
"Kau?!" Tuan Wildan menggeram saat ia melihat istrinya tiba-tiba masuk.
"Suamiku! Aku mohon hentikan keinginanmu untuk menjodohkan Zidan dengan Rachel! Mereka sama sekali tidak cocok. Seminggu yang lalu aku bertemu dengan Rachel dan Ibunya dibutik. Mereka menghina Andita habis-habisan dan Andita hanya diam saja! Dia tidak membalas sama sekali penghinaan yang diberikan Nyonya Reyhan padanya!" Ucap Nyonya Liyana.
Seminggu lalu Rachel dan Andita bertemu dibutik? Tapi kenapa tadi Andita tidak mengatakan apapun padaku?
"Kenapa kau begitu membela gadis itu? Dan jika menurutmu Rachel tidak cocok dengan Zidan, kenapa kau tidak membicarakan hal itu denganku, Liyana?! Kau malah mengkhinati keputusanku dengan mendukung hubungan anak tidak tahu diri ini dengan gadis biasa itu dihadapan banyak orang! Apa kau tidak memikirkan reputasiku?! Kau sama saja mempermalukanku!" Hardik Tuan Wildan.
"Maafkan aku suamiku! Aku tidak bermaksud untuk mempermalukanmu! Sedari awal aku memang tidak menyukai Rachel karena dia sama sekali tidak pantas mendampingi Zidan. Tapi aku berusaha untuk menghargaimu, sehingga aku tidak mengatakan apapun tentangnya. Dan ternyata ketidaksukaanku bertambah ketika melihat Rachel dan Ibunya menghina Andita didepan umum."
"Dan alasan kenapa aku membela Andita, karena Andita pernah menolongku saat aku mengalami perampokan. Semua barang berharga ada didalam tasku! Jika Andita tidak menolongku saat itu, mungkin semuanya sudah lenyap begitu saja! Atau bahkan mungkin aku yang terluka." Jelas Nyonya Liyana.
Tuan Wildan mengusap wajah kasar. Bagaimanapun dirinya tidak bisa menerima semua kejadian yang terjadi hari ini.
"Apapun alasan kalian, aku tidak akan pernah menerima sikap kalian hari ini! Kalian sudah membuatku malu! Dan kau!" Tuding Tuan Wildan pada Zidan.
"Kau boleh menolak perjodohanmu dengan Rachel, tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu bersama gadis itu! Gadis biasa sepertinya tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kita! Aku akan mencarikanmu calon istri yang lebih pantas daripada gadis itu!"
Sontak Zidan terkejut mendengar pernyataan sang ayah. Bagaimana bisa ayahnya memiliki sifat sekeras ini?
"Tidak Ayah! Jika Ayah tidak merestui hubunganku dengan Andita tidak apa-apa! Aku tidak perlu itu. Aku mencintainya! Dan aku akan tetap menikahinya! Aku tidak akan menikahi gadis manapun selain dirinya!" Jawab Zidan lantang.
"Beraninya kau membantahku, Zidan!" Tuan Wildan hendak melayangkan kembali tangannya kewajah Zidan, namun Nyonya Liyana langsung menghalanginya.
"Hentikan suamiku! Jangan pernah kau sakiti putraku lagi! Apa selama ini kau belum puas mendikte kehidupannya?! Kau selalu menjadikan Zidan seperti apa yang kau mau! Dan Zidan selalu menuruti perintahmu! Jadi bisakah sekali ini saja kau mengalah dengan menuruti keinginannya?!"
Raut wajah Nyonya Liyana sudah merah padam menahan amarah. Bola matanya mulai memanas. Selama ini dia membiarkan suaminya mendidik Zidan dengan keras agar bisa mengikuti jejaknya menjadi seorang pengusaha sukses. Dan dia sebagai ibunya tidak pernah ikut campur akan hal itu. Namun semua kesabaran ada batasnya.
Nyonya Liyana hanya ingin putranya bahagia dengan pilihannya sendiri. Kalaupun tadinya Zidan menolak calon pilihannya, itu tidak akan jadi masalah bagi Nyonya Liyana. Asalkan putranya bahagia.
Tangan Tuan Wildan berhenti diudara. Dia benar-benar tidak menyangka akan mendapat pemberontakan dari istri dan juga putranya.
__ADS_1
"Biarkan Ayah menamparku, Bu, jika itu membuatnya puas! Yang pasti aku tidak akan pernah meninggalkan Andita dan akan tetap menikahinya!"
