MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Kekhawatiran Papih Leon


__ADS_3

Leon kini baru saja sampai di depan rumahnya untuk memberikan kejutan kepada istrinya, setelah melakukan perjalanan bisnis.


Ya, sudah tiga hari dirinya tidak pulang kerumah karena ada perjalanan bisnis ke negara S.


Saat tiba di mansionnya, tempat yang pertama kali Leon datangi adalah taman. Karena biasanya istrinya itu menghabiskan waktunya berada taman sambil menatap bunga - bunga yang bermekaran dan menikmati teh. Namun, jika Istrinya tidak berada di taman biasanya dia sedang pergi untuk acara arisan atau sedang berbelanja. Dan saat Leon sudah sampai di area taman dia tidak menemukan keberadaan istrinya.


"Chika!" Panggil Leon, Ya. Leon kini sedang memanggil kepala asisten rumah tangganya untuk menanyakan keberadaan Istrinya.


"Iya, Tuan besar." jawab sang kepala asisten rumah tangga.


"Apa kau tau, istriku sedang pergi kemana?" tanyanya.


"Maaf Tuan besar, saya tidak tahu kemana Nyonya besar pergi?" jawabnya dengan nada suara yang sedikit takut.


"Memangnya istriku tidak bilang dia akan pergi kemana?"


"Tidak, Tuan besar."


"Aneh..." gumam Leon. Pasalnya, jika istrinya itu akan pergi istrinya itu akan selalu memberikan kabar kepadanya lebih dulu.


"Maaf Tuan besar, tapi apa Tuan sudah menelepon Nyonya besar?"


Seketika Leon pun langsung teringat, jika dirinya sama sekali belum menghubungi istrinya itu. Ya, mungkin karena perasaan panik dia sampai tidak berpikir jernih. Leon pun langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi istrinya. Tetapi beberapa kali melakukan panggilan telepon hasilnya nihil, istrinya itu sama sekali tidak mengangkat telepon darinya.


Kemudian, Leon pun menghubungi putrinya yang masih berada di negara A. Leon berharap mungkin saja jika putrinya itu mengetahui keberadaan ibunya.


"Hallo sayang? Apa Mamih ada telepon sama kamu hari ini?" ucap Leon saat panggilannya terhubung.


"Tidak, Pih. Mamih sama sekali belum menelepon Naura " jawabnya dari sebrang telepon.


"Ah, Mamih juga gak telepon kamu ya?"


"Memangnya papi sekarang ada dimana? Apa Papi udah coba buat menelepon Mami?"


"Papi sekarang udah sampai rumah setelah melakukan perjalanan bisnis, tapi saat di rumah Mami kamu nggak ada. Dan Papi juga udah coba hubungi nomornya beberapa kali tapi tidak di angkat oleh Mamimu. Makanya sekarang Papi jadi khawatir takut terjadi sesuatu padanya."


"Apa Papi juga udah telepon Kak David? Mungkin saja kan Mami sedang bersama dengan Kakak." tanyanya lagi dari sebrang telepon.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu sekarang Papi akan coba telepon Kakakmu. Bye - bye, sayang..."


"Iya, Pih....." ucapnya kemudian panggilan teleponnya terputus.


***


Leon kembali menghela nafas dalam. Saat David juga tidak mengangkat telepon darinya. Padahal, Leon sudah menelepon hampir sepuluh kali tapi tak kunjung dijawab oleh anaknya.


"Kenapa David juga ikutan susah di hubungi?" gumam Leon. Kemudian Leon langsung menghubungi sekretaris David, mungkin saja jika Sekertaris nya David mengetahui keberadaan anaknya itu.


"Hilda? Apakah David ada di kantor?" tanyanya langsung saat panggilannya terhubung


"Tuan Presdir sedang tidak berada di kantor?"


"Gak ada ya?"


"Apa Tuan besar ingin menitipkan pesan, nanti akan saya sampaikan jika Tuan Presdir sudah datang ke kantor."


