MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Amarah Nyonya Wildan


__ADS_3

"Nah itu dia orang yang memesan gaun ini Nona!" Ucap karyawan itu lagi sambil menunjuk pada dua orang yang baru saja masuk kebutik.


Andita mengikuti arah telunjuk karyawan butik itu, seketika netranya membulat sempurna.


Hah?! Jadi mereka yang memesan gaun ini?!


Andita mengerjap-ngerjapkan matanya berharap dia salah lihat. Namun ternyata tidak ada yang salah dengan matanya. Andita segera membalikkan tubuhnya, membelakangi dua orang pengunjung butik yang baru saja masuk. Sementara karyawan butik yang menunjukan gaun pada Andita tadi, segera menghampiri dua orang tersebut.


"Silahkan Nona! Gaun pesanan anda ada disebelah sini!"


Nyonya Reyhan dan Rachel pun dengan senang hati mengikuti karyawan itu.


Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?! Pasti mereka akan mencari gara-gara denganku. Aku malas sekali jika harus berdebat dengan mereka ditempat umum! Aku harus segera pergi dari sini!


Perlahan Andita menggeser tubuhnya menjauh dari Rachel dan Nyonya Reyhan tanpa membalikkan tubuh. Andita berusaha keluar dari butik dengan berjalan mundur. Sementara mereka berdua belum sadar akan kehadiran Andita disana.


Namun sial bagi Andita. Disaat dirinya sedang berusaha menghindari dua makhluk tidak berperasaan itu, tubuhnya malah menyenggol manekin yang berada dibelakangnya.


Bruggh..


Manekin itu pun jatuh dan menarik perhatian beberapa pangunjung disana, termasuk Rachel dan Ibunya. Andita memejamkan mata. Dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi padanya satu detik kemudian.


Siaallll!!! Kenapa aku malah menggali kuburanku sendiri!


"Hey! Kau! Apa kau tidak punya mata sampai-sampai menabrak manekin dibelakangmu, hah?! Lihat! Karena kecerobohanmu, manekin itu nyaris mengenai tubuh putriku!" Bentak Nyonya Reyhan.


Andita menggigit bibirnya. Sekarang bagaimana caranya dia akan lari dari sini?!


"Maafkan saya Nyonya, saya tidak sengaja. Saya tidak melihat manekin dibelakang saya!" Ucap Andita sekenanya masih dengan posisi membelakangi kedua wanita itu.


Rachel dan Nyonya Reyhan saling pandang. Telinga mereka seperti tidak asing dengan suara gadis dihadapannya itu.


"Hey! Aku sedang mengajakmu bicara! Lihat aku?!" Nyonya Reyhan membalik paksa tubuh Andita kehadapannya. Andita hanya bisa memejamkan mata sembari menghela nafas berat.


"Kau!" Nyonya Reyhan dan Rachel terkejut secara bersamaan. Mereka berdua tidak menyangka akan bertemu dengan gadis yang dibencinya dibutik langganan mereka.

__ADS_1


Andita sekilas melihat kearah Nyonya Reyhan dan Rachel kemudian segera membantu karyawan yang sedang membetulkan manekin yang tidak sengaja disenggolnya tadi.


"Maaf ya mbak, saya tidak sengaja!" Ucap Andita pada karyawan itu.


"Tidak apa-apa Nona!" Jawabnya sembari tersenyum.


"Apa yang kau lakukan disini gadis miskin?! Kenapa kami selalu saja bertemu denganmu ditempat-tempat yang kami kunjungi?! Ini sungguh menyebalkan!" Nyonya Reyhan mulai menghina Andita.


"Apalagi yang akan dia lakukan disini Bu, jika bukan ingin membeli pakaian? Atau jangan-jangan dia juga sedang mencari gaun untuk datang kepesta calon suamiku?" Jawab Rachel dengan tangan bersedekap.


"Hah?! Mana mungkin gadis miskin dan karyawan rendahan seperti dia diundang oleh calon suamimu kepestanya?!" Tanya Nyonya Reyhan sinis.


"Ya mungkin saja kan Bu. Yang aku dengar dari calon Ayah mertuaku, calon suamiku itu sangat baik. Setiap tahun dia akan mengundang semua karyawannya untuk ikut bergabung diacara ulang tahunnya. Mungkin saja kan dia juga diundang!"


Andita hanya diam dan tersenyum samar mendengar ucapan Rachel. Dalam hatinya Andita sungguh mengasihani gadis itu.


