
"Hah! Aku masih tidak percaya jika dua hari lagi Andrew dan Zoya akan menikah. Menurutku itu terlalu cepat!" ucap Zidan sambil merangkul tubuh Andita disebelah kiri dan mengusap-usap kepala sang istri.
Sementara tangan Zidan yang lainnya mengusap lembut perut Andita yang sudah membuncit. Zidan menyandarkan tubuhnya sendiri pada jok belakang mobil.
Setelah menyambut kepulangan Zoya diapartemennya dan berbincang sebentar, mereka semua memutuskan untuk pulang agar Zoya bisa beristirahat dengan tenang.
"Kenapa? Apa kau tidak senang mendengar kabar itu?" tanya Andita. Tatapannya penuh selidik.
"Sayang! Jangan berpikiran macam-macam! Tentu saja aku senang mendengarnya. Hanya menurutku keputusan mereka terlalu mendadak! Pernikahan itu kan butuh persiapan yang matang. Tidak bisa terburu-buru seperti itu!" ucap Zidan.
"Bukankah tadi kita sudah dengar alasan Andrew? Dia tidak bisa meninggalkan Zoya sendirian di apartemen dengan keadaannya yang sekarang. Itulah sebabnya dia mempercepat pernikahannya agar Zoya bisa tinggal bersamanya." jawab Stella yang duduk disamping Ken yang tengah menyetir mobil.
"Ya, aku tahu. Tapi tetap saja dua hari itu waktu yang sangat singkat! Aku tidak yakin Andrew bisa mengerjakan semuanya?!" ucap Zidan ragu.
"Saya rasa bisa Tuan. Jika Tuan Andrew mengerahkan seluruh orang kepercayaannya. Sama seperti saat anda menikahi nona!" sahut Ken.
"Cih! Dimana persamaannya?" cibir Zidan.
"Sama-sama nikah mendadak!" jawab Andita asal.
"Hah?! Yang benar saja?! Memang aku menikahimu secara mendadak?!" tanya Zidan pada Andita.
"Iya! Memang kau tidak sadar? Kau mendadak menikahiku karena terlanjur jatuh cinta dan takut kehilanganku kan?!" ucap Andita dengan percaya diri.
Sementara didepan, Stella dan Ken hanya bisa mengulum senyum mendengar perdebatan dua sejoli itu.
"Aihh percaya diri sekali istriku ini!" ucap Zidan sembari menyipitkan matanya.
"Bukan percaya diri! Tapi itulah kenyataannya!"
"Kau bahkan menculik dan mengurungku berhari-hari dirumahmu sebelum kita menikah! Sampai-sampai aku jatuh sakit! Apa namanya jika bukan takut kehilangan?!" jawab Andita keceplosan. Ia langsung membekap mulutnya sendiri.
"Oo jadi saat pertama kali aku memeriksamu dikediaman Zidan hari itu, ternyata kau sedang dikurung olehnya Andita?! Ck! Kejam sekali suamimu itu! Apa dia pikir kau itu seorang tawanan hingga harus dikurung?!" tiba-tiba Stella menyahut.
"Dia memang seorang tawanan! Lebih tepatnya tawanan cintaku!" jawab Zidan dengan santainya.
Andita mencebikkan bibir dan memutar bola mata malas. Membuat Zidan gemas lalu menarik tengkuk leher istrinya itu dan ******* bibirnya dengan rakus.
"Oh astaga! Heiii kalian mengotori mata sucikuu!!" teriak Stella saat tidak sengaja melihat adegan panas dibelakang kursinya itu.
Mendengar ucapan Stella, Ken tersenyum kecut.
"Mata suci katamu? Yakin matamu itu masih suci?!"
"Apa maksudmu?! Tentu saja mataku masih suci!"
"Hah! Kau lupa? Saat divilla otakmu saja sudah terkontaminasi virus berbahaya sampai-sampai kau sering berpikiran mesum padaku!" ucap Ken yang langsung mendapat tatapan tajam dari Stella. Namun dia sama sekali tidak gentar ataupun takut sedikitpun.
Sementara dibelakang, Zidan sudah melepas pagutan bibirnya dari bibir Andita saat melihat istrinya itu nyaris kehabisan nafas.
