MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Akhirnya Dia Datang Padaku


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Andita dikejutkan dengan kondisi ibu yang kian menurun. Dokter menyarankan agar secepatnya pasien melakukan transplantasi ginjal karena sudah terjadi penumpukan racun didalam tubuhnya. Jika tidak, nyawa ibunya dalam bahaya.


Andita benar-benar kalut. Dia segera menghubungi Nazwa agar menemani ibunya dirumah sakit, sementara dirinya akan pergi kekantor untuk menemui Zidan. Dia sudah memutuskan akan menerima tawaran Zidan. Ia tidak peduli jika nanti akan banyak orang yang mencibirnya karena menikahi Zidan. Saat ini yang ada dipikiran Andita hanyalah menyelamatkan nyawa ibunya.


Kini Andita sudah berada didepan ruangan Zidan. Jam masih menunjukan pukul 7.15 pagi. Kondisi kantor masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa OG dan OB yang sibuk wara-wiri membersihkan setiap sudut ruang perusahaan. Andita terlihat mondar-mandir sambil menggigit jarinya.


Astaga, kenapa disaat seperti ini Tuan Zidan belum datang?!


Andita merasa gemas sendiri. Perasaannya campur aduk antara panik, takut, dan kesal. Andita ingin sekali menghubungi Zidan namun dirinya tidak memiliki nomor ponsel lelaki itu. Hanya beberapa staff penting saja yang berhubungan langsung dengan Zidan yang memiliki nomornya. Andita tidak mungkin menanyakan pada staff kepala divisi, karena ia takut akan jadi berita heboh satu kantor.


Pasti semua orang akan bertanya-tanya untuk apa dirinya meminta nomor presdir mereka. Tiba-tiba Andita teringat Ken. Mungkin jika ia menghubungi Ken, semua orang tidak akan curiga. Akhirnya Andita memberanikan diri menghubungi orang kepercayaan atasannya itu. Kebetulan Andita memiliki nomornya.


Tuttt...tuuttt...


Panggilan tersambung, tapi tidak ada tanda-tanda diangkat oleh si pemilik nomor. Andita merasa frustasi,kemudian ia mencobanya lagi hingga akhirnya pada sambungan yang ketiga seseorang diseberang sana menjawab teleponnya.


"Hallo, siapa ini?!" Suara bariton terdengar menjawab telepon Andita.


Andita mengucap syukur akhirnya Ken menjawab teleponnya.


"Ha-hallo, Tu-tuan Ken, ini saya Andita!" Jawab Andita terbata-bata.


"Oh kau, ada apa?"


"Maaf Tuan jika saya mengganggu waktu anda. Saya ingin bertanya apakah Tuan Zidan sedang bersama anda?"


"Ya. Kenapa? Apa semua baik-baik saja?"


Zidan yang memang sedang bersama Ken didalam mobil menuju perusahaannya, sekilas melirik kearah asistennya itu.


"Saya ingin minta tolong pada anda Tuan, tolong berikan ponsel anda pada Tuan Zidan, saya ingin berbicara langsung karena ini sangat penting!" Ucap Andita dengan suara bergetar.


Ken melirik Zidan dari kaca spion tengah yang juga sedang melihat kearahnya.


"Baiklah.Tunggu sebentar!" Ken menyerahkan ponselnya pada Zidan.

__ADS_1


"Tuan, Andita ingin berbicara dengan anda!" Tentu Zidan sangat senang menerimanya. Dia yakin pasti Andita akan memberi jawaban yang ia harapkan.


"Hallo?" Sapa Zidan, sebisa mungkin ia mendatarkan suaranya.


"Ha-hallo Tuan. Tuan sepertinya saat ini saya butuh bantuan anda!" Andita tidak bisa lagi menahan tangisnya ketika mendengar suara Zidan.


"Hey, kau menangis? Tenanglah, katakan pelan-pelan ada apa?" Meskipun Zidan senang Andita menghubunginya tapi dia tidak bisa mendengar Andita menangis.


"I-ibu saya harus segera dioperasi Tuan! Saya benar-benar butuh bantuan anda! Saya tidak tahu harus minta tolong kemana lagi!" Ucap Andita ditengah isaknya.


"Kau dimana sekarang?" Tanya Zidan.


