MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Mengikuti Keinginan Daffa


__ADS_3

Agar sandiwaranya meyakinkan David pun pura - pura jatuh pingsan.


"Daff, bantuin teman kamu tuh. Pingsan dia." ujar Davina dengan nada khawatir.


Sementara Daffa memaki David di dalam hati "Menyusahkan saja! Memang benar ya, kalau sudah terkena virus bucin tingkat akut mah susah untuk di obati.Karena obatnya hanya satu yaitu Cinta."


"Daffa, kamu jangan melamun terus. Bantuin David dan bawa dia masuk ke mobil."


"Sabar, Nyonya besar Davina. Saya juga babak belur begini. Memangnya anda tidak kasihan dengan keadaan saya juga."


"Tapi kamu kan gak sampai pingsan seperti David. Jadi jangan lebay deh!"


"Heh!"


Ingin rasanya Daffa membongkar kedok David sekarang. Tapi ia juga tidak tega. Kalau kebongkar bisa jadi Davina akan semakin marah pada David. Apalagi kalau sampai Davina menggugat cerai si David bagaimana? Pikirnya.


Dengan langkah pelan, ia berjalan dan mengambil alih untuk memapah David. Ya, Daffa lebih memilih untuk mengikuti permainan David. Dan saat sedang memapah David, Daffa membisikkan sesuatu dengan pelan di telinga David "Kali ini bayaranya harus 10 kali lipat lebih banyak?"


"Lo mau morotin gue?" tanya David dengan tatapan yang tajam pada Daffa.


"Terserah lo mau anggap apa. Gue nggak peduli, dan kalau lo nggak mau kasih juga nggak papa, kok. Gue kan tinggal bilang aja ke Davina dan rencana lo bakalan gagal deh,"


David menggeram kesal. Ia bersumpah akan membalas Daffa nanti, saat dia sudah berhasil berbaikan dengan Davina.


"Ok deal! Besok gue bakal atur semuanya." sahut David pasrah. Di karenakan pilihan yang terbaiknya untuk saat ini adalah menuruti keinginan Daffa yang gila itu daripada nanti rencananya akan terbongkar.


Dan Daffa pun tersenyum puas mendengar jawaban dari David. Setidaknya, pengorbanan Daffa sampai berakhir babak belur tidak sia - sia.


"Lagian, kenapa lo itu bisa tahu sih, kalau gue itu cuma akting pingsan?"


"Ya gue tahu lah. Lo itu kan paling hebat dalam bela diri. Lawan preman pasar seperti itu buat lo mah itu kecil. Ibaratnya tuh, kayak nginjek semut terus mati." ucap Daffa "Lagian trik dan akan bulus lo gue itu udah hafal, buaya mau di kadalin." lanjutnya sambil terkekeh pelan.


"Ya,ya, gue juga tau kok lo itu Buaya! Maksudnya buaya darat pemakan duit bukan pemakan daging!"


"Bisa aja lo bercandanya, Bro!" Kekeh Daffa sambil menepuk kuat punggung David.


"Sakit punggung gue. Kampret!" maki David dengan pelan.


Lihat saja, dia akan memukul kembali Daffa nanti dan pastinya saat tidak ada Davina.


"Kan Lo cuma akting? Masa sakit sih?" ledek Daffa.

__ADS_1


Sedangkan Davina dan Venus sudah berjalan di depan sambil memegang kunci mobil yang tadi di serahkan oleh Daffa. Karena sebelumnya Daffa bertanya pada Venus apakah bisa menyetir mobil atau tidak. Dan Venus pun mengatakan bisa menyetir mobil. Jadi Daffa pun memutuskan agar Venus yang menyetir mobil malam ini.


Dan saat mereka sudah dekat dengan arah mobilnya, David pun kembali pura - pura pingsan.


"He Daffa! Lo kenapa sih, parkir mobilnya jauh banget. Cape tau!" Keluh Venus.


"Karena tadi gue itu panik. Liat bos gue buru - buru mau nyelamatin istrinya."


"Kenapa lo nggak langsung bawa mobilnya dan sekalian saja tabrak para preman yang tadi."


