
Seusai menghadiri rapat dengan klien, Zidan langsung merogoh ponselnya dan menghubungi Andita. Ia sangat merindukan sosok istrinya tersebut. Padahal baru beberapa jam lalu mereka berpisah.
Entah kenapa semenjak Andita hamil, Zidan semakin tergila-gila pada Andita. Ia seolah tidak tenang jika belum mendengar atau melihat wajah cantik calon ibu dari anaknya itu melalui ponsel pintarnya.
Namun hari ini ada yang berbeda. Berulang kali Zidan mendial nomor Andita namun wanitanya itu tak kunjung menjawab telepon darinya.
"Kemana dia?! Tidak biasanya Andita tidak menjawab teleponku!" gumam Zidan saat ia dan Ken baru saja melangkahkan kakinya keluar dari gedung perusahaan klien mereka.
"Ada apa Tuan? Apa ada masalah?!" tanya Ken yang samar-samar mendengar gumaman Zidan.
"Entahlah! Biasanya Andita akan langsung menjawab teleponku Ken. Tapi sejak tadi aku menghubunginya, dia tidak menjawab panggilanku sama sekali! Membuatku khawatir!"
"Saya akan coba telepon kerumah Tuan! Untuk memastikan keadaan Nona."
"Tidak perlu! Biar aku saja yang menghubungi kerumah."
"Baik Tuan!"
Zidan yang sudah duduk didalam mobil tepat dibelakang Ken, terus menelepon kekediamannya. Hingga salah seorang pelayan dirumahnya mengangkat panggilan itu.
"Dimana Andita?!" tanya Zidan ketika teleponnya tersambung.
"Nona sedang berada dihalaman belakang Tuan." jawab sang pelayan.
"Dihalaman belakang?! Sedang apa? Dengan siapa?" tanya Zidan bertubi-tubi.
"Saya lihat Nona sedang berbincang bersama Nona Zoya." ucap pelayan tersebut karena pada saat Zidan menelepon memang posisi Andita tengah mengobrol dengan Zoya.
"Zoya?"
"Ya Tuan."
"Sejak kapan dia datang?"
"Baru saja Tuan!"
"Yasudah. Biarkan saja mereka berbincang!"
"Baik Tuan!"
Zidan langsung memutuskan panggilannya. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak ketika pelayannya menyebut nama Zoya yang tengah berada dikediamannya.
Zidan aku mencintaimu!
Kalimat itu belum bisa Zidan lupakan dari ingatannya. Kalimat yang seharusnya tidak pernah ia dengar sampai kapanpun karena Zidan menutup rapat hatinya untuk Zoya.
Namun tiba-tiba Zoya mengatakannya tanpa sebab yang akhirnya malah membuat Zidan terusik.
Sebenarnya Zidan ingin menemui Zoya secara pribadi. Ia ingin memastikan apa benar pria yang membuat Andrew cemburu buta adalah dirinya? Karena Zidan pun sudah terlanjur berjanji pada Andrew untuk membantunya mencari tahu pria itu.
Namun karena pekerjaannya yang menumpuk juga karena Andita yang tengah mengandung buah hati mereka membuat Zidan belum memiliki waktu untuk menemui Zoya.
Lagipula setahu Zidan, Zoya seharusnya tengah beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya pasca jatuh dari kuda seminggu yang lalu.
Tapi kenapa sahabat wanitanya itu malah datang kekediamannya? Apalagi disaat dirinya tidak ada? Apa yang ingin dia bicarakan dengan Andita? Apa Zoya akan mengatakan pada Andita bahwa wanita itu mencintai dirinya?
Berbagai spekulasi bermunculan dibenak Zidan. Hatinya menjadi gusar. Hingga Ken yang duduk dikursi kemudi bisa melihat raut wajah khawatir pada tuannya itu lewat kaca depan mobil.
"Bagaimana Tuan? Apa Nona baik-baik saja?"
"Dia sedang berbincang dengan Zoya?"
