
"Bukankah tadi aku sudah bertanya padamu, lalu kenapa kau masih bertanya lagi tentang tawaranku?! Jika tawaranku sudah tidak berlaku, aku tidak akan bertanya! Tugasmu hanya menjawab terima atau tidak." Ucap Zidan sarkas.
"Maaf Tuan, saat ini saya sedang kalut, jadi saya tidak bisa merespon perkataan anda dengan baik. Sa-saya menerima tawaran anda!" Jawab Andita mantap walau dengan bibir bergetar. Netranya menatap Zidan yang duduk dihadapannya.
Mendengar jawaban Andita yang sesuai dengan keinginannya, membuat hati Zidan berbunga-bunga. Rencana dari Ken ternyata berhasil. Sepertinya dia harus memberi penghargaan pada orang kepercayaannya itu.
Zidan membalas tatapan Andita. Dia bisa melihat kesedihan dimata gadis itu. Sementara Andita langsung menundukan pandangannya saat Zidan terus menatapnya.
"Apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu untuk menerima tawaran ini?"
"Ya. saya yakin Tuan! Mau tidak mau saya harus menerima tawaran anda demi Ibu saya. Saya tidak tahu harus kemana lagi mencari pertolongan. Tapi sebelumnya anda harus menepati janji anda, jika anda akan membiayai seluruh pengobatan Ibu saya sampai beliau sembuh!" Ucap Andita dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak perlu khawatir! Aku bukanlah orang yang suka ingkar janji. Tunggulah, aku akan mengambil sesuatu untukmu!" Zidan beranjak dari duduknya. Dia berjalan kearah meja kerja dan membuka tas kerjanya. Kemudian Zidan mengeluarkan map yang berisi surat perjanjian yang sudah ia siapkan untuk Andita.
Zidan kembali menghampiri Andita yang masih termangu. Netranya menatap map merah yang dipegang oleh atasannya itu.
"Ambil ini! Buka dan bacalah dengan teliti. Setelah itu kau tandatangani jika kau menyetujuinya." Titah Zidan. Zidan menyodorkan map itu kehadapan Andita.
Andita menuruti perintah Zidan. Dia membuka map tersebut.
Surat perjanjian pra nikah?
Sekilas netra Andita melirik kearah Zidan.
"Ini surat perjanjian Tuan?"
"Ya! Itu surat perjanjian bahwa nantinya kau terikat kontrak denganku! Bacalah baik-baik, jika ada yang tidak kau pahami tanyakan padaku! Setelah itu baru kau bisa ambil keputusan yang nantinya tidak boleh kau sesali setelah kau menikah denganku."
Seketika raut wajah Andita berubah menjadi pias. Baru kali ini ia dihadapkan pada surat perjanjian.Bagaimana jika nanti dirinya sampai salah mengambil langkah? Ini adalah tentang hidupnya, masa depannya. Pikiran Andita kembali kalut. Namun lagi-lagi nalurinya sebagai seorang anak yang ingin berbakti kepada ibunya juga muncul secara bersamaan.
Kata-kata dokter tentang kesehatan sang ibu terngiang-ngiang ditelinga Andita. Ah, persetan dengan hidupnya kedepan. Yang harus dipikirkannya sekarang adalah nyawa ibunya!
Andita membaca dengan seksama kata demi kata yang tertulis pada lembaran kertas itu. Pada perjanjian itu tertulis jika dia akan menjadi istri Zidan selama 3 tahun.
Apa?! 3 tahun?? Lama sekali!
"Tuan kenapa saya harus menjadi istri anda selama ini?!" Tanya Andita.
Zidan tersenyum smirk.
__ADS_1
"Apa kau pikir biaya pengobatan ibumu murah? Gajimu selama bekerja 3 tahun disini belum tentu cukup untuk mengganti uangku. Lagipula selama 3 tahun kau menjadi istriku, kau tidak akan mati. Aku akan tetap menafkahimu!" Jawab Zidan. Ia berusaha membuat Andita tidak berkutik.
Andita menarik nafas dalam-dalam. Saat ini dia tidak punya pilihan lain.
Andita kembali membaca surat itu, Zidan berjanji akan membiayai pengobatan ibunya serta mencukupi kebutuhan Andita selama menjadi istrinya. Didalam surat itu pun Zidan meminta pada Andita untuk patuh dan menjalani kewajibannya sebagai seorang istri. Jika tidak maka Andita wajib membayar denda.
