MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Ken & Stella


__ADS_3

"Tapi sepertinya aku mencurigai seseorang Ken!"


Ken mengerutkan keningnya.


"Mencurigai seseorang? Siapa Tuan?!"


Zidan sedikit ragu mengucapkannya, namun kecurigaannya begitu condong terhadap orang itu.


"Tuan Reyhan." Sesaat Zidan menjeda ucapannya. "Aku mencurigai Tuan Reyhan!"


Ken mendelik.


"Tapi kenapa anda mencurigai Tuan Reyhan, Tuan? Bukankah semalam anda yang mengatakan jika Tuan Reyhanlah yang menggagalkan rencana pencurian data yang dilakukan oleh mendiang Ayah Nona Andita? Bagaimana mungkin anda mencurigainya?!"


"Entahlah! Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengannya."


"Ayah mengatakan jika Tuan Reyhan yang menggagalkan rencana mendiang ayah Andita untuk mencuri data perusahaannya. Itu berarti Tuan Reyhan tahu kejadian persisnya seperti apa. Dan lagi, jika diingat-ingat, selama ini Tuan Reyhan tidak pernah menyetujui hubungan Andita dengan Dirga bukan? Apa itu karena kasus ayah Andita?"


Zidan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Satu kakinya disilangkan. Tangan kirinya bersedekap sementara tangan kanannya menopang dagu. Ia nampak berpikir sambil menggerakkan pelan kursi duduknya.


Sementara Ken duduk disofa. Ia juga tengah memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Zidan.


"Bisa jadi yang anda katakan benar Tuan! Tuan Reyhan tidak menyetujui hubungan putranya dengan Nona karena kasus yang menimpa mendiang Ayahnya itu. Itu berarti..."


"Itu berarti Tuan Reyhan dan mendiang Ayah mertuaku saling mengenal. Entah mereka mengenal hanya dalam lingkungan kerja atau secara pribadi. Bagaimana mungkin Tuan Reyhan bisa menggagalkan rencana Ayah Andita? Apa sebelumnya Tuan Reyhan bekerja pada Ayahku? Itu yang menjadi pertanyaanku." Lanjut Zidan.


"Saya mengerti arah pembicaraan anda Tuan! Saya akan menyelidiki hubungan Tuan Reyhan dan mendiang Ayah mertua anda. Semoga kita cepat menemukan titik terang agar Nona tidak terus mendapatkan penolakan dari Tuan Besar!" Ucap Ken.


"Hemm. Itu yang ku inginkan!"


"Oh ya Tuan, apa anda sudah mendengar jika perusahaan anak cabang Tuan Reyhan telah dijual?" Tanya Ken.


"Ya. Aku sudah dengar beritanya. Biarkan saja! Itu pelajaran kecil dariku untuk Dirga, agar dia bisa lebih menjaga mulutnya!"


******


Setelah urusan dengan Zidan selesai, Ken memutuskan untuk kembali ke kantor. Ia harus menghandle semua pekerjaan sampai Zidan kembali aktif bekerja.


Begitu Ken keluar dari rumah Zidan dan hendak berjalan kearah mobilnya, tiba-tiba ia melihat sebuah mobil mewah masuk kehalaman rumah megah itu.


Seorang gadis cantik pun keluar dari sana. Gadis yang tak asing bagi Ken. Stella.

__ADS_1


Hari ini Stella terlihat begitu sangat cantik. Ya, dokter itu memang selalu tampil cantik dimanapun ia berada.


Dokter Stella membawa satu paper bag berukuran besar yang berisikan kado pernikahan untuk Andita dan Zidan, karena semalam ia tak sempat hadir diacara resepsi sahabatnya itu karena ada operasi mendadak yang mengharuskannya lembur di rumah sakit.


Netra Ken dan Stella bertemu. Ken menatap Stella dengan dingin. Sementara Stella menatap Ken dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Ken segera membuang pandangannya kesembarang arah lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil. Namun tiba-tiba Stella memanggilnya.


"Tunggu Ken!" Ken menoleh pada Stella.


Dengan langkah cepat Stella pun segera berjalan mendekati lelaki itu. Netranya terus menyorot pada Ken.


"Aku ingin bicara denganmu!"


Ken masih menatap dingin gadis dihadapannya.


"Aku tidak punya waktu!" hendak berlalu namun langkahnya dihadang oleh Stella.


"Aku bilang aku ingin bicara!"


"Apa kau tuli?! Sudah kukatakan aku tidak punya waktu!"


Stella membuang nafas kasar.


"Bukankah itu bagus? Anggap saja kita tidak saling mengenal!"


