
Pukul 8 malam, Andita sudah berada dirumah sakit. Sepulang dari kantor tadi dia berencana akan menggantikan Nazwa untuk menjaga ibunya disana. Andita tidak bisa membiarkan Nazwa kelelahan karena kurang berstirahat, mengingat adiknya itu tengah menjalani ujian semester.
Setelah sampai didepan ruangan ibunya, Andita melangkahkan kakinya masuk kedalam. Perlahan ia membuka pintu agar tidak mengganggu ibunya yang sedang beristirahat.
Nazwa yang sedang tidur diatas sofa seketika membuka matanya ketika mendengar suara decitan pintu dibuka seseorang.
"Kakak, kau sudah datang?" Nazwa menguap sembari mengucek-ngucek matanya.
"Hemm." Andita mengangguk kemudian menaruh bungkusan makanan yang dibawanya diatas meja.
"Apa kau sudah makan Naz?" Tanya Andita pada Nazwa. Nazwa menggeleng pelan.
"Aku belum sempat makan Kak, karena aku tidak tega jika harus meninggalkan Ibu sendiri." Jawab Nazwa.
Andita mengusap lembut kepala adiknya.
"Kalau begitu makanlah. Kakak sudah membawakan makanan untukmu!" Tunjuk Andita dengan matanya kearah bungkusan yang dia bawa tadi.
"Terimakasih Kak! Apa Kakak sudah makan?"
"Ya, kakak sudah makan tadi dikantor."
Nazwa mengangguk mengerti, lalu meraih bungkusan yang dibawa kakaknya itu. Gadis itu mengendus-enduskan hidungnya meresapi aroma makanan didalam bungkusan tersebut. Saat dibuka ternyata isinya nasi goreng. Mata Nazwa berbinar melihatnya. Sebelum makan Nazwa berdoa terlebih dulu. Kemudian tanpa menunggu lama Nazwa langsung menyantap nasi goreng itu dengan lahap, karena makhluk-makhluk didalam perutnya sedari tadi sudah berteriak meminta jatah.
"Hemm,, enak sekali Kak!" Puji Nazwa. Andita hanya tersenyum menanggapi adiknya.
"Bagaimana keadaan Ibu hari ini Naz?" Andita sudah duduk dikursi disamping ibunya. Gadis itu mencium dan mengusap lembut tang sang ibu yang tengah tertidur.
Seketika Nazwa menghentikan aktifitasnya yang sedang makan.
"Keadaan Ibu masih sama Kak, belum ada perubahan." Ucapnya sendu. "Oh ya Kak, apa kau sudah mendapatkan pinjaman uang untuk operasi Ibu? Karena tadi siang dokter mengatakan bahwa Ibu harus segera dioperasi, jika tidak .." Nazwa menggigit bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Andita yang mengerti apa yang akan dikatakan Nazwa, beranjak dari duduknya dan menghampiri Nazwa disofa. Andita mengusap lembut punggung adiknya.
"Kakak sudah mendapatkan pinjamannya Naz."
"A-apa Kak?! Sungguh?!" Nazwa menatap tidak percaya pada kakaknya. Andita mengangguk ragu.
"Kau habiskan dulu makanannya. Setelah itu kita bicara diluar!"
"Baik Kak!" Nazwa mengangguk cepat.
******
Saat ini Zidan tengah berdiri dibalkon kamarnya. Lelaki berparas tampan itu sedang menikmati malamnya bersama secangkir kopi panas ditangannya. Senyuman diwajahnya sedari tadi siang tidak pernah memudar ketika ia mengingat kehebohan yang dibuatnya sendiri.
Wajah Dirga yang terlihat kesal karena mobilnya rusak akibat ulahnya, terus wara wiri diotak Zidan. Ternyata semengasyikan ini memberi pelajaran pada seseorang. Apalagi orang yang sudah membuat wanitanya sakit hati.
Tunggu dulu! mengingat wanitanya, Zidan jadi memikirkan jawaban apa nantinya yang akan diberikan Andita padanya. Semoga saja Andita menerima memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan Zidan. Zidan juga telah menyiapkan selembar kertas perjanjian yang akan diperlihatkannya nanti pada Andita.
Sebenarnya Zidan enggan membuat surat perjanjian pra nikah itu. Karena perasaannya tulus pada Andita. Namun Zidan tidak ingin Andita merasa bahwa dirinya mengejar-ngejar gadis itu dan akan membuat Andita menjauh. Zidan akan membuat Andita berada disisinya dengan caranya sendiri.
