MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Percaya Padaku


__ADS_3

Zidan menarik Andita hingga keruangannya. Diikuti oleh Ken yang membawa barang milik Andita. Setelah mengantar Tuannya dan menaruh barang-barang Andita didalam, Ken pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sepanjang jalan menuju ruang kerjanya lelaki itu mendesah. Pagi ini dia benar-benar sudah dibuat pusing oleh kedatangan Rachel yang tiba-tiba datang kekantor.


Kalau sudah begini, bisa dipastikan Zidan kehilangan moodnya untuk bekerja, dan semua tugas kantor akan beralih padanya. Apalagi masalah Zidan dengan Tuan Wildan pun belum selesai.


Sejak meninggalkan kediaman Tuan Wildan semalam, mereka berdua tidak bisa tidur karena terus memikirkan rencana apa yang akan dilakukan Tuan Wildan pada Andita.


Tentu Tuan Wildan tidak akan tinggal diam dan melepaskan Andita begitu saja. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk memisahkan gadis itu dari Zidan. Beruntung malam itu Ken tidak memberitahu tentang idenya pada Tuan Wildan. Karena Tuan Wildan hanya menanyakan latar belakang Andita, dan Ken memberitahu apa yang dia ketahui.


******


"Duduklah!" Titah Zidan.


Andita masih mematung. Sementara Zidan berjalan menaruh tas kerjanya diatas meja. Kemudian kembali berbalik.


"Apa kau tidak dengar?!"


Jujur saja Zidan masih sangat emosi karena kedatangan Rachel barusan. Hingga nada bicaranya terdengar ketus.


Andita tidak bergeming. Kedua tangannya disamping saling meremas jemarinya. Kepalanya menunduk. Hari ini dirinya benar-benar kacau.


Zidan mendesah. Ia berjalan mendekati Andita. Lalu merangkul kedua bahu gadis itu dan membawanya duduk disofa. Sementara Zidan duduk berlutut dihadapan Andita.


"Apa yang Rachel lakukan padamu?!" Tanya Zidan sembari meraih dagu Andita. Suaranya melembut.


Kini manik mata kedua insan itu saling bertemu. Netra Andita sudah berkaca-kaca. Satu kali kedipan saja sudah bisa dipastikan airmatanya akan jatuh.


"Tuan, apa benar yang dikatakan Rachel bahwa saya merebut anda darinya?!" Andita balik bertanya. Bibirnya bergetar. Sedari tadi ia memikirkan ucapan Rachel yang menuding dirinya merebut Zidan.


"Merebut? Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu padamu? Sementara kami saja tidak memiliki hubungan apapun sebelumnya?! Asal kau tahu, aku menolaknya sejak awal perjodohan. Dia saja yang terlalu percaya diri untuk menjadi bagian hidupku!" Jawab Zidan.


Andita menatap mata Zidan lekat-lekat mencoba mencari kebohongan disana namun nihil. Lelaki itu berkata jujur.


"Kau tidak percaya padaku?"

__ADS_1


Andita terdiam. Airmatanya sudah jatuh membasahi pipi.


Zidan mengusapnya dengan lembut.


"Aku berkata jujur. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Rachel. Kau sama sekali tidak merebutku! Jangan pernah berpikiran macam-macam, okey!"


"Saya percaya pada anda Tuan. Tapi ada satu hal yang ingin saya beritahukan pada anda."


"Apa?"


Sejenak Andita menghela nafas. Ia sedang merangkai kata untuk mengatakan tentang hubungannya dengan Dirga dan keluarga Tuan Reyhan dimasa lalu, agar nantinya tidak terjadi salah paham.


"Rachel adalah kakak perempuan dari mantan kekasih saya Dirga, dan Dirga adalah putra dari Tuan Reyhan. Hubungan saya dan keluarga Dirga tidak terlalu baik. Entah mengapa mereka selalu membenci saya. Awalnya saya tidak menyangka, jika gadis yang dijodohkan Ayah anda adalah Rachel. Ini suatu kebetulan yang tidak saya duga. Saya merasa ..."


"Ssstt!" Tiba-tiba Zidan menaruh telunjuknya didepan bibir Andita. Seolah tahu apa yang akan dikatakan gadis itu.


"Aku sudah tahu segalanya! Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Aku juga tidak merasa keberatan, jika kau ingin memanfaatkanku untuk membalas semua perbuatan yang telah Dirga dan keluarganya lakukan kepadamu."


Seketika Andita terhenyak mendengar ucapan Zidan.


"Itu tidak penting! Yang penting sekarang kau sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan lelaki itu maupun keluarganya." Zidan menggenggam kedua tangan Andita. Andita tertegun.


"Pipimu memar? Apa tadi Rachel menamparmu?" Zidan bertanya sembari memegang pipi Andita. Nada suaranya mengintimidasi.


