MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Chapter 21. Pertikaian


__ADS_3

...****************...


Dara melihat sendiri bahwa vas bunga melayang begitu aja. Arsen pun kaget dengan segera berlari ke bawah, sedangkan Dara mengikutinya juga di belakang.


Kelan dengan wajah emosinya menatap Naya bengis. Wajah Naya yang sudah basah dengan air matanya pun hanya bisa menghindar.


"Astaghfirullah Kelan... " ucap Tante Elis


"Kamu jangan banting-banting gitu kelan, jangan pake emosi" nasehat Bunda Ratna


Sedangkan Tante Santi yang merupakan ibu dari Kelan hanya bisa menangis melihat anaknya marah seperti itu.


"MAU SAMPAI KAPAN LU GA HARGAIN GUA NAY?! GUA INI SUAMI LU!!" Teriak Kelan sambil menunjuk nunjuk ke arah Naya


Naya beringsut sembunyi di belakang Arsen yang memang baru bergabung. Bukan nya merendam emosi Kelan, Kelan malah makin panas.


"ANJ**G!!!" teriak Kelan dan ingin melayangkan pukulan ke arah Arsen


Dara yang melihat itu tidak tinggal diam. Dara berlari ke arah Arsen lalu berdiri di depan Arsen.


Bugh!!


Dara terjatuh duduk, Arsen yang melihatnya begitu shock. Pipi Dara terlihat lebam dan di ujung bibirnya ada darah. Semua orang yang disitu teriak histeris karena Dara yang terkena pukulan kelan.


Bunda Ratna menghampiri Dara yang terduduk dengan menundukkan mengerang kesakitan.


Arsen yang mendengar Dara kesakitan, seketika langsung maju menarik kerah Kelan lalu memukuli kelan secara membabi buta. Ayah Ray ayahnya Arsen yang melihat putranya emosi segera memisahkan Arsen dengan Kelan. Kondisi Kelan sudah babak belur, Tante Santi nangis histeris melihat keadaan putranya.


"Lepas Yah!! biar Arsen bunuh si bereng**k ini!!" ucap Arsen sambil memberontak untuk melepaskan diri dari Ayah Ray


"Mas... " lirih Dara, Arsen mendengar suara Dara langsung terdiam dan menghampiri Dara


"Sakit? kita harus ke rumah sakit" ucap Arsen mencoba untuk menggendong Dara


"Kamar aja" ucap Dara masih dengan pelan tapi terdengar oleh Arsen. Arsen menurut dan membawa Dara ke kamar mereka.


Bunda Ratna membantu Dara mengompres pipinya yang bengkak. Sedangkan Arsen hanya mengamatinya dan sesekali mengumpat kasar ketika Dara meringis kesakitan.


"Udah Arsen kamu jangan khawatir, Dara kan ga kenapa napa" tenang Bunda Ratna


"Apa yang mereka ributkan sih bund?" ucap


"Ya kamu lah mas" samber Dara walaupun dengan bibir sakit


"Kok saya?!" protes tidak Terima

__ADS_1


"udah udah jangan berantem, Dara kamu istirahat aja disini. Kamu Arsen jaga Dara aja, biar Bunda yang urus di bawah" ucap Bunda Ratna sambil bangkit dari duduknya dan berlalu keluar rumah


"Sini" ucap Arsen melanjutkan mengoles salep ke ujung bibir Dara


"Mas ga tau mereka berantem karena mas?" pancing Dara


"Diem Adara, nanti lukanya makin besar" ucap Arsen


"Tapi.. awww mas Arsen.... " ucap Dara terpotong karena Arsen ga tau sengaja atau engga mengoles nya terlalu kasar jadinya bikin Dara sakit


"Makanya diem" perintah Arsen lagi. kali ini Dara memang terdiam dan hanya memandang wajah Arsen yang serius mengobatinya


...****************...


Dara membawakan makan siang untuk Arsen. Seluruh kantor semua sudah tau kalau Dara adalah istri Arsen. Beberapa kali berpapasan dengan karyawan lain, selalu menunduk beri hormat dan di balas nunduk dengan Dara. Walaupun posisinya sekarang ada istri dari CEO kantor ini, tapi Dara tidak pernah berpikir posisinya itu tinggi.


