
Dua hari setelah pertemuannya dengan Paman Bima, Andita terus saja menghubungi lelaki paruh baya itu, namun ponselnya belum aktif juga. Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan olehnya.
Setelah menelepon untuk kesekian kalinya barulah terdengar bunyi sambungan telepon diseberang sana yang menandakan jika ponsel Paman Bima telah aktif.
"Oh syukurlah ponselnya sudah aktif!"
Tidak lama telepon mereka pun saling terhubung.
"Hallo!! Paman Bima?!"
"Andita! Apa ini kau?!"
"Ya, Paman ini aku, Andita! Sudah dua hari ini aku menghubungimu Paman,tapi ponselmu selalu saja tidak aktif! Paman, apakah kau baik-baik saja?!"
"Andita dengarkan aku! Semuanya tidak baik-baik saja. Jika kau punya waktu tolong temui aku hari ini juga. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu!"
"Hari ini?!"
"Ya, Andita! Jika kau bisa hari ini juga aku ingin bertemu denganmu!"
Andita nampak berpikir sejenak. Sebenarnya dia tidak diizinkan keluar oleh Zidan semenjak kejadian dua hari lalu. Mereka juga sempat berdebat.
Tapi saat ini Andita juga tidak bisa untuk tidak menemui Paman Bima. Karena ini menyangkut mendiang ayahnya. Andita harus tahu sebenarnya apa yang terjadi.
"Hallo Andita apa kau mendengarku?!" Panggilan Paman Bima menyadarkan Andita.
"I-iya Paman, aku mendengarmu! Baiklah Paman, katakan dimana aku bisa menemuimu?!"
Andita sedikit ragu menjawab. Ia masih memikirkan kemarahan Zidan nantinya. Namun rasa penasarannya lebih mendominasi.
"Aku akan segera mengirimkan alamatmya padamu! Tolong datanglah secepatnya Andita!"
"Baik Paman, akan aku usahakan!"
Klik
Sambungan telepon pun terputus.
"Aku harus menghubungi Zidan sekarang juga! Bagaimanapun aku harus meminta izin padanya!" Gumam Andita.
Berkali-kali Andita menghubungi nomor ponsel Zidan, namun pria itu tak juga mengangkat telepon darinya.
Tidak lama ada pesan masuk dari Paman Bima yang mengirimkan sebuah alamat dimana mereka akan bertemu. Mereka akan bertemu disebuah cafe.
Andita segera bersiap-siap sambil terus menghubungi Zidan. Akhirnya ia mengirimkan pesan pada suaminya itu berharap Zidan akan membacanya nanti.
__ADS_1
"Maafkan aku Zidan. Jika ini tidak penting aku tidak akan pergi!"
Andita segera bergegas menuju mobilnya. Ia diantar oleh supir.
******
Sudah lima belas menit Andita menunggu Paman Bima disebuah cafe yang tadi disebutkan. Namun pria paruh baya itu belum juga memperlihatkan batang hidungnya.
Andita terlihat gusar, namun ia harus sabar. Tidak lama ada seseorang yang menarik kursi dihadapannya sedikit membuat Andita terkejut.
"Maaf membuatmu menunggu Andita!"
"Paman Bima?!"
"Ya ini aku, Andita! Maaf aku tidak bisa membuka topi dan maskerku, karena selalu ada orang mengawasiku!"
Andita menatap penampilan Paman Bima lekat-lekat. Berbagai pertanyaan pun timbul dibenaknya. Dulu penampilan Paman Bima selalu terlihat rapi seperti Ayahnya. Andita tahu itu, karena semasa mendiang ayahnya masih hidup, Paman Bima selalu berkunjung kerumahnya.
Setelah tiga tahun berlalu entah apa yang sudah terjadi pada pria itu. Yang Andita tahu ketika ayahnya meninggal Paman Bima tidak turut hadir dalam acara prosesi pemakaman.
