MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Hanya Mencintaimu


__ADS_3

Andita dan Dirga terkejut bukan main saat melihat Zidan tiba-tiba ada dibelakang mereka.


Secepat kilat Andita menarik tangannya yang dipegang oleh Dirga. Kemudian ia berdiri menghadap suaminya itu.


Dirga pun melakukan hal yang sama. Ia berdiri disamping Andita dan netranya kini menatap Zidan yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


Sejenak ketiganya mematung dan saling menatap. Andita bisa melihat kemarahan dimata Zidan. Entah kenapa ia selalu takut setiap kali melihat kemarahan pada diri suaminya itu.


Dengan nafas memburu dan sorot mata yang tak lepas dari keduanya, Zidan berjalan kearah Andita.


Ia mencengkram pergelangan tangan Andita hingga membuat Andita meringis kesakitan.


"Sedari tadi aku mencarimu Andita! Kenapa kau bisa bersamanya?!" tanya Zidan penuh penekanan. Pandangannya kembali menatap Dirga dengan begitu tajam.


Jujur saja saat ini Zidan tengah dikuasai rasa khawatir dan cemburu. Bagaimana tidak? Sebelumnya Andita hanya berpamitan sebentar untuk menerima telepon dari ibunya.


Namun sudah hampir setengah jam berlalu wanitanya tidak kembali juga keruangan Zoya hingga membuatnya khawatir.


Dan sekarang ia menemukan sang istri tengah duduk berdua bersama mantan kekasihnya! Tentu saja hal itu membuat darah Zidan mendidih.


Apalagi dengan berani lelaki itu menyentuh tangan Andita. Suami mana yang tidak akan cemburu melihatnya?!


"Tolong jangan salah paham Zidan! Aku dan Dirga tidak sengaja bertemu. Kami..."


"Kami hanya berbincang sebentar. Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi diantara kami!" potong Dirga.


"Tutup mulutmu! Aku tidak bertanya padamu!" geram Zidan. Kini tatapannya beralih pada Andita. "Kita pulang sekarang!"


Zidan segera menarik Andita dari sana dan meninggalkan Dirga seorang diri. Dirga tidak bisa berbuat apapun meskipun ia sangat ingin menolong Andita karena ia sama sekali tidak memiliki hak untuk ikut campur.


Dirga hanya bisa merutuki kebodohannya karena dengan lancang ia sudah berani memegang tangan mantan kekasihnya itu.


"Semoga tidak terjadi apapun pada Andita." gumam Dirga.


******


"Masuk!" titah Zidan pada Andita begitu pintu mobil sudah terbuka.


Andita menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Perasaan sakit, marah, dan kecewa menjadi satu dalam hatinya.


Tanpa bantahan Andita segera masuk kedalam mobil disusul oleh Zidan yang masuk dipintu kemudi. Zidan langsung menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumah sakit.


Didalam perjalanan suasana nampak hening. Zidan masih bertahan dengan amarahnya dan fokus menyetir.


Sementara Andita sudah mulai menangis dengan isak tertahan. Andita memalingkan wajahnya kesamping kiri agar airmatanya tidak dilihat oleh suaminya itu.


Begitu tiba dikediamannya, Andita buru-buru turun dan berlari kecil masuk kedalam rumah. Melihat hal tersebut Zidan mengusap wajah kasar lalu segera menyusul Andita.


Saat Andita akan menaiki anak tangga, Zidan mempercepat langkahnya dan langsung mengangkat tubuh sang istri hingga kini wanita itu berada dalam gendongannya.


"Turunkan aku!" teriak Andita sambil terisak. Ia tidak bisa lagi menahan tangisnya.


Beberapa pelayan yang melihat kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka mencari aman dengan pura-pura tidak melihat.


Zidan tidak menggubris permintaan Andita. Ia segera membawa Andita kedalam kamar.


Begitu tiba didalam kamar dan pintu sudah tertutup rapat Zidan segera menaruh tubuh sang istri diatas ranjang. Namun sebelum melakukan itu, dengan sangat lembut Zidan menciumi seluruh wajah Andita yang sudah banjir airmata.


"Maaf sudah membuatmu menangis lagi!" lirih Zidan.

__ADS_1


Andita tidak menjawab dan lebih memilih memalingkan wajahnya kesembarang arah. Membuat hati Zidan berdenyut nyeri melihatnya.


Dengan hati-hati Zidan membaringkan tubuh Andita. Kemudian ia ikut berbaring disampingnya dengan posisi Andita membelakangi Zidan.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu! Aku tidak bisa mengontrol emosiku saat melihatmu duduk bersama ba jingan itu. Apalagi saat dia memegang tanganmu, hatiku terluka karena cemburu!" ucap Zidan sambil memeluk posesif tubuh Andita dari belakang.


Tangannya menyentuh tangan Andita yang tadi sempat dicengkram olehnya.


"Kau pikir hanya kau saja yang terluka? Aku pun merasakan hal yang sama!" jawab Andita ditengah isak tangisnya.


"Maksudmu?" Zidan mencoba membalikkan tubuh Andita menjadi terlentang. Dengan lembut ia menghapus airmata wanitanya itu dan membenarkan sulur rambut Andita yang sedikit berantakan.


"Katakan apa maksudmu?" ulang Zidan sembari menatap wajah cantik istrinya yang sembab.


"Aku melihatmu menggenggam tangan Zoya! Apa kau pikir aku tidak terluka, hah?! Kau bahkan menatapnya begitu intens! Aku rasa kau masih mencintainya!" suara Andita tercekat. Ia langsung menangkup wajahnya dan kembali menangis sesenggukan.


Zidan terhenyak dan mengusap wajah kasar.


