MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Menjenguk Zoya


__ADS_3

Selesai Zidan membersihkan diri, Andita menyuruh Zidan untuk duduk disofa yang ada disudut ruangan kamar. Ia berniat untuk mengobati luka diwajah suaminya itu.


Mereka duduk dengan posisi saling berhadap-hadapan. Diatas meja sebelah sofa, sudah ada kotak P3K dan juga wadah kecil berisikan air hangat komplit dengan handuknya.


Pertama yang Andita lakukan adalah mengompres luka diwajah Zidan. Kemudian ia mengoleskan salep dibeberapa bagian wajah suaminya yang terluka agar memarnya cepat menghilang.


Dengan telaten dan sangat hati-hati Andita melakukan semuanya sampai selesai. Tak ada ringisan atau suara apapun yang keluar dari mulut Zidan. Karena baginya itu hanya luka kecil.


Lelaki itu malah sibuk menatap wajah cantik sang istri yang terlihat khawatir. Meskipun perasaannya sendiri saat ini tengah kalut karena memikirkan kondisi Zoya yang sedang kritis.


Setelah selesai, Andita memasukkan kembali salep kedalam kotak obat itu lalu menaruhnya ketempat semula didalam nakas.


Kemudian ia kembali duduk, dan menatap suaminya dengan intens.


"Sekarang katakan! Kenapa wajahmu bisa babak belur seperti ini? Jangan bilang tidak ada apa-apa! Jika kau mengatakan hal itu, maka aku tidak akan mau bicara padamu lagi!" ancam Andita.


Zidan tersenyum simpul mendengarnya. Lalu dengan lembut tangannya mengusap pucuk kepala istrinya itu.


"Andrew memukulku!" jawab Zidan.


"Apa?! Andrew memukulmu?!" Andita mendelik tidak percaya.


"Ya."


"Kenapa dia memukulmu?!" tanya Andita cepat sekaligus penasaran.


"Dia hanya ingin meluapkan emosinya, karena..."


"Karena dia cemburu padamu, benar begitu?!" tebak Andita.


"Hemm."


"Huh! Sudah kuduga! Semua ini pasti karena Zoya!" sekilas Andita memalingkan wajahnya kesembarang arah sambil menyedekapkan kedua tangannya didada. "Apa hari ini kau bertemu dengannya lagi?"


"Dia yang datang kekantorku."


Seketika netra Andita membulat sempurna. Ia langsung mendelik tajam kearah Zidan.


Entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesak ketika mendengar hal tersebut. Pikiran negatifnya muncul ketika ia membayangkan apa saja yang dilakukan Zoya pada suaminya dikantor.


"Untuk apa dia datang kekantormu?! Apa dia ingin merayumu lagi?! Apa dia memintamu meninggalkanku?! Apa dia masih belum puas sudah membuatku tenggelam dikolam renang tempo hari?!" tanya Andita bertubi-tubi. Bahkan nada suaranya menggeram kesal saat mengetahui semua itu.


Zidan yang sedikit terkejut melihat perubahan sikap Andita berusaha untuk menenangkannya.


"Andita tenanglah. Ingat kau sedang hamil!" ucap Zidan seraya mengelus punggung dan perut istrinya itu secara bersamaan.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tenang jika ada wanita lain yang ingin merebutmu dariku?! Apalagi wanita itu adalah sahabatmu sendiri?!" bibir Andita bergetar. Matanya pun sudah berkaca-kaca.


Zidan segera membawa Andita kedalam pelukannya dan mencium ujung kepalanya berulang kali.


"Tidak akan ada yang bisa merebutku darimu, meskipun wanita itu adalah Zoya sekalipun. Apa kau tahu hari ini Zoya baru saja mengalami kecelakaan setelah aku mengusirnya dari kantor."


Deg


Seketiak jantung Andita seolah berhenti berdetak. Ia melerai pelukan suaminya lalu menatap wajah Zidan lekat-lekat.


"A-apa yang kau katakan? Zoya..."


"Ya, dia mengalami tabrakan mobil yang cukup parah dan sekarang kondisinya sedang dalam keadaan kritis."