Andita menggelengkan kepalanya pelan, mengusir beragam pertanyaan dihatinya.
"Tidak apa-apa Paman! Apa kau sudah makan? Aku akan memesankan makanan untukmu!"
Andita pun mengangguk dan memesankan satu minuman untuk Paman Bima, sementara dirinya sudah memesan minuman lebih dulu.
"Paman sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dua hari lalu kau mengatakan jika kau akan memberitahu tentang kematian Ayahku? Jelas-jelas semua orang tahu jika Ayahku meninggal karena kecelakaan."
"Ya Andita, ayahmu memang meninggal karena kecelakaan. Tapi kecelakaan itu telah disabotase oleh seseorang yang menaruh dendam padanya!"
Seketila netra Andita membola.
"Disabotase?! Apa maksud Paman?! Apa ayah memiliki musuh?!"
"Ayahmu tidak memiliki musuh Andita. Tapi orang itulah yang memusuhi Ayahmu."
Andita memejamkan mata. Dia tidak ingin percaya begitu saja dengan apa yang barusan dikatakan oleh teman dekat ayahnya itu. Andita mencoba meyakinkan diri jika yang dikatakan oleh Paman Bima tidaklah benar.
"Apa buktinya jika kematian Ayahku disabotase Paman? Dan kenapa orang itu memusuhi Ayah? Apa mendiang Ayahku memiliki salah padanya?"
Belum Paman Bima menjawab, perbincangan mereka terjeda saat waitress datang membawakan minuman. Setelah waitress itu pergi, Paman Bima pun segera menjawab pertanyaan Andita.
"Apa kau tahu jika dulu Ayahmu bekerja di perusahaan Arion Company dan menjadi orang kepercayaan dari pemilik perusahaan tersebut yaitu Tuan Wildan Wijaya, mertuamu saat ini?"
Andita terdiam sejenak. Kemudian kembali menatap Paman Bima.
__ADS_1
"Ya, aku tahu dulu Ayah bekerja dimana Paman. Hanya saja aku tidak tahu jika pemilik perusahaan besar itu adalah Tuan Wildan, yang tak lain adalah ayah mertuaku. Aku baru mengetahuinya satu minggu sebelum aku menikah dengan putranya."
"Tapi apa hubungannya dengan kematian Ayah?"
Paman Bima menarik nafas dalam-dalam lalu melanjutkan pertanyaannya.
"Apa kau mengenal Reyhan?"
"Reyhan?" Andita mendelik. "Maksud Paman, Tuan Reyhan?!"
Paman Bima mengangguk.
"Ya, aku mengenalnya Paman. Dia orang yang sangat arogan! Tapi ada apa dengannya?"
"Dia adalah orang yang menyabotase kematian Ayahmu, Andita!"
Deg
"Apaa?!!"
Jantung Andita seolah berhenti berdetak. Netranya membulat sempurna. Tenggorokannya terasa tercekat. Andita mengerutkan keningnya tidak percaya.
"Paman, tolong jangan mengada-ada! Tidak mungkin Tuan Reyhan melakukan hal seperti itu pada Ayahku!"
Paman Bima menyodorkan sesuatu kehadapan Andita. Dua buah ponsel dengan type dan warna berbeda. Hitam dan putih.
"Apa kau tahu ponsel berwarna putih ini milik siapa?" Tanya Paman Bima.
Andita memperhatikan ponsel itu dengan seksama. Seperti tidak asing baginya.
"Bukankah itu ponsel milik Ayah?!" Ucapnya dengan sedikit ragu.
"Ya, kau benar! Itu ponsel milik Ayahmu! Dan yang satunya adalah ponsel milikku."
"Tapi kenapa ponsel Ayah bisa berada ditangan Paman?!"
Paman Bima menghela nafas panjang dan mulai bercerita.
Tiga tahun lalu...
.
.
Jangan lupa like komeennš
__ADS_1