Sontak Andita terkesiap. Sentuhan tangan Zidan diwajahnya membuat darahnya berdesir. Ini memang bukan kali pertama Zidan menyentuh wajahnya. Pria itu bahkan sudah merampas ciuman pertama darinya.


Ya, meskipun Andita dan Dirga menjalin hubungan asmara selama empat tahun, namun Andita belum pernah berciuman dengan Dirga. Ditambah lagi mereka menjalani berhubungan jarak jauh. Palingan jika bertemu, mereka hanya saling berpegangan tangan.


"Ti-tidak Tuan. Rachel tidak menampar saya!"


"Kau bohong!" Zidan menahan geram. Sorot matanya berubah dingin.


"Sungguh Tuan! Lagipula untuk apa anda memperhatikan pipi saya, jika pipi anda sendiri saja juga memar?! Apakah anda habis berkelahi?!" Refleks tangan Andita menyentuh pipi kiri Zidan. Kini Zidan yang terkesiap oleh tindakan Andita, ketika tangan lembut itu menyentuh wajahnya.


Melihat ekspresi Zidan yang terkejut, Andita merasa malu karena sudah lancang menyentuh pipinya tanpa izin. Ia pun menarik tangannya kembali namun Zidan menahannya. Kini tangan kokoh Zidan yang lain menangkup rahang Andita.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa! Apa kau mengkhawatirkanku?!"


Andita terdiam tidak menjawab. Ia menundukan pandangannya malu sembari menggigit bibir bawahnya.


Tiba-tiba, Zidan mencondongkan tubuh dan wajahnya pada wajah Andita. Deru nafasnya memburu. Bibir ranum itu seolah menjadi candu baginya. Andita berusaha menarik kepalanya mundur agar wajahnya menjauh dari wajah Zidan, namun Zidan menahan ceruk lehernya.


Tidak butuh waktu lama bibir kedua insan itu pun saling bersentuhan. Andita membelalakkan matanya, kala Zidan mulai menghisap kecil bibir mungilnya itu. Andita masih terus berusaha menjauh tapi sekarang kedua tangan Zidan sudah menguasai tubuhnya.


Zidan memeluknya dengan sangat erat tanpa melepas pagutannya. Kini posisi Zidan sudah berpindah duduk disofa. Zidan terus memainkan bibir dan lidahnya mencecapi rasa manis pada bibir Andita. Sesekali ia menggigit bibir gadis itu agar Andita membuka mulutnya.


Lama kelamaan pertahanan Andita pun runtuh. Akal sehatnya kalah dengan desakan nafsu yang tiba-tiba hadir. Andita mulai membalas ciuman Zidan. Disela ciumannya Zidan tersenyum karena Andita menyambutnya.


Zidan begitu lihai memainkan lidahnya, mengeksplor bagian terdalam rongga mulut Andita. Sehingga Andita sedikit kewalahan dengan permainan lidah lelaki itu.


Tidak hanya bibir Andita yang menjadi sasaran Zidan. Ciuman panas Zidan mulai merambah keleher jenjang Andita. Ia menenggelamkan kepalanya disana. Menciuminya dengan begitu bernafsu. Aroma harum tubuh Andita yang menguar diindera penciumannya, semakin membangkitkan gairah kelelakiannya yang menggebu.


Ciuman panas itu berlangsung cukup lama, membuat Andita merasa tidak sanggup lagi melayani Zidan. Dirinya seolah-olah akan kehabisan nafas. Ia berusaha melepaskan diri dari Zidan. Melihat Andita yang mulai gelagapan, Zidan pun melepaskan pagutannya. Lelaki itu tersenyum melihat Andita yang terengah-engah.


"Kali ini kau kulepaskan! Tapi lain kali tidak! Kau harus mulai belajar mengambil nafas ketika berciuman denganku. Karena lain kali aku tidak akan semudah itu melepaskanmu!" Zidan mengusap bibir Andita yang bengkak karena ulahnya.


Andita mendeliki Zidan.


Apa lelaki ini sudah gila!


"Baiklah, sekarang aku harus pergi meeting dengan klien. Kau bisa bekerja diruanganku! Setelah semua pekerjaanku selesai, kita akan kerumahmu untuk meminta restu pada Ibu, kau mengerti!"


Zidan berbicara sambil mengusap pipi Andita. Untuk kesekian kalinya Andita merasakan jantungnya seolah akan copot dari tempatnya karena semua tindakan manis Zidan padanya.


"I-iya Tuan, saya mengerti!"


"Bagus!" Zidan mengacak-acak pelan rambut Andita. Kemudian ia berdiri, lalu mengecup pucuk kepala gadis itu secara tiba-tiba. Dan segera berlalu dari sana, meninggalkan Andita yang masih syock dengan wajahnya yang memerah.


.


.

__ADS_1


__ADS_2