__ADS_1
"Nona Zoya?!" Ken mengerutkan keningnya. "Dia berada dikediaman anda Tuan?!"
"Ya! Entah kenapa sekarang ini aku menjadi khawatir jika Zoya berdekatan dengan Andita. Aku sudah menceritakan padamu bukan tentang apa yang diucapkan Zoya seminggu lalu?!"
Ken mengangguk. Karena memang faktanya Zidan sudah menceritakan hal tersebut pada asisten pribadinya itu.
"Lalu apa rencana anda Tuan?"
"Entahlah! Yang pasti setelah mendengar pengakuan Zoya hari itu meski dia mengatakannya tanpa sadar sekalipun, aku tidak ingin Zoya terlalu dekat dengan Andita. Bahkan selama ini aku pun sudah menjaga jarak dengannya."
"Aku tidak mau Zoya sampai mengusik kehidupan rumah tanggaku!"
"Jadi lebih baik sekarang kau antarkan aku kerumah sebelum Zoya mengatakan hal yang tidak-tidak pada Andita! Setelah itu kau bisa kembali kekantor!"
"Baik Tuan!"
Ken segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota yang saat itu tengah ramai-ramainya.
*****
Dikediaman Zidan.
Andrew baru saja tiba dan memarkirkan mobil sportnya dihalaman. Ia langsung turun untuk mencari keberadaan Zoya dirumah sahabatnya itu.
Awalnya, sebelum Andrew datang ke kediaman Zidan, ia lebih dulu datang ke apartmen Zoya untuk mengantarkan wanitanya makanan.
Namun begitu sampai disana, Andrew terkejut saat mendapati tempat tinggal kekasihnya itu dalam keadaan kosong melompong.
Tentu saja hal itu membuat Andrew panik dan sangat khawatir. Mengingat Zoya belum.sepenuhnya pulih dari cederanya.
Dengan berbekal GPS yang terpasang di mobil Zoya, Andrew melacak keberadaan kekasihnya itu. Dan akhirnya ia bernafas lega saat mengetahui bahwa Zoya tengah berada dikediaman Zidan.
Andrew pun melajukan mobilnya dan menyusul Zoya kesana.
Salah satu pelayan mengatakan jika Zoya sedang mengobrol dengan nona-nya dihalaman belakang.
Tanpa menunggu lama, Andrew melangkahkan kakinya ketempat dimana kedua wanita itu berada.
Saat beberapa langkah melewati ruang tengah, Andrew mendengar teriakan Andita yang begitu jelas dipendengarannya.
"Aaaa Zoyaaa!!!" teriak Andita.
"Andita?! Bukankah itu suara Andita?!" Secepat kilat Andrew segera berlari kehalaman belakang.
Dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Andita tengah melambaikan tangannya diatas permukaan air. Sementara kepalanya berusaha keluar dari dalam sana.
"ANDITAA!!!"
DEG
Zoya yang saat itu sedang menikmati wajah malang Andita karena kesulitan bernafas didalam air, seketika tubuhnya membeku ditempat saat mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
Andrew!
Tidak ingin kejahatannya terbongkar Zoya segera mencari cara agar Andrew tidak curiga bahwa dialah yang membuat Andita jatuh ke dalam kolam ranang.
"Andita! Pegang tanganku!" teriak Zoya. Tanpa menoleh kearah Andrew, Zoya bersandiwara seolah-olah ia tengah berusaha menolong Andita.
Andrew yang melihat hal tersebut, segera melepas alas kakinya kemudian langsung berlari dan menceburkan diri kedalam kolam.
Byurrrr
__ADS_1
Andrew berenang dan mencari-cari tubuh Andita. Setelah matanya berhasil menangkap sosok yang akan ia tolong dengan cepat Andrew bergerak kearahnya dan segera menarik pinggang Andita lalu membawanya kepermukaan.
Andita yang merasakan tubuhnya ditarik seseorang hanya bisa bersyukur dalam hati.
Dipikiran Andita, Zidanlah yang kembali menyelamatkan hidupnya. Hingga akhirnya Andita pun tak sadarkan diri karena ia terlalu banyak menelan air.
