MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Jaga Jarak


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Setelah meminta restu dari Ibu Andita, hubungan Zidan dan Andita tidak terlalu dekat. Andita memang menjaga jarak dari Zidan. Gadis itu hanya tidak ingin menjadi bahan gunjingan rekan kerjanya dikantor maupun diluar kantor.


Selain ingin mengindari gunjingan, Andita juga ingin membentengi hatinya dari perasaan yang mungkin saja tiba-tiba hadir diantara dirinya dan Zidan.


Andita tidak ingin dirinya sampai larut dengan perhatian lelaki itu dan pada akhirnya ia akan jatuh cinta pada Zidan, karena dia cukup tahu diri bahwa dia hanyalah gadis penebus hutang.


Lagipula, Zidan juga hanya menjadikannya sebagai pelarian. Suatu hari nanti ketika surat perjanjian itu berakhir dan hutangnya dianggap lunas, Zidan pasti akan membuangnya.


Sementara disisi lain, Zidan mencoba untuk mengerti alasan Andita yang ingin menghindari diri dari gunjingan orang-orang.


Walaupun rasanya begitu berat ketika harus jauh dengan wanitanya padahal mereka berada dalam satu atap gedung yang sama.


Zidan hanya bisa memandangi Andita dari layar monitor diruang kerjanya yang terhubung langsung dengan cctv diruangan Andita.


Zidan tak pernah menyerah. Hampir setiap hari pria itu selalu menghujani gadisnya perhatian. Setiap ada kesempatan Zidan selalu mengirimi Andita pesan. Walaupun jarang sekali Andita membalasnya jika Zidan tidak protes.


Siang ini, Zidan nampak begitu sibuk dengan pekerjaannya. Selain harus segera membereskan semua jadwal kerjanya, iapun harus mengurus segala keperluan pernikahannya dengan Andita.


Ya, selama seminggu ini Zidan sudah memikirkan matang-matang soal rencana pernikahannya itu. Pria itu tidak ingin menundanya lagi. Minggu depan Andita harus sudah menjadi istrinya.


Sementara Andita hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Zidan. Meskipun dirinya terkejut dengan waktu pernikahan yang begitu singkat, namun Andita tidak bisa mengeluarkan pendapat. Biarlah sesuka hati lelaki itu melakukan apa yang dia inginkan.


"Sudah berapa persen persiapannya Ken?" Tanya Zidan tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ia pegang.


"Sejauh ini, persiapan pernikahan anda sudah 70% Tuan. Dan jadwal anda hari ini adalah menemui vendor baju pengantin. Saya sudah mendapatkan designer juga make up artist profesional untuk pernikahan anda nanti. Anda dan Andita bisa menemuinya sore ini."


"Hemm, baguslah! Aku ingin kau mengatur semuanya! Jangan sampai ada yang kurang! Aku ingin pernikahanku dengan Andita tampak sempurna." Tatapannya masih tertuju pada berkas.


"Baik Tuan!"


"Apa Andita sudah tahu?"


"Belum, Tuan! Saya akan segera memberitahukan hal ini pada Andita sekarang!"


"Tidak perlu! Biar aku saja yang memberitahunya!"


"Baik, kalau begitu Tuan!"


"Ken!"


"Ya, Tuan?!"


"Panggil Andita dengan sebutan Nona! Karena dia akan menjadi istriku."


Tidak ada jawaban. Sekilas Zidan melirik kearah Ken lalu kembali menatap berkasnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak menjawab? Apa kau tidak dengar?!"


"Maaf Tuan! Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda, saya akan memanggil Andita dengan sebutan Nona, ketika anda dan Andita sudah resmi menikah, dan dirinya resmi menjadi bagian dari keluarga Wijaya."


"Tidak perlu sampai menunggu kami menikah! Selama dia adalah gadis yang kucintai, kau harus menghormatinya!"


Ken nampak tertegun. Namun akhirnya ia segera menjawab ucapan Zidan.


"Baik Tuan, jika itu yang anda inginkan! Dengan senang hati saya akan menjalankan perintah anda!"


"Hemm. Pergilah! Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu!"


"Baik Tuan, permisi!"


Ken pun segera keluar dari ruangan Zidan. Lelaki itu sungguh tidak percaya jika tuannya benar-benar mencintai Andita. Sampai dia harus bersitegang dengan ayahnya hanya demi Andita.


