
Setelah acara resepsi mewah yang digelar secara besar-besaran dihotel berbintang lima selesai, Zidan dan Andita langsung kembali ke kediaman Zidan. Mereka tidak menginap dihotel karena Zidan ingin menghabiskan malam pertamanya dirumah.
Sementara Nazwa dan Ibunya sudah kembali kerumah yang dibeli oleh Zidan. Begitu pun dengan Tuan Wildan dan Nyonya Liyana, mereka juga sudah pulang sedari tadi kekediamannya.
Mobil mewah Zidan yang dikendarai oleh Ken sudah tiba didepan rumah. Ken membukakan pintu untuk tuannya, sementara pintu disamping Andita dibukakan oleh kepala pelayan dirumah itu.
Semua para body guard dan para pelayan dikediaman Zidan menyambut hangat kepulangan sepasang pengantin baru yang tengah berbahagia.
Tanpa rasa canggung Zidan langsung mengangkat tubuh Andita dan menggendongnya ala bridal style dihadapan semua orang.
Tentu saja hal itu sontak membuat Andita terkejut bukan main. Gadis itu membelalakan matanya. Ia merasa sangat malu sekali dengan tindakan Zidan.
Sementara Ken dan para body guard juga pelayan disana yang ikut terkejut, seketika langsung menurunkan pandangan mereka secara bersamaan.
"Zidan! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Pekik Andita.
"Kenapa? Apa kau malu? Sekarang kau adalah istriku!"
"Iya aku tahu! Tapi tidak perlu seperti ini! Aku sungguh malu pada mereka!" Bisik Andita.
"Biarkan saja! Tidak usah pedulikan mereka!"
Zidan segera membawa Andita kekamar utamanya yang berada dilantai dua. Sebelum menaiki anak tangga ia meminta pada Ken untuk menunggunya dibawah.
Setelah sampai didalam kamar Zidan segera menurunkan istrinya itu. Betapa terkejutnya Andita saat mendapati kamar suaminya yang begitu luas dan sudah didekor sebagus mungkin untuk menyambut malam pertama mereka.
"Wah luas sekali kamarmu Zidan! Apa selama ini kau tidak merasa kesepian tidur dikamar seluas ini sendirian?!"
Zidan yang sudah menutup pintu memeluk tubuh Andita dari belakang.
"Ya, sebelumnya aku merasa kesepian. Tapi sekarang tidak lagi! Karena mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya kau yang akan selalu menemani tidurku!"
Seketika kulit tubuh Andita meremang dibuatnya. Apalagi ketika Zidan mencium sekilas tengkuk leher Andita.
"Apa kau ingin mandi bersamaku?!"
Andita ternganga mendengar ajakan Zidan.
"Ehm, ti-tidak usah! Kau duluan saja! Aku harus membersihkan make up ku dulu!"
"Hemm, baiklah aku akan mandi lebih dulu! Jangan lupa malam ini kau harus mempersiapkan dirimu untukku!"
Cupp
Zidan meninggalkan ciuman dipipi Andita. Andita hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
Ya Tuhan, apa aku harus melakukannya malam ini?!
******
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Andita melangkahkan kakinya menuju walk in closet. Andita yang masih memakai bathrobe mencari-cari pakaian tidur yang pantas untuk dipakainya malam ini.
Namun didalam lemari itu yang tersedia hanya lingerie dengan model yang begitu seksi dan warna yang sangat mencolok. Tentu saja pakaian itu bukan seleranya.
"Haish! Kenapa hanya ada lingerie disini?! Ini pasti ulah Zidan!" gumam Andita kesal.
Tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkar diantara perut Andita.
"Kelihatannya kau begitu kesal?! Ada apa, hem? Apa kau kesulitan mencari pakaian?!"
Andita yang sudah tahu siapa pemilik tangan dan suara bariton itu hanya dapat memejamkan matanya ketika nafas lelaki itu menerpa kulit lehernya.
"A-aku!"
__ADS_1
Zidan langsung membalikkan tubuh Andita menghadapnya lalu sekilas mengecup bibir manis sang istri.