"Sa-saya sudah dikantor Tuan. Saya menunggu anda sejak tadi. Saya pikir anda sudah datang."


"Jangan menangis! Tunggulah sebentar lagi. Aku akan segera sampai."


"Baik, Tuan!"


Setelah sambungan telepon terputus Zidan langsung mengembalikan ponsel Ken.


"Huh! Kondisi Ibu Andita memburuk. Beliau harus segera dioperasi. Mungkin saat ini Andita sedang sangat kebingungan maka dari itu dia menangis." Zidan mendesah. Membayangkan Andita menangis membuat dadanya ikut berdenyut nyeri.


"Kau tahu Ken, aku tidak bisa melihat atau mendengarnya menangis! Karena itu membuatku merasa sesak." Sambung Zidan.


"Apa sedalam itukah perasaan anda padanya, Tuan? Sehingga hati anda ikut merasakan apa yang dia rasakan?" Tanya Ken.


"Ya, aku rasa begitu." Zidan melempar pandangannya keluar jendela. " Percepat laju mobilnya agar kita segera sampai!"


******


Dengan langkah cepat Zidan berjalan memasuki lobby perusahaan. Lelaki itu segera masuk menaiki lift pribadinya lalu menekan tombol menuju ruangannya.


Ken sampai terperangah melihat tingkah Zidan, karena jika ia sedang bersamanya Zidak tidak pernah menekan tombol lift lebih dulu. Apalagi saat ini Zidan terlihat begitu panik dan cemas. Seketika Ken langsung mengingat terakhir kali Zidan seperti ini ketika Zoya sedang sakit. Mungkin perasaan Zidan sekarang pada Andita bisa melebihi perasaan Zidan pada Zoya.


Tingg..

__ADS_1


Lift terbuka, Zidan berjalan setengah berlari mendahului Ken. Netranya langsung tertuju pada Andita yang tengah berdiri didepan ruangannya, sambil menunduk dengan kedua tangan bersedekap. Satu kaki Andita menendang pelan udara dihadapannya.


Zidan tahu pasti saat ini Andita sedang sangat sedih dengan kondisi ibunya. Ingin sekali rasanya Zidan berlari dan memeluk tubuh gadis itu. Namun dia harus tetap bersikap normal mengingat saat ini mereka sedang berada dikantor. Zidan tidak ingin membuat Andita merasa tidak nyaman.


Zidan mulai memperlambat langkahnya menuju kearah Andita.


"Sudah lama menungguku?!" Tanya Zidan.


Andita menengadahkan pandangannya pada Zidan. Ini kesekian kalinya ia terlihat menyedihkan dihadapan atasannya itu. Andita langsung menegakkan tubuhnya sebisa mungkin ia tersenyum walau berat.


"Masuklah!" Titah Zidan setelah Ken membukakan pintu.


Andita pun masuk kemudian disusul oleh Zidan. Sementara Ken langsung pergi keruangannya.


Setelah Zidan menaruh tasnya diatas meja kerja, ia menyuruh Andita untuk duduk disofa. Kemudian Zidan pun mendudukan dirinya disana. Mereka berdua kini duduk saling berhadap-hadapan.


"Jadi bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" Tanya Zidan datar. Ia menatap gadis dihadapannya lekat-lekat.


Andita terdiam, ia hanya bisa menundukkan kepala dan menggigit bibirnya. Kedua telapak tangannya saling bertautan dan saling meremas. Jika ia menerima tawaran Zidan, harga dirinya sudah tidak ada lagi. Ia menyerahkan dirinya karena uang, dan uang itu untuk biaya pengobatan ibunya.


"Apa kau akan terus diam seperti ini?!"


"Sa-saya.."


"Baiklah jika saat ini kau tidak bisa bicara. Tenangkan saja dulu dirimu, baru kembali datang padaku!" Zidan hendak bangkit dari duduknya tiba-tiba Andita menghentikannya.


"Maafkan saya Tuan! Saya hanya bingung harus memulai darimana. Tujuan saya menemui anda karena saya sangat butuh pertolongan anda. Apakah tawaran anda kemarin masih berlaku?" Pandangan Andita masih tertunduk, ia sama sekali tidak berani menatap Zidan.


Zidan tersenyum samar.


Akhirnya dia datang padaku.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa readers yang baik hati❤🙏


__ADS_2