Hah?! Menjalani kewajiban sebagai seorang istri? Apa itu berarti aku dan dia...
Netra Andita kembali melirik kearah Zidan.
"Tuan, boleh saya bertanya lagi?"
"Silahkan." Zidan menyandarkan tubuhnya disofa sambil menyilangkan kakinya.
"Disini tertulis jika saya harus menjalani kewajiban sebagai seorang istri, apa itu berarti saya dan anda akan berhubungan ..." Andita tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Jujur dirinya merasa malu untuk menanyakan hal itu.
Zidan yang mengerti kecemasan Andita langsung menjawabnya.
"Tentu saja kau harus berhubungan denganku! Untuk apa aku menikahimu jika aku harus mencari wanita lain diluar? Bukankah itu setimpal dengan biaya yang nantinya aku keluarkan untukmu dan keluargamu?!"
Seketika tubuh Andita membeku saat mendengar ucapan Zidan. Andita mengutuk dirinya yang sudah menanyakan hal bodoh itu.
Setelah berpikir cukup matang, tanpa keraguan Andita membubuhkan tanda tangan diatas kertas itu. Zidan tersenyum puas melihat pergerakan jemari Andita yang menandatangani surat perjanjian tersebut.
"Saya sudah setuju Tuan! Jadi bisakah sekarang anda membantu saya? Saat ini Ibu saya harus segera dioperasi." Ucap Andita.
Zidan meraih cek diatas meja yang sudah disiapkannya, lalu menuliskan nominal angka untuk Andita kemudian ia membubuhkan tanda tangannya disana.
"Ambil ini untuk biaya operasi Ibumu!" Zidan menyerahkan cek itu pada Andita. Andita meraihnya dan melihat nominal yang tertera disana.
Lima ratus juta?!
Andita menatap Zidan tidak percaya. Semudah itu ia memberikan uang sebanyak ini.
"Kenapa? Kurang?" Tanya Zidan saat melihat Andita yang nampak bingung.
"Tidak Tuan ini lebih dari cukup!"
Setelah mendapat apa yang diinginkannya, Andita segera bergegas kerumah sakit. Tidak lupa ia berterimakasih pada Zidan.
__ADS_1
******
Andita segera melangkahkan kakinya keluar gedung. Ia berencana akan kembali kerumah sakit untuk menemui Ibunya. Namun ketika Andita sedang terburu-buru seseorang memanggilnya.
"Andita!"
Andita pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Ferdy?!"
"Kau mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?! Apa kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Ferdy. Dia melihat penampilan Andita dari atas sampai bawah yang memakai baju santai.
"Hari ini aku izin Fer. Aku harus segera kerumah sakit, kondisi Ibuku tadi pagi menurun. Dan beliau harus segera dioperasi!" Tutur Andita.
"Ya Tuhan, lalu bagaimana? Apa kau sudah memiliki biayanya Ta?"
"Sudah Fer. Aku sudah dapat pinjamannya." Dusta Andita. Dia tidak mungkin mengatakan secara gamblang pada Ferdy bahwa dia sudah menukar dirinya dengan uang.
"Benarkah? Darimana Ta?"
"Dari Tuan Zidan. Aku baru saja meminjam uang darinya!"
"Tuan Zidan?!"
"Hemm." Andita mengangguk cepat. " Fer, maaf sepertinya aku tidak bisa lama. Aku harus segera kerumah sakit. Aku harus secepatnya mengurus administrasi Ibu agar Ibu bisa segera dioperasi." Ucap Andita seraya menepuk bahu Ferdy.
"Ah iya baiklah Ta. Pergilah dan hati-hati dijalan! Oh ya, atau kau mau kuantar?!" Tawar Ferdy.
"Tidak perlu Fer, terimakasih! Aku akan naik ojek saja! Lagipula kau kan juga harus bekerja!"
Ferdy nampak berpikir, sebenarnya dia tidak tega membiarkan Andita pergi sendiri, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Hemm iya kau benar juga, baiklah kalau begitu, kau hati-hati dijalan ya!" Ucap Ferdy akhirnya dengan berat hati.
.
.
Bersambung..
__ADS_1