"Aku apa?!"
Andita tak menjawab. Kemudian netra Zidan beralih melihat isi didalam lemari dan akhirnya ia pun mengerti.
"Pantas saja kau lama sekali! Dari tadi aku sudah menunggumu. Ternyata kau malah mencari sesuatu yang tidak ada disini! Apa yang kau cari?! Apa kau sedang mencari karung untuk menutupi tubuhmu?!"
"Bukan begitu! Aku hanya mencari baju yang biasa aku pakai sebelum tidur! Tapi dilemari ini hanya ada lingerie! Aku tidak biasa memakai lingerie!"
"Apa kau lupa sekarang kau sudah menjadi seorang istri? Mau tidak mau, suka tidak suka kau harus terbiasa memakai pakaian-pakaian itu dihadapanku!"
"Tapi Zidan aku.."
"Hemm baiklah! Jika kau tidak mau memakainya tidak apa!"
"Benarkah?!" Wajah Andita langsung berbinar mendengarnya.
"Benar! Karena akan lebih bagus jika kau tidak usah memakai baju sekalian! Aku bisa langsung menerkammu!"
Glek
Andita menelan kasar salivanya.
Zidan langsung menarik pinggang Andita mendekat padanya hingga posisi mereka kini begitu intim. Satu tangannya menahan tengkuk leher Andita. Perlahan-lahan Zidan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu.
Tanpa membuang waktu Zidan langsung me lu mat bibir Andita dengan lembut. Bibir yang sudah menjadi candu baginya hingga membuatnya ingin mengulumnya lagi dan lagi.
Andita mengalungkan tangannya pada leher Zidan. Dia yang sudah terbiasa mendapat serangan dadakan seperti ini sudah tidak lagi merasa terkejut.
Zidan semakin bergairah kala Andita membalas ciumannya. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut.
Lidah mereka saling membelit satu sama lain. Zidan terus menyesap dan me lu mat bibir Andita semakin dalam. Tangannya dengan liar mulai bergerilya kesemua area tubuh istrinya.
Andita men de sah dan menggigit bibirnya saat Zidan mencium dan menyesap area leher dan bahu hingga meninggalkan jejak kepemilikan disana.
Sementara tangannya aktif meremas dan memilin pu ting merah jambu istrinya itu. Mendapat respon yang begitu baik, Zidan semakin menggila. Malam ini ia tidak akan melepaskan Andita begitu saja.
Zidan membenturkan tubuh Andita kedinding lalu menguncinya dengan tubuh kekarnya.
Ia membuka bathrobe yang membungkus tubuh Andita hingga merosot ke siku tangan gadis itu. Kini buah dada Andita menyembul sempurna dihadapan Zidan.
Tanpa basa basi Zidan langsung melahap satu persatu payudara itu secara bergantian.
"Euggh..."
Andita melenguh saat Zidan menyesap kuat benda kenyal itu. Sensasi permainan yang Zidan berikan membuatnya hanyut dalam kabut gairah. Zidan meninggalkan banyak stempel kepemilikan disana.
Setelah puas bermain dengan buah dada Andita, Zidan melepaskan tali bathrobe yang dipakai istrinya itu hingga kini tubuh Andita polos dihadapannya ketika bathrobe itu merosot jatuh kebawah.
Andita nampak terkejut saat Zidan sudah berlutut dihadapannya dan menaruh satu kakinya diatas punggung suaminya itu. Zidan sedikit melebarkan pangkal paha Andita.
"Zidan kau mau ap..ahhh..."
Andita tak dapat lagi menahan de sahannya kala lidah Zidan mulai memasuki surga dunianya.
Lidahnya terus menerobos masuk kedalam seolah mencari sesuatu. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Zidan mulai memainkan daging berukuran kecil yang berada didalam sana.
Lagi-lagi Andita dibuat tak berdaya saat Zidan menjilat dan menyesap kuat miliknya. Seolah Zidan tengah mencumbu bibirnya.
"Aaahh... Zidaannh.."
