
Begitu tiba dikediaman Zidan, Stella tak henti-hentinya terkikik geli sambil menutup mulutnya sendiri.
Ia terkesiap saat melihat sahabat lelakinya yang biasa tampil maskulin, namun kali ini terlihat tampil berbeda.
Begitu juga dengan Ken. Ia hanya bisa mengulum senyum tanpa berani mengekspresikannya ketika melihat Zidan menuruni anak tangga.
Bagaimana mereka tidak merasa geli? Hari ini Zidan terlihat begitu cute dimata sahabat dan asisten pribadinya itu.
Lelaki berperawakan tinggi tegap yang memiliki postur tubuh bak seorang atlit itu tengah memakai baju couple berwarna biru langit dengan sablon lumba-lumba berbulu mata panjang dengan pita pink dikepalanya.
Tentu Stella bisa menduga jika itu semua ulah Andita. Karena tidak mungkin Zidan mau melakukannya kalau bukan karena permintaan istrinya tersebut.
"Sayang ayo tersenyumlah!" pinta Andita saat melihat wajah sang suami yang sejak tadi cemberut.
Andita menggandeng tangan Zidan dengan manja sambil mengerlingkan matanya.
"Bagaimana bisa aku tersenyum sementara aku tengah jadi bahan tertawaan mereka?!" kesal Zidan. Ekor matanya melirik kearah Ken dan Stella yang berada dibawah.
"Tidak usah pedulikan mereka sayang! Bukankah kau bilang kau mencintaiku?!"
Zidan tak menjawab. Dia diam seribu bahasa. Membuat Andita jadi kesal.
"Kalau kau merasa keberatan buka saja bajunya! Tapi aku tidak mau pergi!!" ancam Andita. Ia menghentikan langkahnya dan memalingkan wajah kesembarang arah.
Melihat hal itu Zidan pun ikut kesal dibuatnya. Namun sebisa mungkin ia mengalah supaya acara liburannya tidak gagal.
Harusnya aku yang marah! Kenapa jadi sebaliknya?! Menyebalkan.
"Hm, baiklah-baiklah aku akan tersenyum! Tidak usah merajuk!"
Seketika Andita menarik sudut bibirnya.
"Kalau begitu ayo tersenyum!" titahnya.
"Huh!" Zidan membuang nafas kasar.
Dengan sangat terpaksa Zidan menerbitkan senyum terbaik diwajah tampannya.
"Ya ampun!! Manis sekali suamiku ini!" puji Andita seraya mencubit kedua pipi Zidan lalu menggeleng-gelengkannya kekanan dan kekiri.
"Bagaimana?! Kau sudah puas?!"
"Hu'um!" Andita menganggukan kepalanya senang seperti bocah kecil yang akan dibelikan mainan.
Sementara dibawah, Stella dan Ken yang melihat adegan konyol itu sedari tadi hanya bisa menahan tawanya.
******
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Zidan, Andita, Ken dan Stella telah tiba di villa pribadi milik Zidan. Mereka tiba lebih dulu daripada Zoya dan Andrew yang rencananya akan menyusul.
Saat turun dari mobil Andita begitu terpukau dengan villa milik suaminya yang luasnya mencapai hektaran dan terdapat pacuan kuda juga disana.
Berbeda dengan Ken dan Stella yang nampak biasa saja. Karena ini sudah kesekian kalinya mereka berkunjung ke villa itu.
Tak berselang lama Andrew dan Zoya pun datang. Mereka segera bergabung dengan Zidan dan yang lainnya.
Saat melihat kehadiran Zoya ditempat yang sama, wajah Stella langsung berubah dingin.
Rupanya Stella masih kesal pada Zoya karena kejadian beberapa waktu lalu dimana wanita itu dengan berani merendahkan pekerjaan kekasihnya.
Ketika Zoya akan menyalami Stella, Stella langsung menarik tangan Andita dan membawanya sedikit menjauh dari rombongan.
Hingga membuat semua orang yang berada disana tercengang dan saling pandang. Dengan perasaan malu Zoya pun menurunkan tangannya.
__ADS_1
Benar-benar dokter tidak beradab!
"Andita, kenapa kau tidak bilang jika wanita itu juga datang kemari?!" tanya Stella gusar saat mereka sudah berada cukup jauh dari jangkauan Zidan dan yang lainnya.
"Maafkan aku Stell. Aku tidak bermaksud untuk tidak memberitahumu. Aku pikir kau tidak akan keberatan!"
Stella menghela nafas dalam-dalam.
"Mungkin jika hari itu dia tidak mengatakan hal menyakitkan tentang Ken, aku tidak akan keberatan Andita. Sungguh sampai detik ini aku masih kesal padanya." Stella menyedekapkan tangannya didepan dada seraya melirik kearah Zoya.
"Tapi saat kau pulang hari itu, Zoya sudah mengakui kesalahannya Stell. Dia menyesal. Dan dia ingin meminta maaf padamu secara langsung."
"Benarkah?! Kenapa aku tidak yakin jika dia menyesal?!"
"Stell.. Tolong jangan negatif thingking seperti itu. Kita harus menghargai niatnya."
Stella memutar bola mata jengah.
Sementara disisi lain Zidan yang melihat tingkah aneh Stella yang menarik Andita menjadi bertanya-bertanya sendiri.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka berbisik-bisik begitu?!"
