MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Kesedihan


__ADS_3

Sejak pagi hingga siang ini Andita tidak beranjak dari kursinya. Andita duduk dengan setia disamping brangkar Zidan.


Tangannya menggenggam erat tangan Zidan, kepalanya ia sandarkan miring diatasnya.


Buliran bening tak henti-hentinya keluar dari pelupuk mata Andita. Bibirnya terus bergumam kecil meminta pada sang suami untuk membuka mata.


Sudah tiga hari ini Andita seperti itu. Sejak Andita sadarkan diri dia begitu syock mendengar kabar jika Zidan mengalami koma. Jiwanya seolah direnggut paksa dari raganya.


Andita seperti orang linglung yang tak memiliki arah dan tujuan. Wajahnya terlihat pucat. Matanya sembab karena terus menangis.


Ia sama sekali tidak mau meninggalkan Zidan barang sedetikpun diruangan itu.


Pada titik ini Andita merasakan ketakutan yang amat sangat dalam. Andita takut jika Zidan tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya seorang diri. Membayangkannya saja Andita tidak sanggup.


Andita jadi teringat bagaimana dulu Zidan begitu marah padanya ketika dia ditawarkan surat perjanjian oleh ayah mertuanya yang memintanya pergi dari hidup Zidan.


Mungkin ketakutan yang Zidan rasakan pada saat itu sama persis seperti apa yang Andita rasakan sekarang. Sama-sama takut kehilangan orang yang dicintainya.


Andita benar-benar menyesali perbuatannya yang tidak memikirkan perasaan Zidan kala itu.


Andai waktu bisa diputar kembali dia akan memperjuangkan cintanya seperti lelaki yang tengah terbaring lemah dihadapannya saat ini.


Nazwa yang sedari tadi berdiri didepan pintu kamar sangat sedih melihat kondisi sang kakak yang begitu memprihatinkan.


Tadinya dia berniat ingin mengajak Andita untuk makan karena sejak pagi kakaknya itu belum makan apapun sama sekali.


Tapi malah pemandangan menyedihkan seperti ini yang ia lihat. Nazwa mengerti pasti Andita begitu terpukul dengan keadaan kakak iparnya. Tapi dia juga tidak tega jika Andita menyiksa dirinya sendiri.


Nawza menghapus airmatanya, perlahan ia mendekati Andita dan mencoba membujuknya.


"Kak, aku membawakan makanan untukmu! Makanlah dulu. Sejak pagi kau belum makan apapun. Kami semua khawatir jika nanti kau akan sakit."


Andita mengangkat kepala sambil mengusap airmatanya. Pandangannya lurus menatap Zidan.


"Bagaimana aku bisa makan Naz, sementara suamiku belum juga membuka mata?" Lirih Andita.


Ucapan Andita membuat Nazwa ikut merasakan sesak dihatinya. Namun ia tidak boleh terpancing dengan kesedihan Andita. Saat ini Andita tengah membutuhkan seseorang untuk menguatkannya.

__ADS_1


Nazwa berjongkok dihadapan Andita. Ia menatap wajah sang kakak lamat-lamat.


"Kak, bukankah kau mencintai kakak ipar? Kakak ipar juga sangat mencintaimu. Jika dia tahu kau tidak makan, dia pasti akan marah. Kau pernah melihatnya marah bukan? Bahkan kau pernah bercerita sebelum kalian menikah kakak ipar begitu mengkhawatirkanmu ketika kau sakit."


Andita terdiam. Tentu saja ia mengingat semuanya. Tapi saat ini dirinya benar-benar tidak ingin makan. Yang Andita inginkan hanyalah Zidan membuka matanya. Tersenyum dan menatapnya penuh cinta.


Andita merindukan semua yang ada pada diri Zidan. Tanpa terasa air mata Andita kembali berderai. Dadanya terasa sesak. Ternggorokannya tercekat.


"Apa Zidan akan sadar Naz?" Tanya Andita dengan bibir bergetar.


Nazwa menggengam tangan Andita dengan erat.


"Tentu saja! Bukankah Kakak ipar adalah orang yang hebat dan berani? Mana mungkin Kakak ipar akan menyerah begitu saja?! Saat ini dia sedang berjuang untukmu Kak. Dia butuh semangat darimu. Bagaimana kau akan menyemangati Kakak ipar jika kau sendiri terlihat lemah. Kakak ipar pasti sedih jika melihatmu seperti ini."