Zidan menekan lencana berwarna hijau dan sambungan telepon pun terhubung.
"Hallo?!"
"Zidan, apa yang kau lakukan pada Rachel?! Dia datang baik-baik untuk menemuimu! Tapi kenapa kau malah mengecewakannya!" Suara Tuan Wildan terdengar marah. Dia baru saja mendapat laporan dari Rachel, jika Zidan mengatakan secara terang-terangan bahwa dia menolak perjodohan dengannya.
Zidan membuang nafas kasar.
Rupanya gadis itu mengadu pada Ayah. Ternyata dia tidak sebaik yang kupikirkan.
"Bukankah sudah kukatakan sejak awal pada Ayah dan Tuan Reyhan, bahwa aku tidak menerima perjodohan ini! Tolong mengertilah yah! Aku juga sudah mengatakan pada Ayah bukan, bahwa aku sudah memiliki calon pendamping hidupku sendiri?!" Tegas Zidan.
__ADS_1
"Baik. Jika benar kau sudah memiliki calon pendamping hidupmu sendiri, segera bawa dia kehadapan Ayah! Ayah ingin tahu seperti apa gadis yang kau pilih untuk menjadi bagian dari hidupmu! Dan apakah gadis itu juga pantas menjadi bagian dari keluarga kita!"
"Pantas atau tidaknya itu urusanku yah! Ini tentang hidupku bukan hidup Ayah!"
"Tentu saja itu menjadi urusan Ayah, Zidan! Kau tahu berapa banyak relasi bisnis Ayah?! Apa yang akan mereka katakan jika tahu ternyata menantu seorang Wildan Wijaya adalah gadis rendahan yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan!"
"Cukup yah! Aku tidak ingin berdebat dengan Ayah. Ayah tunggu saja, aku akan segera membawa gadis itu kehadapan Ayah!"
Klik, sambungan telepon pun terputus. Zidan menggeram kesal mendengar ucapan ayahnya barusan. Moodnya berubah menjadi buruk.
"Bagaimana bisa Ayah menilai semuanya dari harta!" Gumam Zidan kesal.
******
"Apa Kak?! Menikah?!" Nazwa membeliakan matanya tidak percaya saat mendengar penuturan Andita yang mendapat tawaran pernikahan dari Zidan.
"Saat ini Kakak benar-benar bingung Naz! Pikiran Kakak buntu. Kakak tidak tahu harus kemana lagi mencari pinjaman uang?! Tidak mungkin kita menggadaikan rumah ke bank kan? Kita akan tinggal dimana jika tidak bisa bayar? Bahkan setelah operasi pun Ibu harus tetap menjalani perawatan." Ucap Andita frustasi.
"Aku mengerti kebingungan Kakak. Seandainya aku sudah lulus kuliah dan bekerja aku pasti bisa mengurangi beban Kakak! Maafkan aku Kak." Pandangan Nazwa tertunduk.
"Tidak Nazwa! Kau jangan berkata seperti itu. Kau harus terus belajar. Lagipula ini sudah tugas Kakak sebagai anak pertama. Hanya saja kakak bingung, haruskah Kakak menerima tawaran Tuan Zidan?"
Nazwa mengangkat pandangannya, netranya melihat kearah Andita lalu menggenggam tangan sang kakak.
"Kak, bagaimana mungkin Kakak menikahi lelaki yang tidak Kakak cintai? Apa Kakak akan bahagia nantinya?"
Andita terdiam mendengar pertanyaan adiknya. Ya, dirinya memang tidak mencintai Zidan tapi dirinya pernah berada didekat lelaki itu karena Zidan pernah menjadi penolongnya. Bahkan dirinya pun pernah berada dalam pelukan Zidan dan tidak dipungkiri Andita merasa nyaman. Tapi itu bukan cinta.
"Lalu Kakak harus bagaimana Naz?! Kakak tidak ingin terjadi apa-apa pada Ibu?!" Andita mulai menitikan air mata. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Nazwa memeluk tubuh sang kakak dan mencoba menenangkannya. Sungguh saat ini mereka tengah berada didalam dilema. Disatu sisi tentang hidup ibu mereka, disisi lain tentang hidup Andita.
__ADS_1
.
.