MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Pertengkaran


__ADS_3

Plakkk...


"Beraninya kau Zidan!" Tuan Wildan menampar keras pipi Zidan.


Sontak Andita terkejut melihat perbuatan calon Ayah mertuanya itu. Ia membelalakan matanya seraya membekap mulutnya sendiri.


Zidan menatap nyalang pada sang ayah. Rasa kecewanya kini berubah menjadi benci pada lelaki dihadapannya itu.


"Hanya demi gadis sepertinya kau berani melawan Ayahmu sendiri, hah?!!" Tuan Wildan menuding wajah Zidan dengan jari telunjuknya.


"Apa kau ingin menjadi anak durhaka?!"


"Jika Ayah menganggapku adalah anak durhaka, silahkan saja! Selama ini aku selalu menghormati Ayah, menuruti semua kemauan Ayah! Tapi apakah Ayah pernah memikirkan perasaanku?! Tidakkan?! Ayah selalu medikte kehidupanku! Bahkan kehidupan pribadiku! Aku hanya alat bagi Ayah untuk memenuhi semua ambisi Ayah! Jadi, hari ini aku akan melepaskan semuanya! Aku tidak ingin lagi menjadi bagian keluarga Wijaya!"


"Zidaaan!!!" Tuan Wildan nampak murka. Tangannya sudah terangkat hendak memberi tamparan lagi pada putranya, namun Andita segera menghalanginya.


"Hentikan Tuan!" Andita berdiri diantara ayah dan anak itu seraya merentangkan kedua tangannya melindungi Zidan.


"Jangan lakukan itu lagi! Saya mohon jangan sakiti putra anda hanya karena saya! Disini sayalah yang bersalah! Saya minta maaf pada anda! Sa-saya, saya akan menuruti permintaan anda! Saya akan pergi dari kehidupan Tuan Zidan!"


Deg


Tubuh Zidan bagai tersambar petir disiang bolong saat mendengar ucapan Andita. Netranya membulat sempurna. Hatinya terasa tersayat. Ia segera menarik tangan gadis itu hingga menghadapnya.


"Apa yang kau lakukan, hah?! Berani sekali kau berkata seperti itu!!"


Dengan tubuh bergetar menahan desakan tangis yang akan keluar, Andita menatap netra Zidan lamat-lamat.


"Tuan, maafkan saya! Saya hanya tidak ingin hubungan anda dengan Ayah anda berantakan hanya karena saya! Jadi akan lebih baik jika saya pergi dari kehidupan anda! Saya berjanji saya tidak akan lari dari tanggung jawab! Saya akan kembalikan semua uang anda meskipun harus menyicilnya!"


Zidan menggeram marah mendengar ucapan Andita. Matanya sedari tadi sudah memerah. Kenapa gadis dihadapannya ini begitu bodoh! Zidan mencekal tangan Andita begitu kuat hingga Andita meringis kesakitan.


"Hentikan omong kosongmu! Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!"


Zidan kembali menatap sang ayah.


"Aku tidak akan pernah membiarkan Ayah memisahkan aku dengan Andita! Jadi aku harap Ayah berhenti mengganggu hubungan kami!"


Setelah mengatakan itu Zidan segera menarik tangan Andita keluar dari restoran. Meninggalkan Tuan Wildan yang masih mematung.


Pria paruh baya itu begitu syock melihat perubahan sikap sang putra padanya. Karena biasanya, Zidan akan selalu menuruti semua keinginannya. Tapi sekarang hanya karena Andita, Zidan berani melawannya.


Anak kurang ajar! Aku yakin, suatu saat nanti kau pasti akan menyesal dengan pilihanmu itu Zidan!


*****

__ADS_1


Zidan menarik tangan Andita dengar kasar ketika mereka akan keluar dari restoran itu. Tidak peduli dengan tatapan para pengunjung restoran, Zidan menyeret Andita hingga sampai didepan mobilnya.


Dengan amarah yang membakar jiwa, Zidan membuka pintu mobil dan menghempaskan tubuh Andita hingga gadis itu terduduk.


Brakk


Andita terperanjat kaget ketika Zidan membanting pintu mobil dengan cukup keras.


Ya Tuhan! Kenapa dia begitu mengerikan?!


Zidan mengitari mobil dan segera masuk dari pintu lain. Ia memasang seat belt Andita dan juga seat belt dirinya. Kemudian Zidan menyalakan mesin lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Saat ini suasana hati Zidan sedang tidak baik-baik saja. Berulang kali ia mengontrol emosinya namun tetap tidak bisa. Ia butuh pelampiasan. Tangannya mencengkram erat kemudi. Netranya menatap lurus kedepan.


Berulang kali Zidan menggertakan gigi menahan geram, ketika bayangan Andita yang tadi akan menandatangani surat perjanjian itu wara-wiri diotaknya. Dan itu sungguh membuatnya terluka. Bagaimana bisa Andita melakukan hal ini padanya?!


Sementara Andita hanya bisa diam seribu bahasa. Dia tahu saat ini pasti Zidan tengah merasa kecewa padanya.


Tapi mau bagaimana lagi? Dirinya juga berada dalam pilihan yang sulit. Tuan Wildan mengancamnya.