Kepala Andita tertunduk. Ia mengatupkan kedua tangan diwajahnya. Tubuhnya bergetar menahan tangis.


"Harusnya aku yang terbaring disini Naz, bukan Zidan!" Ucap Andita lirih.


Nazwa segera membawa tubuh Andita kedalam pelukannya.


Nazwa mengusap lembut punggung Andita. Tidak lama terdengar suara seseorang dari belakang.


"Maaf Nona jika saya menggangu waktu anda. Tuan Besar ingin bicara dengan anda diluar."


******


Saat ini Andita dan Tuan Wildan tengah duduk bersama di taman belakang rumah sakit. Mereka duduk bersebelahan.


Nazwa sudah pulang karena harus menemani ibunya dirumah. Sementara Ken menemani Zidan diruang perawatan.


Andita dan Tuan Wildan sama-sama terdiam. Belum ada yang memulai pembicaraan diantara mereka.


Jika dipikir, ini kedua kalinya mereka kembali duduk bersama setelah sebelumnya sempat bersitegang. Namun kali ini mereka bertemu dalam situasi yang berbeda.


Tuan Wildan nampak canggung. Ia merasa malu walau hanya untuk sekedar minta maaf pada menantunya.


Selama ini dia sudah termakan hasutan Tuan Reyhan. Dia mengira jika Ayah Andita adalah seorang pengkhianat yang ingin mencari keuntungan sendiri.

__ADS_1


Padahal pengkhianat sesungguhnya adalah orang yang selama ini menghasutnya yaitu Tuan Reyhan.


Bahkan Tuan Wildan ingin menjodohkan putri dari penghasut itu dengan putranya, Zidan. Seandainya itu terjadi, pasti hidup Zidan akan lebih hancur.


Karena Tuan Wildan tidak membuka suara juga akhirnya Andita yang bertanya.


"Tuan, sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan? Apa kita akan terus diam seperti ini?"


Pertanyaan Andita membuyarkan lamunan Tuan Wildan. Lelaki paruh baya itu tersenyum kaku.


"Entah aku harus memulai darimana Andita. Rasanya begitu malu jika aku tiba-tiba meminta maaf tanpa menebus kesalahanku terlebih dulu padamu. Aku baru menyadari jika aku bukanlah Ayah dan mertua yang baik untuk putra dan menantuku. Selama ini aku telah keliru dalam menilai seseorang. Aku..."


Tuan Wildan terdiam sejenak. Kemudian ia menghela nafas.


"Aku sungguh merasa bersalah padamu. Aku tidak akan memintamu untuk memaafkanku karena aku tahu kau pasti masih sakit hati atas ucapan dan perbuatanku waktu itu. Tapi aku mohon Andita, tetaplah disisi Zidan. Dia membutuhkanmu."


Andita tertegun mendengar ucapan Tuan Wildan. Ia masih ingat betul bagaimana dulu ayah mertuanya itu memintanya untuk pergi dari Zidan. Tapi sekarang dia memohon agar dirinya tetap berada disisi putranya.


Andita tersenyum getir. Pandangannya lurus kedepan.


"Tuan, anda tidak perlu berkata seperti itu. Karena sejatinya manusia adalah tempatnya salah. Wajar jika anda keliru dalam menilai seseorang. Saya sama sekali tidak menyalahkan anda."


"Dan.. Jika tentang Zidan, anda tidak perlu khawatir hingga memohon pada saya agar saya tetap berada disisinya. Karena tanpa anda meminta pun saya akan terus mendampingi Zidan bagaimanapun keadaannya nanti. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya waktu itu. Karena saya sadar saya dan Zidan saling mencintai."


Tuan Wildan merasa sangat lega dengan jawaban Andita. Sekarang sudah tidak ada lagi rasa khawatir dihatinya untuk melepas putra semata wayangnya itu.


Karena putranya telah memilih pendamping yang tepat.


"Aku bersyukur Zidan memilihmu. Mulai sekarang jangan panggil aku tuan lagi. Panggil aku Ayah sama seperti Zidan memanggilku."


Andita menoleh pada Tuan Wildan. Ia menatap lelaki paruh baya itu lamat-lamat.


"Ayah."


.


.

__ADS_1


__ADS_2