Andrew yang mendengar pertanyaan Zidan pun menyahutinya.
"Kau seperti tidak tahu wanita saja. Rata-rata wanita itu suka sekali menyimpan rahasia!"
Sekilas netra Zidan melirik kearah Andrew kemudian langsung beralih ke arah Ken yang berdiri dibelakangnya.
"Ken!"
"Ya Tuan?!"
"Kau lihat? Kekasihmu membawa istriku! Kira-kira ada rahasia apa diantara mereka?!"
Ken yang ditanya juga sama sekali tidak tahu menahu apa yang tengah dibicarakan oleh Stella dengan istri tuannya tersebut.
"Kau kan kekasihnya?!"
"Tapi saya sungguh tidak tahu Tuan!"
Memangnya saya harus tahu semua tentang rahasia wanita?! Rasanya tidak penting.
"Ck! Percuma saja aku bertanya padamu!"
Zidan yang sudah kesal karena Andita tak kunjung kembali, akhirnya memanggil istrinya itu dengan suara cukup keras.
"ANDITA! Mau sampai kapan kau disana?! Cepat kemari!" titah Zidan.
Andita terlonjak kaget saat mendengar teriakan suaminya itu.
"I-iya sayang, sebentar lagi aku datang!" jawab Andita cepat. Kemudian pandangannya beralih pada Stella.
"Sepertinya kita harus segera kembali Stell. Zidan pasti akan marah jika aku lama-lama disini." saat Andita akan melangkahkan kakinya meninggalkan Stella, ia berbalik lagi kebelakang.
"Oiya Stell, aku harap kau mau memaafkan Zoya. Aku yakin dia benar-benar menyesal. Bukankah memaafkan itu indah, hm?!"
"Aku tidak janji Andita."
"Stella."
Sejenak Stella membuang pandangannya kesembarang arah lalu kembali menatap Andita.
"Ya ya baiklah! Aku akan memaafkannya jika dia minta maaf padaku Tapi aku melakukan itu karena aku menghargaimu sebagai temanku Andita. Bukan karena dia sahabat Zidan!"
__ADS_1
Andita tersenyum lebar.
"Apapun alasannya tidak jadi masalah, yang penting kau bersedia memaafkan Zoya."
"ANDITA!!!" lagi-lagi Zidan memanggil wanitanya dengan rasa tidak sabar. Rasanya ingin sekali ia menyeret istrinya itu agar cepat datang padanya.
Astagaa!! Lelaki itu benar-benar tidak sabaran sekali!
"Iya sayang!!!"
Dengan tergesa-gesa Andita pun segera berlari menghampiri Zidan dan meninggalkan Stella yang masih mematung.
******
Saat sudah berada didalam villa, Zidan mempersilahkan semua sahabatnya untuk memilih kamar yang mereka inginkan.
Kebetulan di villa berlantai dua tersebut terdapat lima kamar didalamnya. Tiga kamar diatas dan dua kamar dibawah.
Satu diantaranya tentu saja menjadi kamar pribadi milik Zidan yang berada dilantai dua.
Zidan pun segera membawa Andita kesana untuk beristirahat sejenak, sebelum nantinya ia akan membawa istrinya itu berkeliling divilla pribadinya.
Zoya dan Stella juga memilih kamar dilantai dua. Tepat bersebalahan dengan kamar milik Zidan. Zoya menempati kamar sebelah kiri dan Stella menempati kamar sebelah kanan. Karena posisi kamar Zidan berada ditengah keduanya.
Sementara Andrew dan Ken menempati kamar bawah.
Saat Stella akan masuk kedalam kamar, Zoya memanggil Stella. Ia ingin minta maaf pada dokter itu atas ucapannya beberapa hari lalu.
Padahal sungguh dalam hatinya ia enggan melakukan hal tersebut.
"Stella!" panggil Zoya.
Stella yang baru saja menyentuh handle pintu menghentikan niatnya. Sejenak ia terdiam tanpa mau menoleh kebelakang.
"Aku ingin bicara denganmu!" lanjut Zoya.
"Aku lelah ingin istirahat!" jawab Stella. Lalu Stella kembali mendorong handle pintu.
Zoya segera berjalan menghampiri gadis itu dan mencekal tangannya.
"Aku ingin meminta maaf padamu Stell!"
Mendengar hal itu Stella langsung menepis tangan Zoya.
"Minta maaf untuk?" tanya Stella pura-pura tidak tahu sambil menatap jutek kearah Zoya.
"Untuk kesalahanku beberapa hari lalu, karena secara tidak sengaja sudah meremehkan pekerjaan kekasihmu itu. Aku sungguh menyesalinya."
Stella menatap manik mata Zoya lekat-lekat. Sebenarnya ia masih ragu untuk memaafkan wanita itu. Tapi karena Ia sudah berjanji pada Andita, Stella pun tak ingin mengingkarinya.
"Hem, baiklah aku akan memaafkanmu! Asal kau tidak mengulanginya lagi."
"Tentu!"
Zoya memeluk Stella sebagai tanda baikan.
"Terimakasih Stell." ucapnya sambil mengelus punggung Stella.
"Sama-sama." Stella pun membalas pelukan Zoya.
Cih, sampai kapan aku harus berpura-pura seperti ini hanya demi mendapat perhatian semua orang?!
.
__ADS_1
.
Bersambung...