu!" balas Andita sembari mengeratkan pelukannya.
Setelah saling melepas haru, Zidan membalikkan tubuhnya hingga tatapannya bertemu Stella dan Ken.
"Apa kalian dengar?! Aku akan menjadi seorang ayah?!" seru Zidan.
Dengan perasaan girang Stella dan Ken segera berjalan menghampiri Andita dan juga Zidan. Mereka berdua sangat senang mendengar kabar bahagia ini.
"Tentu kami mendengarnya Zidan! Selamat untuk kalian berdua!" Stella memberikan pelukan hangat pada Andita.
Sementara Ken membungkuk hormat pada Zidan.
"Selamat Tuan! Akhirnya anda dan Nona akan segera memiliki momongan! Kami turut senang mendengarnya!"
"Terimakasih banyak Ken!" Zidan membawa tubuh pengawal sekaligus asisten pribadinya itu kedalam pelukannya.
Hingga membuat Ken membelalakan mata karena ini adalah pelukan pertama yang ia dapatkan dari tuannya.
Ken benar-benar merasa Zidan menganggapnya seperti keluarga.
Akhirnya hari itu mereka semua pun larut dalam kebahagiaan yang tak terkira.
.
.
__ADS_1
Bersambung...