Andita refleks membekap mulutnya sendiri seraya menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


*****


Dirumah sakit, Andrew dengan setia menemani Zoya diruang ICU. Sejak kemarin ia sama sekali tidak tidur. Matanya benar-benar sembab karena terus menangis.


Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya hanya demi memantau kondisi wanita yang dicintainya itu.


Andrew masih belum percaya ketika kemarin siang dokter mengatakan bahwa Zoya mengalami koma dan luka bakar yang cukup serius pada wajahnya. Dan mengharuskannya untuk melakukan operasi.


Tentu saja berita itu membuat hati Andrew seolah dihantam godam. Semalam ia nyaris pingsan saat mendengar kabar tersebut. Beruntung dia masih bisa mengendalikan diri.


Jika dia saja tidak sanggup mendengarnya, bagaimana dengan Zoya?


Andrew tidak bisa membayangkan reaksi Zoya ketika kelak wanitanya sadar nanti.


Disisi lain, Zidan dan Andita baru saja tiba dirumah sakit. Mereka segera bergegas menuju ruang ICU tempat Zoya dirawat.


Setelah semalam Zidan memberitahu tentang kondisi Zoya yang kritis, Andita merasa prihatin.


Ia mengesampingkan rasa sakit hatinya dan memilih untuk menjenguk wanita yang pernah mencoba mencelakainya itu.


Andita melangkahkan kakinya dengan cepat. Bahkan ia sampai lupa kalau dirinya sedang hamil jika tidak diingatkan oleh Zidan.


Tak berselang lama mereka pun tiba diruangan Zoya. Mereka membuka pintu perlahan dan melihat Andrew tengah menggenggam tangan Zoya dengan erat sambil terisak.


Hati kedua sejoli itu berdesir perih. Terutama Zidan. Ia sungguh merasa bersalah pada Zoya karena kemarin dia sudah bersikap terlalu kasar pada sahabatnya itu.


Namun semuanya sudah terjadi. Lagipula Zidan tidak akan bersikap kasar kalau saja Zoya mau mengerti bahwa perasaannya bukan lagi untuknya.


Andrew yang menyadari adanya orang dibelakang segera menoleh. Secara bersamaan ia menghapus airmatanya.

__ADS_1


"Andita? Zidan?"


"Andrew!" lirih Andita. Ia melangkahkan kakinya maju diikuti oleh Zidan dibelakangnya.


Begitu melihat keadaan Zoya dari dekat, ingin rasanya Andita menangis.


Kondisi Zoya benar-benar memprihatinkan. Banyak selang yang terpasang ditubuhnya. Bahkan seluruh wajahnya pun dibalut perban.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Andita.


"Seperti yang kau lihat. Dia masih kritis." jawab Andrew pelan.


"Apa dokter mengatakan sesuatu?" kini Zidan yang bertanya.


"Ya. Mereka bilang Zoya mengalami koma dan luka bakar serius pada wajahnya. Bahkan Zoya juga terancam lumpuh karena cedera saraf tulang belakang yang dialaminya."


Duarr


Kabar tersebut bagaikan petir yang menyambar hati Zidan dan Andita. Seketika kaki mereka melemas seolah tidak berpijak.


"Separah itu?" gumam Andita pelan.


"Ya." lirih Andrew.


Ketiganya menatap kosong kearah Zoya yang tengah berbaring lemah diatas brangkar dengan mata terpejam.


Mereka masih tidak percaya bahwa Zoya harus mengalami hal yang begitu tragis.


Tiba-tiba saat semua orang tengah hanyut dalam kesedihan, tanpa diduga detak jantung Zoya menurun.


Hingga membuat semua orang yang ada didalam ruangan tersebut nampak terkejut.


.


.


Bersambung...


Maaf sayangku dikit dulu ya up nya๐Ÿ™


Otornya susah bagi waktu karna udah mulai kerja hehe


Kira-kira next Zoya hidup atau mati ya? Soalnya udah 2x celaka๐Ÿ˜ญ Kalau hidup berarti dia hebat punya nyawa 9 haha


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaa kakak2 yang baik hati โค๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2