"Pak robi" sapa Dara setelah sampai di depan ruangan Arsen


Robi terlihat terkejut lalu langsung berdiri di depan pintu ruangan Arsen seolah olah menghalangi Dara untuk masuk.


"Aku mau masuk pak" ucap Dara agar Robi minggir


"Di dalem ada tamu Ra, jadi mendingan kita makan dulu di bawah yuk" Ajak Robi


"justru aku kesini bawa makanan loh, buat Robi juga ada. kita makan di ruangan Mas Arsen aja" usul Dara, Robi langsung menggelengkan kepala tanda tidak boleh.


"Emang siapa sih tamunya? klien penting? " tanya Dara


Robi melihat Tio yang membawa nampan berisi minuman. Robi sudah memberi kode agar Tio kembali ke pantry, tapi Tio emang yang ga ngerti dia malah tersenyum ketika melihat Dara.


"Bu Dara" panggil Tio


Dara menoleh ke arah Tio. Dara mengangkat alisnya bingung, karena selain air minum ada obat yang Dara paham itu obat apa.


"Obat buat siapa? ga mungkin buat Arsen kan?" sarkas Dara


"Buat temannya pak Arsen bu" jelas Tio, Robi udah panas dingin dan makin gencar memeberi kode ke Tio tapi ga di respon


"Bu Naya" Ucap Tio yang cukup bikin Dara mendidih emosi


"APA?! " ucap Dara dengan nada tinggi


Robi menepuk jidatnya, bakal ada orang dunia ini pasti pikir Robi.


Dara dengan segera membuka pintu ruangan Arsen dengan kasar. Dara melihat disana Naya duduk di sofa sedangkan Arsen duduk di kursi kerjanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu kesini?! " todong Dara ke Naya


"Kok ga malu banget sih datengin suami orang? ga cukup sama kejadian kemarin?! " sinis Dara


"Adara" tegur Arsen


"Kenapa mas? mas bela dia?" kesal Dara


"Saya ga bela siapa siapa" jelas Arsen


"Harusnya mas bela aku kan!" ucap Dara dengan emosi, mata Dara sudah berkaca kaca


"Kenapa sih kamu masih ketemu dia? mas tau kan, gara gara dia aku kena pukul suaminya!" ucap Dara


"Dia ga salah Dara" ucap Arsen yang masih mencoba meredakan emosi Dara, tapi emosi Dara malah makin memuncak.


"Bela aja terus bela!!! HARUSNYA MAS NIKAHIN DIA BUKAN AKU!!" teriak Dara sampai terdengar ke luar ruangan.


Dara berlari keluar ruangan Arsen dengan tangisan yang makin menjadi. Robi dan Tio hanya bisa diam bingung harus bagaimana.


Begonya bukannya di kejar Arsen malah diam aja di ruangannya, Arsen menatap Naya yang memang menangis. Arsen tidak tega melihatnya. bagaimana pun dia adalah dulu perempuan yang Arsen cintai.


Dara merasa tidak di hargai, padahal kalau saja Arsen mengejarnya Dara ga akan se kesal ini. Dara berjalan entah kemana, dia hanya mengikuti kakinya berjalan.


Arsen pikir kemarahan Dara tidak sebesar itu, Dara sampai tengah malam belum juga pulang. Arsen meneleponnya tapi tidak di angkat lalu Arsen mencoba mencari pun tidak ketemu. Suasana rumah sedang tidak baik baik saja ketika tahu Dara ga pulang pulang.


"Mungkin pulang ke rumah orang tuanya kali" ucap Mba lana


"Kamu udah hubungin mertua kamu sen?" Tanya Ayah ray


Arsen menganggukan kepala


"Dia ga ada di sana" jelas Arsen lemas


"Bego sih lu! bukannya di kejar malah lu milih si Naya" omel Raka


Arsen hanya terdiam di marahi seperti itu, dia emang menyadari kalau dia salah.


"Kalau kamu ga cinta ngapain nikah Sen?" tanya Mba Ayu


"Kata siapa Arsen ga cinta Mba? Arsen cinta pake banget. cuman... "


"cuman ga bisa move on aja" potong Mba Lana sinis


Arsen menundukkan Dalam, dia ga mau kehilangan Dara bagaimana pun dia mencintai Dari sangat sangat mencintainya.

__ADS_1


tbc


©nukeya, 2022


__ADS_2