MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Syuting Drama Dadakan


__ADS_3

"Beneran dong, Mi. Apa Mami gak lihat tampang aku yang udah kusut dan mirip kayak gembel begini? Dan aku berani bersumpah kalau aku nggak bohong sama Mami tentang perasaanku pada Davina." ucap David dengan serius sambil mengangkat jari telunjuknya dan jari tengahnya bersamaan.


"Tapi pacar kamu yang bule itu bagaimana? Siapa sih namanya kemarin? Laksa? Atau Bolesa?" tanya Karina yang lupa dengan nama perempuan yang dekat dengan Putranya itu.


"Namanya Alexa, Mi. Lagian aku itu udah putus beberapa minggu yang lalu."


"Serius, udah putus? Kamu beneran gak lagi bohongin Mami, kan?"


"Serius. Aku lagi gak bohong.Aku berani bersumpah ke sambar geledek kalau berani berbohong sama Mami."


"Ya sudah kalau kamu ketahuan bohong, kamu langsung cerai aja sama Davina dan habis cerai dari kamu, Mami akan nikahkan Davina dengan Alvin."


Sedangkan David di buat melongo mendengar ucapan dari Maminya.


"Apa? Mami mau menikah Alvin dengan Davina? Cih?! Jangan bermimpi. Lewatin mayatku dulu." ucap David di dalam hati.


Setelah pembicaraan tadi, Karina kini sedang menghubungi asistennya untuk mencari kru dan tim yang biasa di pakai untuk main film. Anggap saja sekarang mereka sedang akting untuk persiapan syuting drama dadakan.


Tak berapa lama kemudian, Karina pun sudah mendapatkan kru dan tim yang akan membantu David untuk mempersiapkan semuanya.


Sekitar 30 menit berlalu kru dan tim yang mereka mintai bantuannya sudah datang kerumahnya David.


Setelah mengutarakan dengan jelas apa yang mereka ingin mereka lakukan pada tim dan kru itu. David pun langsung memberikan kunci mobilnya untuk di buat hancur agar terlihat seperti kecelakaan sungguhan.


Sekarang mereka bertiga sedang berada di dalam rumah sakit yang biasa di sewa oleh pemain film.


Dari kru mereka ada yang berperan sebagai dokter, suster, pasien dan beberapa pegawai rumah sakit.


Setelah di rasa semua kru dan tim sudah cukup orang dan sempurna. Mereka mulai menjalankan rencana mereka.


"Daffa, ingatkan tugas kamu itu apa?" tanya Karina.


"Ingat dong, Bibi. Tenang saja, aku juga bisa akting kok,"


Sedangkan David kini sudah di rias seperti seseorang yang habis mengalami kecelakaan sungguhan. Dengan kepala yang di perban, dandanan bekas jahitan di pelipis dan wajah David yang di rias sepucat mungkin untuk meyakinkan Davina bahwa David beneran sedang sakit.


"Wah, sekarang lo itu udah kelihatan seperti orang yang sedang sekarat, Bro." ledek Daffa


"Sialan lo! Nanti tunggu giliran lo yang bucin baru tahu."


"Sorry ya. Gue pastikan nggak bakalan pernah seperti lo begini."


"Karma itu bakal ada nanti. Gak usah ngeledekin gue!"Desis David.

__ADS_1


Setelah Karina sudah memastikan semuanya bahwa tidak ada hal yang akan membuat Davina curiga. Karina pun kembali ke ruangan yang akan menjadi ruang rawat inap David. Dan Karina pun memerhatikan dandanan David dari atas sampai bawah.


"Bagaimana, Mi? Sudah oke dan meyakinkan belum nih?" tanya David memastikan.


"Hm, kalau menurut Mami sepertinya masih ada yang kurang," ujar Karina sambil memegang dagunya.


"Apa yang kurang, Mi. Kalau begitu cepat suruh mereka untuk memperbaikinya sekarang." ucap David cepat.


"Tampangmu itu yang masih kurang meyakinkan!"


"Astaga Mami, aku juga belum memulai aktingnya. Oh ya, mobilku bagaimana kabarnya,Mi? Apakah beneran hancur?"


