MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Tak Sadarkan Diri (Zoya)


__ADS_3

Zidan, aku mencintaimu!


Kalimat yang keluar dari bibir Zoya sukses membuat tubuh Zidan membeku ditempat. Pandangannya kosong menatap wajah wanita yang dulu pernah menggetarkan hatinya itu.


"Mencintaiku?!" lirih Zidan.


"Tidak! Aku pasti salah dengar!" secepat kilat Zidan menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri.


"Zoya bangunlah! Lihat aku!" Zidan terus mengguncang tubuh dan menepuk-nepuk pipi Zoya.


Namun Zoya tidak merespon. Dia jatuh pingsan akibat tidak kuat menahan sakit pada tubuhnya yang baru saja terlempar ketanah.


Zidan terlihat panik saat melihat darah di dahi Zoya. Ia segera menggendong tubuh wanita itu dan membawanya kembali ke villa.


******


Saat ini, tubuh Zoya sudah berbaring diatas ranjang kamarnya. Sejak dibawa oleh Zidan, Zoya belum juga sadarkan diri. Matanya masih terpejam.


Stella dan Andita berinisiatif untuk membantu mengganti pakaian Zoya. Karena ootd yang dikenakan Zoya saat ini sangat kotor. Selain itu juga, Stella melakukan itu agar ia bisa leluasa mengobati luka Zoya.


Ketika Andita dan Stella mulai membuka pakaian Zoya, mereka tampak meringis saat melihat beberapa bagian tubuh Zoya yang mengalami luka memar.


Keduanya menduga jika tubuh Zoya pasti terpental cukup keras ketanah hingga membuatnya mendapatkan luka sebanyak itu.


Tanpa menunggu lama, Andita dan Stella segera mengolesi salep pada bagian tubuh Zoya yang terluka. Setelah itu mereka memakaikan pakaian baru pada tubuh Zoya.


"Sebenarnya apa yang dia lakukan, sampai-sampai kuda itu mengamuk?!" tanya Stella.


Dikamar itu kebetulan hanya ada mereka berdua. Sementara para pria menunggu diluar kamar.


"Entahlah! Aku tidak tahu" jawab Andita. Ia memandangi wajah Zoya lamat-lamat sambil memegangi liontin yang menggantung dilehernya.


Tiba-tiba perasaan tidak nyaman itu datang lagi. Perasaan was-was dan takut yang menggerayangi hatinya.


Ada apa denganku?!


******


Sementara diluar, Zidan dan Andrew tengah duduk disofa yang tak jauh dari kamar Zoya. Sedangkan Ken berdiri dibelakang Zidan.


Wajah mereka tampak tegang dan tidak tenang. Mereka mengkhawatirkan keadaan Zoya. Terutama Andrew. Ia merasa sangat bersalah pada kekasihnya itu.


Seandainya tadi dia bisa menahan emosinya, mungkin Zoya tidak akan menunggangi kuda itu dengan perasaan marah, yang membuatnya mengalami hal tragis seperti ini. Sungguh Andrew mengutuk dirinya sendiri.


Tapi semuanya sudah terjadi. Ia berharap Zoya segera sadar dan mau memaafkannya.


Disisi lain, Zidan yang juga merasa khawatir pada kondisi Zoya sedari tadi hanya terdiam. Ia takut jika Zoya akan mengalami cedera serius pada beberapa bagian anggota tubuhnya.


Sebab Zidan melihat sendiri bagaimana Zoya tergelincir dari atas kuda yang cukup tinggi.


Namun selain itu, Zidan juga tengah memikirkan perkataan Zoya sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.


Zidan, aku mencintaimu!


Kata-kata itu selalu terngiang ditelinga Zidan dan sangat mengganggu pikirannya. Sekilas Zidan melihat kearah Andrew lalu mengusap wajah kasar.


Kenapa aku terus memikirkan perkataan Zoya?! Bagaimana jika tadi Andrew ada disana?! Dia pasti akan sangat marah mendengarnya.

__ADS_1


Seketika Zidan langsung teringat kejadian dimana semalam Andrew nyaris mabuk karena memikirkan keinginan Zoya yang ingin berpisah darinya.


Dan alasan yang membuat Andrew terlihat frustasi adalah karena adanya pria idaman lain dihidup Zoya. Dan benarkah pria lain itu adalah dirinya?!


Jika itu benar, sepertinya Zidan harus mengambil tindakan sebelum Andrew tahu dan nantinya malah membuat hubungan persahabatan mereka terpecah belah karena salah paham.


Apalagi Zidan juga harus memikirkan perasaan Andita. Sebelumnya Andita pernah menduga jika Zoya memiliki perasaan padanya. Namun Zidan tidak mempercayai itu karena yang ia tahu faktanya Zoya sangat mencintai Andrew.


Namun ternyata feeling Andita benar. Seketika perasaan bersalah pun kembali menghantui Zidan. Dimana ia telah membuat wanitanya menangis malam itu.


Untuk sesaat Zidan memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian netranya kembali melihat Andrew.


"Andrew." panggil Zidan.


Andrew yang tengah menundukan pandangan sambil menangkup wajahnya kini mengalihkan netranya pada Zidan.


"Apa kau baru saja bertengkar dengan Zoya?"


Deg


Andrew terkejut mendengar pertanyaan Zidan. Ia menatap Zidan dan Ken secara bergantian.


Ken yang mengerti arti tatapan Andrew, memilih untuk pamit dan turun kebawah agar kedua sahabat itu bisa leluasa berbicara.


"Jawablah! Disini tinggal kita berdua." ucap Zidan ketika Ken sudah pergi dari ruangan itu.