"Hish! Kau benar-benar.. ?!" desis Andita sambil menyorot tajam kearah Zidan.
"Apa?! Mau lagi?!" ucap Zidan sambil mengusap lembut bibir Andita.
Andita berdecak dan membuang pandangannya kesembarang arah. Sementara yang didepan langsung menulikan pendengarannya.
"Kapan kau akan menikahi Stella, Ken?!" tanya Zidan tiba-tiba.
Deg
Wajah Ken yang tadinya santai seketika berubah tegang. Pandangannya lurus menatap jalanan didepannya.
Sedangkan Stella tidak sabar menanti jawaban dari pujaan hatinya itu.
"Secepatnya Tuan!" jawab Ken tegas. Membuat Stella tersenyum senang. Sekilas Ken melirik Stella dan melihat raut bahagia diwajah kekasihnya itu.
"Bagus!" sejenak Zidan terdiam. Kemudian kembali berbicara.
__ADS_1
"Jika nanti kau menikah, aku akan memberikan salah satu anak perusahaanku padamu. Jadi kau tidak perlu lagi mengabdikan hidupmu padaku ataupun pada Royal Group! Kau bebas melakukan apapun yang kau mau." ucap Zidan.
Tentu tawarannya membuat Andita dan Stella tercengang. Sementara yang diberikan penawaran hanya berekspresi datar.
Ya Tuhan! Meskipun dia suka berbuat seenaknya, tapi kenapa suamiku ini baik sekali?! Membuatku semakin cinta saja! ~Batin Andita sembari menatap Zidan dengan tatapan memuja.
"Terimakasih atas tawaran anda Tuan! Tapi maaf, jika tawaran anda seperti itu, maka saya akan memilih untuk tidak menikah! Karena saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk terus mengabdi pada anda dan Royal Group!" jawab Ken penuh keyakinan.
Stella menatap Ken lamat-lamat dan menyunggingkan sudut bibirnya.
Jika dia sesetia itu pada Zidan, aku yakin dia juga pasti akan setia padaku.
"Kau dengar Stell?! Aku sudah memberikannya penawaran yang sangat fantastis tapi dia malah memilih mengabdikan hidupnya padaku. Apa kau tidak merasa keberatan?!" tanya Zidan.
"Tentu tidak! Apapun keputusan Ken aku akan menghargainya. Jika dia nyaman bekerja denganmu, maka buatku itu tidak jadi masalah! Yang penting kami tetap bersama!" jawab Stella masih dengan memandang wajah tampan kekasihnya itu.
"Kau memang calon istri yang sangat pengertian Stell!" puji Andita.
"Tentu saja!" Stella tersenyum dan kembali menatap jalanan didepannya.
******
Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi pasangan Zoya dan Andrew. Karena setelah mengikrarkan janji suci, mereka berdua akan sah menjadi sepasang suami istri.
Pernikahan mereka digelar di hotel berbintang. Tidak banyak tamu yang diundang karena Zoya masih belum merasa percaya diri dengan keadaannya yang sekarang.
Dan Andrew pun tidak mempermasalahkan hal tersebut. Apapun dilakukan Andrew asal Zoya bahagia.
Zidan dan Andita sudah siap datang keacara sakral sahabatnya itu. Mereka mengenakan gaun dan tuxedo dengan warna selaras.
"Hari ini kau sangat cantik sayang!" puji Zidan saat Andita baru selesai berhias. Netranya menyapu seluruh wajah istrinya itu.
"Kau juga sangat tampan dan gagah! Aku sangat beruntung menjadi istrimu!"
"Benarkah?"
Kemudian Zidan menundukkan pandangannya. Wajahnya semakin lama semakin dekat dengan wajah Andita.
Saat ia akan menempelkan bibirnya pada bibir Andita, secepat kilat Andita langsung menahan bibir Zidan dengan jari telunjuknya.
"Eits! Kau mau apa?!"
"Menciummu."
"Tidak! Kita bisa terlambat nanti!"
"Sedikit saja!"
"Tidak! Nanti make up ku berantakan! Kau bisa melakukannya setelah kita pulang nanti!"
"Janji?!"
"Ya!"