Andita meremas rambut Zidan begitu kuat. Sungguh saat ini Andita merasa Zidan tengah membawanya melayang ke atas awan.
__ADS_1
Gairah Zidan semakin menggebu-gebu ketika Andita terus saja menyerukan namanya. Ia ingin membuat istrinya itu tidak akan pernah melupakan malam pertama mereka.
Zidan terus memainkan lidahnya sampai area terdalam. Tidak lama tubuh Andita pun bergetar hebat. Gadis itu akhirnya menumpahkan cairan cintanya dihadapan wajah Zidan.
Tanpa rasa jijik Zidan melahap semua cai ran cinta yang dikeluarkan istrinya itu. Kemudian ia berdiri dan menggedong tubuh Andita seperti koala.
Andita memeluk erat tubuh Zidan dan menekan kepalanya saat Zidan memagut kembali bibirnya dengan rakus.
Zidan membawa Andita keatas ranjang dan merebahkan tubuh polosnya disana tanpa melepas pagutan bibirnya.
Ciuman panas itu berlangsung cukup lama. Sejenak Zidan melepas cumbuannya pada bibir Andita.
"Andita, aku menginginkanmu malam ini!" Sorot mata Zidan sudah dipenuhi kabut gairah. Suaranya terdengar parau. Nafasnya kian memburu.
Andita hanya mengangguk pasrah. Ia tahu saat ini Zidan tengah menahan gejolak dibawah sana.
"Lakukanlah aku milikmu!"
Zidan pun tersenyum sekilas ia mencium bibir Andita kemudian melepas semua pakaiannya.
Perlahan Zidan memposisikan miliknya pada milik Andita. Ia tidak ingin istrinya merasa kesakitan. Namun tetap saja bagi Andita rasanya sakit karena ini adalah pertama kalinya ia melakukan hubungan suami istri.
"Aahhh Zidaann,,, sakiittt!" Andita meringis saat Zidan mulai melakukan penyatuan pada miliknya.
"Tahanlah sebentar, aku akan melakukannya dengan lembut. Awalnya memang sakit tapi setelah itu akan terasa nikmat." Bisik Zidan.
Zidan kembali mencoba memasukan miliknya pada tubuh Andita dan kali ini dengan satu hentakkan miliknya terbenam sempurna disana.
"Aahhh..."
Zidan membiarkan sebentar miliknya beradaptasi didalam sana. Ia mencium pucuk kepala Andita.
Terasa sekali kedutan milik Andita mencengkram miliknya. Membuat Zidan semakin tidak sabar ingin memompanya.
Zidan pun mulai memaju mundurkan pinggulnya dengan ritme pelan. Namun itu tidak bertahan lama.
Karena kabut gairah dan hasrat yang kian menggebu-gebu sudah menguasainya. Zidan pun menambahkan kecepatannya memompa tubuh Andita.
"Euugh..Zidan..."
Berkali-kali Zidan tersenyum puas saat mendengar Andita mengerang dan men de sah menyebut namanya. Permainan Zidan benar-benar membuat Andita gila.
Andita mengaitkan kakinya pada pinggul Zidan agar milik suaminya itu masuk lebih dalam lagi.
Suara erangan dan de sa han memenuhi isi kamar mereka. Pengantin baru itu saling bertukar saliva dan peluh dalam waktu yang cukup lama.
Andita sudah berkali-kali menumpahkan cairan cintanya namun lelaki yang tengah menggagahinya saat ini sepertinya belum mau mencapai puncaknya.
"Zidanh..ahh..aku lelah.."
"Sebentar lagi sayang!"
Zidan terus memompa tubuh Andita lebih cepat lagi. Akhirnya setelah berkejaran dengan waktu Zidan pun menengadahkan kepalanya keatas. Ia telah mencapai puncaknya dan akan melakukan pelepasan.
"Ahh...Anditahhh..."
.
.
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak
Like, Komen, Hadiah dan Vote nyaa
__ADS_1
Supaya Author lebih semangat Update! ๐๐