Andrew membuang nafas kasar. Pandangannya nanar melewati tubuh Zidan.


"Ya, aku baru saja bertengkar dengannya." jawab Andrew pelan.


"Pantas saja dia menunggangi itu kuda sendirian." Zidan sudah bisa menduga itu sebelumnya.


Mendengar pertanyaan Zidan, Andrew menatap sahabatnya itu lekat-lekat kemudian menganggukan kepalanya.


"Hemm! Tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskannya! Zoya hanya milikku! Selamanya hanya milikku!" jawab Andrew.


Sorot matanya menegaskan kepemilikan Zoya. Ia berbicara begitu posesif.


Padahal dulu Andrew tidak seperti itu. Dia tidak pernah menganggap serius hubungan yang terjalin antara dirinya dan Zoya. Karena jiwanya yang bebas, Andrew hanya menganggap Zoya sebagai partner ranjangnya semata.


Bagi Andrew, kata cinta yang dia ucapkan dulu hanyalah kamuflase. Bahkan saat Zoya menginginkan sebuah pernikahan diantara mereka, Andrew enggan untuk menanggapinya.


Namun entah kenapa, semenjak Zoya mengancam ingin berpisah jika Andrew tidak segera menikahinya dan akan berpaling pada laki-laki lain seketika membuat Andrew berpikir. Ia merenung dan memastikan perasaannya pada Zoya.


Setelah beberapa hari tak ada komunikasi pasca pertengkaran mereka malam itu, Andrew pun merasa kehilangan.


Dari situlah Andrew sadar, bahwa Zoya bukan hanya teman ranjangnya, tapi juga cintanya. Dan Andrew akan tetap mempertahankan Zoya disisinya.


Zidan bisa melihat raut wajah Andrew yang sangat serius. Sepertinya sahabatnya itu benar-benar mencintai Zoya.


Ada kelegaan dalam hatinya karena Zoya dicintai lelaki yang tepat.


Namun juga ada kekhawatiran dihati Zidan, tentang ucapan Zoya sebelum dia tidak sadarkan diri dan dugaan Andrew yang mengatakan jika Zoya memiliki pria idaman lain.


Zidan harus memastikan semuanya jika itu bukanlah dirinya.


Tidak lama kemudian, Stella dan Andita keluar dari kamar. Zidan dan Andrew langsung berdiri dan berjalan kearah kedua wanita itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Zoya?! Apa dia baik-baik saja?!" tanya Andrew. Wajahnya terlihat panik.


"Dia masih belum sadarkan diri. Tidak perlu khawatir dia hanya mengalami memar dan luka ringan dibagian tubuhnya. Aku sudah memberinya salep untuk mengobati lukanya itu. Setelah dia sadar nanti, aku akan menyuruhnya untuk meminum obat pereda nyeri." jawab Stella panjang lebar.


"Dia tidak mengalami cedera serius pada tulangnya kan Stell?" kini Zidan yang bertanya membuat Andita melirik pada suaminya itu.


"Tidak! Seperti yang kukatakan barusan, Zoya hanya mengalami luka ringan. Aku juga sudah membalutkan perban elastis dibagian kaki dan tangannya untuk memberikan tekanan pada area spesifik yang cedera."


"Huft, syukurlah!" Zidan menghela nafas lega.


Setelah mendengar penjelasan Stella, Andrew segera menerobos masuk kedalam kamar. Diikuti oleh Zidan, Andita, dan Stella dibelakangnya.


Andrew duduk ditepi ranjang disamping Zoya sembari menggenggam tangan kekasihnya itu.


Matanya terlihat sendu menatap wajah Zoya yang tengah tertidur. Perasaan bersalah pun kembali menggelayutinya.


"Sayang, maafkan aku! Maaf aku telah menyakitimu!" ucap Andrew.


Ia terus menciumi tangan Zoya bertubi-tubi. Kemudian mengusap lembut pucuk kepala wanitanya itu.


Sementara tidak jauh dari tempat Andrew duduk, Zidan berdiri sambil merangkul bahu Andita. Ia memperhatikan bagaimana sikap Andrew pada Zoya. Begitupun dengan Stella yang berdiri disamping Andita.


Mereka semua berharap Zoya segera sadar dari pingsannya.


Tak berselang lama Andrew merasakan pergerakan dari tangan Zoya yang berada ditangannya. Ia menatap wajah Zoya lekat-lekat.


"Zoya! Kau sudah sadar?!" tanya Andrew. Semua orang nampak terkejut mendengarnya.


"Benar dia sudah sadar Andrew?!" tanya Andita memastikan.


"Ya, tadi aku merasakan tangannya bergerak!" jawab Andrew dengan antusias.


Semua orang tersenyum senang mendengar hal itu.


"Sayang! Bangunlah! Lihat aku!"


Dialam bawah sadar Zoya, bukan Andrew yang berbicara, melainkan Zidan.


Karena didetik-detik terakhir sebelum dia kehilangan kesadarannya secara penuh, Zoya masih bisa mendengar suara Zidan yang memintanya untuk bangun.


Hingga dalam keadaan tidak sadar Zoya pun memanggil nama pria yang dicintainya itu dengan suara lirih.


"Zidan..."


Deg, Deg, Deg


Seketika senyum diwajah mereka semua meredup saat mendengar Zoya memanggil nama Zidan, bukan Andrew.


"Zi-dan?!" ulang Andrew seraya menautkan kedua alisnya.


Saat itu juga Andrew langsung mengalihkan pandangannya pada Zidan yang tengah berdiri disampingnya dengan sorot mata tajam.


Begitu juga dengan Andita dan Stella. Mereka menatap Zidan dengan tatapan yang sulit diartikan.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2