"Astaga! Kau salah paham sayang! Aku hanya berusaha menenangkan Zoya karena dia tidak percaya diri dengan keadaannya sekarang!"


"Aku bersumpah demi anak kita aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya!"


"Bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali?! Begitupun dengan Zoya! Dia benar-benar sudah menyesali perbuatannya!" ucap Zidan sambil menarik tangan Andita dari wajahnya hingga netra mereka kini saling bertubrukan.


"Benar kau tidak memiliki perasaan lagi padanya?!" lirih Andita.


"Tentu saja benar! Mana mungkin aku berbohong!"


Begitu mendengar penjelasan suaminya Andita segera menghambur memeluk tubuh Zidan dan menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya itu.


Zidan membalas pelukan Andita seraya mengusap lembut punggungnya.


"Maafkan aku sayang! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" Zidan mengeratkan pelukannya.


"Kau cemburu?!" tanya Zidan.


Andita menganggukan kepalanya membuat Zidan tersenyum senang. Namun seketika senyumnya hilang saat ia mengingat kembali wajah mantan kekasih istrinya itu.


Zidan merenggangkan pelukannya kemudian menatap Andita lekat-lekat.


"Sekarang jelaskan padaku, kenapa kau bisa bertemu dengan Dirga, hm?!"


******


Dua minggu kemudian.


Setelah Andrew mengurus segala keperluan Zoya, tiga hari lalu Zoya pun sudah bisa menjalani operasi dibagian wajahnya. Dan saat ini dokter akan membuka perbannya pasca operasi dilakukan.


Jantung Zoya berdegub kencang ketika perban terakhir sudah terlepas dari kulit wajahnya itu.


Dengan tangan gemetar Zoya menerima cermin kecil yang disodorkan oleh suster. Awalnya ia tidak mau menerima cermin tersebut, karena Zoya yakin wajahnya pasti tidak akan sama seperti dulu.


Namun Andrew selalu menguatkan dan memberi semangat pada Zoya agar Zoya tidak berkecil hati apapun hasilnya nanti. Hingga akhirnya Zoya pun mendengarkan perkataan Andrew.


Perlahan-lahan Zoya membuka mata. Disamping kiri Zoya ada Andrew dan disamping kanannya ada dokter dan suster.


Saat matanya sudah terbuka sempurna, Zoya mendekatkan cermin yang dipegangnya kearah wajah dan..


Pyarrr

__ADS_1


Zoya langsung menghempaskan cermin itu dan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Ia menangis sesenggukan saat melihat wajahnya penuh dengan bekas luka bakar meskipun sudah dioperasi.


Andrew yang melihat hal tersebut langsung memeluk tubuh Zoya untuk menenangkannya.


"Tenanglah Zoya! Kendalikan dirimu!"


"Aku tidak mau wajah seperti ini Andrew! Aku tidak mau!" ucap Zoya ditengah isak tangisnya.


Andrew segera memberi isyarat pada dokter agar meninggalkan mereka berdua. Dokter mengerti dan bergegas meninggalkan ruangan itu dengan diikuti oleh suster.


"Aku benar-benar hancur Andrew! Aku benar-benar hancur!"


"Hidupku berantakan, karirku redup, kakiku lumpuh dan sekarang wajahku cacat!"


"Tidak ada yang tersisa! Aku tidak memiliki apapun lagi yang bisa kubanggakan! Semuanya hancur Andrew! Semuanya hancur!" Zoya histeris sambil melampiaskan emosinya dengan terus memukul dada Andrew berkali-kali.


Andrew meringis namun ia membiarkan Zoya melakukan itu padanya.


"Zoya tenanglah! Masih ada aku disampingmu!"


"Aku akan melakukan apapun untukmu Zoya!"


"Kalau perlu kita pergi keluar negeri! Kita akan cari rumah sakit dan dokter terbaik untuk mengobati kaki dan wajahmu sampai kau benar-benar sembuh total!" ucap Andrew.


Hatinya berdenyut nyeri saat melihat wanitanya nampak kacau seperti ini.


Seketika Zoya tersadar. Ia menghentikan pukulannya dan menjauhkan tubuhnya dari Andrew lalu menatap wajah lelaki itu lekat-lekat.


"Kenapa? Kenapa kau masih baik padaku Andrew? Padahal aku sering menyakitimu?!" lirih Zoya.


Andrew menghapus airmata Zoya kemudian menangkup wajahnya.


"Karena aku mencintaimu Zoya! Sangat mencintaimu!"


"Aku masih berharap kau mau menerimaku kembali! Aku ingin kita memulai semuanya dari awal." jawab Andrew.


"Tapi sekarang aku cacat! Aku tidak pantas untukmu!" ucap Zoya lirih.


"Siapa bilang kau tidak pantas untukku?! Hm?! Hanya kau wanita yang pantas mendampingiku Zoya!"


"Cintaku padamu tulus! Aku sama sekali tidak memandang fisikmu!"


"Jika aku hanya memandang fisik, mungkin saat kau mengalami kecelakaan dan dinyatakan lumpuh aku sudah meninggalkanmu dan mencari wanita lain!" ucap Andrew sungguh-sungguh.


Zoya tertegun mendengar ucapan Andrew. Hatinya tersentuh. Bahkan matanya kembali berkaca-kaca.


"Jadi sekarang aku bertanya padamu, maukah kau menerimaku kembali dalam hidupmu sayang?" tanya Andrew.


"Uhm salah! maksudku, Will you marry me honey?!" ralat Andrew.


Zoya mengulum senyum kemudian tertawa kecil. Ia memukul pelan dada Andrew dan menenggelamkan kepalanya disana.


"Yes I Will." jawabnya pelan.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2