Awalnya Ken pikir, Zidan hanya penasaran saja pada gadis itu. Tapi nyatanya dugaan dia salah. Bahkan Zidan sudah melangkah sejauh ini. Padahal Tuan Wildan sampai saat ini pun belum memberikan restu padanya.


******


Drrttt.. Drrtt


Ponsel Andita berdering.


Tuan Zidan, memanggil.


Andita mereject panggilan itu. Kemudian membalasnya lewat pesan singkat.


[Maaf, Tuan, saya tidak bisa mengangkat telepon anda. Saat ini saya sedang banyak pekerjaan.]


Drrtt.. Pesan diterima.


Zidan menggeram kesal karena teleponnya lagi-lagi ditolak. Apalagi Andita mengiriminya pesan seperti itu. Membuatnya berdecih.


Memang siapa disini bosnya?! Dia atau aku?!


[Kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku?! Apa aku begitu mengganggumu?!]


[Maaf Tuan, tapi sungguh saat ini saya sedang sibuk!]


Berani sekali dia menaruh tanda seru dibelakang kalimatnya!


[Kau pikir hanya dirimu yang sibuk?! Aku pun tengah sibuk sekarang!]


[Kalau begitu, mari kita selesaikan dulu kesibukan kita masing-masing Tuan.]


Zidan berdecak membaca balasan pesan dari Andita.

__ADS_1


Gadis itu benar-benar menguji kesabaranku!


[Sore ini kita akan pergi menemui vendor untuk fitting baju pengantin! Sepulang kantor, aku tunggu kau di lobby! Aku tidak ingin mendengar bantahan ataupun alasan darimu!]


Andita memejamkan matanya kala membaca balasan dari Zidan.


[Saya tidak akan pernah berani membantah anda Tuan! Bukankah saya tidak punya hak? Anda tenang saja, nanti seusai jam kerja saya akan menunggu anda dilobby.]


Diruangannya Zidan tersenyum puas. Berbeda dengan Andita yang merasa jengkel setelah menerima pesan dari atasannya itu.


Sementara Ferdy yang memang meja kerjanya berada sebelah Andita, sesekali melirik gadis itu lewat ekor matanya.


Ferdy melihat raut wajah Andita yang merasa seperti tertekan.


Kenapa wajah Andita seolah tertekan begitu? Apa dia tidak bahagia dengan hubungannya bersama Tuan Zidan?


Ingin sekali rasanya Ferdy bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. Namun dirinya masih gengsi karena ucapannya seminggu lalu yang menyinggung Andita.


Ya, selama seminggu ini, hubungan Andita dan Ferdy juga tidak baik-baik saja. Mereka seolah terlibat perang dingin dengan tidak saling menyapa. Kecuali menyangkut pekerjaan, karena mereka satu tim.


Saat ini Andita tengah menunggu Zidan di lobby kantor. Dirinya sudah meminta izin pada ibunya jika dia akan pulang telat karena harus fitting baju pengantin. Dan ibu mengizinkannya.


Tidak lama terlihat Zidan dan Ken keluar dari lift. Ada desiran halus dihati Andita, ketika Zidan tersenyum padanya.


Refleks, Andita membuang pandangannya kesembarang arah.


Ya Tuhan, kenapa dirinya terlihat begitu sempurna! Jika begini terus akal sehatku bisa hilang!


"Kau sudah lama menunggu?"


Andita cepat-cepat menggeleng.


"Tidak, Tuan! Saya baru saja sampai di lobby."


"Yasudah, ayo kita berangkat!" Zidan hendak merangkul bahu Andita, namun secepat kilat Andita menghindar dengan berjalan lebih dulu didepan Zidan.


"Mari Tuan!" Tanpa menoleh kebelakang.


Zidan nampak kecewa. Tangannya mengepal udara. Padahal suasana kantor tidak begitu ramai karena waktu sudah menunjukan jam pulang kantor. Tapi Andita masih saja menolak dekat dengannya.


Ken yang berdiri dibelakang Zidan, paham dengan apa yang ditakutkan oleh Andita. Dia lebih memilih diam dan tak ikut campur.


.


.


Jangan lupa dukung Author dengan cara memberi Like, Komen, Hadiah dan Vote nya jika kalian suka dengan cerita ini.. Trimakasihh 🙏❤

__ADS_1


__ADS_2