"Hah?! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu Ken?! Kau memutuskan hubungan denganku tanpa alasan yang jelas! Lalu kau menjauhiku! Apa sebelumnya kau memiliki kekasih gelap sehingga kau berubah seperti ini?!"


Kali ini Stella tidak bisa menahan lagi gejolak amarah dihatinya. Dulu dia dan Ken memang pernah memiliki hubungan spesial. Namun entah kenapa saat Stella akan pindah keluar kota lelaki dihadapannya ini memutuskan hubungan secara sepihak dengannya tanpa mengatakan alasan yang jelas.


"Itu bukan urusanmu! Jangan pernah ungkit lagi masalalu diantara kita! Karena itu tidak penting bagiku! Aku sudah melupakanmu! Jadi alangkah baiknya jika kau pun melupakanku!"


Setelah mengatakan hal itu, tanpa perasaan Ken pergi dari hadapan Stella dan masuk kedalam mobil lalu meninggalkan kediaman Zidan.


Sementara Stella masih mematung. Matanya menatap nanar kepergian Ken dengan berkaca-kaca. Susah payah ia menelan salivanya.


"Apa dia bilang?! Dia sudah melupakanku?!"


******


Stella tengah duduk disofa ruang tamu. Ia ingin bertemu Zidan dan Andita untuk memberikan ucapan selamat secara langsung sekaligus ingin memberikan kado pada mereka.

__ADS_1


Sambil menunggu kedatangan Zidan dan Andita, Stella nampak melamun. Ia masih memikirkan ucapan Ken tadi padanya.


Benarkah dia sudah melupakanku?! Kenapa aku merasa dia berbohong?!


Stella memegang dadanya yang terasa sesak. Bagi Stella, Ken adalah cinta pertamanya. Sulit baginya untuk melupakan lelaki itu.


Tidak lama Zidan dan Andita turun. Stella segera membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sebisa mungkin ia tersenyum. Stella tidak ingin Zidan melihatnya bersedih.


Karena ia tahu sifat pria itu. Kelemahannya adalah tidak bisa melihat orang terdekatnya menangis. Apalagi selama ini Zidan sudah menganggap Stella sebagai sodara perempuannya karena Zidan adalah anak tunggal.


"Haii Stell! Maaf membuatmu menunggu!" Sapa Zidan.


Stella tersenyum.


"Tidak apa-apa! Aku datang kemari hanya untuk memberikan ucapan selamat pada kalian! Aku juga membawakan kado, semoga kalian suka!"


Setelah sampai dibawah Zidan menjabat tangan Stella. Setelah itu Stella beralih menjabat tangan Andita dan sekilas memeluknya. Kemudian Stella menyodorkan paper bag yang dibawanya.


"Selamat yaa untuk kalian! Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan. Dan semoga kalian segera memberikanku seorang ponakan yang lucu! Maaf semalam aku tidak bisa hadir ke pesta karena ada operasi mendadak, yang mengharuskanku lembur di rumah sakit!" jelas Stella panjang lebar.


"Tidak apa-apa dokter! Kami mengerti." Jawab Andita dengan senyum hangatnya.


"Jangan memanggilku dokter! Panggil saja namaku, Stella! Supaya kita lebih akrab!"


Andita melihat kearah Zidan yang duduk disebelahnya seolah meminta izin, Zidan pun mengangguk. Ia setuju jika Andita bisa berteman dengan Stella karena Stella adalah gadis baik.


"Oh iya dok ..ehm.. Maaf, maksudku Stella!" Andita membenarkan ucapannya ketika Stella menyorotinya tajam. Andita hanya belum terbiasa.


"Aku ingin mengucapkan terimakasih banyak karena kau sudah mengobatiku waktu itu!"


"Sama-sama! Lagipula itu sudah tugasku! Oh ya, bolehkah aku meminta nomor ponselmu Andita? Aku ingin menjadi temanmu. Jika aku ada waktu, aku juga ingin mengajakmu jalan-jalan. Tentunya atas izin dari suamimu!" Stella melirik Zidan sambil mengerlingkan matanya.


"Tentu saja boleh! Dengan senang hati aku akan memberikan nomorku padamu Stella."


"Kau boleh mengajak jalan istriku , asal jangan bawa dia ketempat-tempat yang aneh! Karena istriku ini masih sangat polos!" Potong Zidan disela-sela perbincangan mereka.


Andita mendeliki Zidan sembari menyikut pinggang pria itu dengan tangannya.


Zidan tergelak kecil. Sementara Stella berdecak.


"Haish.. Kau terlalu negatif thingking Zidan!"

__ADS_1


.


.


__ADS_2