MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Kecewa


__ADS_3

Zidan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hatinya merasa tidak tenang karena diliputi rasa khawatir. Berkali-kali pria itu memukul stir kemudi. Melampiaskan kekesalannya pada Andita.


Kenapa dia tidak memberitahuku jika akan menemui Ayah! Apa dia benar-benar tidak menganggapku sama sekali!


Aarrggghh!!!!


Saat ini pikiran Zidan terbelah. Dia memikirkan, apa yang akan dilakukan ayahnya pada calon istrinya itu? Zidan sangat mengenal sifat ayahnya yang sangat keras. Pria paruh baya itu bukanlah tipikal yang mudah luluh begitu saja.


Butuh waktu untuk mendapatkan hati dan kepercayaan seorang Wildan Wijaya. Jika pria itu sudah mempercayai seseorang, apapun yang dikatakan orang kepercayaannya adalah benar.


Namun sebaliknya jika kepercayaannya sudah dikhianati, maka meskipun orang itu menangis darah sekalipun dia tidak akan pernah berbelas kasih lagi.


Zidan berusaha tetap fokus mengendarai mobilnya. Meskipun berkali-kali mobil mewahnya nyaris menabrak pembatas jalan karena menyalip mobil yang berada didepannya.


Rasa khawatir, marah, kecewa, takut menjadi satu. Sehingga Zidan tak memikirkan keselamatannya sendiri.


Tentu saja tindakan Zidan membuat pengendara lain merasa geram. Karena tindakan itu sangat membahayakan diri sendiri dan tentunya bagi orang lain.


Selang tiga puluh menit mobil mewah Zidan berhenti tepat didepan restoran milik ayahnya. Zidan segera keluar dari mobil. Lalu melangkahkan kakinya masuk setengah berlari.


"Tuan Zidan! Anda disini?!" Tanya manager restoran yang kebetulan sedang memantau kinerja karyawannya. Tidak sengaja netranya melihat Zidan yang baru masuk. Putra dari bosnya itu tengah berlari terburu-buru.


Zidan pun menoleh keasal suara. Ia bergegas menghampiri manager itu.


"David! Apakah Ayahku ada disini?!" Tanya Zidan dengan nada tidak sabar.


"Ya, Tuan! Tuan Besar ada disini. Beliau sedang ada tamu diruangan VIP private room. Ada apa Tuan? Apa ada masalah? Kenapa anda terlihat khawatir sekali?" David bertanya karena melihat wajah Zidan yang nampak risau.


"Apa tamunya seorang gadis?!"


"Ya Tuan, dia seorang gadis."


Seketika wajah Zidan memerah. Ia mengusap wajahnya kasar. Tidak salah lagi tamu diruangan itu pasti Andita.


"Dimana ruangannya?!"


David masih terlihat bingung dengan sikap putra dari bosnya itu. Namun ia tidak mau banyak bertanya. Akhirnya David pun segera mengantarkan Zidan ketempat dimana Tuan Wildan dan Andita berada. Zidan mengikuti langkah David.


"Itu Tuan, ruangan yang sedang dipakai Tuan Besar!" David menunjuk sebuah private room yang tengah dijaga oleh kedua body guard ayahnya.


"Baik David, terimakasih!"


"Sama-sama Tuan!"


David pun pergi dari hadapan Zidan. Zidan berjalan mendekati ruangan itu, namun langkahnya terhenti ketika dua orang pengawal yang berjaga menghadangnya.


"Minggir!" Ucap Zidan dingin. Netranya menatap tajam dua pengawal itu secara bergantian.


"Maafkan kami Tuan Muda, Tuan Besar tidak memperkenankan siapapun untuk masuk kedalam!"


"Aku putranya! Aku berhak untuk masuk! Jadi menyingkirlah kalian dari hadapanku!"

__ADS_1


"Sekali lagi maafkan kami, Tuan. Kami hanya menjalankan tugas! Karena ini perintah langsung dari Tuan Besar! " Dua pengawal itu tetap diam ditempat dan malah merapatkan barisan. Tidak memberikan celah sedikitpun untuk Zidan masuk.


Zidan menarik nafas dalam. Ia benar-benar sudah muak melihat dua orang pengawal ayahnya ini.


"Aku bilang minggir sekarang! Atau aku akan menghajar kalian!" Geram Zidan.


Namun para pengawal itu tak gentar. Mereka seolah menantang Zidan. Zidan berdecih melihatnya.


"Baiklah jika itu yang kalian inginkan!"


Tanpa aba-aba Zidan langsung melayangkan bogem mentahnya pada dua body guard itu tanpa ampun.


Bugh Bugh Bugh


Sementara didalam ruangan, Tuan Wildan yang samar-samar mendengar keributan diluar, sangat yakin jika putranya saat ini tengah berada direstoran miliknya.


Ia meminta Andita untuk cepat menandatangani surat perjanjian itu.