"Tidak ada, dan terima kasih infonya." ucap Leon lalu segera mengakhiri panggilan teleponnya.


Leon pun semakin gelisah dan tidak tenang karena belum mendapatkan kabar tentang istrinya ia sangat takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya itu.


"Halo, Na? Apa Mami ada bersama kamu?" tanyanya saat panggilannya terhubung.


"Iya Pah, Mamih lagi ada sama Davina." jawabnya dari sebrang telepon.


"Oh lagi ada sama kamu? Kalian sekarang lagi ada dimana?" tanyanya lagi dari sebrang telepon.


"Kami lagi di rumah sakit, Pih."


"Rumah sakit? Apa Papih bisa bicara dengan Mami sebentar?"


"Iya Pih, tunggu sebentar. Davina akan kasih ponselnya ke Mami." jawab Davina kemudian menyerahkan ponselnya kepada ibu mertuanya.


"Hallo, Pih? Ada apa?" tanya Mami Karina dari sebrang telepon saat Davina menyerahkan ponsel kepadanya.


"Hallo, Mi. Kamu katanya lagi di rumah sakit? Memangnya siapa yang lagi sakit?"

__ADS_1


"Maaf, Pi. Mami nggak bisa cerita lewat telepon. Mending Papi langsung datang kerumah sakit saja."


"Kenapa nggak cerita sekarang aja, Mi? Kalau kayak gini kan, Papi jadi lebih khawatir."


"Dengerin Mami, kalau Papi mau tau alasannya, lebih baik Papi langsung datang kerumah sakit. Nanti Mami kirim alamat rumah sakitnya. Udah ya, Pi. Mami lagi mau ngurusin David dulu."


Karina langsung memutuskan panggilan teleponnya dan langsung mengirim pesan alamat rumah sakit dia berada. Leon pun langsung meminta supir pribadinya untuk mengantar dirinya ke rumah sakit yang sudah di kirimkan alamatnya oleh istrinya.


***


Sedangkan di ruangan David. Kini dokter gadungan yang sudah di sewa oleh Karina sedang memulai perannya untuk memeriksa kondisi David. Sebelumnya Davina dan Karina di suruh keluar dari ruangan David saat akan memeriksa David.


Di sisi lain, Karina sekarang sedang mondar - mandir tidak jelas karena menunggu kedatangan suaminya. Dia sebenarnya khawatir jika nanti suaminya itu akan mengacaukan segala rencananya yang sudah berjalan dengan sempurna. Jika memungkinkan, dia harus bertemu dengan suaminya terlebih dulu, sebelum suaminya itu akan bertemu dengan Davina dan mungkin saja akan mengacaukan segala rencana yang sudah berjalan sempurna itu.


"Secepatnya aku harus bertemu dengan suamiku dulu untuk membujuknya. Kalau sampai rencana yang udah berjalan lancar ini sampai kebongkar. Sudah bisa di pastikan, putraku yang tampanku pasti akan langsung bunuh diri di pohon tauge. Eh, bukan pohon tauge maksudnya pohon Mangga." ucap Mami Karina di dalam hati.


Pintu ruang rawat David pun terbuka. Dan dokter gadungan itu meminta Karina untuk masuk kedalam ruangan rawat David.


Kenapa hanya memanggil Karina? Ya tentu saja, untuk menyusun rencana selanjutnya. Karena Ayahnya David juga sedang perjalanan ke rumah sakit. Maka, dia harus menyusun rencana tambahan. Untungnya Davina masih belum curiga dan masih setia menunggu di luar ruangan rawat David. Saat Karina sudah masuk kedalam ruangan rawat David dia langsung memarahi David dengan nada suara yang sedikit pelan.


"Putraku yang tampan kenapa kau itu tidak sabaran sekali sih, kamu mau ya menghancurkan semua rencana yang sudah Mami buat?"


"Aku memang udah gak sabar, Mi. Soalnya udah pengin banget meluk Davina. Bila perlu David pengin langsung ngadon cucu sekarang"


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2