Benarkah Tuan Zidan calon suamimu? Tadinya aku sempat merasa bersalah karena sudah mengambilnya darimu. Tapi aku rasa kau pantas mendapatkannya. Hahaha


Aku ingin lihat bagaimana reaksimu setelah nanti kau tahu semuanya!


"Ya, aku rasa begitu Bu. Aku tidak yakin dirinya mampu membeli gaun disini jika dia bukan peliharaan sugar daddy!" Timpal Rachel seraya ikut menertawakan Andita.


"Apa kalian berdua sudah puas menghinaku? Bisakah aku pergi sekarang?!" Tanya Andita mencoba tetap tenang. Dirinya merasa sudah sangat jenuh meladeni hinaan keduanya.


"Hahaha.. Lihatlah Bu, dia sepertinya kesal dan malu karena kita menghinanya terus menerus! Dasar gadis rendahan! Jika kau ingin pergi, pergilah! Aku sudah muak melihatmu!" Ucap Rachel.


"Baiklah, terimakasih, permisi!" Dengan santainya Andita melangkahkan kakinya melewati Rachel.


Namun naas ketika Andita mulai berjalan, Rachel menghalau kaki Andita dengan kakinya hingga gadis itu nyaris terjatuh.


"Akh!" Pekiknya.


Untung saja ada seseorang yang menyangga tubuh Andita, sehingga gadis itu tidak jadi tersungkur kelantai.


"Apa yang kalian lakukan padanya?!"

__ADS_1


Nyonya Reyhan dan Rachel membeliakkan matanya ketika melihat seseorang yang membantu Andita.


"Nyo-nyonya Wildan!" Ucap mereka berdua secara bersamaan.


Nyonya Wildan membantu Andita menegakkan tubuhnya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya.


Andita tersenyum. "Ya, saya tidak apa-apa Nyonya. Terimakasih!"


Kini netra Nyonya Wildan menatap tajam kearah Rachel dan Ibunya.


"Aku tidak menyangka kalian akan bertindak serendah ini! Tidak sepantasnya orang terpandang seperti kalian menghina dan merendahkan orang lain! Apalagi didepan umum!" Ucap Nyonya Wildan geram.


Ternyata sedari tadi Nyonya Wildan sudah berada dibutik itu sebelum ketiganya datang. Perhatiannya tertarik ketika dirinya mendengar suara manekin jatuh. Netranya langsung menyorot pada Andita, Rachel dan juga Nyonya Reyhan.


Awalnya Nyonya Wildan hendak menghampiri mereka bertiga, namun niatnya diurungkan ketika mendengar Nyonya Reyhan dan Rachel mulai menghina Andita, gadis yang pernah menolongnya.


"Ternyata feelingku selama ini benar tentangmu, Rachel. Kau bukan gadis yang pantas untuk putraku, Zidan!"


Ketiga orang itu terkejut mendengar ucapan Nyonya Wildan. Jika Rachel dan Ibunya terkejut karena Nyonya Wildan menyebutnya tidak pantas bersama Zidan, lain halnya dengan Andita yang terkejut karena baru mengetahui jika wanita paruh baya yang ada dihadapannya ini adalah Ibu dari Zidan, atasan dikantornya sekaligus calon suaminya.


"Nyonya Wildan, anda sudah salah paham! Ini tidak seperti yang anda lihat. Gadis itu yang .."


"Cukup Nyonya Reyhan! Selama ini saya menghargai anda, tapi ternyata saya baru tahu sifat asli anda seperti ini. Awalnya saya begitu terkejut ketika Andita mencekik anda direstoran beberapa minggu lalu. Tapi sekarang saya mengerti kenapa dia melakukan itu pada anda. Itu semua karena mulut anda yang tidak bisa dijaga!" Potong Nyonya Wildan dengan amarah yang tertahan.


Dalam sekejap wajah angkuh yang sebelumnya dipasang Nyonya Reyhan dan Rachel hilang begitu saja. Air muka mereka kini berubah menjadi pias ketika melihat kilatan amarah dimata Nyonya Wildan.


"Saya harap, ini terakhir kalinya kalian mempermalukan orang lain seperti ini! Jangan pernah mengulanginya lagi, karena itu tidak pantas dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi seperti kalian! Ayo Andita kita pergi dari sini!"


Nyonya Wildan segera menarik tangan Andita dan pergi dari butik itu. Sementara Nyonya Reyhan dan Rachel menatap kepergian calon besannya itu dengan nanar. Ini semua terjadi begitu tiba-tiba. Mereka tidak menyangka jika semua hinaan mereka pada Andita didengar langsung oleh Nyonya Wildan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2