"Cepatlah tandatangani surat itu! Aku tidak memiliki banyak waktu!"


Sekilas Andita menatap Tuan Wildan seraya mengangguk pelan. Ketika ia akan menggerakkan tangannya tiba-tiba...


Brakkk!!!


Zidan menendang pintu private room itu dengan sangat keras. Hingga membuat dua orang yang berada didalamnya terlonjak kaget dan langsung berdiri.


"Zidan!"


******


Zidan yang masih berdiri didekat ambang pintu menatap dua orang dihadapannya dengan tatapan marah.


Andita yang melihat tatapan tajam Zidan seketika bergidik ngeri.


Kenapa Tuan Zidan bisa ada disini?! Apa Nazwa yang memberitahunya?!


Sementara Tuan Wildan yang tadinya sempat terkejut melihat kedatangan sang putra secara tiba-tiba, langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.


Dia tahu saat ini suasana hati Zidan sedang diliputi amarah.


Dengan emosi yang sudah diubun-ubun dan tangan mengepal, Zidan berjalan mendekati dua orang yang sama-sama berarti dalam hidupnya itu. Dia ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan dibelakangnya.


"Apa yang kau lakukan disini Andita?!" Tanya Zidan begitu sampai dihadapan gadis itu. Suaranya menggeram. Rahangnya mengeras. Pria itu menyorot Andita dengan tatapan tajam.


"A-aku .."


"Kami hanya sedang berbincang saja Zidan! Aku yang mengundangnya kemari. Aku hanya ingin mengenal calon menantuku ini lebih jauh?!" Dusta Tuan Wildan, memotong ucapan Andita.


Netra Zidan langsung menyorot pada Ayahnya yang sudah kembali duduk dikursi.


"Apa Ayah pikir aku akan percaya begitu saja?! Jika Ayah ingin mengenalnya kenapa tidak mengajakku ataupun memberitahuku?!"

__ADS_1


Tuan Wildan tersenyum santai. Ia seolah tak terpengaruh dengan sikap putranya yang saat ini tengah menahan amarah.


"Kau boleh bertanya padanya jika kau tidak percaya padaku!"


Kini netra Zidan kembali beralih pada Andita yang berdiri dihadapannya, meminta penjelasan. Andita hanya mengangguk takut. Karena saat ini ekspresi wajah Zidan benar-benar mengerikan.


Tak lama ekor mata Zidan menangkap kertas yang tergeletak diatas meja. Kemudian ia segera meraihnya. Lalu membaca tulisan dikertas itu dengan seksama.


Wajah Andita dan Tuan Zidan seketika memucat. Keduanya menelan saliva. Mereka takut kalau niat mereka diketahui oleh Zidan.


Surat Perjanjian?!


Zidan membaca dengan teliti surat itu dari atas sampai bawah. Dadanya langsung bergemuruh didalam sana ketika melihat poin-poin yang dijelaskan didalam surat tersebut.


Yang intinya menyatakan bahwa Ayahnya akan memenuhi kehidupan Andita dan keluarganya, asalkan gadis itu menghilang dari kehidupan Zidan.


Sungguh Zidan benar-benar merasa dikhianati oleh dua orang dihadapannya saat ini.


"Apa ini Andita?!" Zidan menggeram. Jemarinya setengah meremas surat perjanjian itu.


Andita hanya bisa menatap Zidan dengan perasaan bersalah bercampur rasa takut. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan Zidan.


Karena Andita tak kunjung menjawab, Zidan pun bertanya pada sang Ayah.


"Apa maksud Ayah dengan membuat surat perjanjian ini?! Apa Ayah benar-benar ingin memisahkan kami?!"


"Zidan!"


"Bukankah Ayah sudah tahu jika aku mencintai Andita! Lalu untuk apa Ayah harus melakukan hal serendah ini padanya?!" Teriak Zidan. Suaranya memenuhi seisi ruangan.


Andita sampai memejamkan mata kala mendengar amarah calon suaminya itu.


"Dan kau?! Jika aku tidak segera datang apa kau akan menandatangani surat ini, hah?!"


"Tu-tuan, to-tolong dengarkan saya dulu!"


Breettt breettt


Zidan langsung merobek surat perjanjian itu dihadapan Andita. Tuan Wildan terkejut melihatnya.


"Zidan apa yang kau lakukan?!" Bentak Tuan Wildan.


Zidan meremas sobekan kertas itu lalu membuangnya kasar keatas meja.


"Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan! Seharusnya Ayah tidak mencampuri urusanku lagi! Bukankah malam itu Ayah sudah mengusirku dari rumah dan tidak ingin melihat wajahku lagi?! Maka sebaiknya Ayah lakukan itu! Karena akupun akan melakukan hal yang sama pada Ayah! Mulai detik ini aku tidak ingin melihat Ayah lagi!"


Plakkk...


.


.

__ADS_1


__ADS_2