*****
Setelah Zidan tiba dikediamannya, ia langsung masuk kedalam rumah. Sementara Ken kembali kekantor.
Saat berada diruang tamu Zidan menanyakan keberadaan Andita pada salah satu pelayannya.
Pelayan yang ditanya Zidan hanya bisa menundukkan kepala takut. Mereka tidak berani menatap Zidan dan berkata dengan bibir bergetar bahwa nona mereka baru saja tenggelam.
Mendengar kabar tersebut Zidan melebarkan matanya. Seketika jantungnya berdetak lebih cepat seiring dengan nafasnya yang memburu. Sampai ia melempar tas kerjanya kesembarang arah.
Zidan benar-benar marah dan mengutuk kecerobohan para pelayan yang tidak becus mengawasi Andita. Dia berjanji akan memberi hukuman jika hal buruk terjadi pada istri dan juga calon anak mereka.
Tak ingin membuang-buang waktu, dengan cepat Zidan segera berlari kehalaman belakang. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Andrew tengah berusaha menyelamatkan istrinya keluar dari dalam kolam tersebut.
"ANDITAA!!!" teriak Zidan. Hingga membuat Andrew dan Zoya melihat kearahnya.
Seketika tubuh Zoya kembali menegang saat melihat pria yang dicintainya itu berlari mendekat.
Kenapa Zidan bisa tiba-tiba datang? Ini diluar rencananya. Tidak-tidak. Bahkan awalnya Zoya tidak merencanakan hal ini.
Semua berawal dari emosinya yang tidak bisa terkontrol hingga menyebabkan Andita tenggelam. Bagaimana jika nanti Andita sadar dan membeberkan semuanya? Maka tamatlah riwayatnya. Batin Zoya
Namun Zoya segera menormalkan ekspresinya agar terlihat biasa saja.
Zidan langsung membantu Andrew dan Zoya mengangkat tubuh Andita kepermukaan. Dan membaringkannya ditepi kolam. Zidan menepuk-nepuk pelan kedua pipi istrinya yang sudah memucat.
"Andita sadarlah!" ucap Zidan. Raut wajahnya begitu panik dan khawatir.
Zidan mengecek pernapasan Andita, kemudian meresustasi jantungnya supaya kembali bekerja optimal. Namun sayang, belum ada pergerakan sama sekali dari tubuh istrinya itu.
Mau tidak mau Zidan pun mendekatkan mulutnya pada mulut Andita untuk memberikan nafas buatan. Hingga membuat Zoya memalingkan wajahnya kearah lain sembari mengepalkan tangannya.
Tidak lama kemudian tubuh Andita merespon. Andita memuntahkan air yang cukup banyak dari mulutnya.
"Uhukk..uhukk!!"
"Sayang kau tidak apa-apa?!" tanya Zidan. Ia mengangkat sedikit tubuh Andita lalu menepuk-nepuk punggungnya.
Perlahan Andita membuka mata dan kini netranya bersibobrok dengan netra Zidan.
"Zidan! A-aku takut!" Andita langsung memeluk tubuh suaminya erat. Airmatanya sudah berderai dan menganak sungai.
Andita menangis sesenggukan. Ia benar-benar ketakutan saat dirinya berada didalam air.
"Tidak apa-apa sayang! Tenanglah..aku disini!" Zidan membalas pelukan Andita tak kalah erat.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Andita? Kenapa kau bisa tenggelam? Dan, apa kau tidak bisa berenang?!" pertanyaan Andrew sejenak menghentikan tangis Andita.
Ia menghapus airmatanya. Kemudian netranya menatap Andrew yang tengah berlutut disampingnya dan Zoya yang berdiri disamping Andrew.
"Ya, aku tidak bisa berenang Andrew! Dan aku tenggelam karena..." sorot mata Andita menghunus tajam kearah Zoya.
Membuat Zoya juga menatap tajam kearah Andita.
.
__ADS_1
.
Bersambung...