"Kan, tadi gue udah bilang, gue itu tadi panik jadi nggak bisa mikir panjang, Ve. Lagian kenapa lo bahas lagi sih. Dan yang babak belur itu kami berdua dan bukannya lo."


"Sudahlah, Ve. Kamu juga jangan marah begitu ke Daffa. Mendingan sekarang kita masuk ke mobil." ucap Davina


Davina pun membantu membukakan pintu untuk Daffa agar David bisa lebih dulu masuk kedalam mobil.


"Davina, lebih baik lo yang duduk di belakang temani suami lo. Gue antar kalian pulang kerumah, setelah itu gue bakal anterin Venus pulang kerumahnya."


"Eh, aku nggak mau pulang ke rumah," tolak Davina.


"Jadi mau pulang kemana, Nyonya? Jangan bikin gue pusing. Kalau Nyonya Davina nggak mau ikut mendingan gue tinggalin kalian aja di sini, biar di gangguin sama preman yang tadi." ujar Daffa dengan galak.


"Tapi-"


"Baiklah," jawab Davina pasrah. Karena setidaknya dia harus bertanggung jawab untuk merawat David sebagai tanda terima kasih.


Sementara di dalam hati David bersorak gembira karena rencananya berhasil. Nggak sia - sia jika nantinya dia akan mengeluarkan uang yang banyak. Pada akhirnya Daffa berhasil meyakinkan Davina.


"Dan yang menyetir mobil biar gue saja. Karena gue nggak mau mati muda cuma gara - gara kecelakaan mobil kalau yang menyetir mobil lo." ucap Daffa sambil melirik ke arah Venus.


Kali ini Venus tidak membantah ucapan dari Daffa. Dia pun langsung duduk di depan bersama dengan Daffa sedangkan Davina dan David berada di belakang.


***


Saat mobil Daffa sudah sampai di mansion milik David. Daffa pun kembali memapah David masuk kedalam kamarnya.


"Ingat ya, Bro. Besok pagi, lo itu harus aturin semuanya kalau nggak gue bakal bocorin ke istri lo." bisik Daffa mengingatkan David.


"Ya gue inget. Sudah pergi sana, bawel banget lo!" Usir David.


Sementara di luar kamar ada Venus dan Davina yang menunggunya.

__ADS_1


"Davina, mendingan lo cepetan masuk dan rawat luka suami lo dengan baik."


Dan lagi - lagi Davina hanya mengangguk pasrah. Percuma saja jika ia berdebat dengan Daffa dia pasti akan kalah.


"Ve, Lo mau gue anterin pulang atau menginap di sini?" tanya Daffa tiba - tiba.


"Memangnya gue boleh nginep di sini, ya?" tanya balik Venus.


"Yah, itu sih tergantung lo, kalau lo mau nginep di sini dan jadi obat nyamuk antara Bos lo dan teman lo sih, terserah saja."


Venus pun langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Mending gue pulang aja deh," jawab Venus.


Ya, mana mungkin Venus berani menginap di rumah Presdirnya, kalau ia berani menginap di rumah Presdirnya itu sudah di pastikan Presdirnya akan semakin bertambah kesal dan berakhir memecat dirinya, bukan?


"Tapi ini sudah hampir pagi lo, Ve. Nginap aja di sini? Lagian kamar tidurnya banyak, kok?" usul Davina.


"Ekhm..ekhm. Gue nggak di tawarin buat nginap juga nih? Gue juga berjasa lo di sini?" ujar Daffa sambil menunjukkan dirinya dengan bangga.


"Ya udah, mending kalian berdua menginap aja di sini. Dan pilih aja kamar tamu yang kalian mau?"


"Oke," sahut Daffa cepat.


Saat Daffa akan melihat kamar tamu, dia juga langsung menyeret Venus untuk ikut dengannya.


"Cepat pilih kamarnya, Ve. Gue udah ngantuk!" Ucap Daffa saat mereka sudah sampai di bagian kamar tamu.


"Lah? Hubungan gue pilih kamar sama lo ngantuk apaan coba?" tanya Venus yang tak mengerti.


"Karena gue mau tidur satu kamar sama lo, Ve." jelas Daffa.


PLETAK.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2