Namun tiba-tiba Andita teringat kata-kata Zidan yang mengatakan jika dia mencintainya dihadapan Tuan Wildan, itu membuat hatinya sedikit menghangat.


Apa dia benar-benar tulus mencintaiku?!


Andita pun lebih memilih melempar pandangannya keluar jendela. Ia tidak berani mengatakan apapun pada Zidan.


******


Mobil mewah Zidan sudah memasuki halaman rumahnya. Andita terkejut, karena dia pikir Zidan akan mengantarkannya pulang.


"Tuan! Kenapa kita berhenti disini?! Ini rumah siapa?!"


Namun Zidan tak menjawab. Ia segera membuka seat beltnya dan turun dari mobil.


Kemudian ia membukakan pintu untuk Andita.


"Turun!" Suara Zidan terdengar dingin membuat sekujur tubuh Andita merinding.


"Saya akan turun Tuan! Tapi anda jawab dulu ini rumah siapa?!"


Zidan enggan menjawab. Lelaki itu menghentak kasar udara dihadapannya. Ia menatap tajam kearah Andita lalu menarik paksa gadis itu untuk keluar dari mobilnya.


Andita sangat terkejut dengan tindakan Zidan yang begitu kasar.


Setelah menutup pintu mobil dengan keras, Zidan langsung menyeret Andita masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


"Tuan! Lepaskan saya! Saya tidak ingin masuk!" Andita meronta, mencoba melepaskan diri dari cekalan tangan Zidan.


Namun Zidan tidak menggubris permintaan Andita. Kemarahan dan kekecewaannya lebih mendominasi.


Para pelayan yang tengah bekerja membersihkan rumah begitu terkejut, ketika melihat tuannya menarik paksa seorang gadis untuk masuk kedalam rumah.


Mereka bisa melihat kilat kemarahan pada raut wajah tuannya itu. Namun mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dengan langkah lebar Zidan menaiki anak tangga. Membawa Andita kelantai dua. Andita begitu kesulitan mengimbangi langkah Zidan hingga kakinya beberapa kali tersandung anak tangga yang dilaluinya. Hingga membuatnya meringis.


Namun Zidan tetap tak peduli. Yang ada dipikirannya adalah ingin segera mengurung gadis itu agar tidak pergi darinya.


Setelah sampai diatas, Zidan membuka salah satu kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Kemudian Zidan membawa Andita masuk dan menghempaskan tubuh gadis itu hingga terjatuh keatas ranjang.


"Awhh,, hissh!" Andita mendesis ketika Zidan menghempaskan tubuhnya dengan kasar.


"Berani sekali kau mengatakan ingin pargi dariku?! Apa kau lupa dengan janjimu, Andita?!" Geram Zidan. Amarah didalam dadanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Lelaki itu menatap garang pada calon istrinya itu.


Andita segera beranjak dari ranjang dan berdiri. Ia tak kalah menatap marah pada Zidan.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan ketika hubungan seorang Ayah dan putranya merenggang hanya karena seorang gadis?! Pasti anda pun akan melakukan hal yang sama jika anda berada diposisi saya, Tuan!"


"Jika aku berada diposisimu, aku akan mengikuti kata hatiku, bukan dengan mudahnya mengikuti saran orang lain lalu mengkhianati orang yang lainnya! Lagipula seperti apa hubunganku dengan Ayahku itu bukanlah urusanmu! Tugasmu hanya bertanggung jawab atas apa yang sudah kau janjikan kepadaku!"


"Lalu bagaimana jika Ayah anda mengancam akan melakukan sesuatu pada keluarga saya?! Apakah menurut anda saya akan diam saja?! Tentu tidak Tuan! Saya melakukan itu karena saya tidak memiliki pilihan lain!"


"Siapa yang mengatakan jika kau tidak memiliki pilihan lain, hah?! Seandainya kau benar-benar menganggapku sebagai calon suamimu, tentunya kau pasti akan cerita padaku tentang semua masalahmu! Tapi nyatanya tidak! Kau memilih menemui Ayahku diam-diam tanpa berbicara dulu padaku lalu kau mengambil semua keputusan itu sendiri!" Geram Zidan.


Lelaki itu benar-benar murka dengan tindakan Andita direstoran tadi.


Sementara Andita mulai sadar atas kesalahan dirinya, yaitu karena dia tidak mengatakan pada Zidan bahwa dia akan menemui ayah calon suaminya itu. Tapi semua itu karena permintaan Tuan Wildan.


Sekarang Andita merasa dirinya menjadi serba salah.


"Mulai detik ini dan seterusnya kau akan tinggal disini! Jangan pernah bermimpi untuk pergi dariku! Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" Geram Zidan dengan sorot mata berapi-api.


"Anda tidak bisa melakukan ini pada saya, Tuan!"


"Kenapa tidak bisa?! Aku calon suamimu! Aku berhak mengaturmu! Kau sudah membuatku sangat marah dan kecewa hari ini Andita! Jadi terimalah hukumanmu!"


.


.


Ojo lali readersku sayang, Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya ๐Ÿ˜๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2