
Davina pun menggenggam tangan David untuk menenangkannya.
"Aku disini. Jangan takut ya."
"Aku takut. Lebih baik aku mati daripada kamu ninggalin aku."
"Heh! Jangan bicara seperti itu." ucap Davina lembut.
"Davina, aku tahu aku salah. Tapi semua itu aku lakukan karena aku suka. Eh? Enggak, maksudnya karena aku cinta sama kamu. Aku bakal lakuin apapun yang kamu minta?"
"Apapun?"
"Iya, apapun."
Davina memincingkan matanya menatap curiga ke arah David dan memandang gerakan dari mukanya David yang semakin bicara semakin terdengar palsu. Tidak seperti orang yang sedang mengigau.
"Kalau aku minta kamu bangun sekarang apa kamu bisa?" pinta Davina.
"Bisa." sahut David secepat kilat.
"Ya sudah, buktikan sekarang." seru Davina menahan kesal.
David pun langsung membuka matanya dan tersenyum manis kepada Davina.
"Aku rasa kamu sudah sembuh. Jadi aku akan pulang sekarang." seru Davina. Kemudian melangkah pergi meninggalkan David dan keluar dari kamar.
"Benar - benar ya si Kancil ini! Ternyata aku di kerjain. Jangan - jangan semalam juga dia udah bohongin aku." omel Davina di dalam hati sambil berjalan menuju ke arah ruang tamu.
"Ve, ayo cabut sekarang!" Ajak Davina lalu langsung menarik tangan Venus dengan cepat.
"Kenapa buru - buru, Na? Emang tadi kamu sudah ngomong sama David?"
"Sudah. Jangan bicara tentang dia lagi! Males aku." jawab Davina jutek.
David yang barusan keluar dari kamar tidurnya mengacak rambutnya. Ia gagal mengejar Davina tadi karena Davina mengunci kamarnya dari luar. Beruntung pintu otomatisnya bisa langsung terbuka dengan kode password. Tapi kecepatan tangannya kurang cepat saat membobol password pintu karena ia lupa - lupa ingat dengan kode password-nya.
__ADS_1
"Lama sekali lo datang kemari?" protes David. Padahal sudah sepuluh menit dari waktu tadi saat ia mematikan panggilan teleponnya.
"Ada apa, Bos?" tanya Daffa.
"Panasin mobil. Dan kita langsung kerumahnya Davina sekarang!" Perintah David dengan nada suara yang sedikit kesal.
"Sekarang? Emang lo udah sehat?" tanya Daffa.
"Badan gue udah sehat. Tapi hati gue sakit lagi!" Jawab David kesal.
"Kenapa lagi? Bukannya kemarin lo lagi usaha buat jinakin si Siput lo itu ya?" tanya Daffa kembali.
"Gue ketahuan tadi. Ternyata dia itu si siput yang pintar, Daffa. Sudah cepat, lakukan yang gue minta!"
"Iya!"
Saa Daffa akan memasuki mobil untuk memanasi mobil. Tiba- tiba dari belakang terdengar suara yang memanggil namanya.
"Bibi?"
"Daffa, apa David ada di dalam?" tanya Mami Karina
"Iya, Bibi."
"Kalau begitu Bibi ingin berbicara denganmu sebentar."
Daffa menganggukkan kepalanya. Ibu dari temannya itu mengajaknya berbicara di area taman belakang.
Dari nada suara Karina tadi, Daffa bisa menebak kalau yang akan di bicarakan oleh Karina pasti suatu hal yang penting.
Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba menjadi panas dingin, biasanya kalau ia merasakan hal yang seperti ini pasti karena ada masalah yang besar akan menimpa dirinya.
"Bibi, kecewa padamu, Daffa." ucapnya.
Daffa pun bisa melihat dengan jelas raut wajah yang kecewa tersirat di wajah Karina.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bibi." ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
Tak perlu ia tanya apa kesalahannya karena ia sudah menebaknya. Pasti ibu dari temannya itu sudah mengetahui apa yang telah terjadi antara putra dan menantunya.
"Bibi tidak membutuhkan permintaan maafmu, Daffa."
"Apa artinya Bibi Karina gak mau maafin gue? Mati gue kalau begitu!" Keluhnya di dalam hati.
"Jadi Bibi Karina ingin aku melakukan apa?" tanya Daffa sambil menatap Karina.
***
"Ve, kenapa kamu diam saja sedari tadi? Katanya kamu tadi mau curhat sama aku?" tanya Davina sesaat mereka masuk kedalam Taxi.
Venus meremas tangannya, sambil melihat kedepannya, ia takut supir taksi bisa mendengar pembicaraan mereka. Kan malu kalau sampai supir taksi itu mendengar curhatan antar wanita.
"Ehm, nanti saja. Tunggu kita sampai di rumah kamu ya, Na. By the way, aku mau nginap lagi di rumah kamu boleh, Na? Besok kan weekend, aku malas sendirian di rumah soalnya Ayah dan Ibuku hari Senin baru balik kesini."
"Ya sudah boleh,"
Setelah jawaban itu keluar dari mulut Davina, suasana di antara mereka pun hening seketika karena berfokus pada pikiran masing-masing.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1