Tuan Wildan terhenyak mendengar ucapan putranya. Tangannya menggenggam udara. Rahangnya mengeras. Sorot matanya tajam menatap Zidan. Begitupun sebaliknya, Zidan menatap tajam pada ayahnya.
"Pergi kau dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Ucap Tuan Wildan dengan nada geram. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Zidan.
Nyonya Liyana membelalakan matanya saat mendengar ucapan sang suami.
"Suamiku, kau mengusir putra kita?!"
Tuan Wildan tidak menjawab. Tanpa menunggu perintah dua kali, Zidan pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu dengan dada bergemuruh. Ia meninggalkan ayah dan ibunya dalam keadaan marah. Sementara Nyonya Liyana hanya mampu menatap kepergian putranya dengan tatapan nanar.
"Zidan..."
******
Keesokan harinya.
Tentu mereka tidak menyangka jika Tuan Zidan yang selama ini mereka kenal dingin dan menjaga jarak dari para karyawan, bisa jatuh kedalam pelukan Andita. Gadis biasa yang tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang sudah berpengalaman bekerja disana. Perasaan iri dan dengki menjadi satu.
Cibiran dan hinaan terus berseliweran dipendengaran Andita. Namun Andita berusaha untuk tidak menggubrisnya. Ia mencoba untuk bersikap seperti biasa saja. Ketika ia tiba dimeja kerjanya, Andita melihat Ferdy. Gadis itupun mencoba menyapa sahabatnya itu yang duduk disebelahnya.
"Hai Fer!" Sapa Andita. Seperti biasa ia tersenyum cerah meskipun hatinya pedih karena pagi-pagi sudah mendapat hal yang tidak mengenakkan hati.
"Hemm!" Jawab Ferdy datar. Lelaki itu hanya menoleh sekilas kearah Andita. Lalu kembali fokus pada layar ponselnya.
Andita yang merasa sikap Ferdy hari ini berbeda, mencoba menerka-nerka. Ada apa dengan sahabatnya itu? Apa jangan-jangan Ferdy juga marah padanya karena kejadian dipesta semalam?
Namun Andita berusaha untuk berpikir positif. Mungkin saja moodnya sedang tidak baik hari ini. Tiba-tiba Andita teringat sesuatu. Dirinya lupa menyelesaikan laporan mingguan yang seharusnya diserahkan pagi ini kepada kepala divisi. Andita pun terlihat panik. Gadis itu mencoba meminta bantuan pada Ferdy.
"Fer, apa kau sedang sibuk?"
__ADS_1
Ekor mata Ferdy sekilas kembali melirik Andita.
"Tidak!"
"Bisakah kau membantuku sebentar? Aku lupa belum menyelesaikan laporan mingguanku Fer! Dan pagi ini aku harus segera menyerahkannya kepada kepala divisi. Aku takut beliau akan marah!" Ucap Andita. Mimik wajahnya penuh permohonan.
"Santai saja, Ta! Kepala divisi tidak akan berani memarahimu. Kau kan calon istri Tuan Zidan. Tidak akan ada staff atau karyawan yang berani padamu!" Jawab Ferdy dengan santainya. Netranya masih fokus pada layar ponsel yang digenggamnya.
Andita mengerutkan kening. Sungguh ia merasa tersinggung dengan kata-kata Ferdy.
"Apa yang kau katakan barusan Fer?! Santai? Apa kau sedang mengejekku?!"
Ferdy menaruh ponselnya diatas meja kemudian menatap Andita. Tangannya bersedekap.
"Mana berani aku mengejekmu Ta?! Aku berbicara kenyataan. Kau adalah calon istri Tuan Zidan, tidak akan ada yang berani memarahi atau mengusikmu. Harusnya kau merasa bangga!"
Brakk
Andita menghentak kasar map dihadapannya. Netranya menyorot tajam kearah Ferdy.
"Aku meminta bantuan padamu secara baik-baik Fer! Kenapa kau malah membawa-bawa Tuan Zidan?! Apa masalahmu?! Jika kau tidak bisa membantuku, katakan saja! Tidak perlu menyindirku seperti itu!" Bentak Andita. Semua karyawan kini memandang kearah mereka berdua.
Ferdy mengusap wajah kasar. Ia tidak mungkin berdebat dengan Andita dikantor. Dia tidak mau perdebatannya sampai jadi konsumsi para karyawan lainnya.
"Tenangkan dirimu, Ta! Aku tidak bermaksud mengejekmu, aku hanya ..."
"ANDITAA!!!"
Tiba-tiba suara teriakan menggema diruangan itu. Semua mata kini beralih pada lift yang baru saja terbuka.
.
__ADS_1
.