Zidan tersenyum puas lalu segera menggandeng istrinya itu untuk turun.
Kemudian mereka masuk kedalam mobil dan berangkat menuju tempat pernikahan Zoya dan Andrew.
******
Setelah mengucapkan janji suci pernikahan, Andrew memasangkan cincin yang ia pesan khusus dijari manis tangan kanan Zoya lalu mengecupnya.
Hal yang sama dilakukan oleh Zoya. Ia memasangkan cincin dijari manis tangan Andrew.
Mereka berdua akhirnya telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Andrew menatap Zoya dengan penuh cinta. Begitu juga Zoya, ia menatap Andrew dengan penuh rasa syukur.
__ADS_1
Tanpa terasa bulir airmata keluar dari pelupuk mata Zoya. Ia masih belum percaya bahwa statusnya sekarang telah berubah menjadi seorang istri.
"Kenapa kau menangis sayang?" tanya Andrew khawatir.
"Ini tangisan bahagia Andrew! Aku tidak menyangka jika aku telah menjadi istrimu!"
"Huft! Syukurlah! Aku pikir kau menyesal karena sudah menikah denganku." Andrew bernafas lega.
Zoya menggeleng kemudian menyuruh Andrew mendekat.
Andrew membungkukkan badannya karena Zoya masih memakai kursi roda.
Tanpa diduga Zoya langsung mengecup pipi Andrew membuat semua tamu undangan yang ada disana bersorak riuh.
"I love you Andrew Alexanders!" ucap Zoya.
Andrew mematung lalu memegang pipinya. Ini pertama kalinya Zoya mengecupnya kembali.
Tak berapa lama Andrew pun tersadar kemudian menatap Zoya dan tersenyum padanya.
"I love you too Zoya Farrazela!"
Cup
Sekilas Andrew mengecup bibir Zoya membuat para tamu semakin heboh dan bertepuk tangan meriah.
Satu persatu tamu undangan pun mulai menyalami kedua mempelai itu, begitu keduanya sudah berada diatas panggung.
Tak terkecuali Zidan dan Andita juga Ken dan Stella. Secara bergantian mereka memberi selamat pada Andrew dan Zoya.
"Selamat atas pernikahan kalian Andrew, Zoya! Semoga kalian cepat diberi momongan!" ucap Zidan tulus sambil memeluk Andrew.
Andrew membalas pelukan Zidan. Ia berterimakasih dan mengamini ucapan sahabatnya itu.
"Kau tidak ingin menyalamiku Zidan?" tanya Zoya sembari mengulurkan tangannya pada Zidan. "Kita masih bersahabat bukan?
Semuanya terdiam dan melihat kearah Zoya. Lalu Zidan melirik pada Andita. Andita tersenyum dan mengangguk.
"Tentu! Selamanya kita akan tetap bersahabat!" jawab Zidan menerima uluran tangan Zoya dan menepuk pelan bahunya.
Andrew, Andita, Ken, dan Stella tersenyum bahagia. Mereka berenam pun berfoto bersama untuk dijadikan kenang-kenangan.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Setelah acara pernikahan selesai, Andrew langsung membawa Zoya ke kediamannya.
Ia mengendarai mobilnya sendiri, karena ingin menikmati waktu berdua bersama sang istri.
Rencananya, besok mereka akan terbang ke Korea Selatan untuk melakukan pengobatan pada wajah dan kaki Zoya supaya bisa kembali seperti sedia kala.
Selain berobat, Andrew juga akan mengajak Zoya untuk berbulan madu disana.
Didalam hati Zoya tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur.
Ia tidak menyangka bahwa Tuhan akan memberinya kesempatan lagi untuk hidup dan merasakan kebahagian seperti sekarang ini. Setelah apa yang dia lakukan pada Andrew, Zidan dan Andita.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi tidak ada kata terlambat bagi kita yang ingin memperbaiki diri.
Zoya menatap Andrew lekat-lekat lalu menggenggam tangannya.
Andrew menoleh dan membalas tatapan Zoya penuh cinta seraya mengeratkan genggaman tangan istrinya itu.
Sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya mengulas senyum kebahagiaan.
.
.
Bersambung...
__ADS_1