"Belum hancur sih, karena kalau Mami sih pengennya di hancurin aja, tapi nanti bisa membuat Davina curiga. Kalau Davina melihat mobil kamu hancur banget kan harusnya hasilnya kamu mati dong dan bukannya sekarat."


"Tega banget sih Mami ngomong kayak begitu sama anak sendiri." tukas David.


"Bukan masalah tega atau enggaknya. Tapi, yang Mami bicarakan itu fakta atau biasa di sebut dengan kenyataan." ucap Karina. "Sudah dulu ya, sayang. Karena Mami harus pergi dulu ke arisan. Bye..." lanjutnya berjalan meninggalkan David.


"Eh, tunggu dulu, Mi!" Teriak David agar Ibunya itu berhenti.


"Ada apalagi?" tanya Karina sambil mengangkat alisnya. "Jangan bilang kamu gugup dan tidak bisa akting?" lanjut Karina dengan nada meledek.


"Ya ampun. Tambah sakit hatiku ini saat di hina oleh Mami begitu."


"Seharusnya Mami tunggu di sini juga. Biar akting kita semakin meyakinkan."


Karina pun berpikir sejenak kemudian dia pun menyetujui permintaan dari putranya itu. Mungkin saja dengan kehadiran dirinya bisa membuat menantunya tambah yakin. Dan ya, sepertinya dia juga harus mengasah kemampuan aktingnya lagi.


"Ok, tapi sebentar saja, ya. Karena Mami harus pergi arisan. Masalahnya ini adalah arisan berlian limited edition. Dan kamu saja mungkin belum tentu bisa buat beliin berlian itu untuk Mami."


"Ya, sebentar saja Mami di sini. Terima kasih ya, Mami udah mau bantuin aku." ujar David seraya memeluk Karina.


"Mami itu memang paling bes. I love you to moon and back mom."


"Mom love you to. Good luck ya."


Daffa yang melihat adegan ibu dan anak itu hanya bisa meratapi nasibnya saja. Ia mendadak sedih dan teringat Maminya yang jarang pulang ke kota K.


Tapi Daffa tersentak kaget saat merasakan sentuhan di pundaknya.


Karina pun dapat melihat raut wajah kesedihan saat Daffa melihat interaksi dirinya dengan David.


Ya, Karina juga sangat mengenal kedua orang tuanya Daffa yang sedari dulu selalu sibuk bekerja sampai tidak terlalu memperhatikan Daffa.

__ADS_1


"Daffa, kamu sudah siap mau menikah belum?" tanya Karina tiba - tiba.


"Eh? Menikah? Belum, Bibi." jawab Daffa dengan wajah yang memerah menahan malu.


Ya, pertanyaan seperti ini sudah sering kali Daffa dapatkan jika ada pertemuan dengan keluarga besar. Tapi tetap saja jika di lontarkan pertanyaan yang seperti ini membuatnya tidak nyaman.


"Kenapa belum? Nanti keburu tua loh?"


"Karena dia belum ada pasangan yang cocok,Mi." sambung David.


"Kamu diam saja David! Jangan banyak ngomong! Nanti make up-nya luntur!"


"Kalau luntur berarti bedaknya yang murahan atau make up artisnya yang nggak becus, Mi."


"Kamu belum ada calon buat di ajak nikah, Daff? Atau mau Bibi Karina carikan? Kalau kamu mau, anak dari teman - teman Bibi yang ikut arisan mau Bibi kenalkan ke kamu, Daffa?" tawar Karina dan mengabaikan ucapan dari David.


"Cantik dan seksi nggak orangnya, Bi?"


"Cantik, seksi, pinter dan kaya raya."


"Wow! Serius, Bi? Tapi kenapa Bibi Karina nggak jodohin David sama anaknya temannya Bibi yang paketnya udah lengkap itu?"


"Woi, lo jangan ngomongin gue." desis David.


"Kenapa kamu nyambung terus sih, David? Mami kan lagi ngomong sama Daffa." desis Karina.


"Iya, iya, Mi. Aku bakalan diam aja. Tapi Mami jangan bahas masa lalu dengan Daffa."


"David nggak mau, kata dia mereka bukan tipenya." jawab Karina dan lagi - lagi tidak menjawab ucapan dari David.


"Kenapa begitu, Bibi?" tanya Daffa penasaran.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2